Di bumbui Cerita 21++
Tak kusangka aku bisa mencintaimu.
Semenjak kejadian yang menimpanya malam itu. Arana harus kehilangan kesuciannya yang telah Ia jaga selama 23 tahun.
Karna kejadian yang meningpanya malam itu Arana harus menerima kenyaatan pahit. Kekasih yang sangat Ia cintai pergi meninggalkannya begitu saja.
Arana di perkosa oleh seorang
pemuda yang tidak Ia kenal.
Apakah Arana bisa menemukan pemuda yang telah merampas kesuciannya?...
Dan apakah Arana bisa membalas cinta orang yang telah merampas semuanya darinya? ketika pemuda itu mengatakan Aku Mencintaimu Arana.
Ikutin terus ya Cerita Cinta Manisku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.Tingkah Aneh Steven
Arana mengambil kotak gaun yang di berikan Steven kepadanya,
lalu membuka dan melihat gaun apa yang telah Steven beli untuknya.
“Wao.” Terkejut “Ini sangat indah” Arana menempelkan gaun
itu di tubuhnya lalu melihat ke arah cermin “Stev, apa kamu yakin?” memastikan
“Gaun ini untukku?” Arana kembali mengusap gaun yang kini tengah ia tempelkan
di tubuhnya.
“Iya. Tentu, itu gaun untukmu, gaun untuk istri
kesayanganku.” Steven tersenyum tipis melihat ke arah Arana ketika selesai
mengatakan itu.
Arana yang mendengar ucapan yang keluar dari dalam mulut
steven berkata. “Hadeh, penyakitnya kambuh lagi.” Arana menggelengkan kepalanya
ketika mengatkan itu.
Setelah menyerahkan kotak gaun itu kepada Arana, Steven
kembali berjalan ke arah lemari dan mulai mengenakan satu persatu baju yang
akan ia kenakan ke acara pernikahan saudari tiri Arana.
Sementara Arana berjalan ke arah kamar mandi untuk menganti
pakaiannya, dan mengenakan gaun yang telah Steven berikan padanya barusan.
Di dalam kamar mandi, Arana nampak sangat kesusahan
menaikkan resletin bajunya karna teletak di bagian belakang tubuhnya dan mau
tidak mau Arana harus meminta bantuan dari Steven, untuk menaikkan resletin
gaunnya.
Dengan wajah kesal Arana keluar dari dalam kamar mandi, dan
berjalan ke arah steven yang kini tengah menata rapi rambutnya di depan cermin.
“Stev.”
“Iya.” Berbalik melihat ke arah wajah Arana yang kini tengah
cemberut.
Steven yang melihat wajah Arana cemberut, nampak sangat
terkejut, bepikir mungkin gaun yang Steven beli untuk Arana tidak muat di
tubuhnya dan itu membuat wajah Arana terlihat seperti itu, itulah yang
terlintas dalam pikiran Steven saat ini.
“Stev, bantuin.” Kata pelan dan manja Arana tiba-tiba keluar
dari dalam mulutnya.
“Bantuin apa sayang?” tersenyum dan berjalan mendekat ke
arah Arana yang kini tengah memayumkan bibirnya.
Arana yang mendengar ucapan Steven yang memanggilnya sayang
merasa sedikit malu, namun tidak memperlihatkannya
“Bantuin aku. Tapi janji jangan melihatnya terlalu lama ya.”
Steven yang bingun mendengar ucapan Arana yang mengatakan
jangan melihatnya terlalu lama, ikut bingun dan itu membuatnya kembali berpikir
kalau Arana sedang ada masalah di bagian sensitipnya iya itulah yang terlintas
dalam pikiran Steven saat ini.
“Bantuin apa sih!?” menatap wajah Arana.
“Janji dulu, baru aku kasi tau.” Arana tersenyum manis
setelah selesai mengatakan itu.
“Iya, janji aku tidak akan melihatnya terlalu lama.”
Membalas senyuman Arana.
Arana yang mendengar ucapan Steven yang tidak akan menatap
bagian belakannga terlalu lama, berbalik sambil berkata. “Tolong bantu naikin
resletin gaun aku dong.” Tersenyum melihat ke arah wajah Steven yang kini ikut
bingun dengan apa yang baru saja di katakannya.
Steven yang melihat Arana berbalik badan, melihat ke arah
belakang Arana yang kini tidak tertutup bahkan Steven bisa melihat dengan jelas
warna Bra yang Arana kenakan.
