NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dua tahun berlalu dengan cepat.

Dunia memang belum sempurna, tapi jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Desa-desa yang dulu tertutup sekarang mulai berani membuka gerbang. Orang-orang tidak lagi lari saat melihat pasukan, karena yang datang bukan untuk menekan.

Pagi itu, Yun Ma berdiri di jalan tanah menuju Qinghe.

Di sebelah kirinya berjalan Ayin, membawa tas kain berisi obat-obatan dan catatan.

Di belakang mereka, Ye, srigala malam berbulu hitam, melangkah tanpa suara. Matanya tajam, tubuhnya waspada.

Di atas kepala Yun Ma, Hui meloncat dari dahan ke dahan.

“Akhirnya pulang juga,” kata Hui sambil mengibaskan dua ekornya.

“Kalau aku tahu perjalanan keliling dunia itu selama ini, aku sudah protes dari tahun pertama.”

“Kau tidak pernah diam sejak lahir,” jawab Yun Ma datar.

“Itu bakat,” balas Hui bangga.

Ayin tersenyum kecil.“Qinghe terlihat lebih hidup dari terakhir kita pergi.”

Yun Ma mengangguk. Ia bisa merasakannya. Aliran kota ini stabil. Tidak ada tekanan aneh. Tidak ada bau bahaya.

Di dalam tubuhnya, ruang dimensi kontrak tetap tenang.

Shen Yu, Api Sunyi, berdiam di sana. Tidak muncul. Artinya—situasi aman.

“Shen Yu tidak bergerak,” gumam Yun Ma pelan.

“Itu kabar baik,” jawab Ayin.

...****************...

Sementara itu, jauh di Pasar Agung, Xuan sedang duduk di meja kayu panjang bersama para perwakilan kota.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada pengawal berlapis baju besi.

Hanya peta, catatan, dan suara orang berdebat.

“Distribusi gandum wilayah selatan terlambat,” kata seorang pedagang.

“Jalurnya rusak,” jawab yang lain. “Banjir kemarin.”

Xuan mengetuk meja pelan.

“Perbaiki jalurnya. Jangan potong jatah desa. Kita kirim bantuan tenaga.”

“Kalau stok pusat berkurang....”

“Kita yang tahan,” potong Xuan. “Bukan mereka.”

Beberapa orang saling pandang, lalu mengangguk.

Setelah rapat selesai, Xuan berdiri di balkon pasar. Ia memandang keramaian di bawah orang berdagang, anak-anak berlari, penjaga berjaga tanpa wajah tegang.

"Anda memikirkan nona Yun Ma lagi.” tanya Liu qin

Xuan menoleh. “Selalu.”

Ia mengeluarkan surat pendek dari lengan bajunya. Tulisan tangan sederhana.

"Aku selesai, aku kembali ke Qinghe."

Xuan menarik napas panjang.

“Dia akhirnya berhenti berjalan,” gumamnya.

-----

Qinghe, Hari Pertama

Di Qinghe, Yun Ma langsung membantu di balai obat kecil. Bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai bagian dari kota.

Ayin mencatat.

Yun Ma memeriksa luka.

Ye duduk di depan pintu, seperti patung penjaga.

Hui tiduran di rak kayu. “Kalau ada yang masuk dengan niat buruk, aku bangun,” katanya sambil menutup mata. “Kalau tidak, jangan ganggu.”

Seorang anak kecil mendekati Yun Ma.

“Kakak… kamu yang dulu datang waktu desa kami diserang, kan?”

Yun Ma tersenyum tipis. “Iya.”

“Sekarang tidak ada yang menyerang lagi.”

“Itu karena kalian berani menjaga diri sendiri,” jawab Yun Ma.

Malamnya, mereka duduk di halaman rumah kecil.

Langit cerah.

Tenang.

Ayin menuangkan teh.“nona tidak perlu pergi lagi, kan?”

Yun Ma menggeleng.“Tidak untuk sekarang.”

Di dalam ruang dimensinya, Shen Yu berdenyut pelan, tenang. Seolah menyetujui keputusan itu.

----

Beberapa hari kemudian, Xuan datang ke Qinghe.

Tanpa pengumuman.

Tanpa iring-iringan.

Ia berjalan masuk kota dengan pakaian sederhana.

Ye mengangkat kepala lebih dulu.

Ancaman: tidak ada.

Yun Ma menoleh dan melihat Xuan berdiri beberapa langkah darinya.

“Kau datang sendiri,” katanya.

Xuan mengangguk.

“Aku tidak ingin datang sebagai pemimpin.”

“Lalu sebagai apa?”

Xuan tersenyum kecil.

“Sebagai orang yang ingin melihatmu.”

Hui langsung duduk tegak.

“OH. AKHIRNYA.”

Ayin menutup wajah.

