NovelToon NovelToon
Love Of A Nurse

Love Of A Nurse

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:25.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Anita Rachman

Aneska seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit terkenal di ibu kota.
Tiba-tiba dia mendapatkan tawaran tentang pemindahan tugas. Yang mana bayarannya empat kali lipat dari gajinya.

Akankah dia menerima tawaran itu atau tidak?
Kira-kira siapa yang bisa membayar dengan nominal sebanyak itu.

Penasaran???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Enggak pak, Anes enggak hamil." Ucap Aneska menghalangi bapaknya agar tidak memukul wajah Zidan.

"Tapi tadi ibu kamu bilang..." Ucap bapaknya bingung.

"Ibu dengar dulu penjelasan dari Zidan." Ucap Aneska.

Aneska membawa bapak dan ibunya untuk duduk. Pasangan paruh baya itu memperhatikan Zidan dengan tatapan tajam.

"Cyra ambilkan minum untuk bapak sama ibu." Perintah Aneska kepada adiknya.

Aneska duduk di sebelah Zidan, tapi ibunya langsung marah.

"Jangan duduk bersebelahan bukan muhrim, pindah." Bentak ibunya.

Aneska tidak jadi duduk, dia berdiri sambil bersandar di dinding.

"Jelaskan maksud kedatangan kamu ke sini." Ucap bapaknya tegas.

"Saya Zidan, maksud kedatangan ke sini mau mempersunting anak bapak Aneska." Ucap Zidan.

"Aduh pak, anak kita pasti hamil." Ucap ibunya panik sambil menggoyang-goyangkan lengan suaminya.

"Ibu bisa diam tidak." Bentak suaminya. Ibu Desi langsung menutup mulutnya.

"Saya dan Aneska tidak melakukan hubungan seperti itu, niat saya ke sini murni untuk meminang anak bapak." Ucap Zidan.

"Bohong, pasti kamu baru menghamili anak saya, jawab jujur." Ucap ibu Desi sambil memegang sutilnya.

"Bu, awas kalau sutilnya kena kepala bapak." Ucap suaminya. Ibu Desi meletakkan sutil di pangkuannya, dia takut senjatanya mengenai kepala suaminya.

"Bu, apa yang di katakan Zidan benar, Aneska tidak hamil, kalau ibu tidak percaya periksa perut Anes." Ucap Aneska sambil menunjukkan perutnya kepada ibunya. Ibu Desi langsung memegang perut anaknya.

"Ini belum bisa membuktikan apapun, Cyra beli tespek." Perintah ibunya.

"Siap, uangnya mana." Ucap Cyra.

"Minta sama kakakmu." Ucap ibunya. Aneska memberikan uang kepada adiknya. Adiknya langsung meluncur menuju apotik terdekat.

Sambil menunggu adiknya datang, pak Mirza menginterogasi Zidan.

"Jelaskan siapa kamu dan apa pekerjaan kamu." Tanya pak Mirza.

"Saya tinggal di istana." Belum sempat Zidan selesai dengan penjelasannya ibu Desi langsung memotong pembicaraan Zidan.

"Istana? kamu apanya pak presiden, kalau anaknya tidak mungkin, kamu terlihat lebih berumur dari anak bungsu pak presiden." Ucap ibu Desi.

Zidan tambah bingung dengan arah pembicaraan ibunya Aneska.

"Ibu, Aneska bukan kerja di istana negara, tapi di istana lain." Jelas Aneska.

"Istana lain? maksud kamu istana inggris." Ucap ibunya lagi.

"Bukan bu." Aneska menggaruk kepalanya. Dia bingung harus menjelaskan apa kepada orang tuanya.

"Oh ibu pikir kalau saya dan Aneska bekerja di istana negara ya?" ucap Zidan.

"Iya." Ucap ibu Desi singkat.

"Bukan bu, jadi sebenarnya kami bekerja di sebuah rumah yang sangat besar. Saking besarnya rumah itu di sebut istana. Bangunannya juga seperti istana." Jelas Zidan.

"Terus kamu di sana di bagian apa." Tanya ibu Desi.

"Dia bagian tukang sapu bu." Timpal Aneska.

"Tukang sapu? gila tukang sapu aja sudah punya mobil, kalau ada lowongan kasih ke bapak, tukang kebun pun jadi, iya kan pak." Ucap ibu Desi sambil menyenggol bahu suaminya.

"Ibu bisa diam tidak." Ucap suaminya mengingatkan istrinya yang terlalu banyak bicara.

"Kenapa kamu mau menikahi anak gadis saya." Tanya pak Mirza.

"Karena saya cinta sama anak bapak." Ucap Zidan jujur. Ketika Zidan mengatakan itu Aneska langsung menolehkan kepalanya cepat. Hatinya langsung berdebar kencang ketika pria itu mengatakan kata cinta.

Aneska jangan geer, itu hanya sandiwara. Mana mungkin orang kaya suka sama orang susah seperti dirimu.

