"Kapan kau akan memberi kami cucu!!"
Hati Sherly seperti di tusuk ribuan jarum tajam setiap kali ibu mertuanya menanyakan perihal cucu padanya. Dia dan Bima sudah menikah selama hampir dua tahun, namun belum juga dikaruniai seorang anak.
Sherly di tuduh mandul oleh Ibu mertua dan kakak iparnya, mereka tidak pernah percaya meskipun dia sudah menunjukkan bukti hasil pemeriksaan dari dokter jika dia adalah wanita yang sehat.
"Dia adalah Delima. Orang yang paling pantas bersanding dengan Bima, sebaiknya segera tandatangani surat cerai ini dan tinggalkan Bima!!"
Hadirnya orang ketiga membuat hidup Sherly semakin berantakan. Suami yang dulu selalu membelanya kini justru menjauh darinya. Dia lebih percaya pada hasutan sang ibu dan orang ketiga. Hingga akhirnya Sherly dijatuhi talak oleh Bima.
Sherly yang merasa terhina bersumpah akan membalas dendam pada keluarga mantan suaminya. Sherly kembali ke kehidupannya yang semula dan menjadi Nona Besar demi balas dendam.
Lalu hadirnya sang mantan kekasih mampukah membuka hati Sherly yang telah tertutup rapat dan menyembuhkan luka menganga di dalam hatinya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
-
-
Hanya cerita cerehan, semoga para riders berkenan membaca dan memberikan dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jangan Menyalahkan Dirimu Lagi
Sherly terus menangis di pelukan sang ibu. Saat ini Rey sedang berada di ruang operasi. Dia masih tidak tau bagaimana keadaan suaminya itu, karena sudah hampir 2 jam namun dokter belum juga keluar dari ruang operasi.
Sore berdarah. Hari yang awalnya begitu cerah berubah menjadi derai air mata karena ulah mantan suaminya. Bima yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menusuk mata kiri Rey dengan gunting. Beruntung Sherly berhasil mencegahnya saat dia hendak menusuk mata Rey yang satu lagi.
Namun akibat dari insiden tersebut. Besar kemungkinan jika Rey akan mengalami cacat permanen karena dokter mengatakan jika tusukan itu menyebabkan cidera parah.
"Ma, kenapa mereka lama sekali." Lirih Sherly setengah terisak.
"Tenang, Sayang. Yakinlah jika suamimu akan baik-baik saja. Rey adalah pria yang kuat," ucap Nyonya Ivanka menenangkan.
"Tapi dia mengalami pendarahan hebat, dia kehilangan banyak darah. Ma, aku takut. Aku sangat-sangat takut," tangis Sherly semakin pecah.
Nyonya Ivanka pun tak kuasa menahan air matanya. Dia bisa merasakan kesedihan dan ketakutan yang dirasakan oleh putrinya. Lagipula istri mana yang tidak akan takut saat melihat suaminya terluka begitu parah apalagi sampai kehilangan banyak darah.
Tuan Robert menghampiri Sherly. Dia mengusap punggung putrinya itu naik turun, Tuan Robert sungguh tidak tega melihat putrinya yang terus menangis seperti ini.
"Nak, jangan menangis lagi. Berdoa saja supaya tidak ada hal buruk menimpa suamimu." Ucap Tuan Robert menenangkan.
Cklekk...
Sherly segera melepaskan pelukan ibunya saat mendengar suara pintu ruang operasi di buka dari dalam. Dia menghampiri dokter yang menangani Rey. "Dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Sherly tanpa basa-basi.
"Ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya suami Anda baik-baik saja. Kabar buruknya dia harus kehilangan mata kirinya. Cideranya terlalu parah dan merusak sy*raf matanya. Hingga kami terpaksa harus melakukan tindakan cepat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan." Ujar dokter itu menjelaskan.
Tubuh Sherly terhuyung kebelakang setelah mendengar penjelasan dokter. Apakah Rey bisa menerimanya, apakah Rey tidak akan menyalahkannya. Karena bagaimana pun juga dia menjadi seperti ini karena dirinya.
"Kalian bisa menemui Pasien setelah dia dipindahkan ke ruang inap. Saya permisi dulu."
-
-
Rey membuka mata kanannya saat derap langkah kaki seseorang memasuki ruangan. Pria itu menatap wanita yang menghampirinya dengan sendu. Wajah cantiknya basah dan matanya sembab, menandakan jika dia telah menangis dalam waktu yang lama.
Pria itu mengulurkan tangannya lalu membawa Sherly ke dalam pelukannya. Dan tangis Sherly kembali pecah, dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis sekarang.
"Jangan menangis lagi, aku baik-baik saja. Dan mulai sekarang kau harus membiasakan diri hidup dengan pria c*cat," ucap Rey setengah berbisik.
