Sella gadis berumur 18 tahun yang masih duduk di bangku SMA di haruskan menggantikan peran Rika, sang kakak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Sella dituntut melayani segala keperluan Dimas hingga menimbulkan kedekatan di antara keduanya.
Sang kakak yang memiliki hasrat diluar batas yang membuatnya sibuk dengan pria yang mampu memberikan kepuasan untuknya, tak menyadari adanya gemercik cinta di antara adik dan suaminya.
Bagaimana nasib Sella setelah kakaknya tau jika dimas mencintai?
Apakah cinta Sella dan sang kakak ipar akan terus berlanjut?
yuk baca ceritanya ....
Ig: weni0192
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mamah dan Papah
Pagi harinya Dimas di buat repot dengan telpon dari mamah yang mengharuskan dia menjemput kedua orangtuanya di bandara, Rika yang tau mertuanya akan datang dan singgah di rumahnya pun merasa tidak senang. Hubungan mereka memang dari awal sudah tidak baik, Rika yang keras tidak bisa menuruti apa permintaan sang mertua, apa lagi Dimas yang anak tunggal sudah pasti keturunan adalah harapan yang pertama.
"Mas kamu dari mana aja sich, dari tadi mamah telponin kamu, kamunya nggak ada!" ucap Rika yang baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Dimas membuka pintu.
"Aku abis dari dapur tadi, mamah telpon kenapa tumben pagi-pagi gini?"
"Papah dan mamah sudah sampai di bandara, kamu harus bersiap jemput mereka di sana mas!"
"Kenapa mendadak sich!" Dimas langsung melesat ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
Mandi bebek ajalah, kasian mamah sama papah kalo harus nunggu lama, ini subuh aja belum tapi udah sampai sebenarnya ada apa sich...
"Aku jemput mamah papah dulu ya, kalo bisa kamu nggak usah kerja dulu, temenin orang tua aku di rumah!"
"Aku harus kerja mas, apalagi besok harus berangkat ke luar negeri, aku harus persiapkan semuanya," tolak Rika.
"Terserah kamu lah, tunggu sampai aku pulang lagi baru kamu berangkat ke butik!"
"Iya," jawabnya malas, Rika kembali menarik selimut melihat itu Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dimas segera pergi menuju bandara, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung hari yang masih sangat pagi membuat jalanan masih lengang. Tiga puluh menit untuk sampai di sana, Dimas langsung berlari mencari kedua orangtuanya yang sudah duduk di kursi tunggu.
"Mah Pah!" panggil Dimas dengan senyum yang mengembang.
"Sayang mamah kangen nak, bagaimana kabar kamu?" ucap mamah yang sudah memeluk Dimas dengan erat.
"Kabar aku baik mah, mamah gimana?" Dimas menciumi pucuk kepala sang mamah, wanita pertama yang sangat ia cintai dan hormati, walaupun sempat mengecewakan beliau.
"Alhamdulillah mah sehat!"
"Syukurlah..."
"Pah!" Dimas beralih ke papahnya lalu memeluk beliau dengan pelukan hangat.
"Bagaimana dengan perusahaan Dim?"
"Papah ini baru ketemu udah nanyain kerjaan!" sindir sang mamah.
"Loh mamah kan tadi udah nanya kabar, ya sudah papah tanya tentang perusahaan, urusan laki-laki itu mah, ya kan Dimas? karena kita punya tanggung jawab untuk membiayai istri," ucap papah.
"Iya Pah, ayo kita lanjut ngobrol di rumah, mamah papah pasti capek kan. Sekalian kita sarapan bersama!"
Perjalanan masih lancar untuk pulang kerumah, Dimas melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 6, lima belas menit lagi sampai, agar dia juga tidak telat ke kantor mengingat hari ini ada meeting.
"Mamah papah kenapa mendadak sekali datangnya?"
"Iya mamah kangen sama kamu, pekerjaan papah di Australia sudah bisa di tinggal, jadi lumayan kan jika seminggu libur menengok anak mamah!"
"Kenapa nggak menetap di Indonesia aja sich Pah?" tanya Dimas menoleh sekilas ke papah yang sejak tadi memperhatikan jalanan kota.
"Masa tua papah akan tetap di sini, tapi untuk saat ini papah masih kuat untuk bekerja ya papah manfaatkan sebaik mungkin!"
"Lagian disini pun mamah belum ada kesibukan apa-apa, kecuali kalo sudah ada cucu, pasti mamah akan minta papah menetap di sini!" sahut mamah.
Dimas merasa bersalah jika mamah sudah membahas tentang cucu, sedangkan selama dua tahun menikah Rika belum juga mau memiliki keturunan.
Hingga sampai di rumah tidak ada obrolan lagi, Dimas hanya diam karena tidak ingin menambah kekecewaan di hati sang mamah.
"Assalamualaikum....." ucap mamah dan papah saat memasuki rumah Dimas, tepatnya rumah almarhum mertua Dimas karena Rika yang tidak ingin pindah kerumah pribadi Dimas, dia lebih memilih tetap tinggal disana agar semua bisa di handle oleh Sella.