Mata Steven tidak berhenti melihat bagian tubuh Arana yang
begitu sangat putih dan mulus terlihat, bahkan Steven sampai lupa dengan kata
yang Arana ucapkan kepadanya yang mengatakan jangan melihatny terlalu lama.
“Stev” menyadarkan “Cepetan naikin reslitin gaunnya. Ini
sudah hampir sore loh, kita belum bersiap, bahkan saat ini kita belum makan.”
Arana meregek agar Steven segera menyelesaikan pekerjaan yang Arana kasih
untuknya, namun mata Steven malah asyik menatap belakang Arana yang kini
telihat jelas di hadapannya.
Steven yang mendengar kesah keluh Arana sedikit mendekat,
lalu mulai menarik reslitin gaun yang Arana kenakan, namun sebelum resletin itu
sampai pada ujungnya, Steven mencari alasan karna ia ingin menyentuh bagian
belakang Arana yang terlihat menggida menurutnya.
“ Yah, yangkut”
“Nyangkut di mana?” tanya Arana ketika mendengar ucapan
Steven.
“Di bra kamu! Tapi tunggu ya, aku akan mencoba membukanya.”
Steven lagi-lagi mencari alasan agar bisa menyentuh bagian belakang Arana.
Arana yang mendengar ucapan steven yang mengatakan
reslitingnya tersangkut di bagian Branya merasa sangat malu, malu jika Steven
sampai menyentuh bagian itu.
Arana pun berkata “Sudah Stev, biar aku saja. Aku malu jika
kamu sampai menyentuh bagian itu.” Arana berjalan sedikit menjauh dari Steven.
Namun tangan Steven yang sudah berada di balik Bra Arana
menariknya agar Arana kembali mendekat ke arahnya. Steven pun berkata.
“Kenapa mesti malu, aku ini suamimu dan kamu istriku, semua
ini berhak aku sentuh tampa ada larangan darimu.” Steven mengelus lembut
punggun Arana ketika mengatakan itu bahkan saat ini Steven menurungkan lengan
gaun yang Arana kenakan lalu mengecup lembut punggun putuh mulus Arana.
Dan itu membuat Arana merasakan sesuatu, sesuatu yang selalu
di rasakannya ketika Steven melakukan sesuatu kepadanya. Namun sebelum dirinya
ikut terbuai dengan apa yang tengah Steven lakukan padanya saat ini.
Arana pun berkata. “Stev! Hentikan! Apa yang ingin kamu
lakukan?” Arana lansung berbalik melihat ke arah wajah Steven ketika mengatakan
itun.
“Aku ingin memilikimu seutuhnya Ara.” Kata-kata itu spontang
keluar dari mulut Steven.
Dan membuat wajah Arana merona seketika, yang mendengar
pengakuan Steven yang ingin menjadikan memilikinya seutuhnya. Rasa gugup mulai
menhampiri Arana saat ini, bahkan Arana merasa tidak ingin lagi pergi ke acara
pernikahan yang di gelar oleh ibu tirinya saat ini.
Namun untuk menghilangkang kegugupannya itu, Arana lansung
berjalan ke arah cermin lalu mengambil bedak dan mengusap di wajahnya.
Steven yang melihat tingkah gugup Arana, tersenyum lalu
kembali berjalan mendekat ke arah Arana dan berdiri di belakannya karna saat
ini resleting gaun Arana belum sepenuhnya naik. Steven kembali menaikkan
resletin gaun yang Arana kenakan sambil melihatnya ke arah cermin.
Setelah selesai bersiap Steven melihat ke arah Arana, lalu
berkata. “Nyonya Steven apa kamu suda siap? Untuk pergi ke acara pernikahan
saudari tirimu dan juga?..” Steven menutup mulutnya dengan satu jarinya karna
melihat mata Arana yang melototinya dengan sangat tajam “Maaf, nyonya aku tidak
akan pernah lagi menyebut mantan pacar kamu itu lagi.” Steven terkekeh setelah
mengatakan itu.
Arana yang melihat semua tingkah laku Steven hari ini begitu
sangat heran, mulai dari semalam hingga saat ini Steven selalu bersikap baik
dan terlalu romantis menurutnya dan itu membuat Arana selalu berkata dalam hati
dengan semua tingkah laku Steven
terhadapapnya yang begitu sangat berlebihan.
Dan bahkan saat ini Arana harus menutup bedak tebal di
lehernya karna bekas merah yang telah Steven buat ketika ia ingin mandi masih
sangat jelas terlihat.
