Bagaimana kisah Cinderella menaklukan Kemal seorang pria yang ternyata adalah pemain wanita. Benarkah, cinta itu buta, tidak memandang rupa dan tak kenal waktu?
Simak ya jangan lupa untuk Like di setiap chapter.
Salam Sayang,
Rehuella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan
Happy reading semoga suka dengan karya saya, jangan lupa tekan 👍.
.
.
.
.
Pagi ini terlihat Cinderella sedang menata rambut panjangnya di depan cermin. Rambutnya yang curly itu sengaja dia ikat, dia sudah tidak malu lagi untuk mengikat rambutnya, lantaran sekarang tubuhnya sudah terlihat bagus, meski belum ideal atau istilahnya, sekarang tubuhnya itu semok, sexy montok itu menurutnya.
Saat dia memakai parfum yang biasa dia kenakan, tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah, dia segera berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya, karena tidak bisa menahannya lagi.
Wajah Cinderella juga terlihat lebih pucat dari biasanya. Saat dia sudah menyelesaikan muntahnya dia segera kembali ke kamar, dia kaget saat melihat Sandra sedang duduk di ranjang besar miliknya.
“Kamu sakit?” Tanya Sandra saat melihat wajah pucat anaknya.
“Mama panggilkan dokter ya?” lanjutnya pada Cinderella.
“Nggak usah Ma, aku baik- baik saja.” Sandra menatap Cinderella penuh dengan tanda tanya.
Semenjak pulang dari acara menginap dengan Kemal, Cinderella jadi semakin aneh. Batin Sandra.
“Ya sudah kamu istirahat saja, biar Mama yang bilang ke Revan nanti,” ucap Sandra saat melihat tubuh lemah Cinderella. Cinderella mengangguk karena merasa tubuhnya yang tidak bertenaga.
Setelah Sandra pergi, Cinderella segera mengganti bajunya menggunakan baju tidur, setelah selesai dia merabahkan tubuhnya di ranjang besar, berniat ingin kembali tidur, saat dia melihat ponsel, tampak aplikasi alarm datang bulannya sudah terlewat.
“Ya Tuhan... Kenapa aku bisa melupakanya, apa jangan-jangan...” ucapnya lirih sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Pikiran Cinderella sudah berlarian kemana-mana. Hanya satu yang menjadi alasan kenapa dia belum datang bulan padahal seharusnya sudah 4 hari yang lalu, bisa terjadi saat ini dia hamil anak Kemal, darah daging Kemal yang sebenarnya dia sudah bertekad untuk melupakan lelaki itu.
Cinderella yang panik langsung menelepone Kemal, karena dia tidak ingin kedua orang tuanya tau, tentang kejadian siang itu, yang sudah serapi mungkin dia sembunyikan sampai detik ini.
“Kamu dimana?” Tanya langsung Cinderella saat Kemal sudah mengangkat teleponenya.
“........”
“Jangan pergi! Aku mau kesana.”
Setelah mengatakan itu Cinderella langsung menutup ponselnya, dia bersiap untuk pergi ke apartemen Kemal, meminta solusi pada lelaki penjahat kelamin itu.
“Ma... Cici pergi dulu ya. Ada teman Cici dari Bandung yang mengajak ketemuan,” pamit Cinderella saat tiba di depan Sandra.
“Lhoh .... Bukannya kamu sakit? Kok pergi,” Tanya Sandra yang khawatir.
“Nggak kok Ma, aku baik-baik saja,” ucapnya karena memang sudah tidak merasakan mual lagi.
“Baiklah hati-hati ya, mau pakai mobil sendiri?” Tanya Sandra saat melihat Cinderella mengambil kunci mobilnya.
“Iya Ma. Biar lebih cepat,” ucapnya sambil mencium kedua pipi Sandra dan segera berjalan keluar rumah.
Saat perjalanan ke apartemen Kemal, dia selalu terbayang kejadian siang itu, jika dia benar hamil apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menggugurkan kandungan ini agar orangtuanya tidak kecewa padanya, tapi jika dia benar hamil dia juga tidak tega untuk membuang janin yang tidak bersalah, yang harus disalahkan disini Kemal, dan bukan janinnya yang harus dibuang.
Sebelum sampai di apartemen Kemal, dia mampir ke salah satu apotek guna membeli permen untuk meredakan mual dan membeli alat uji kehamilan. Setelah selesai dia kembali melanjutkan perjalanannya ke arah apartemen Kemal.
Duapuluh menit berlalu, kini Cinderella tengah berdiri di depan pintu apartemen Kemal. Dia segera menekan tombol bel disana, namun lama tidak kunjung terbuka, dia merasa bosan karena terlalu lama berdiri, tapi saat dia hendak melangkahkan kaki untuk pulang, pintu terbuka, betapa terkejutnya dia saat melihat Diandra berada disana dengan pakaian yang kekurangan bahan bewarna merah darah.