“Diam.”

Yun Ma tidak tertawa kali ini.

Ia hanya berkata pelan,

“Kau terlihat… lebih ringan.”

“Karena kau kembali,” jawab Xuan jujur.

Tidak ada pengakuan cinta.

Tidak ada janji berlebihan.

Hanya dua orang yang akhirnya berhenti berjalan ke arah berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, kedamaian itu nyata.

...****************...

Di Antara Teh Hangat dan Bayangan Lama

Kedatangan Xuan ke Qinghe tidak mengubah ritme kota.

Dan itu justru aneh.

Biasanya, kehadiran seseorang dengan pengaruh sebesar dia akan langsung membuat orang-orang menegang, berbisik, atau setidaknya pura-pura sibuk. Tapi kali ini tidak. Qinghe tetap Qinghe—orang menjemur kain, pedagang menawar harga lobak, anak-anak berlarian sambil membawa layang-layang setengah robek.

Xuan berdiri di halaman balai obat kecil sambil mengamati semua itu.

“Tempat ini tidak berubah,” katanya.

Yun Ma yang sedang mencuci tangan di gentong air hanya melirik sekilas. “Berubah. Hanya saja kau terbiasa melihat perubahan dalam bentuk yang berisik.”

“Itu sindiran?” tanya Xuan

“Itu observasi.” jawab Yun Ma

Hui terkikik dari atas atap. “Dia bilang kau ribut, Xuan.”

“Aku tidak bertanya padamu.” seru Xuan

“Sayang sekali. Aku tetap jawab.” ujar Hui santai

Ye mengibaskan ekornya pelan, duduk tak jauh dari kaki Yun Ma. Srigala malam itu tidak menunjukkan sikap agresif, tapi posisinya jelas—Xuan boleh ada di sini, selama Yun Ma mengizinkan.

Ayin keluar membawa baki teh.“Minum dulu sebelum kalian mulai debat tanpa suara,” katanya sambil meletakkan cangkir.

Xuan menerima teh itu.“Terima kasih.”

Ayin menatapnya dua detik lebih lama dari perlu, lalu mengangguk singkat.“Jangan rusak ketenangan kota ini.”

Xuan tersenyum tipis.“Aku tidak berniat.”

Hui berbisik keras,“Katanya sih begitu.”

----

Xuan tinggal di Qinghe.

Bukan sebagai pemimpin.

Bukan sebagai penguasa Pasar Agung.

Ia membantu memperbaiki rak kayu di balai obat. Mengangkat karung gandum. Duduk mendengarkan keluhan warga tentang sumur yang airnya keruh.

Dan yang paling mencurigakan ia terlalu sering ada di dekat Yun Ma.

“Apa dia tidak punya kerjaan?” gumam Hui sambil menggigit buah.

“Dia punya,” jawab Yun Ma. “Dia hanya memilih ada di sini.”

“Itu lebih aneh.”

Yun Ma tidak membalas.

Sore itu, mereka duduk di tepi sungai kecil di pinggir Qinghe. Air mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari yang mulai turun.

Xuan melempar batu kecil ke air. "Kalau aku bilang aku ingin tinggal lebih lama, kau akan menyuruhku pergi?”

“Kenapa harus menyuruh?”

“Karena kehadiranku biasanya berarti masalah.”

Yun Ma menatap aliran air.

“Masalah selalu ada, Xuan. Bedanya, sekarang aku tidak lagi lari.”

Xuan menoleh, menatapnya lama.

“Kau berubah.”

“Kau juga.”

“Tidak sebanyakmu.”

Yun Ma tersenyum kecil.

“Itu karena aku pernah jatuh ke sumur.”

“Dan bangkit sebagai orang yang membuat semua orang pusing,” sela Hui.

“Termasuk kau,” balas Yun Ma cepat.

“Terutama aku.”

Xuan tertawa pelan. Bukan tawa besar, lebih seperti napas yang akhirnya bisa keluar.

Malam yang Terlalu Tenang

Malam itu, Yun Ma terbangun.

Bukan karena bahaya.

Bukan karena Shen Yu bereaksi.

Melainkan karena mimpi.

Ia berdiri di halaman rumah lamanya. Gerbang kayu terbuka setengah. Suara teriakan terdengar dari dalam. Nama-namanya dipanggil, terpotong, kacau, penuh panik.

Ia melangkah maju.

Dan terbangun.

Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Di dalam ruang dimensinya, Shen Yu berdenyut pelan bukan peringatan, melainkan respon pada kegelisahannya.

“Tenang,” gumam Yun Ma pelan.

Ye mengangkat kepala dari depan pintu. Hui membuka satu mata.

“Kau mimpi buruk,” kata Hui.

“Sedikit.”

“Sedikit versi manusia biasanya berarti banyak versi masalah.” ujar hui

Yun Ma duduk.