Di dalam mobil Arana tidak berhenti melihat cermin karna
selalu melihat ke arah lehernya yang kini terlihat sangat jelas, ukiran warna
merah yang Steven buat di lehernya.
Sementara Steven yang melihat Arana tidak berhenti melihat
ke arah cermin tersenyum lalu berkata. “Kenapa sih? Selalu melihat leher kamu? Apa
ada yang salah di situ?” pertanyaan konyol mulai keluar dari dalam mulut Steven
dan itu membuat Arana merasa sedikit kesal.
“Ini semua karna kamu!” marah “Gara-gara kamu meninggalkan
tanda merah di leherku” kesal “Apa kata orang nanti yang melihatnya?” Arana
melihat melihat ke arah Steven ketika mengatakan itu.
Steven yang mendengar ucapan Arana tertawa melebar karna
menurutnya Arana terlihat sangat lucu ketika mengatakan itu kepadanya, lucu
dengan caranya berbicara, lucu dengan tingkah semua tingkah lakunya.
Steven pun berkata. “Bodo amat. Aku tidak perduli dengan apa
yang mereka katakan, cuman satu hal yang mereka harus tau kalau kamu sudah
memiliki suami, suami yang bisa melakukan apa saja terhadap istrinya. Orang-orang
itu harus paham dengan apa yang mereka bicarakan. Bukan asal gosip ini itu, iya
kan sayang.” Steven mengedipkan matanya melihat ke arah Arana ketika mengatakan
itu dan kembali pokus melihat ke arah jalanan karna saat ini ia tengah
mengemudikan mobilnya.
Arana yang mendengar ucapan Steven, terdiam membenarkan apa
yang baru saja Steven katakan, karna menurutnya semua yang Steven katakan benar
adanya.
Waktu terus berlalu tidak terasa saat ini mobil Steven
tengah memasuki pintu gerben rumah orang tua Arana yang terlihat penuh dengan
mobil-mobil para tamu yang datang menghadiri acara pernikahan Michel dan Aditya.
Steven mematika mesin mobilnya lalu turun dari mobilnya. Namun
sebelum ia keluar dari dalam mobilnya ia berkata kepada Arana.
“Kamu jangan keluar dulu ya. Tunggu aku, biar aku yang
membuka pintu mobil untukmu.” Seteleh mengatakan itu Steven keluar dan berjalan
mengitari depan mobilnya dan membukapintu mobil untuk Arana.
Arana yang melihat perlakuan Steven yang berubah 99% menurutnya,
mengatupkan alisnya karna masih bingun dengan semua perlakuan dan perhatian
Steven yang berlebihan menurutnya.
Steven membuka pintu mobilnya dan memberikan tangannya untuk
Arana pegan untuk keluar dari dalam mobil.
Arana yang melihat tangan Steven menjulur ke arahnya,
tersenyum dan meraih tangan Steven sambil berkata.
“Terimakasih.” Tersenyum manis.Lalu berangjak dari duduknya
dan keluar.
Arana berdiri di
sampin Steven dengan senyuman manis tersunggin di bibirnya. Dan para tamu yang
melihat ke ke arah mereka berdiri di sampin mobilnya berjalan ke arahnya karna
para tamu tersebut mengetahui kalau salah satu menantu Wirawan adalah orang
yang paling kaya di kota X dialah putra
dari Abrahan Carlos yang tidak lain adalah Steven Abrahan Karlos.
Wilda dan Wirawan melihat para tamunya berjalan keluar dari
dalam rumahnya agak sedikit heran, bahkan bertanya-tanya kenapa para tamunya
keluar dari dalam rumahnya.
Wilda pun berkata “Apa yang terjadi Pa? Kenapa para
tamu-tamu kita keluar dari dalam rumah? Dan memilih berkumpul di depan rumah
kita.” Tanya Wilda melihat ke arah suaminya yang kini tengah duduk berdampingan
dengan suaminya.
“Papa juga tidak tau, ada apa di luar.” Jawab Wirawan.
Wirawan ingin berjalan keluar, namun papa Aditya berjalan
masuk bersama dengan Steven berdampingan dengan Arana.
Bahkan Papa Aditya terlihat sangat senang karna bisa
berjalan berdampingan dengan Menantu Wirawan, karna mengingat Steven adalah
inpestor terbesar di dalam perusahaannya, bahkan Papa Aditya sampai berpikir
soal putri Wirawan yang kini menjadi istri Steven Abrahan, kalau kehidupan
Arana pasti seperti putri raja di dalam istana Steven.
