Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Fifhy
"Sebentar, aku jawab telepon dulu. Sepertinya penting."
Firda melepas pelukan sambil mengangguk. Lalu kembali duduk di kursinya. Menyeka ujung matanya yang sedikit basah dengan selembar tisu yang dia ambil di atas meja.
"Halo, Pak."
"Iya, Sus, kenapa?"
"Fifhy menangis terus dari siang. Sepertinya cari Bapak, karena Bapak sudah 3 hari tidak pulang."
"Mana Fifhy?"
"Ini, Pak." Tak lama kemudian, seorang bayi perempuan terlihat menangis dengan keras sambil memperlihatkan 2 gigi bawahnya.
"Oh, Sayang anak Papa. Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi Papa pulang," kata Arjuna. Tak lama kemudian, sambungan telepon itu diputus secara sepihak olehnya.
Kening Firda berkerut. Kedua matanya sedikit menyipit. "Jadi Mas punya bayi?"
Arjuna tersenyum. Mengangguk mengiyakan. "Bayi perempuan, namanya Fifhy. Usianya sudah 7 bulan."
"Fifhy?" gumam Firda, lalu terdiam. Itu 'kan nama panggilan sayang yang diberikan Arjuna padanya di masa lalu. Lantas mengapa pria itu memberikan nama itu kepada anaknya. Apa mantan istri Arjuna tidak murka kalau tahu fakta itu? Begitu pikir Firda.
Arjuna kembali bangkit dari duduknya. "Fhy, maaf ya. Aku harus pamit pulang sekarang. Nanti kalau ada waktu, aku ingin sekali mempertemukan Fifhy denganmu. Kamu pasti bakalan suka dengan anak itu. Dia cantik, sama seperti kamu," kata Arjuna tersenyum.
Firda mengangguk sambil tersenyum. "Kebetulan sekali, putriku Akira seumuran sama Fifhy." Sepertinya kelak mereka cocok menjadi teman."
"Maksudmu bayi yang bersamamu di mall waktu itu?" tanya Arjuna. Firda mengangguk mantap. Seolah-olah Akira benar-benar putri kandungnya.
"Oh." Arjuna menggumamkan huruf 'O'. "Ngomong-ngomong saat kita bertemu waktu itu, seingatku kamu sengaja menghindar saat aku menanyakan bayi itu bersama pria yang belakangan baru kuketahui bahwa ternyata dia adalah Arman Zayn Valmara. Dan di kantor Sinar Abadi waktu itu kalian juga selalu bersama. Apa ... kalian berdua menjalin hubungan spesial?" tanya Arjuna hati-hati.
Seketika Firda kebingungan menjawab. "Itu ...."
Untungnya ponsel Arjuna kembali berdering, sehingga atensi pria itu kembali ke layar ponsel yang ada di genggamannya.
"Ada apa, Sus?" tanya Arjuna setelah menempelkan benda pipih itu di salah satu telinganya.
"Pak, popok dan tisu basah Fifhy sudah hampir habis," lapor Sus Mia, babysitter Fifhy.
"Iya, iya. Nanti aku belikan dulu sebelum pulang."
...****************...
Tin!
"Hati-hati, Mas!" Firda melambaikan tangan pada Arjuna yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan halaman restoran. Tadinya pria itu sempat menawarkan untuk mengantar Firda pulang, tapi Firda menolak karena kasihan pada Fifhy yang menangis merindukan papanya. Ditambah, dia belum siap diinterogasi mengenai mengapa dia bisa tinggal di rumah Arman jika mantan kekasihnya itu tahu di mana dia tinggal selama ini.
Setelah mobil Arjuna tak terlihat, Firda lantas membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan taksi online. Namun, bunyi klakson salah satu mobil yang terparkir di sudut parkiran membuatnya terkejut.
"Masuk!" teriak Arman yang duduk di balik kemudi. Kepalanya menyembul keluar lewat jendela mobil yang terbuka sambil memberi gestur agar wanita itu segera menghampirinya.
"Pak Arman? Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Firda. Sepertinya memang itu tujuan Arman meminta wanita itu membagikan lokasi terkininya.
Firda berlari pelan menghampiri mobil tersebut lalu masuk dan duduk tepat di samping Arman. "Kenapa Anda bisa tiba-tiba datang jemput saya tanpa pemberitahuan, Pak?"
Arman tak menjawab. Wajahnya cemberut. Dia melanjukan mobilnya keluar meninggalkan area restoran.
"Pak, apa Akira sudah bangun? Apa dia menangis mencari saya?" Firda kembali bertanya, tapi lagi-lagi Arman tak menjawab. Dari ekspresi wajah Arman, dia tahu kalau pria itu sedang marah. Tapi dia tidak tahu kenapa Arman marah karena pria itu tak mengatakan apa pun.
Ya sudah, karena Arman tidak mau menjawab, jadilah Firda memutuskan untuk diam juga. Hingga akhirnya, kebersamaan mereka sore itu diisi dengan kesunyian sampai mereka tiba di rumah.
Ketika Firda masuk ke dalam kamar Akira, anak itu masih terlelap di dalam box bayinya. Firda dibuat bertanya-tanya, apa alasan Arman tiba-tiba datang menjemputnya, dan kenapa pria itu tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas.
"Tunggu-tunggu." Firda duduk di pinggir tempat tidurnya, coba memikirkan sesuatu. Tentang posisi duduknya yang berada di dekat jendela bersama Arjuna, serta posisi parkir mobil Arman yang berada di sudut parkiran resto. "Astaga, apa jangan-jangan ... tadi dia melihat aku berpelukan sama mas Juna. Tapi ... kalau memang iya, kenapa dia harus marah? Tidak mungkin 'kan dia benar-benar cemburu."
...****************...
"Tuan Arman sudah makan malam, Bi?" Firda yang duduk di meja makan bertanya pada Bi Wati saat lauk di meja makan masih utuh semuanya. Sama sekali belum disentuh.
"Belum, Non. Semenjak pulang dari menjemput Non Firda tadi sore, tuan Arman belum pernah keluar dari kamarnya."
"Kenapa bisa, Bi? Memang sebelum saya tinggal di sini dia memang sering seperti itu?" Pertanyaan Firda dijawab gelengan oleh Bi Wati.
"Baru kali ini, Non. Bibi khawatir tuan Arman sakit, tidak enak badan."
Firda diam. Dia mulai khawatir. "Bi, kalau begitu saya naik cek dulu. Jangan sampai tuan Arman kenapa-kenapa.
"Iya, Non. Silahkan."
Ketika Firda sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga, Bi Wati langsung mendongak ke arah sudut ruangan, tersenyum lebar sambil mengagungkan jari jempolnya.
semangat untuk up episode nya🙏🙏🙏🥰