"Assalamualaikum." Cyra masuk kembali ke dalam rumah sambil membawa bungkus plastik yang di dalamnya ada tespek dan langsung menyerahkan kepada kakaknya.

"Cepat tes." Ucap ibunya. Aneska menuju dapur karena kamar mandi ada di dekat dapur. Di sana dia mengetes air urinnya dengan alat yang bernama tespek. Setelah ada hasilnya, Aneska langsung keluar dari kamar mandi dan menunjukkan kepada kedua orang tuanya.

"Bapak ibu bisa lihat Aneska tidak hamil, ini buktinya." Jelas Aneska. Melihat hasil tespek itu ibu Desi dan suaminya merasa lega.

"Apa bapak mengizinkan saya menikahi anak gadis bapak." Ucap Zidan lagi.

Bapak dan ibunya saling pandang kemudian melihat ke arah anak sulungnya.

"Karena ada niat baik, dan untuk menghindari dosa, kami menerima lamaran ini." Ucap bapaknya.

Zidan terlihat senang, tapi tidak dengan Aneska, dia merasa kasihan dengan orang tuanya karena pernikahan ini hanya sandiwara untuk melindungi dia dan keluarganya.

"Kalau bapak dan ibu setuju, saya mau pernikahan itu di laksanakan tiga hari lagi." Ucap Zidan.

"Apa! tiga hari." Ucap ibu dan bapaknya kaget.

Zidan menganggukkan kepalanya cepat.

"Mana mungkin tiga hari, banyak hal yang harus di persiapkan." Gerutu ibunya.

"Ibu tiga hari ini hanya nikahnya saja. Untuk resepsi sebulan lagi, bagaimana." Jelas Zidan.

"Tetap tidak bisa, waktunya terlalu sedikit, banyak hal yang harus di urus di kantor urusan agama. Kenapa harus tiga hari, adakan saja pernikahan kalian satu bulan lagi bersamaan dengan resepsinya." Ucap bapaknya.

"Karena saya mau berangkat keluar negeri." Ucap Zidan.

"Katanya tukang sapu kok bisa keluar negeri." Ucap ibunya bingung.

"Bukan bu, Aneska hanya bercanda dia bukan tukang sapu tapi orang kepercayaan pemilik istana." Jelas Aneksa.

Bapak dan ibunya saling pandang. Mereka bingung harus mengatakan apa.

"Saya tau ibu dan bapak pasti memikirkan omongan para tetangga. Resepsi tetap ada, tapi setelah satu bulan, intinya kami halal dulu." Jelas Zidan.

Orang tua itu masih belum memberikan jawaban.

"Untuk tempat pernikahan dan segala dokumen yang akan mengurus saya. Bapak dan ibu hanya merestui saja." Jelas Zidan.

Akhirnya kesepakatan di ambil, orang tua Aneska menyetujui pernikahan anaknya dengan Zidan. Semuanya di serahkan sama calon menantunya.

Zidan terlihat sibuk, dia menghubungi beberapa orang untuk mengurusi semuanya.

"Nanti ada beberapa orang yang datang ke sini, meminta semua dokumen untuk pernikahan kami, bapak serahkan saja sama mereka. Saya harus pergi, Aneska saya titip sama ibu dan bapak di sini. Assalamualaikum." Ucap Zidan sambil berlalu meninggalkan rumah calon mertuanya.

Setelah Zidan pulang, Aneska kembali di tatar kedua orang tuanya. Di ajukan beberapa pertanyaan yang membuatnya bingung mau menjawab apa.

***

Di istana Bassam, nyonya Rona, Tanisa dan menantunya Farid sedang menunggu kedatangan pengacara keluarga Bassam.

Mereka menunggu di ruang kerja, tidak berapa lama, ibu Tatik membawa seorang pria paruh baya ke dalam ruangan itu

"Selamat siang." Ucap pengacara.

"Selamat siang bapak pengacara, silahkan duduk." Ucap nyonya Rona ramah.

"Maaf mengganggu jam kerja anda, saya mengundang anda ke sini, karena kami mau menanyakan tentang wasiat almarhum suami saya." Ucap nyonya Rona.

"Wasiat tuan Bassam saya simpan di tempat yang aman." Ucap pria paruh baya itu.

"Syukurlah kalau begitu, tapi bagaimana kalau kenyataannya anak saya Abian tidak bisa mengurusi semua harta suami saya." Ucap nyonya Rona pura-pura bersedih.

"Ada apa dengan Abian." Pengacara penasaran.

"Abian sudah jadi gila pak." Timpal Tanisa.

"Kalau gila ya di sembuhkan, kalau belum sembuh harta warisan tidak akan di bagi kepada siapapun." Jelas pengacara itu.

"Tapi sudah lama pak." Timpal Farid.

"Saya hanya mengikuti wasiat tuan Bassam, tujuh puluh lima persen untuk Abian, nyonya Rona, Tanisa, Ila mendapatkan tujuh persen. Sisanya empat persen untuk Ibu Zulfa." Jelas pengacara.

