Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Pak Harto sudah tiba di ladang dan ketika dia ingin memotong sebuah pohon yang tumbang, dia baru sadar jika parang yang biasa dia bawa ketinggalan di rumah nya.
"Aduh, aku harus kembali lagi. Kalau nungguin ibu ke ladang bisa siang nanti!" Guman pak Harto sambil berbalik arah pulang ke rumah nya.
Di rumah nya Farhan batu saja selesai mandi dan dia terkejut melihat ibu nya membawa sebilah parang mendekati Mawar.
"Ibu, untuk apa ibu membawa parang itu?" Teriak Farhan dan dia melihat Mawar ketakutan sambil menangis.
"Mawar sudah berani membuang seragam sekolah milik Indah, jadi ibu mau cincang seragam nya biar dia juga tidak bisa sekolah lagi!" Bu Munah berjalan mendekati Mawar yang menangis terisak di lantai.
Dengan cepat Farhan merebut parang itu dari tangan ibu nya lalu melempar kan nya keluar dari jendela yang sedang terbuka.
"Aku tidak percaya Mawar melakukan nya, sebaik nya ibu dan Indah cari dulu dengan teliti. Karena biasanya Indah menyimpan semua barang- barang milik nya di sembarang tempat!" Farhan berkata pada ibu nya, karena Farhan tahu bagai mana ceroboh nya Indah.
"Aku letak kan di atas kursi kemarin dan Mawar yang beres - beres rumah, pasti dia yang sudah membuang nya!" Indah masih saja menyalahkan Mawar.
"Cukup Indah, kau sendiri tidak bisa menjaga barang- barang mu. Jadi jangan menyalahkan orang lain!" Bentak Farhan yang sudah sangat muak dengan kelakuan adik bungsu nya tersebut.
"Farhan, jangan membela Mawar nanti dia bisa besar kepala!" Bu Munah tidak terima putri kesayangan nya di bentak oleh Farhan.
"Mawar, segera bersiap kita langsung berangkat!" Farhan memberikan perintah pada Mawar.
Setelah itu Farhan langsung mengenakan seragam sekolah nya, dia ingin segera membawa Indah pergi dari rumah itu. Bahkan dia melewat kan sarapan, dia lebih memilih sarapan di kantin sekolah saja dari pada berada di rumah lebih lama.
Farhan segera membawa Indah pergi ke sekolah, dia tidak menghirau kan teriakan ibu nya yang terus memaki Mawar dengan kata - kata yang tidak pantas di dengar.
"Ada apa bu? Kenapa pagi - pagi sudah marah - marah?" Tanya pak Harto yang baru saja tiba di rumah untuk mengambil parang nya yang ketinggalan.
"Lihat lah pak anak kesayangan mu, si Mawar. Dia sudah berani membuang seragam sekolah nya Indah, dia semakin keterlaluan karena bapak dan Farhan selalu membela nya!" Bu Munah tampak masih sangat geram dengan Mawar.
"Ndak mungkin Mawar melakukan semua itu, mungkin Indah lupa naruh nya saja. Coba di cari dulu, biar bapak bantu!" Pak Harto pun ikut masuk ke dalam kamar Indah untuk membantu mencari nya.
Pak Harto mengecek di belakang lemari, dan tidak lupa dia mengecek di kolong tempat tidur.
"Lah, ini rok seragam mu. Maka nya jangan di lempar sembarangan, kalau udah gak tahu di mana letak nya bisa nya menuduh Mawar!" Pak Harto mengambil rok itu dan memberikan nya pada Indah.
"Indah itu masih kecil pak, jadi wajar kan kalau dia sembarangan meletakkan barang - barang nya. Harus nya Mawar itu lebih teliti dan dia wajib mengurusi semua keperluan di rumah ini!" Bu Munah tetap menyalahkan Mawar atas apa yang terjadi.
