NovelToon NovelToon
Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:9.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kolom langit

"Kamu dan ayah adalah paket kombinasi paling menyebalkan di dunia. Kalian merantaiku dan mengikutiku kemana-mana." Ameera.


"Bila perlu aku akan menjadi Kutumu." Rangga.

Cinta tidak selamanya harus memiliki. Inilah yang terjadi pada Rangga. Baginya menjaga dalam persahabatan adalah bentuk lain dari cinta tanpa harus memiliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian ayah

Ozan dan Ameera sudah sampai di ruang perawatan sang ayah. Ameera menatap ayahnya yang masih di penuhi peralatan medis dengan wajah sedih. Didalam ruangan sudah ada Hasan, Zarima, beserta seorang penghulu yang akan menjadi wali nikah dan juga ada dua orang yang akan menjadi saksi pernikahan.

Ozan duduk didepan penghulu. Sebelum akad nikah, penghulu memberikan wejangan-wejangan untuk Ozan. Wejangan berupa penjelasan tentang hak dan kewajiban Ozan sebagai suami. Bahwa setelah ini Ameera akan menjadi istrinya, artinya Ameera sepenuhnya menjadi tanggung jawab Ozan. Dan sudah kewajiban Ozan memberikan nafkah lahir bathin kepada Ameera.

Sementara Ameera duduk di belakang bersama Zarima, yang menggenggam tangan Ameera, mencoba menguatkan Ameera. Zarima tau Ameera sangat terpukul dengan keadaan ini.

"Saya terima nikahnya, Ameera Malika Hutomo binti Rudianto Hutomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. " terdengar suara lantang Ozan mengucapkan ijab qabul.

"Sah" beberapa orang terdengar mengucapkan kata sah, lalu bersamaan membaca doa.

Ameera memejamkan matanya sesaat, menghela nafas. Lalu menyalami Ozan dengan mencium punggung tangannya. Dibalas dengan kecupan hangat Ozan di kening Ameera.

Didepan pintu yang terbuka Rangga berdiri mendengarkan prosesi ijab qabul. Ia menatap Ameera dengan wajah sedih. Rangga memejamkan matanya sejenak. Melepaskan Ameera memang sesuatu yang teramat berat bagi Rangga.

Akhirnya hari ini aku benar-benar kehilanganmu, Ameera. Kamu sudah menjadi milik Ozan mulai saat ini. Aku bahkan sudah tidak punya hak untuk sekedar menghapus air matamu. Aku benci keadaanku, yang tidak bisa berjuang untuk mendapatkanmu. Sehingga aku harus rela kamu di miliki orang lain.

Ameera dan Ozan menoleh kearah Rangga yang saat itu berdiri sejajar dengan posisi duduk Ameera dan Ozan. Ameera kembali menunduk. Sementara Ozan melihat gurat kesedihan di mata Rangga. Namun Rangga berusaha memperlihatkan senyumnya walaupun hatinya terluka.

Ozan dan Ameera menyalami kedua orang tuanya. Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan menyisakan Ameera dan Ozan yang masih didalam menemani Rudianto.

Ketika Ameera mencium punggung tangan ayahnya, setitik air matanya jatuh walaupun ia berusaha menahannya.

"Ayah, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Istirahatlah dengan tenang, Ayah. " sambil menyeka air matanya. Ameera lalu keluar dari ruangan tersebut. Berusaha menguatkan dirinya.

Kini hanya Ozan uang berada didalam ruangan itu, ia mencium punggung tangan mertuanya. Kemudian membisikkan sesuatu ditelinganya.

"Ayah, aku sudah memenuhi keinginan ayah menikahi Ameera. Selanjutnya aku akan menjaga Ameera dengan nyawaku. Aku berjanji, akan kuberikan apapun yang bisa membuat Ameera bahagia." Kata Ozan yang berbisik pelan di telinga Rudianto.

Rudianto menggerakkan jarinya, yang berada dalam genggaman Ozan, mengisyaratkan ia mendengar apa yang di ucapkan Ozan. Ozan menyadari gerakan jari Rudianto, kembali membisikkan sesuatu.

"Tugas ayah sudah selesai, ayah bisa istirahat dengan tenang." kali ini Ozan tak mampu lagi membendung air matanya. Bagaimanapun, sejak kecil Rudianto lah yang menjaga nya. Bahkan ia lebih dekat dengan Rudianto daripada dengan ayahnya sendiri.

Tttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt

alat elektrokardiogram berbunyi lama, yang menandakan detak jantung Rudianto berhenti. Ozan berteriak memanggil dokter. Semua orang didepan ruangan terlihat panik. Sementara Ameera terdiam kaku.

Dokter dengan sigap menangani Rudianto di bantu oleh beberapa perawat. Diluar ruangan Ozan sedang merangkul Ameera. Rangga yang duduk di ujung kursi panjang hanya mampu menatap sedih ke arah Ameera.

Seharusnya aku yang ada disana memeluk Ameera dan menguatkannya. Maafkan aku Ameera.

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan dengan wajah sedih. Semua orang tampak tegang, Hasan dan Zarima berdiri dari duduknya menghampiri dokter. Sementara Ameera sudah tidak kuat berdiri.

"Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi takdir berkata lain. " seolah kalimat keramat tersebut yang sering di ucapkan dokter dalam film-film sudah menjadi penjelasan yang menandakan bahwa seorang pasien tidak selamat.

Hasan dan Zarima menangis, Rangga mematung menatap Ameera. Sedangkan Ozan memeluk Ameera dengan erat sambil terus menjatuhkan air matanya. Ketika semua orang yang ada disana menangisi kepergian Rudianto,maka lain halnya dengan Ameera, yang sama sekali tidak menangis. Hanya tubuhnya yang bergetar dan tatapannya kosong.

