Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Mobil Ambar.
...~•Happy Reading•~...
Setelah berbicara dengan Bagas, Mathias masuk ke ruang makan untuk melihat persiapan Bi Ina.
"Kami sudah bisa makan, Bi?" Tanya Mathias, saat melihat Bi Ina hendak ke dapur.
"Sudah, Den. Ini Bibi mau ambil lauk pauknya." Bi Ina berjalan cepat ke dapur. Mathias segera keluar memanggil Bagas untuk masuk ke ruang makan.
"Bagas, mari kita makan sekarang sebelum waktu makan siang. Supaya kalau mereka pergi makan siang, kau bisa membawa mobilnya."
Bagas mengangguk setuju. 'Bossku memang, jempolan. Bisa memikirkan sampai ke situ.' Ucap Bagas dalam hati, sambil berjalan mengikuti bossnya masuk ke ruang makan.
Saat menunggu Bi Ina menyediakan lauk pauk, Mathias menghubungi Ambar.
"Hallo, Bu Ambar. Apa mereka masih ada di luar pagar?" Tanya Mathias, ketika Ambar merespon panggilan telponnya.
"Hallo, Pak. Iya. Mereka masih berdiri di luar pagar." Ambar terkejut, sebab Mathias yang menelpon. Dia mengira Bagas yang akan hubungi.
"Baiklah. Nanti saat mereka pergi makan siang, segera hubungi saya." Mathias berkata tegas.
"Baik, Pak. T'rima kasih." Ucap Ambar. Mathias mengakhiri pembicaraan mereka, sebab makanan sudah disediakan Bi Ina di meja makan.
Setelah Mathias dan Bagas selesai makan, mereka kembali duduk di teras menunggu Ambar hubungi. "Bagas, nanti kalau sudah bisa ke rumah Bu Ambar, sekalian minta tanda tangan surat kuasa, sebelum mobilnya dibawah."
"Tapi saya belum bikin surat kuasanya, Pak." Bagas ingat surat kuasanya belum sempat dibikin karena belum tahu nama lengkap Ambar.
"Bawa form ini saja, nanti minta Bu Ambar tulis namanya sendiri dan juga kau. Supaya tidak bolak balik, seperti yang saya lakukan buat Pak Erwin." Mathias mengingatkan Bagas.
"Oh, iya Pak. T'rima kasih, sudah bawa. Tadi bapak buru-buru, jangankan bawa surat, tanya mau ke mana saja, lupa." Bagas jadi tersenyum.
"Saya buru-buru atau kau takut saya ajak ngebut?" Tanya Mathias, ikut tersenyum.
"Dua-duanya, Pak...." Bagas jadi tertawa mengingat lututnya yang gemetar.
"Hallo, Bu Ambar." Mathias segera merespon panggilan Ambar pada dering pertama.
"Pak Mathias, mereka baru saja pergi dari depan pagar." Ambar berkata pelan.
"Baik, sekarang asisten saya akan ke sana. Siapkan surat-suratnya dan berdiri di depan pagar, agar bisa melihatnya." Ucap Mathias, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Dia memakai jacket dan mengambil helm. Begitu juga dengan Bagas, segera memakai jacket dan membawa helm dan tasnya.
"Bagas, kau langsung saja ke parkir apartemen dan kembali ke kantor. Saya kembali ke rumah, baru langsung ke kantor." Mathias berkata saat duduk di atas motor. "Baik, Pak." Bagas mengerti.
Mathias segera mengeluarkan motor untuk mengantar Bagas ke rumah Ambar. Setelah tiba di depan rumah Ambar, Bagas segera turun dan mengangkat kaca helm agar Ambar bisa melihatnya. Setelah Ambar membuka pagar, Mathias langsung menjalankan motor untuk kembali ke rumah.
Bagas dengan cepat masuk ke rumah Ambar. "Bu Ambar, tolong tulis nama lengkap sesuai KTP dan tanda tangan di sini. Saya minta kunci mobil untuk panasin mesin." Bagas cekatan, sebab melihat cara bossnya membantu Ambar. Jadi dia harus bergerak hati-hati dan cepat.
"Jangan lupa, KK dan KTP Ibu juga saya bawa, nanti saya kembalikan." Ucap Bagas, setelah menyalahkan mesin mobil.
"Iyaa, Mas. Ini sudah saya siapkan semua." Ambar menyerahkan tas kecil kepada Bagas.
"Baik, kalau begitu saya langsung jalan. Setelah saya berangkat, tolong tutup dan kunci pagar. Jangan ada suara dari dalam rumah. Lakukan seakan Ibu sekeluarga sedang keluar." Bagas menyampaikan pesan bossnya.
"Iyaa, Mas. T'rima kasih dan hati-hati." Ambar berkata pelan, lalu keluar bersama Seni untuk mendorong pagar. Setelah Bagas keluar, Seni langsung menarik pagar dan kunci.
