Karena balas budi, Kailani bersedia mengandung calon bayi dari pria yang sama sekali belum ditemuinya. Namun, apa jadinya jika pria tersebut ternyata adalah sang mantan terindah yang ditinggalkannya karena tuntutan sebuah keadaan?
Apakah yang akan dilakukan sang pria yang ternyata masih mencintai Kailani dalam diam dan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ingin lagi membahas masa lalu
Kailandra menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Kepala pria tersebut jelas tertunduk. Jangankan membalas tatapan Kailani, sekedar menegakkan lehernya saja dia tidak mampu. Begitu banyak kata yang tadinya terlintas dipikirannya. Namun, tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan oleh Kailandra. Rasanya, maaf saja tidak cukup untuk menggantikan semua tuduhan, perlakuan dan kata-kata pedas yang selama ini ia berikan pada Kailani.
"Jika Abang datang kesini hanya untuk numpang berdiri. Sebaiknya aku masuk. Aku masih butuh waktu untuk istirahat," ketus Kailani sambil berbalik badan hendak menutup pintu rapat-rapat.
"Sebentar, Kai. Beri aku waktu." Kailandra menahan daun pintu agar tidak sampai tertutup.
"waktuku sangat berharga, Bang. Bahkan tidak bisa dibeli dengan uang Abang." Meski nada bicara Kailani cukup pelan. Tetapi apa yang terucap dari bibirnya itu, seakan menjadi tamparan tersendiri bagi Kailandra.
"Aku sudah tau kenapa dulu kamu meninggalkan aku, Kai," ucap Kailandra, akhirnya dengan susah payah.
Kailani tersenyum sinis. "Terus?"
"Tidak seharusnya kamu melakukannya, Kai. Kalau begini akhirnya, lebih baik aku hidup biasa-biasa saja. Kehilangan perusahaan dan kemewahan, aku sama sekali tidak peduli. Apa kamu pikir dengan mengorbankan dirimu, aku bisa bahagia? Kamu salah besar. Sekali pun saat itu perusahaan dan kondisi mama sudah membaik, aku memilih pergi, bukan? Karena aku tidak sanggup melihatmu bersama orang lain." Kailandra mulai sedikit emosional. Nada suaranya meninggi, bola mata dan wajahnya perlahan menampakkan semburat merah. Bukan ekspresi kemarahan, melainkan kekecewaan yang kentara dari dalam dirinya.
Lagi-lagi Kailani tersenyum sinis. "Karena Abang hanya memikirkan perasaan dan diri Abang sendiri. Bagaimana dengan Mama Abang? Bagaimana nasib ratusan karyawan yang bergantung hidup di perusahaan Abang? Bagaimana dengan scandal Almarhum Papanya Abang? Mungkin Abang bisa memulai hidup dari nol, tapi bagaimana dengan Mama Kasih? Hanya dua kemungkinan yang akan Abang hadapi saat itu, Mama Kasih berakhir di rumah sakit jiwa atau bunuh diri."
Kailandra menyandarkan punggungnya pada tembok di sisi kanan kusen pintu, pria tersebut membentur-benturkan bagian belakang kepalanya pada dinding dengan gerakan pelan sembari memejamkan matanya. Kilasan peristiwa pahit beberapa tahun lalu kembali muncul dengan jelas. Kailani benar, Kasih yang sudah sempat merasakan dinginnya lantai tahanan, pernah melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat dengan segala permasalahan yang menimpa keluarganya saat itu.
"Aku terlalu mencintaimu, Kai. Kamu yang memilih langsung pergi tanpa memberiku alasan, jelas membuatku sangat kecewa. Baru sekarang aku sadar, penilaianku rupanya salah," lirih Kailandra dengan kepala tertunduk.
"Terlalu cinta? Benarkah cinta sanggup membuat orang menjadi pembenci dan sependendam ini? Yang aku tau, cinta seharusnya sanggup meredam emosi apa pun. Cinta yang sesungguhnya tidak meninggalkan kebencian di hati. Cinta tidak sanggup melihat kekurangan pasangannya. Bahkan ketika logika memaksa kita untuk melakukannya."
Kailandra perlahan membuka bola matanya. Hanya berani melirik Kailani sekilas, lalu pria tersebut memilih menundukkan wajahnya kembali.
"Sudahlah, buat apa kita membuang waktu hanya untuk membicarakan masa lalu. Tidak ada seorang pun yang mau berjalan mundur. Hidup ini melangkah ke depan. Yang akan terjadi pada kita nanti, kita sama-sama tidak tau. Setiap keputusan yang kita ambil, pastilah ada resiko yang harus ditanggung masing-masing." Kailani lagi-lagi berbalik badan hendak melangkah ke dalam.
Entah mendapat dorongan keberanian dari mana, Kailandra bergegas menahan pergelanagan tangan Kailani. "Aku tahu semua, Kai. Tidak hanya tentang alasanmu meninggalkanku. Tapi aku juga tau, kamu adalah ibu biologis baby twins. Mereka anak kita, Kai. Anak-anak kita."
Kailani menyingkirkan tangan Kailandra dari tangannya dengan kasar. "Memang kenapa kalau aku adalah Ibu biologis mereka? Menyesal pernah mengharamkan air susuku mengalir di tubuh mereka? Atau Abang ingin menegaskan bahwa aku tidak pantas menjadi Ibu mereka?"
