Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah ketegangan di kantin mereda, Naura memutuskan untuk "menghilang" sejenak dari radar sekolah. Ia mengajak Nadira ke sebuah kafe estetik yang terletak beberapa blok dari SMA Pelita Bangsa. Bagi Naura, ini adalah cara untuk menjaga citranya sebagai siswi yang butuh ditenangkan setelah kejadian pelabrakan Ranti, sekaligus memberi jarak dari tatapan menyelidik Raisa.
Di dalam kafe yang beraroma kopi dan kayu manis, Nadira menyeruput iced americano-nya dengan wajah yang masih tampak kesal sekaligus khawatir.
"Gue beneran nggak habis pikir sama Ranti," gerutu Nadira. "Untung ada si anak baru itu Raisa, ya? Gila, dia dingin banget tapi keren. Pas dia nyekal tangan Ranti, gue ngerasa aura kelas XII-IPA 1 mendadak pindah ke sana semua."
Naura hanya tersenyum tipis, matanya menatap keluar jendela, mengawasi pantulan kaca yang memperlihatkan keramaian jalanan. "Dia cuma... punya prinsip mungkin, Nad."
"Tapi lo tahu nggak?" Nadira merendahkan suaranya, masuk ke mode detektif gosip andalannya. "Gue dapet info dari grup sebelah. Ternyata Raisa itu sepupunya Arkan. Pantesan ya, bibit unggul tapi auranya bikin merinding semua. Keluarga mereka itu kayaknya isinya orang-orang jenius yang kurang senyum."
Naura pura-pura terkejut. "Oh ya? Sepupu? Pantesan mereka kelihatan kompak tadi."
Nadira menghela napas panjang, lalu tiba-tiba bahunya merosot. Ekspresinya yang tadinya berapi-api mendadak layu. "Kadang gue iri sama orang kayak lo, Ra. Atau bahkan kayak Raisa dan Arkan yang kelihatannya punya dunia sendiri. Kayak nggak ada beban yang bikin mereka harus pura-pura."
Naura meletakkan cangkir tehnya. "Maksud lo?"
"Nyokap sama bokap gue mau pisah, Ra," ucap Nadira lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Di rumah, meja makan itu rasanya lebih dingin dari es batu. Gue nongkrong begini bukan cuma karena pengen eksis, tapi karena gue takut pulang. Gue takut kalau gue masuk rumah, yang gue dengar cuma suara koper diseret atau suara pengacara lewat telepon. Gue harus selalu jadi 'Nadira yang ceria' di sekolah supaya gue nggak gila."
Naura terdiam. Untuk sesaat, ia tidak melihat Nadira sebagai sumber informasi atau bagian dari penyamarannya. Ada rasa sesak yang familiar yang ia rasakan. Ia tahu bagaimana rasanya harus menciptakan identitas baru karena dunia aslinya terlalu hancur untuk ditempati.
"Nad..." Naura meraih tangan Nadira, memberikan remasan lembut yang kali ini terasa tulus. "Lo nggak harus selalu ceria kalau lo nggak sanggup. Kadang, jujur sama rasa sakit itu lebih baik daripada menyusun kata-kata biar kelihatan oke."
Nadira mengangguk, menyeka air matanya dengan tisu. Ia tidak tahu bahwa sahabat yang sedang menghiburnya itu adalah orang yang paling ahli dalam menyusun kepalsuan di dunia ini.
Di sudut kafe yang gelap dan tersembunyi oleh tanaman hias besar, Raisa duduk sendirian. Ia mengenakan hoodie hitam dan kacamata berbingkai tipis. Di telinganya terpasang earpiece kecil yang terhubung ke mikrofon sensitif yang ditanam di bawah meja Naura dan Nadira.
Raisa mencatat poin-poin penting di sebuah perangkat digital kecil. Namun, bukan curhatan keluarga Nadira yang ia incar. Matanya terus memindai gerakan tangan Naura, cara gadis itu memandang pintu keluar, dan bagaimana ia memeriksa ponselnya secara berkala.
“Komandan,” gumam Raisa pelan ke arah mikrofon tersembunyi di kerah bajunya.
“Subjek sedang bersama warga sipil. Terjadi interaksi emosional. Tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak luar untuk saat ini.”
Suara berat terdengar dari balik earpiece. “Tetap pada posisimu, Frost. Ingat, instruksi langsung adalah menjaga keamanan 'aset' tersebut. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu sampai Arkan selesai.”
“Dimengerti,” jawab Raisa datar. Ia tahu tugasnya. Meskipun secara pribadi ia menganggap Naura sebagai gangguan yang cerewet dan manipulatif, ia harus mematuhi perintah atasan. Di dunia mereka, perasaan pribadi adalah variabel yang harus dieliminasi.