"Aku tidak peduli. Bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap menerimanya. Ini semua salahku, Rey. Jika bukan karena diriku, mungkin kau tidak akan mengalami nasib yang begitu buruk."
Rey menggeleng. "Jangan menyalahkan dirimu lagi, aku tidak suka mendengarnya. Dan aku mohon, jangan menangis lagi. Hatiku terlalu sakit melihat air matamu ini," bisik Rey sambil melepaskan pelukannya. Jari-jarinya kemudian menghapus jejak air mata di pipi Sherly.
Hati Sherly mencelos melihat perban berlumur darah itu menutup mata kiri suaminya. Mata yang awalnya begitu indah kini tidak lagi sempurna. Sherly sungguh-sungguh menyesali apa yang terjadi sore ini.
"Ini pasti sakit ya." Sherly menyentuh permukaan perban yang membalut mata kiri suaminya. Tatapannya sendu dan berkaca-kaca.
Rey menggeleng. "Sudah lebih baik dibandingkan tadi. Dan rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan harus melihatmu menangis. Untuk itu jangan menangis lagi," pinta Rey dengan suara lirih. Sherly mengangguk.
"Kau istirahatlah, aku akan keluar sebentar. Aku lapar, biar Leon yang menemanimu di sini." Ucap Sherly yang kemudian dibalas anggukan oleh suaminya.
Sherly meninggalkan ruang inap Rey sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia tidak mau jika isakannya sampai di dengar oleh Rey. Tapi sayangnya dia sudah melihatnya, dan Rey memahami betul apa yang Sherly rasakan saat ini.
"Aku memintamu agar tidak pernah menangis lagi, tapi hari ini justru aku sendiri yang membuatmu menangis. Sherly, maafkan aku."
-
-
"Aarrkkhhh... Mataku, mataku sakit!!"
Bima terus berteriak sambil memegangi mata kanannya. Perban tampak menutup mata itu. Mata Bima hanya diberi pengobatan seadanya. Karena jika dibawa ke rumah sakit akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Sedangkan dia tidak memiliki ruang sama sekali.
Saat ini Bima sedang berada di kantor polisi. Akibat dari perbuatannya. Dia harus mendekam di hotel prodeo, nasib Bima masih belum ditentukan. Apakah dia akan dijatuhi hukuman berat atau sebaliknya, itu belum diputuskan.
"Minum obat itu, dan jangan berteriak lagi." Seorang polisi wanita memberikan obat pereda rasa sakit pada Bima.
"Aku tidak butuh obat ini. Aku ingin ke rumah sakit. Bawa aku ke rumah sakit!!"
"Jangan banyak permintaan, sebaiknya kau diam dan jangan bicara lagi!!"
Bima tidak menduga jika semua akan berkahir seperti ini. Dia tidak menyangka jika Sherly akan sangat tega membuatnya kehilangan satu matanya. Apa dia begitu mencintai pria yang sekarang menjadi suaminya?! Bima tidak bisa menerimanya.
Gyutt..
Bima mengepalkan tangannya. Matanya berkilat tajam penuh amarah. "Aku pasti akan menghabisinya setelah keluar dari sini! Sherly hanya milikku!!"
-
-
Malam sudah semakin larut. Namun Sherly masih tetap terjaga. Wanita itu duduk di kusen jendela ruang inap suaminya.Rey sedang istirahat setelah meminum obatnya.
Langit malam ini tampak gelap dan tak bersahabat, kelam dan pekat. Tidak ada bulan, tidak ada bintang, yang ada hanya kabut hitam yang menyelimuti malam. Lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
Pandangan Sherly bergulir pada Rey yang sedang menutup matanya. Hatinya kembali mencelos melihat perban yang membebat mata kiri suaminya. Lagi-lagi rasa bersalah menghantui perasaannya.
"Kenapa belum tidur?" Sherly menoleh, lalu dia turun dari kusen jendela dan menghampiri Rey yang sedang menatapnya.
"Kenapa bangun? Apa terasa dingin?" Alih-alih menjawab, Sherly malah balik bertanya. "Aku akan tutup jendelanya."
Baru saja ia hendak beranjak, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Rey menggeleng. Lalu dia menarik Sherly dan meminta wanita itu untuk berbaring disampingnya.
"Biarkan saja, aku sedikit gerah. Sebaiknya kau tidur. Ini sudah larut malam, kemarilah dan berbaring di sampingku." Pinta pria itu.
Sherly tak memberikan jawaban apa-apa. Kemudian dia merebahkan tubuhnya disamping Rey berbaring, wanita itu menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang suaminya yang tersembunyi di balik piyama rumah sakit.
Sebenarnya Sherly masih belum mengantuk, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang Rey perintahkan. Meskipun sulit, Sherly mencoba untuk segera tidur.
-
Bersambung.