Ucapan Kailani lagi-lagi berhasil membuat nyali Kailandra semakin menciut. Bahkan kata maaf yang sudah ingin dilontarkan, kembali tertahan di kerongkongan. Satu kata sederhana yang memang sudah sepantasnya diucapkan dengan tulus ketika diri sudah berbuat salah---ternyata sesulit ini dilontarkan. Terlalu banyak sakit hati yang ia berikan, hingga mungkin kata itu tidak cukup untuk mewakili sesal.
"Aku anggap urusan masa lalu kita selesai, Bang. Tidak perlu mengucapkan maaf. Karena aku tau persis, Abang bukanlah tipe orang yang mudah mengucapkan maaf. Dan aku juga tidak butuh permintaan maaf dari Abang. Apa yang aku lakukan di masa lalu adalah pilihanku. Resikonya sudah aku ambil dan aku jalani sendiri. Tenang saja, semua hinaan dan cacian Abang sudah kuanggap sebagai pujian." Sesaat setelah mengatakannya, Kailani langsung mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Bulir bening membasahi pipi perempuan tersebut ketika dia mengerjapkan bola matanya.
Kailani tidak sekuat itu. Dia juga memiliki sisi hati yang rapuh. Ketegarannya di depan Kailandra, tentu saja hanya sebagai bentuk perlindungan pada dirinya sendiri. Seberapa besar kekecewaannya pada Kailandra, hanya dia yang tahu.
"Bunda, Kei lupa, besok ada tugas membawa tanaman hias ditaruh pot kecil." Keiko Tiba-tiba muncul dan menghampiri Kailani yang tentu saja langsung mengusap pipinya yang basah.
"Kei pilih di depan, ya. Terus bawa masuk, nanti di lap dulu biar bersih pas di bawa besok."
"Oke, Bund. Tapi Kei laper," ucap Keiko sembari mengelus-elus perutnya yang gembul.
"Kei ambil tanamannya. Bunda bikinkan susu sereal dulu. Kei kan habis makan burger, nanti saja makan nasinya, ya?" Kailani menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Keiko memang tidak bisa membiarkan mulutnya lama-lama berhenti bergerak. Sebentar saja, rengekan lapar kembali terdengar kalau tidak teralihkan fokusnya pada hal-hal lain.
Pada saat Keiko membuka pintu, Kailandra yang ternyata masih belum beranjak dari sana seketika menoleh ke arah sosok menggemaskan yang sedari tadi menarik perhatiannya.
"Om kenapa tidak masuk?" tanya Keiko dengan polosnya.
Kailandra tersenyum tipis sembari berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Keiko. "Siapa namamu?"
"Keiko... Om siapa?" Keiko mengulurkan tangan kanannya dengan ramah.
Kailandra menyambut uluran tangan Keiko. Pria tersebut menahan tangan dengan jemari-jemari padat berisi itu lebih lama dalam genggamannya.
"Keiko kelas berapa sekarang? Umur berapa?" tanya Kailandra mengabaikan pertanyaan Keiko yang menanyakan siapa dirinya. Berhadapan dengan Keiko, seakan melihat dirinya dengan versi yang berbeda.
"Om belum jawab pertanyaan Keiko. Jawab dulu, dong" ucap Keiko sambil melemparkan tatapan menyelidik pada sosok Kailandra. Bibir merah gadis kecil itu maju beberapa senti hingga terlihat sangat menggemaskan.
"Kei, sudah dapat belum?" Kailani muncul dengan langkah perlahan sembari membawa semangkok sereal untuk Keiko. Perempuan tersebut sama sekali tidak menyangka jika Kailandra masih berada di sana.
"Ah, iya ... Kei ambil dulu." Keiko berlari kecil menghampiri deretan tanaman hias yang mengelilingi halaman depan rumah Kailani.
"Kai, benarkah Kenzo menceraikanmu karena usia kehamilanmu yang tidak wajar?" selidik Kailandra sambil menegakkan kembali posisi badannya.
Kadang pembaca ini membaca untuk menenangkan fikiran tapi karyamu yg hanya STUCK pada 1 huruf boleh bikin pikiran pembaca jadi stress 😔😔😔 & aku salah 1 pembaca yg sekarang sudah stress 😒😒😒
jika hampir disetiap novel kalian kalian pasti hadirkan sosok lelaki lain yang begitu baik dan peduli pada pemeran utama wanita seperti sosok KELVIN, kalian bungkus intaksi mereka dengan embel peduli pada sahabat, menganggap saudara, melindungi orang yang disayang,dll
apakah novelis wanita berani juga hadirkan sosok wanita lain yang baik dan begitu peduli pada sosok pemeran utama pria (suami), dengan embel peduli pada sahabat, dan anggap saudara atau melindungi orang yang disayangi
saat kalian hadirkan sosok kelvin yang begitu tulus dan selalu ada untuk melindungi kailani, berani tidak kalian berlaku adil hadirkan juga wanita lain yang tulus, dan selalu ada untuk melindungi kailandra
karena wanita itu mahluk egois
tidak ada wanita yang boleh menyukai suaminya kalau ada wanita itu wanita pelakor
tapi mereka akan kebaperan bila ada pria lain yang menyukainya dan akan menganggap pria itu pria baik2 dan tulus