gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31
*********
Nafisa memesan ojol. Ia berencana untuk ke pasar. Membeli beberapa helai baju hamil. Tak lama ojol yang dipesannya datang.
Nafisa memilih baju yang cocok untuk di pakainya kekampus. Ia membeli 3 helai baju dan 3 daster untuk di rumah. Setelah membeli baju gadis tersebut merasa perutnya sangat lapar. Ia begitu ingin makan mie ayam. Nafisa menenteng baju serta vitaminnya dengan langkah yang sangat riang. Ia masuk ke dalam warung bakso yang ada di pasar tersebut. Ia mulai memesan mie ayam serta teh es. Ia menghabiskan mie ayam tersebut sampai kering. Begitu juga teh es yang ada di gelas tersebut. Setelah kenyang Nafisa memesan ojol dan kembali pulang.
*********
Kepulangan Julian ke tanah air. Amera memborong begitu banyak ole-ole. Para pelayan di rumah Julian sudah sibuk mengangkat tas-tas yang berat berisi oleh-oleh tersebut karena lelah di perjalanan. Mereka beristirahat.
********
“Sayang.”
“Iya ada apa?” Jawab Amera.
“Aku ingin memberi tahu kamu.”
“Tentang apa sayang.” Tanya Amera dengan suara manjanya.
“Tapi aku mohon. Dengarkan aku.”
“Ia aku pasti mendengarkan kamu.”
Cukup lama Julian diam. Kemudian ia mulai menceritakan kepada Amera tentang pernikahannya dengan Nafisa. Amera merasa sangat marah. Ia memukul-mukul dada Julian. Amera tidak terima kalau Julian sudah memiliki istri. Dan terlebih lagi saat ia mendengar bahwa Julian menikahi pelayan di tempat karaoke langganan mereka. Air mata Amera tidak ada henti-hentinya mengalir. Kata-kata yang di keluarkan Julian bagaikan petir di siang bolong untuknya.
“Maafkan aku sayang. Aku khilaf memperkosa gadis tersebut. Kalau waktu itu kita tidak bertengkar mungkin peristiwa itu tidak akan terjadi.” Pertengkaran hebat yang terjadi saat Amera bersikeras untuk pergi keluar negeri menjadi model di sana yang jelas-jelas langsung ditentang Julian.
“Aku yakin, kamu di jebak.”
Julian hanya diam.
Setelah cukup lama Amera meluapkan emosinya. Julian memilih untuk pergi meninggalkan Amera. Amera membuang semua barang yang ada dikamarnya. Santi yang mendengar suara ribut-ribut dari kamar Julian masuk ke dalam kamar tersebut.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Santi.
“Mi, mas Julian punya istri selain Amer mi.”
“Julian sudah cerita?” Tanya Santi
“Sudah mi. Kenapa mami gak ngasi tahu Amer?”
“Maafkan mami sayang. Mereka hanya menikah sebentar. Setelah wanita itu melahirkan anaknya. Mereka akan bercerai.” Jelas maminya.
Amer gak mau menunggu sampai wanita itu melahirkan mi. Bisa saja mas Julian mencintainya atau dia sengaja menjebak mas Julian dan mencari cara agar mas Julian terperangkap dengan jebakannya. Amer gak percaya. Kalau dia meminta mas Julian menikahinya hanya untuk status. Amer yakin, wanita tersebut memiliki niat tertentu. Ia hanya berpura-pura lugu dan polos.” Protes Amera dengan emosinya.
Santi terdiam mendengarkan perkataan Amera. “Kamu benar.”
“Mami sudah jumpa dengan wanita itu?” Tanya Amera kemudian.
Santi menggelengkan kepalanya. “Mami gak tertarik untuk berjumpa dengan wanita murahan itu.”
“Mami tahu di mana wanita murahan itu tinggal?”
“Iya mami tahu.”
“Amer ingin memberi ia pelajaran,” kata Amera.
“Mami setuju. Ayo kita kesana. Kamu tunggu sebentar, mami mau siap-siap.”
“Iya mi.”
Santi memakai cincin berliannya yang memang di buat memiliki mata yang tajam. Ia akan selalu memakai cincin tersebut untuk menghajar musuhnya. Ia memakai 3 buah cincin di tangan kanannya dan memutar mata cincin tersebut ke arah telapak tangannya. Ia meminta orang suruhannya mengantar kan mereka ke rumah Nafisa.
*******
Nafisa melihat jam di ponselnya. Jam kerjanya masih lama. Nafisa membersihkan rumahnya dan mengeluarkan tumpukan kain yang sudah kering dari kamarnya yang sudah siap untuk di setrika. Ia mengembangkan alas untuk setrika baju. Nafisa duduk dengan santai menstrika baju satu persatu dan melipatnya dengan dengan rapi.