Sementara itu, di sebuah kantor penthouse yang menghadap ke arah kota, Arkan duduk di depan tiga layar monitor besar. Di depannya bukan lagi buku teks biologi atau catatan literasi, melainkan grafik saham, laporan logistik internasional, dan enkripsi data perusahaan ayahnya yang sedang diserang oleh peretas anonim.
Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Ia harus menyelesaikan audit keamanan ini sebelum fajar, sembari tetap memantau transmisi lokasi dari Raisa.
Sebuah notifikasi muncul di layar pojok kiri: [Update Lokasi: Kafe 09. Status: Aman.]
Arkan berhenti sejenak, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang ergonomis. Ia memijat pangkal hidungnya. Bayangan Naura yang sedang menghibur Nadira muncul di benaknya. Ia tahu Naura sedang menggunakan teknik emotional bonding untuk mengikat kesetiaan Nadira, sebuah taktik standar dalam dunia spionase.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Arkan. Saat Naura tersenyum tipis tadi siang di perpustakaan, ia melihat sesuatu yang berbeda di balik matanya. Sebuah kesepian yang sama dengan yang ia rasakan setiap kali ia menatap cermin.
"Teknik menyusun kata agar terlihat jujur itu mahal," gumam Arkan, mengulangi kata-kata Naura. "Tapi mungkin, kejujuran yang sesungguhnya adalah sesuatu yang kita berdua sudah lupa cara melakukannya."
Ia kembali fokus pada layarnya. Musuh tidak akan menunggu mereka selesai bergalau ria.
......................
Suasana kafe yang tadinya tenang dengan musik jazz instrumental mendadak pecah oleh suara gebrakan meja. Di bagian tengah ruangan, seorang pria bertubuh besar dengan setelan jas mahal tampak berdiri, wajahnya merah padam sambil menunjuk-nunjuk seorang pelayan muda yang tampak gemetar.
"Saya pesan Double Espresso, bukan Latte! Kamu tidak bisa baca pesanan atau telinga kamu bermasalah?!" teriak pria itu, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa pengunjung lain terlonjak.
Pelayan itu membungkuk berkali-kali, wajahnya pucat. "Maaf, Pak. Benar-benar maaf, akan segera saya ganti—"
"Ganti? Kamu pikir waktu saya murah?! Saya ada rapat sepuluh menit lagi!" Pria itu mengangkat gelas kopi yang salah itu, tampak hendak menyiramkannya ke si pelayan.
Nadira berjengit di kursinya, mencengkeram lengan Naura. "Aduh, Ra, serem banget. Kita panggil manajernya aja apa, ya?"
Namun, Naura tidak menjawab. Sesuatu di dalam dirinya mendadak mengambil alih. Ia berdiri begitu saja, melepaskan pegangan tangan Nadira. Langkahnya tenang, mantap, dan penuh wibawa yang tidak biasa terlihat pada seorang siswi SMA.
Naura berjalan mendekat, menyisip di antara pria pemarah itu dan si pelayan yang malang.
"Permasalahannya adalah efisiensi waktu, bukan?" suara Naura terdengar sangat jernih, tenang, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Pria itu terhenti, menatap Naura dengan sinis. "Siapa kamu? Anak kecil jangan ikut campur!"
Naura tidak mundur selangkah pun. Ia memberikan senyum profesional, senyum diplomatik yang dingin.
"Saya pelanggan yang menghargai ketenangan. Pak, jika Anda berteriak selama dua menit lagi, Anda akan kehilangan total dua belas menit dari waktu berharga Anda. Pelayan ini bisa membuatkan Double Espresso dalam waktu kurang dari enam puluh detik jika Anda berhenti mengintimidasinya."
Naura menoleh ke arah pelayan tanpa melihat ke belakang. "Segera ambilkan pesanan yang benar, bawa langsung ke meja ini bersama complimentary snack sebagai kompensasi. Cepat."
Pelayan itu seolah terhipnotis oleh perintah Naura dan langsung berlari menuju mesin kopi.
Pria itu tampak hendak membalas, namun Naura memotongnya dengan nada yang sangat teknis. "Laporan pesanan salah biasanya terjadi karena sinkronisasi sistem di kasir yang lambat. Menghukum pelayan tidak akan memperbaiki sistem, Pak. Jika Anda tetap ingin komplain, ini kartu nama manajer kafe ini silakan hubungi setelah rapat Anda selesai agar tidak mengganggu fokus profesional Anda saat ini."
Pria itu tertegun. Cara Naura berbicara, postur tubuhnya, dan logika yang ia sampaikan membuat amarahnya menguap, digantikan oleh rasa bingung sekaligus segan. Ia berdeham, merapikan jasnya, dan duduk kembali tanpa berkata apa-apa lagi.
Naura membalikkan badan, kembali ke mejanya dengan gerakan yang sangat efisien.
Nadira melongo, mulutnya terbuka sedikit. "Ra... lo... itu tadi siapa?"