Jangan menangis, jangan pernah menunjukkan kelemahanmu didepan orang lain

Kalimat tersebut terngiang ditelinga Ameera, ketika ayahnya melarangnya menangis. Seolah ia ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa dirinya kuat, maka Ameera berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.

Kepergian Rudianto tepat setelah akad nikah seolah menjelaskan bahwa alasanya bertahan hanya karena menunggu pernikahan anaknya.

Ameera masuk ke dalam ruang itu ditemani Ozan. Tampak ayahnya yang sudah terbaring kaku. Semua alat medis yang menempel ditubuhnya sudah dilepas oleh dokter.

Ameera mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan kepada ayahnya. Lalu beralih mencium tangan dan kening ayahnya secara bergantian.

"Beristirahatlah dengan tenang, Ayah! Maafkan segala kesalahanku yang sering membuat ayah marah." Sambil bersandar didada ayahnya. Masih dengan tatapan kosong tanpa air mata.

***

Hasan dan Zarima sedang mempersiapkan segalanya untuk pemakaman Rudianto, sementara Ramon ditemani Rangga menyelesaikan administrasi rumah sakit.

Jenazah Rudianto akan di bawa kerumahnya dulu untuk dimandikan. Ameera dan Ozan menaiki mobil tepat di belakang ambulan. Bunyi sirine ambulan yang berbunyi selama perjalanan sangat menyayat hati Ameera. Tapi ia enggan menangis didepan suaminya.

Di rumah duka, sudah ada banyak kerabat yang datang setelah mengetahui kematian Rudianto. Saat turun dari mobil, tampak Bu Yani menghampiri Ameera dan memeluknya. Ia berusaha menguatkan Ameera yang terlihat sangat muram. Bagi Bu Yani Ameera sudah seperti anaknya sendiri, karena Bu Yani lah yang telah merawatnya sejak kecil.

Zarima dan Ozan berada disamping Ameera yang duduk disisi pembaringan ayahnya. Sementara Hasan sedang menyalami para kerabat yang berdatangan. Sedangkan Ramon dan Rangga berada dipemakaman mempersiapkan segalanya.

***

Hari menjelang sore, Proses pemakaman pun selesai, Ameera dengan baju gamis hitam dan pashmina berwarna senada dikepalanya, masih duduk disisi makam ayahnya. Ozan dan Zarima sedari tadi tidak pernah jauh-jauh dari Ameera. Mereka terus menemaninya dan memberi dukungan. Hingga tidak terasa hari hampir gelap, Ameera belum beranjak dari duduknya. Ia terus memandangi gundukan tanah yang telah ditaburi kembang, tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Sesekali menatap makam disebelahnya yang merupakan makam ibunya.

Rangga dan ibunya Aliyah datang menghampiri Ameera. Aliyah memeluk ameera, dan mengusap punggung nya. Sementara Rangga menggenggam tangan Ameera, sesekali berusaha menguatkannya dengan mengatakan banyak hal seperti yang dulu dia lakukan ketika Ameera sedang sedih. Rangga tau Ameera tidak pernah menangis didepan siapapun selain ayahnya dan dirinya. Sekalipun Ameera sudah menikah, ia tidak akan menangis didepan Ozan.

Ameera menyandarkan kepalanya dibahu Rangga. Seketika Rangga melirik Ozan yang berdiri didepannya seperti hendak meminta izin. Bagaimanapun status Ozan sekarang sebagai suami Ameera. Ozan menganggukkan kepalanya pada Rangga, ia tahu Ameera sedang membutuhkan Rangga disampingnya.

Tak terasa hari mulai gelap tetapi Ameera masih duduk disana.

"Ayo Ameera, kita pulang." Ozan merangkul bahu Ameera.

"Aku mau pulang ke rumah ayah. " kata Ameera dengan suara datar.

"Ya sudah kita ke rumah ayah."

Zarima dan Hasan ikut menemani Ameera pulang ke rumahnya. Mereka tidak membiarkan Ameera sendirian dalam keadaan berduka seperti saat ini.

1
Ita Lor Pasar
oh jadi gitu toh awal penyebab nya🤭🤭🤭
Arry Desember
segoblok itu ternyata ameera....
Safitri Agus
terimakasih Thor 🙏🥰
Safitri Agus
tidak ada kamera kah dimobil
Lilis Manalu
dan yg pacar nya ozan itu dalang dr semua kecelakaan itu..
Rustan Sinaga
sudah baca semua thor, yg blm Asrama berdarah
Rustan Sinaga
ameera ada ada aja jahilnya
Rustan Sinaga
siapa lagi sih...?
Rustan Sinaga
boleh Rangga diadopsi thor...?
kalo dia bawa warisan dari pak Hasan, boleh deh aku yg adopsi Rangga
😂😂😂
Rustan Sinaga
wah, jangan² Denis kecil ditukar ya waktu kecilnya
Rustan Sinaga
Ozan bucin tapi bego dan gak peka
Rustan Sinaga
cerita aja Ameera, biar Ozan ngerti isi hatimu
Rustan Sinaga
loh, Rangga adiknya musuh pak Hasan?
makin rumit thor
Rustan Sinaga
semangat thor
nobita
drama salah faham masih berlanjut
nobita
ngakak parah nih orang.. sok sokan jadi mister cheff... ternyata nyalain kompor aja gk bisa... hadehhh
nobita
begitu cintanya Ozan pada Ameera... membuat para readers cemburu thor
nobita
lucu sekali mereka berdebat... Ozan dan Ameera
ParyaTi Cnil
Luar biasa
ParyaTi Cnil
sepertinya adasangkut pautnya dengan naura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!