Harusnya aku tidak datang kesini, aku salah karena langsung datang ke apartemen penjahat kelamin ini. Batin Cinderella.
Dia hendak pergi dari apartemen itu, namun suara Kemal yang baru datang dari kamar menghentikan niatnya, terlihat Kemal yang sedang mengenakan handuk bewarna putih melilit menutupi harta berharga bagian bawahnya, perut sixpacknya juga terlihat jelas dimatanya, Kemal terlihat semakin menggairahkan saat air yang ada dirambutnya itu menetes mengenai bagian dadanya.
Ya Tuhan apa yang Kemal lakukan dengan perempuan ini? Kenapa dengan dadaku yang tiba-tiba sulit untuk bernafas. Batin Cinderella.
“Masuklah!” Perintah Kemal pada Cinderella yang masih berdiri di depan pintu apartemennya.
“Jangan pedulikan dia, Dian hanya tamu yang tidak diundang disini,” ucap Kemal sambil meraih tangan Cinderella, lalu membawa Cinderella ke dalam kamarnya.
“Kenapa dia disini?” Tanya Cinderella penuh selidik, tapi Kemal justru tersenyum tipis ke arah Cinderella.
“Biasa menawarkan kerjasama,” jelasnya singkat pada Cinderella.
“Kalau kamu tidak nyaman biar aku suruh dia pergi,” lanjut Kemal pada Cinderella.
Cinderella diam sejenak saat Kemal mengucapkan hal itu, tanpa mendapat jawaban dari Cinderella dia segera keluar kamar dan meminta Diandra untuk meninggalkan apartemennya.
Kemal yang tadi akan mandi, tiba-tiba Diandra datang menawarkan tubuhnya, beruntungnya Kemal sedang dalam kondisi baik, jika dia sedang mabuk dan pengaruh obat pasti dia akan langsung melahap Diandra, dan kejadian itu pastinya akan di ketahui Cinderella, sekarang dia ingin tobat, berjalan di jalan yang benar dengan menjadikan Cinderella wanita satu-satunya yang dia cintai dan nodai.
“Ada apa? Apa ada yang penting? Sampai tadi pagi kamu bisa sepanik itu?” Tanya Kemal yang penasaran. Cinderella hanya diam, sambil menatap tajam ke arah Kemal.
“Apa kau juga melakukannya pada Diandra, menodainya seperti kamu menodaiku?” Tanya Cinderella yang emosi saat mengingat kejadian Kemal keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Kemal terdiam sambil membalas tatapan Cinderella yang menusuk ke matanya.
“Ceh..! Aku juga bisa membedakan mana wanita baik-baik dan tidak baik,” jawab Kemal yang tidak membenarkan ucapan Cinderella.
Cinderella lalu berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa tasnya. Meninggalkan Kemal yang penuh dengan tanda tanya tentang kedatangannya kesini.
Setelah sepuluh menit berlalu, Cinderella keluar dari arah kamar mandi dengan wajah yang tidak bisa di tebak oleh Kemal, sedangkan Kemal tengah duduk di kursi kerjanya yang berada di kamar, dia sedang mengecek laporan dari karyawan teladannya itu.
“Kemal!” Teriak Cinderella yang membuat Kemal langsung menatap ke arahnya.
Cinderella sudah mendekat ke arahnya, kini dia tepat berdiri di depan Kemal.
“Bolehkah aku menamparmu?” Kemal terkekeh saat mendengar ucapan Cinderella, lalu dia berdiri dan berjalan dua langkah ke arah Cinderella, lalu memasangkan pipi di dekat tangan Cinderella.
“Silakan saja, setelah itu beritahu aku kenapa kau ingin memamparku,” ucapnya pada Cinderella.
Cinderella yang mendengar itu, segera menampar pipi Kemal dengan keras.
Plaakkk....
Plaakkk....
Kemal meringis kesakitan saat kedua pipinya menerima tamparan itu, lalu mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.
“Itu tidak sebanding dengan masa depan dan harapan keluargaku yang sudah kau hancurkan Mal,” teriak Cinderella yang sudah mulai mengeluarkan airmatanya, hatinya begitu rapuh jika dia membahas tentang keluarga.
“Ada apa denganmu? katakanlah dengan jelas,” Tanya Kemal pada Cinderella yang masih terus menangis di depannya.
Cinderella lalu melemparkan tes kehamilan itu ke wajah Kemal.
Kemal yang melihat itu segera meraihnya dan melihat bukti tes kehamilan itu.
“Kamu hamil?” Tanya Kemal dengan nada dingin. Dia tak menyangka dengan menanamkan bibit sekali saja ke Cinderella, dia bisa membuat gadis itu hamil.
.
.
.
Berambung ....
Ng