Suara ketukan pintu yang semakin lama semakin kuat. Nafisa langsung berdiri dari duduknya dan membuka kan pintu tersebut. Melihat siapa yang datang, Nafisa semakin memucat. Ia berusaha menutup pintu tersebut namun tenaga Santi dan juga Amera tidak mampu untuk di lawan oleh tubuh mungil Nafisa, tubuhnya langsung mundur ke belakang dan hampir terjatuh.
Tatapan mengerikan terlihat dari dua orang wanita yang ada di depannya.
“Ternyata, kamu wanita murahan itu.” Amera menarik rambut Nafisa dengan sangat kuat sehingga terdengar suara hentakan rambut tersebut saat ia menarik rambut Nafisa dengan sangat kerasnya.
“Kalian mau apa?” Tanya Nafisa dengan suara yang bergetar dan air mata yang membasahi pipinya. Ia merasa kakinya gemetar, begitu juga tangannya. Nafisa tidak pernah mengalami hal seperti ini. Ia belum pernah berkelahi dengan siapapun.
“Membunuh anak kamu. Agar kau langsung bercerai dengan mas Julian.” Jawab Amera.
“Jangan pernahkau bermimpi untuk mendapatkan putra ku. Wanita murahan. Orang miskin seperti mu, selalu menghalal kan berbagai cara.” Santi memandang jijik Nafisa.
“Saya tidak ada meminta apa-apa dari pak Julian.” Jelas Nafisa.
“Itu hanya cara mu untuk mencari simpati Julian. Dasar murahan.” Tamparan keras mendarat di pipi Nafisa, darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Kepalanya terasa begitu sakit, pipinya terasa perih dan juga pedih. Nafisa merasa pipinya terluka.
Wajah Santi tampak puas.
Amer memegang pergelangan tangan yang kecil tersebut dengan sangat kuat. Ia meletakkan tangan Nafisa kebelakang, sehingga Nafisa tidak bisa melawan.
Santi mendaratkan tamparan keras di pipi Nafisa berulang-ulang kali. Kepala Nafisa terasa pusing, wajahnya terasa amat sakit dan pedih. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Pipinya mengeluarkan darah dan luka goresan yang panjang.
Amera mendorong tubuh Nafisa hingga terjatuh. Ia berencana untuk menendang perut gadis tersebut dengan memakai sepatu highnya yang tinggi 15 cm. Saat ia menendangkan kakinya. Nafisa memukulkan strika panas tersebut ke kaki Amera. Nafisa menarik strika panas yang masih tercok di listrik tersebut.
Amera menangis histeris saat benda keras dan panas tersebut membentur kaki mulusnya. Rasa sakit dan panas tak sanggup ditahannya.
Nafisa berdiri dan mengarahkan strika panas tersebut kearah dua wanita yang ada di depannya. Santi dan Amera tampak sangat ketakutan. Santi berlari ke mobil, sedangkan Amera dengan berjalan pincang berusa untuk masuk ke mobil.
Amera menagis di dalam mobil, melihat kakinya yang memerah dan melepuh kena strika panas tersebut. Santi meminta agar supirnya langsung ke rumah sakit untuk mengobati Amera.
**********
Nafisa mengompres wajahnya dengan air hangat. Goresan luka yang meneteskan darah, begitu banyak menempel di wajahnya. Rasa pedih yang sudah tidak terpatri lagi di rasakannya. Air hangat yang di pakai untuk mengompres wajahnya sudah berubah merah. Saat ini wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Di lihat nya jam dinding sudah jam 5 sore. Kondisinya saat ini dengan kepala yang sakit dan pusing, bentuk muka yang hancur. Rasanya tidak mungkin ia bisa pergi untuk bekerja. Nafisa meraih ponselnya. Ia menghubungi Aldi. Tak lama terdengar suara Aldi yang menyahut telponnya.
“Hallo Assalamu’alaikum Sa.”
“Wa’alaikumsalam Al.”
“Ada apa Sa?”
“Al, aku boleh izin?” Tanya Nafisa.
“Apa kamu sakit Sa?”
“Aku tadi habis kontrol dan kepasar Al. Aku kecapean.” Jelas Nafisa.
“Oh iya udah. Kamu istirahat aja kalau gitu.” Jawab Aldi.
“Makasih ya Al.”
“Iya Sa, kalau ada apa-apa. Hubungi aku.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Nafisa tersenyum pahit. “Aku berharap air mata ku kering. Agar aku tidak bisa menagis lagi.”
Sambil mengelap air mata di pipinya. “Allah gak tidur Julian.” Batinnya sambil menghapus air matanya dan ia pun tertidur dengan rasa perih, sakit serta lelah yang luar biasa.
***************
duh maaf kan author ya.
udah di episode ke 31 masih belum ada titik kebahagiaan yang muncul.
sabar ya reader, author juga gak sanggup nulis sedih-sedih gini.
tapi author berusaha agar alur cerita yang author buat gak kacau.
dan dia pura2 tidak mengenali
dan dia pura2 tidak mengenali