Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Ayah yang Akhirnya Pulang
Elda baru saja keluar dari kamar mandi.
Langkahnya menyusuri lorong kecil rumah itu, menuju ruang tengah, mencari cucunya yang sejak tadi bermain di atas karpet. Namun langkahnya melambat ketika suara Rava terdengar.
Bukan suara bermain. Bukan suara mengoceh sendiri.
Rava sedang berbicara dengan seseorang.
Alis Elda berkerut. Jantungnya berdegup tak nyaman.
“Rava?” panggilnya, mempercepat langkah.
Begitu tiba di ambang pintu ruang tamu, dunia seolah berhenti bergerak.
Seorang pria duduk di sana.
Tubuh tegap. Bahu lebar. Potongan rambut cepak khas tentara. Kemeja sederhana tak mampu menyembunyikan disiplin yang melekat di caranya duduk.
Wajah itu.
Wajah yang pernah ia usir dari rumahnya bertahun-tahun lalu.
Raska.
Auranya menghantam ingatan Elda. Dingin, tegas, dan entah kenapa… sangat mirip dengan mendiang suaminya.
“Nenek!” seru Rava ceria, berlari kecil. “Ini prajurit yang aku ceritain tadi.”
Elda terdiam.
Raska yang menyadari kehadirannya segera berdiri. Gerakannya refleks. Terlatih. Ia menunduk hormat.
“Bu.”
Satu kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Ia siap jika harus diusir lagi. Disapu amarah. Dilempari masa lalu. Namun kali ini, ia bertekad tak akan pergi.
Elda menghela napas panjang, seolah menahan gelombang kenangan yang mendadak bangkit. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah ke kursi panjang dan duduk. Rava ikut memanjat, duduk di sampingnya.
“Duduk,” ucap Elda datar.
Raska menurut. Duduk dengan punggung lurus, tangan terletak rapi di paha. Tidak ada sikap menantang. Tidak ada keberanian yang berlebihan. Hanya kesabaran yang keras dipelajari oleh waktu.
“Sejak kapan kau datang?” tanya Elda.
“Baru, Bu,” jawab Raska tenang.
Hening menyela.
“Kau ke sini…?” Elda menggantung kalimatnya. Seolah tak yakin ingin mendengar jawabannya.
Raska menarik napas dalam.
“Saya ingin menjemput anak dan istri saya,” katanya mantap. Lalu menambahkan, dengan suara yang lebih rendah, lebih manusiawi,
“Dan saya akan sangat senang jika Ibu mau tinggal bersama kami.”
Kata kami jatuh lembut, namun berat.
Rava mendongak cepat. Matanya berbinar.
“Jadi… kamu beneran papaku?” tanyanya antusias. “Soldier?”
Raska melirik Elda.
Tidak ada larangan di wajah perempuan tua itu. Tidak ada penolakan. Hanya kelelahan yang panjang… dan keikhlasan yang perlahan tumbuh.
Raska tersenyum tipis. Mengangguk kecil.
“Iya,” katanya. “Aku papamu.”
Tanpa aba-aba, Rava melompat.
Tubuh kecil itu mendarat tepat di pangkuan Raska.
Refleks, Raska memeluknya erat agar tak terjatuh. Gerakan yang lahir bukan dari latihan militer, melainkan naluri terdalam.
“Yeay!” Rava tertawa riang. “I have papa! Soldier!”
Ia memeluk leher Raska kuat-kuat.
“I love you. Banget.”
Raska menutup mata.
Tangannya gemetar saat mengecup rambut putranya. Lama, penuh rasa, seolah ingin menyimpan momen itu di setiap sel tubuhnya.
Dadanya penuh.
Terlalu penuh oleh bahagia yang tak pernah ia berani mimpikan.
Di balik wajahnya yang tetap datar dan terlatih, hatinya runtuh dengan cara paling indah.
Elda menghela napas panjang.
Matanya basah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi merasa perlu mengusir siapa pun dari rumahnya.
Karena di hadapannya, bukan lagi seorang pria dari masa lalu, melainkan seorang ayah, yang akhirnya pulang.
Elda akhirnya membuka suara.
“Rava,” panggilnya lembut.
Bocah itu menoleh, masih duduk setengah di pangkuan Raska.
“Rava main di ruang tengah dulu, ya. Nenek mau bicara sama papa sebentar.”
Rava mengerucutkan bibir. Jelas tak rela. Tangannya masih mencengkeram kerah baju Raska seolah takut dilepaskan.
Ia menoleh ke Raska, matanya besar dan penuh harap.
“After this… papa mau main sama aku, 'kan?” tanyanya hati-hati.
“Will you?”
Raska tersenyum tipis. Senyum yang tak dibuat-buat. Ia mengangguk kecil.
“Tentu,” katanya lembut.
“Papa akan main sama Rava.”
Barulah bocah itu turun perlahan, melangkah mundur beberapa langkah, lalu berlari ke ruang tengah. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi, memastikan Raska masih di sana.
Setelah langkah kecil itu menghilang, keheningan turun.
Berat.