“Keluargaku.”

Hui terdiam.

Ayin yang terbangun dari kamar sebelah keluar dengan selimut.

“Mimpi tentang mereka lagi?”

Yun Ma mengangguk.

“Sudah lama tidak.”

“Kadang mimpi bukan pertanda bahaya,” kata Ayin lembut. “Kadang hanya ingatan yang belum selesai.”

----

Di kejauhan, di tempat lain, seseorang juga terbangun dari mimpi buruk yang sama.

Bayangan dari Masa Lalu

Di sebuah kota besar yang gemerlap namun dingin, seorang pria terbangun dengan napas terengah.

Namanya Gu Changfeng

Mantan tunangan Yun Ma.

Ia duduk di tepi ranjang, keringat mengalir di punggung. Mimpi itu lagi Yun Ma berdiri membelakanginya, api hitam menyala tenang di sekelilingnya, menatapnya bukan dengan benci… tapi dengan kecewa.

“Itu hanya mimpi,” katanya pada diri sendiri.

Tapi mimpi itu datang setiap malam.

Dan selalu sama.

Ia mencoba mencari Yun Ma.

Catatan perjalanan kosong. Jejak kontrak lama terputus. Seolah Yun Ma menghilang dari dunia.

“Dia hidup,” gumam Gu Changfeng. “Aku tahu.”

----

Di sisi lain kota, keluarga Yun Ma duduk dalam ketegangan.

Utang.

Tekanan politik kecil.

Dan nama Yun Ma yang kembali disebut-sebut, bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai beban lama yang tak bisa mereka kendalikan.

“Kita harus menemukannya,” kata seseorang.

“Kalau dia masih hidup.”

Li Heng mengepalkan tangan.

“Aku akan menemukannya.”

Kembali ke Qinghe

Xuan memperhatikan Yun Ma lebih sering akhir-akhir ini.

Bukan karena curiga.

Karena peduli.

“Kau melamun lagi,” katanya saat mereka menyusun obat.

“Katanya kau tidak datang sebagai pemimpin,” balas Yun Ma.

“Katanya aku tidak boleh khawatir?”

Yun Ma berhenti.

“Aku hanya… merasa sesuatu bergerak.”

“Bahaya?”

“Belum.”

Shen Yu tetap tenang. Ye tidak menunjukkan reaksi.

Tapi insting Yun Ma jarang salah.

Xuan menurunkan suara.

“Apa pun itu, kau tidak sendirian.”

Hui menyeringai.

“Wah. Ini kalimat berbahaya.”

Ayin menepuk kepala Hui.

“Diam.”

Xuan menatap Yun Ma.

“Kalau masa lalumu datang mencarimu—”

“Aku tidak akan lari,” potong Yun Ma.

Ia menatap Xuan lurus.

“Dan kali ini… aku tidak akan menghadapinya sendirian.”

Hening sejenak.

Xuan tersenyum kecil.

“Baik.”

Awal yang Tidak Lagi Sepi

Malam itu, mereka minum teh lagi.

Tidak ada janji.

Tidak ada pengakuan berlebihan.

Hanya kehadiran yang dipilih, bukan dipaksakan.

Dan jauh di luar Qinghe—

bayangan mulai bergerak.

Keluarga yang terdesak.

Mantan tunangan yang terobsesi.

Masa lalu yang menolak diam.

Namun untuk saat ini

Yun Ma duduk di bawah langit Qinghe,

bersama orang-orang yang ia pilih.

Dan itu cukup.

Bersambung

1
Narimah Ahmad
makasih thor ,👍akhirnya selasai juga
Shai'er
end 🥺🥺🥺
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
Shai'er
karena memang........bahagia itu tak perlu dijelaskan🥰🥰🥰
Shai'er
🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Shai'er
suami + ayah siaga🥰🥰🥰
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
ikutan lega 😌🥰🥰🥰🥰
Shai'er
lahir😱😱😱🥰🥰🥰🥰
Shai'er
🥰💪🏻💪🏻💪🏻
Shai'er
jadi rileks sedikit, untung ada Hui 🥰🥰🥰
Shai'er
ikutan dagdigdurser😣😣😣
Shai'er
😱😱😱😱😱
Shai'er
🥺🥺🥺🥺🥺
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
capek😣😣😣
tapi menikmati 🥰🥰🥰
Diah Susanti
disini 3 hari sama dengan 1 tarikan napas/beberapa detik. terus diatas penjaga ruang dimensi bilang '1hari disana = 10 hari diluar' yang benar yang mana
Biyan Narendra
Terimakasih thor
yeti kurniati1003
menarik
Narimah Ahmad
masa lalu biarlah berlalu , yang penting masa depan hadapi seadanya
Shai'er
sudahlah 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!