Arana terlihat sangat cantik, bahkan gaun yang Arana kenakan
adalah gaun yang termahal karna Steven membelinya dari butiq ternama yang ada
di kota yang di tempatinya saat ini.
Arana berjalan di
sampin Steven sambil melingkarkan tangannya di lengan Steven sementara Steven
tidak berhenti mengelus lembut tangan Arana yang kini tengah melinkar di
bahunya.
Senyum Arana tidak pernah terlepas dari bibir mungilnya dan
itu membuat Wirawan begitu sangat senang, senang melihat kebahagian putrinya
yang kini telah bahagia bersama dengan suaminya.
Arana mulai berjalan ke arah kedua mempelai dan memberikan
selamat kepada keduanya, Arana terlihat biasa-biasa saja ketika memberi selamat
ke pada Aditya, namun Aditya nampak tidak senang melihat kebahagian Steven dan
Arana yang kini tidak berhenti tersenyum hangat melihat ke arah istrinya yang
kini tengah berjalan di depannya.
“Selamat ya Dit. Akhirnya kamu menikah juga.” Tersenyum manis
melihat ke arah Michel yang kini tengah tersenyum sinis melihat ke arahnya “Selamat
juga ya Chel akhirnya kamu menikah juga.” Mencium pipi kiri dan pipi kanan
Michel ketika mengatakan itu.
“Iya kamu juga Ara. Semoga kamu juga cepat dapat momongan
sama seperti aku.” Michel mengelus perutnya ketika mengatakan itu.
Steven yang mendengar ucapan Michel berkata. “Tentu saja, Kami
berdua selalu berusaha dan bahkan aku berdoa semoga kami di beri bayi-bayi
kembar. Amin” Steven melingkarkan tangannya di pinggan Arana ketika mengatakan
itu.
Arana yang mendengar ucapan Steven agak sedikit malu,karna
kedua orang tua Aditya dan juga orang tuanya tengah melihat ke arahnya.
“Apaan sih Stev.” Mencubit pelan pinggan Steven karna merasa
malu.
“Tapi benarkan Ra? Kita akan selalu berusaha untuk
memilikinya juga?” tersenyum jail melihat ke arah wajah Arana yang kini mulai
terlihat memerah karna merasa malu mendengar semua yang tengah di katakan
Steven kepadanya.
Semua yang mendengar kata-kata yang Steven ucapkan tertawa. Namun
tidak dengan Aditya ia nampak sangat kesal meihat Arana behagia dengan pemuda
lain meskipun itu suaminya.
Menyesal dan menyesal iya, itulah yang tengah Aditya rasakan
saat ini,karna telah meninggalkan Arana ketika Arana tengah membutuhkan
dukungannya.
Dan benar kata orang penyesalan itu akan datangnya
belakangan kalau datang duluan berarti itu adalah pendaftaran. (kata
Autornya^_^)
Setelah selesai memberi selamat kepada kedua mempelai Steven
mengajak Arana turun dari panggun dan berjalan ke arah meja makan, karna ia tau
Arana belum makan apapun mulai dari pagi hingga saat ini. Meskipun di rumah
Steven mengajak Arana makan dulu baru pergi ke rumah orang tuanya, namun Arana
menolak dengan alasan tidak enak datang terlambat ke acara keluarganya.
Steven mengambil makanan untuk Arana makan, kemudian
menyuapinya dengan penuh Cinta. Namun Arana merasa sedikit malu ketika Steven
menyuapinya malu karna semua tamu melihat ke arahnya.
“Stev, aku bisa makan sendiri.” Araba ingin mengambil piring
dari tangan Steven.
Namun dengan segera Steven menjaukan piring yang ada di
tangannya, agar Arana tidak mengambil piring tersebut.
Steven pun berkata “Biar aku saja yang menyuapimu makan ya
sayang. Aaaa, buka mulutnya.”
Arana yang mendengar ucapan Steven malah tambah semakin malu,
karna lagi-lagi Steven memanggilnya sayang, bahkan ucapan para tamu mulai
terdengat jelas di telinganya.
“Mesra sekali mereka berdua. Aku jadi iri.” Ucap salah satu
tamu yang ada di dalam rumah Wirawan.
ika widya
alhasil skrg menderita hati dah 🤪🤪
aq dah baca sinopsis, MW mau ralat dikit ya Thor🤭
usia kuliah S1 itu kalo dari tamat SMA itu rata2 18-22 tahun. kl udah 23 berarti mahasiswa abadi 😂