Elda menatap Raska lurus-lurus. Tidak ada kemarahan. Tidak pula kehangatan. Hanya keteguhan seorang perempuan yang telah terlalu banyak kehilangan.
“Selesaikan masalah kalian baik-baik,” ucapnya datar, namun dalam. “Kalau dia tak ingin bersamamu… jangan memaksanya.”
Raska mengangguk pelan. “Saya mengerti, Bu.”
Ia menarik napas, dadanya naik turun perlahan, seolah menata kata-kata yang selama ini terkunci di dadanya.
“Tapi saya berharap… pernikahan kami bisa berlanjut.”
Elda tak memotong. Ia membiarkan Raska bicara.
“Saya mencintai Vara,” lanjut Raska, suaranya tetap tenang, tapi ada getar yang tak bisa disembunyikan.
“Meski awalnya saya mendekatinya dengan maksud yang salah… taruhan.”
Kata itu jatuh berat di ruangan.
“Tapi perasaan saya sekarang nyata,” lanjutnya cepat, seolah takut kata itu menghapus segalanya.
“Saya benar-benar mencintainya. Terlebih… ada anak di antara kami.”
Tangannya mengepal di atas lutut.
“Saya tidak ingin putra saya tumbuh dalam keluarga yang retak.”
Ia mengangkat pandangan. Untuk pertama kalinya, ada luka terbuka di mata seorang kapten.
“Karena saya tahu persis bagaimana rasanya,” katanya pelan.
“Besar tanpa keutuhan. Tanpa rumah.”
Sunyi menyelimuti mereka.
Elda memejamkan mata sesaat. Napas panjang keluar dari dadanya. Ketika ia membuka mata kembali, tatapannya melembut. Bukan karena memaafkan, tapi karena memahami.
“Kau datang terlambat,” katanya lirih.
“Tapi kau datang.”
Ia bangkit perlahan.
“Sekarang dengarkan Ibu baik-baik,” kata Elda, suaranya tenang, tapi mengandung tekanan yang tak bisa ditawar.
“Vara akan pulang. Kalian akan bertemu.”
Raska mengangkat wajahnya.
“Tapi apa pun yang terjadi setelah itu,” lanjut Elda, menatap lurus ke matanya,
“keputusan ada di tangan dia. Bukan di tanganmu. Bukan di tangan Ibu.”
Ia melangkah menuju ruang tengah, berhenti sesaat tanpa menoleh.
“Kau boleh tinggal. Kau boleh bicara. Kau boleh menjelaskan semuanya.”
Lalu suaranya merendah.
“Tapi jika dia memilih pergi… kau harus cukup dewasa untuk melepaskannya.”
Langkah Elda menjauh.
Raska masih duduk di tempatnya, dadanya penuh oleh perasaan yang saling bertabrakan. Tak sepenuhnya lega, tapi tak lagi kosong.
Di ruang lain, tawa kecil Rava terdengar.
Dan untuk pertama kalinya, Raska tahu satu hal dengan sangat pasti:
Ia tidak akan lari.
Tidak akan memaksa.
Dan tidak akan mundur dari kebenaran.
Bukan lagi.
...🔸🔸🔸...
...“Cinta bukan tentang menahan, tapi cukup berani untuk menunggu keputusan.”...
...“Untuk pertama kalinya, ia tidak berjuang di medan perang, melainkan di hadapan rumah.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Jadi ingat Bianto - tak ada celah untuk menggagalkan pernikahan Raska dengan Elvara.
Bisa jadi berhadapan dengan Prakosa - orang yang menjaga keselamatan Elvara dan keluarganya.
Raska dan Jovi mendapat pujian dari Prakoso.
Raska berterima kasih pada Jovi.
Adrian berterima kasih pada Raska dan Jovi. Raska tak menjabat tangan Adrian ??
Elvara berterima kasih pada Jovi. Jovi malah melenceng menjawabnya - kena tegur Raska .
Malah nambah bicara map hitam nih Jovi /Facepalm/. Raska menstop Jovi yang banyak bicara. tapi Jovi masih ingin bicara sama Elvara /Facepalm/
😄😄😄😄😄😄😄
Kerja bagus Elvara, kerja bagus Adrian - kedua dokter ini bisa ajah bergerak melawan tanpa suara.
Jovi dan Raska langsung bergerak cepat - habisi musuh tak bersisa.
Naluri bawah sadar seorang anak terkoneksi atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Rava bisa tidur tenang ketika di tempat yang berbeda, kedua orang tuanya sudah aman.
Ketua menghentikan pertarungan.
Elvara dan Adrian di bawa keluar. Waduh Adrian dibanting ke lantai.
Lawannya secara kuantitas tak seimbang, tapi secara kualitas - Raska dan Jovi bisa mengimbangi serangan dari mereka.
Ketua dengan bahu terluka menahan sakit, tangan yang satunya memegang pistol.
Raska lebih dulu menyerbu sebelum ketua menembak.
Ketua sudah sakit bahunya ditambah hantaman dari Raska.
Raska juga dihantam tengkuknya oleh musuh. Dengan sekuat tenaga Raska melawan dua orang yang menyerbu bersamaan.