"Wa'allaikumsalam......." jawab Sella yang sedang menyiapkan makanan, Sella segera mendekat ketika melihat ada orang tua dari Dimas datang.
"Tante....Om!" Sella menyalami keduanya bergantian.
"Sella, sudah makin besar kamu nak, makin cantik lagi, bagaimana kabarnya nak?"
"Sehat Tante, ayo sarapan dulu Tante Sella udah masak, mari om!" ajak sella kemudian mereka berjalan menuju ruang makan.
"Kamu yang masak semuanya nak?" tanya mamah saat melihat banyak menu makanan di sana, tadi Rika sempat menyuruhnya segera kepasar dan berbelanja banyak sayur serta lauk, agar bisa di masak Sella untuk kedua mertuanya.
"Iya Tante, alakadarnya rasanya ya Tan, om jangan kapok, kalo kurang apa-apa bilang sama Sella nanti Sella perbaiki."
"Oke coba om cicipi dulu ya," papah memakan sedikit masakan Sella, "mmmmm enak, wah pandai kamu nak, udah punya pacar belum nich? pasti calon suaminya nanti suka banget punya istri pandai masak kayak kamu!ya kan mah?"
uhuuuk uhuuuk
Dimas tersedak kopi saat mendengar ucapan sang Papah. Sella yang melihat itu segera meraih gelas yang berisi air mineral ke hadapan Dimas.
"Pelan-pelan kak!"
"Kamu kenapa?" tanya mamah yang melirik begitu perhatiannya Sella terhadap anaknya.
"Nggak apa-apa mah!"
"Mana istri kamu Dimas?" tanya mamah yang sejak tadi tidak melihat Rika di sana.
Dimas menoleh ke arah Sella, Sella yang mengerti segera memanggil Rika untuk segera turun.
"Kak....."
"Iya ada apa?" tanya Rika yang masih anteng memoles wajahnya dengan berbagai alat make up.
"Dicariin sama orang tua kak Dimas kak, di tunggu mau sarapan bareng!"
"Kamu udah masak semua kan?"
"Udah kak!"
"Bagus! kalo besok stok habis kamu pergi ke pasar sepulang sekolah jangan sampai di kulkas nggak ada bahan makanan, soalnya mamah papah pasti disini beberapa hari, aku besok mau ke luar negeri jadi kamu siapin semua kebutuhan yang kurang-kurang atau yang udah habis dirumah ini, nanti aku transfer uangnya!"
"Iya Kak, tapi apa nggak sebaiknya kakak di rumah dulu kan ada orang tuanya kak Dimas baru sampe kak!"
"Nggak usah ngatur kamu! bukan urusan kamu aku mau gimana, yang penting urus keperluan rumah, keperluan suami aku, dan jangan lupa nanti sore siapin keperluan aku untuk aku bawa besok, ngerti!"
"Iya kak!"
Sella dan Rika turun kebawah menuju ruang makan. Rika menyalami kedua mertuanya dengan sopan lalu duduk di samping suaminya.
Mereka sarapan dengan khidmat, mamah sejak tadi melirik Rika yang sudah rapi, memperhatikan menantunya yang belum juga berubah masih terus mengandalkan Sella dalam segala hal.
"Aku udah selesai, aku berangkat duluan ya om, Tante, kak!"
"Tunggu Sell ambilin dasi mas dimas sama tas kerja nya sekalian ya di kamar, sama tas aku juga boleh, aku capek mau naik lagi."
Sella segera berlari menuju kamar kakaknya mengambil semua pesanan Rika, Dimas yang melihat hanya menggelengkan kepala.
"Kamu mau kemana Rika?" tanya mamah yang sejak tadi memperhatikan.
"Ke butik mah, maaf ya aku nggak bisa nemenin mamah sama papah, karena pekerjaan aku padat banget! nanti aku bilang Sella supaya nggak main dulu pulang sekolah nanti, biar bisa nemenin mamah sama papah.
Mamah hanya diam tak ada niat menjawab, dalam hati beliau sangat kecewa dengan menantunya.
"Ini kak!" ucap Sella yang sudah membawakan keperluan kakaknya.
"Sella berangkat sama siapa? apa di jemput pacarnya?" tanya papah yang sejak tadi memperhatikan Sella, beliau lebih tertarik dengan Sella yang terlihat sopan dan pintar.
"Sella berangkat sendiri om," jawab Sella kemudian mencium tangan kedua orang tua Dimas.
"Emang pacarnya kemana?"
"Nggak ada ngabarin om, mungkin sibuk!" jawab Sella seraya memperlihatkan ponselnya.
"Wah nyari yang baru aja lagi Sell, nggak bisa di harapkan," ledek papah.
"Ide bagus tuh om, boleh di coba!" gurau Sella kemudian mencium tangan Rika dan Dimas.
"Jangan macem-macem ya dek, kakak gigit kamu kalo berani nyari lagi!" bisik Dimas.
"Kalo om ada kandidat Sella mau nggak?"
"Yang penting jangan yang udah beristri ya om, bisa bikin sakit hati setiap hari!" celetuk Sifa kemudian segera pergi meninggalkan Dimas yang sudah gemas melihatnya.