Bella Nafa Thalia, harus rela mengorbankan dirinya sendiri demi sang ayah yang terlibat dengan kecelakaan istri sang Mafia dan koma. Dia terjerat dalam pernikahan sang penguasa, yang tak lain hanyalah sebatas gundik. Hari demi hari ia lewati, pada akhirnya membuatnya menyerah dan membawa anak di dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian dia di pertemukan kembali, namun sayang, status keduanya telah berbeda.
"Aku tak sudi seranjang dengan mu. Kamu hanyalah gundik yang tak di anggap."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31 : Kebenaran Yang Terungkap
Hari ini, hari yang di tunggu-tunggu oleh Jhonatan, pria itu bangun lebih cepat, tepat dini hari sekitar jam 3. Tidak biasanya ia bangun lebih pagi hanya karena ingin lebih cepat pulang.
Ia memakai kaos oblong, menikmati secangkir kopi di dekat jendela. Satu tangannya, ia se lipkan di sebelah saku celananya, sedangkan sebelah tangannya memegang kopi yang masih mengepul itu. Dia menyeruput kopinya sambil melihat cahaya matahari yang akan terbit.
"Tubuh ku merasa segar dan aku akan secepatnya bertemu dengan Bella." gumamnya. Ia menaruh kopinya di atas meja, lalu kembali ke depan jendela menunggu sang surya. Kedua tangannya pun ia selipkan ke dalam saku celananya.
Matahari pun telah nampak, ia menutup matanya saat sinarnya pun menerpa tubuhnya. Ia merasa tubuhnya segar dan tenang.
Entah berapa lama? berapa menit? ia di kejutkan dengan pelukan seseorang. Ia membuka matanya dan melihat dua tangan yang melingkar di perutnya.
"Honey, ternyata kau di sini. Aku kira kau keluar."
"Aku di sini,"
Gladies memeluk erat tubuh Jhonatan, bersandar di punggung kekarnya dan memejamkan matanya. Aroma wangi tubuh suaminya mampu menenangkan pikiran dan hatinya.
Jhonatan tersenyum, hari ini benar-benar bahagia. Ia sangat senang, ia tidak tahu bahagia karena akan pulang atau karena semalam bermain dengan Gladies.
Ehem
Gladies melepaskan pelukannya dan berbalik, begitupun Jhonatan dia berbalik menghadap ke asal suara itu.
"Maaf tuan, saya mengganggu."
"Tidak apa-apa? ada perlu apa Jack?" tanya Gladies.
"Tidak nyonya, saya hanya ingin menanyakan tuan dan nyonya membutuhkan sesuatu apa tidak."
"Tidak ada," ucap Gladies.
Sedangkan Jhonatan, dia malah memikirkan sesuatu, apa yang akan ia bawa sebagai oleh-oleh untuk Bella.
Dia menatap ke arah istrinya. Lalu mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu. Dalam sekejap ponsel Jack berbunyi dan mengerutkan keningnya.
Carikan kalung yang paling mahal dan indah
Jack menutup ponselnya, dia menatap ke arah Jhonatan dan pria itu mengangguk sebagai kode mengiyakan kalau dirinya membutuhkan bantuan Jack.
"Nyonya, tuan saya pamit."
"Oh, iya," ucap Gladies, iya tersenyum puas. Akhirnya bisa bermanja-manja lagi dengan Jhonatan. Ia pun berhambur memeluk kembali tubuh sang suami.
"Jho, ayo kita keluar."
"Sayang, hari ini aku harus pulang."
"Jho .... " Kedua mata Gladies berkaca-kaca. Jhonatan pun tak tega dan mengangguk lemah.
Gladies bersorak, dia pun mengecup sebelah pipi Jhonatan dan berlari ke lantai atas. Jhonatan melangkah dengan lesu menuju ke arah sofa, mendaratkan bokongnya dengan kasar.
"Haih,"
Pada akhirnya Jhonatan pun menuruti permintaan Gladies dan menguburkan keinginannnya.
Di tempat lain.
Bella menghidangkan sarapan pagi untuk ayah mertuanya, ia begitu senang sandwich khusus yang di buat olehnya tidak di tolak sang ayah.
Pria itu memakan dengan lahap. "Enak,"
Pria itu tak banyak bicara, dia kembali mengunyah sarapannya dan meneguk setengah gelas susu di sampingnya.
"Apa tuan membutuhkan sesuatu?" tawar Bella.
"Nanti siang aku ingin makan di Restaurant dan kamu harus ikut."
Bella mengangguk dengan cepat, melihat sosok ini mengingatkannya pada mendiang ayahnya.
"Ya sudah, aku keluar sebentar."
Pria itu pun melenggang pergi di ikuti oleh salah dua pengawal, satu pengawal yang setiap saat menemaninya, hanya kalau bersama dirinyalah, pengawal itu menjaga jarak dengan sang tuan dan satunya lagi membawa sebuah tas.
Sedangkan Bella, dia membereskan sarapan di atas meja itu.
"Bagaimana dengan yang aku minta?"
"Ini tuan, tapi saya menemukan sesuatu yang mungkin akan membuat tuan semakin terkejut," ucapnya.
Pria itu mengeluarkan beberapa kertas yang menjadi satu. Dia memberikannya pada tuan Alexander.
Nama aslinya Bella Nafa Thalia, umur 22 tahun.
Tuan Alexander terus membacanya dan pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang telah ia cari bertahun-tahun. Pria itu langsung memegang dadanya yang berdenyut nyeri, di mana ia menemukan kekasih masa lalunya telah menikah dengan orang lain dan memiliki anak, namun wanita itu telah pergi.
Hatinya sangat sakit, ia tak mampu menahan kesedihannya. Ia langsung menangis, air matanya tanpa terasa mengalir deras. Tangannya gemetar sambil memegang laporan itu.
"Tuan," serunya. Pengawal itu pun mendekat. Namun tuan Alexander memberikan kode agar tidak mendekat.
"Dan satu lagi tuan, nyonya Bella adalah istri siri dari tuan Jhonatan hanya demi balas dendam."
Tuan Alexander menoleh, perkataan pengawal itu memukul habis hatinya.
"Apa yang kau katakan?"
Dengan nafas berderu lebih cepat, ia membuka kembali lembaran itu dan membacanya.
"Oh Tuhan .... "
Ayah Bella, suami dari mendiang kekasihnya telah meninggal karena kecelakaan yang sekaligus membuat istri Jhonatan koma. Detektif yang menjadi pengikutnya memang handal dan bisa di andalkan. Sehingga tidak butuh lama, semua informasi yang ia butuhkan tersedia dalam waktu cepat.
"Ana dan Ani, hanya wanita itu yang menjadi sahabat nyonya Bella saat mendapatkan perlakuan kasar dari tuan Jhonatan,"
Tanpa ia sadari, ia mendengarkan ucapan Ana dan Ani serta Ketua pelayan saat hendak mencari informasi dari pelayan. Dia pun hanya menemukan kisah Bella dan orang tuanya yang meninggal, tapi siapa sangka dia menemukan misteri besar.
"Saya yakin, tuan Jhonatan sudah menutup mulut para pelayan di sini. Bahkan ketua pelayan pun tidak mengatakannya."
menyesal kalau dia gak tau sdh mau punya anak✅️
so, kalau ada cerita jho mencintai bella...jangan percaya. itu hanya rasa bersalah, penyesalan dan ikatan batin karena darahnya ada bersama anak" bella..sehingga dia merasa anak"nya butuh orngtua yg utuh.