"Indah sudah cukup besar bu, ibu jangan lupa ibu sudah mendidik Mawar dengan keras untuk melakukan semua pekerjaan rumah sejak usia nya baru 4 tahun. Sedang kan Mawar sudah 12 tahun tapi tidak bisa apa - apa!" Pak Harto memarahi istri nya.
"Ya wajar dong pak Indah gak bisa apa - apa, dia itu bungsu. Mawar yang harus melakukan semua nya untuk Indah!" Bu Munah tidak terima suami nya malah menyalahkan anak kesayangan nya.
"Bu, jangan jadi orang tua yang durhaka. Semua anak itu sama jangan di beda - bedakan, mereka itu titipan dari gusti Allah!" Pak Harto menasihati istri nya.
"Sudah lah pak, kau dan Farhan sama saja, selalu membela Mawar!" Bu Munah berlalu dari hadapan pak Harto.
"Astagfirullah hal adzim bu, kenapa kau sekejap ini sama Mawar. Dia juga putri kandung mu, tapi kau memperlakukan nya seperti anak tiri!" Pak Harto hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap istri nya.
Berulang kali pak Harto menasihati bu Munah agar tidak pilih kasih terhadap anak, tapi semua itu tidak pernah di indahkan oleh Bu Munah. Dia akan melakukan apa saja untuk Farhan dan Indah, tapi tidak untuk Mawar.
******
Seperti hari - hari sebelum nya, Mawar selalu mengerjakan semua pekerjaan yang ada di rumah setelah dia pulang sekolah. Mawar yang sedang menyapu tidak menyadari jika Indah sudah mendekati nya.
Indah memukul sebuah kayu seukuran lengan orang dewasa tepat di punggung Mawar.
"Ya Allah Indah, apa yang kau lakukan?" Mawar terkejut dengan apa yang di lakukan oleh adik nya barusan.
"Ini balasan untuk mu, karena kau sudah membuat ayah dan kak Farhan memarahi ku!" Indah berkata sambil berkacak pinggang.
"Kenapa kau selalu menyalahkan ku untuk semua kesalahan mu?" Tanya Mawar pada adik nya.
"Aku anak kesayangan ibu, lihat saja aku akan membuat mu di pukul sama ibu nanti. Ibu akan menuruti semua keinginan ku, aku sangat senang melihat mu menderita!" Indaj keluar dari dalam rumah dan dia kembali masuk lagi sambil membawa satu genggam pasir.
Indah menabur kan pasir itu di tengah rumah, di tempat yang sudah di sapu dan di pel oleh Mawar.
"Silahkan bersih kan rumah ini, aku ingin menyusul ibu dan akan membuat ku di hukum!" Indah segera berlari ke luar rumah meninggal kan Mawar yang masih terpaku di tempat nya.
Indah memang masih kecil, dia baru berumur 12 tahun. Tapi dia sangat licik melebihi orang dewasa, bu Munah selalu tutup mata dan telinga akan semua kesalahan Indah. Bagi nya, apapun yang di lakukan oleh Indah, semua nya benar dan cuma Mawar lah yang salah.
"Astagfirullah hal adzim!" Mawar hanya bisa beristigfar sambil mengelus dada nya melihat kelakuan adik nya.
Tidak ingin membuat semua nya semakin runyam, Mawar segera membersih kan kembali lantai yang sudah di taburi oleh Indah pasir tadi. Setelah itu dia bergegas mencuci piring dan memasak.
Ketika dia sedang memasak, bu Munah pulang bersama Indah. Bu Munah masuk ke dalam rumah dan langsung menemui Mawar yang sedang memasak.
"Berani nya kau memukul Indah, aku akan menghukum mu!" Bu Munah mengambil sebuah sapu dan memukul nya berkali - kali di tubuh Mawar.
"Aku tidak pernah memukul Indah Bu!" Mawar berkata sambil menangis.
Sapu yang di pakai oleh Bu Munah untuk memukul Mawar patah hingga menjadi 3 bagian. Indah tersenyum puas melihat Mawar menangis menahan sakit karena pukulan dari bu Munah.