"Tidak bisa seperti itu, selama Abian sakit yang mengurusi perusahaan Bassam saya. Kenapa saya tidak mendapatkan apapun." Ucap Farid tamak.

"Anda siapa." Tanya pengacara bingung.

"Dia suami saya." Jawab Tanisa.

"Oh suami bukan termasuk darah daging jadi tidak mendapatkan apapun, sudah jelas? kalau tidak ada keperluan lagi saya permisi mau undur diri." Ucap pengacara itu tegas sambil berlalu keluar dari ruang kerja itu.

"Mami lakukan sesuatu, aku tidak mau kalau mendapatkan tujuh persen." Gerutu Tanisa.

"Mami harus melakukan apa." Ucap maminya bingung.

Farid mondar mandir di dalam ruangan itu, dia sedang berpikir cara mendapatkan harta keluarga Bassam.

"Aku ada ide." Ucap Farid semangat.

"Apa." Ucap Tanisa.

"Kita biarkan Abian tetap menikah." Ucap Farid.

"Mami enggak setuju."

"Aku juga enggak setuju." Timpal Tanisa juga.

"Mami dengar dulu, wanita yang akan menjadi istri Abian wanita yang memihak kita." Ucap Farid.

"Siapa." Ucap Tanisa lagi.

"Akan aku cari siapa wanita itu, mami dan kamu tenang saja. Nanti wanita itu akan memperalat Abian." Ucap Farid dengan tersenyum licik.

Di luar istana, pengacara mau masuk ke dalam mobilnya, tapi dia melihat sosok Abian yang sedang memanah. Pria paruh baya itu mendatangi Abian.

"Selamat siang tuan Abian." Sapa pria paruh baya itu.

Abian membalikkan badannya." Bapak Dudu, apa yang anda lakukan di sini." Tanya Abian bingung dengar kehadiran pengacara keluarganya.

"Tidak ada, saya hanya berkunjung saja. Bagaimana keadaan tuan muda." Tanya pengacara itu lagi.

"Bapak bisa lihat sendiri kalau saya sehat." Ucap Abian.

Pengacara itu memperhatikan Abian dari atas sampai bawah sambil tersenyum.

Anak sehat waras di bilang gila, tidak salah kalau tuan Bassam menyerahkan hampir seluruh kekayaannya kepada Abian, karena yang lainnya serakah.

"Saya permisi tuan." Ucap pengacara itu lagi. Pria paruh baya itu jalan beberapa langkah, kemudian kembali mendekati Abian.

"Tuan, kapan anda menikah?"

"Kenapa?" Ucap Abian.

"Agar tugas saya cepat selesai." Ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum dan menepuk bahu Abian.

Bersambung.

Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.

1
Rokhyati Mamih
lah kok tamat ?
Mira Fitriani
❤️
Mira Fitriani
asli.....penuh kejutan 😁
Mira Fitriani
horor banget tu istana......ampun dah🫣
Ayu Achmad
😍😍
Indra Listiana
thur . ampuun...di mn mn seorg yg kerja di tmpt ..hrs ikuti atur yg berlaku.. jg soal seragam .....
Indra Listiana
di hukum aja bu ...
Indra Listiana
thur ..knp di kasih yg kek gimi....tny mulu.. secara sdh di ksh tau ... haduuh
💕febhy ajah💕
kepoin ini dlu
zira zico dah lama bnget di baca
Jelo Muda
mantappp
Vitry Momy'Na Alesha
hp q d upgrate,,, untung ingat jdul nya he3e
Leni Hendarni
ceritra bagus
Leni Hendarni
Keren abis
Yesi Karean
Aneska ga jujur sih dari awal, jadinya salah paham kan
tukang nyimak
keadaan kamar gelap gulita!
siapaun yg masuk bakalan kena amuk!

boleh bingung gk sih soal... ngasih makannya bagaimana? bersih2 kamar bagaimana? apalagi kamar mandinya?

jadi.. jadi.. 🤔🤔🤔🤔
mikir deweklah...
tukang nyimak
wkwkwkwkwk... aku ngakak bwt bu Tatik yg kena bogem mentah 🤣🤣🤣🤣

jujur aku sempet gk paham alurnya di beberapa bab
tp karena jiwa kesel ku nungguin si cwo nya gk nongol alhasil aku nyimak aja kali2 ada kejutan mustahil bakalan lanjut apa gudbay

ok.. ok.. komenku jg gk penting2 amat..
lanjutlah.. ✌✌👍🏼👍🏼
Linda Latif
mantapp
ahyuun.e
kek tong kosong nyaring bunyi melambangkan aneska, perwat yg asli gak bnyak omong dan tertib aturan dan sllu bicara sesuai arahan, lah ini nyasar dri planet mana si aneska ini
Desii
karakternya terlalu agresif banget dab terlalu crewet pingin tahu semuanyaa...
abu😻acii
dia ngk stress 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!