"Ayooo Seni, cepat tutup dan kunci pintu. Tutup semua gorden, dan kita di kamar saja. Ibu akan bawa Juha ke kamar, kau juga ikut ke kamar Ibu." Seni mengangguk mengerti.
Tidak lama kemudian., tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar rumah Ambar.
"Sssttt.., pasti mereka sudah kembali dan sedang ngamuk, karna melihat mobil sudah tidak ada." Bisik Ambar kepada Seni, sambil meletakan jari di bibir kepada Juha.
~**
Di sisi lain ; Mathias telah sampai di rumah dan memarkir motornya. Bu Titiek telah bangun dan duduk di meja makan untuk makan siang. "Selamat makan, Bu." Mathias memeluk Ibunya dari belakang. "Thias kembali lagi? Ibu kira sudah ke kantor. Tadi suster bilang sudah berangkat ke kantor." Bu Titiek tersenyum senang, mengetahui putranya kembali lagi.
"Nanti baru kembali ke kantor setelah bertemu Ibu. Tadi antar Bagas sebentar, karna ada yang dikerjakan." Mathias menjelaskan lalu duduk di samping Ibunya.
"Bi Ina, tolong siapkan makanan untuk Den Thias, ya." Bu Titiek berkata kepada Bi Ina.
"Ngga usah Bi. Tadi sudah makan sama Bagas, Bu. Thias temani Ibu makan saja." Mathias berkata sambil mengelus lengan Ibunya.
"Ooh.. Baiklah, Ibu makan." Bu Titiek langsung berdoa dan makan. Setelah selesai makan, Mathias berbicara sebentar dengan Ibunya di meja makan.
"Apa yang Ibu rasakan sekarang?" Tanya Mathias, sambil makan buah menemani Ibunya.
"Sekarang sudah enakan, setelah minum obat dan istirahat." Bu Titiek tidak mau membuat putranya khawatir.
"Ibu jangan banyak beraktivitas dulu. Kalau rasa tidak enak lagi, jangan lupa kasih tahu. Sekarang Thias balik ke kantor dulu, supaya kerjaan bisa cepat selesai dan bisa pulang ke rumah." Mathias berdiri dan memeluk Ibunya dengan sayang.
"Hati-hati, Nak. Jangan ngebut-ngebut." Bu Titiek balik memeluk putranya. Mathias mengangguk untuk menenangkan Ibunya. Kemudian dia mengambil tas kerja dan selempangkan ke badannya.
Saat hendak memakai jacket, ponselnya bergetar. Ketika melihat Ambar yang telpon, Mathias langsung merespon.
"Iyaa, Bu Ambar. Gimana, sudah beres?" Tanya Mathias.
"Sudah, Pak. T'rima kasih. Saya baru bisa telpon, karena mereka baru pergi. Tadi mereka sempat gedor-gedor pagar. Tapi karna kami tutup semua gorden, mungkin mereka mengira kami sudah keluar dengan mobilnya." Ambar menjelaskan yang terjadi.
"Ooh, ok. Tidak pa'pa. Mungkin besok mereka akan datang lagi, nanti sampai kantor dan bertemu Bagas baru saya telpon." Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
~**
Setelah tiba di kantor, Bagas sudah ada di ruangannya. "Bagas, ikut ke ruangan saya." Mathias jalan ke ruang kerjanya dan diikuti oleh Bagas.
"Bagaimana kondisi mobil Bu Ambar, apakah masih dalam kondisi bagus?" Tanya Mathias setelah duduk di kursi kerja, sedangkan Bagas duduk di kursi depan mejanya.
"Masih bagus, Pak. Mobilnya keluaran terbaru, jadi masih mulus. Pantes mereka ngotot bela-belain tunggu di depan pagar." Bagas sudah membawa mobil, jadi tahu, mobilnya dalam keadaan baik dan mulus.
"Baiklah, saya serahkan padamu. Nanti kalau sudah beres, baru kita kasih tahu Bu Ambar. Mungkin besok-besok mereka akan kembali lagi untuk mengecek mobil itu di rumah Bu Ambar. Sekarang kerjakan dulu, kasus yang ada. Saya akan telpon Bu Ambar." Mathias mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sedangkan Bagas keluar menuju ruang kerjanya.
"Hallo, Bu Ambar. Sementara mobilnya sudah di tempat aman. Nanti asisten saya kasih kabar, jika mobilnya sudah dibeli orang."
"Baik, Pak. T'rima kasih." Ucap Ambar dengan rasa syukur.
"Kalau mereka ada datang lagi, Bu Ambar bisa temui mereka tapi dari dalam pagar. Jangan buka pagar, bilang saja mobilnya sudah Bu Ambar jual untuk keperluan anda. Tunggu dan lihat saja reaksi mereka." Ucap Mathias.
"Baik, Pak. T'rima kasih." Ambar hanya bisa berterima kasih. Kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
...~●○♡○●~...