Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inah Galau
Dinda berjalan mondar-mandir tidak tenang setelah tahu jika sang kakak menemui Inah. Ia khawatir jika sang kakak datang dan memaksanya untuk pulang. Apalagi uang yang ia transfer jumlahnya tidaklah sedikit, hingga ratusan juta. Hal itu membuat Dinda takut, jika Anton marah karena hal itu.
Hatinya semakin berdegup kencang ketika sebuah mobil yang sama persis milik Anton berhenti di depan rumah kontrakannya. Ia mengintip dari balik jendela dan di lihatnya Yuki menuruni mobil tersebut. Jadi Dinda masih bisa bernafas lega dan belum juga Yuki mengetuk pintu, Dinda sudah membukakan pintu untuknya.
"Tau aja aku datang!" Ucap Yuki sambil melepas kacamatanya.
"Ah kamu, bikin kaget aja! Aku pikir kak Anton, biasanya kamu gak pakai mobil itu!" Protes Dinda.
"Mobilku masuk bengkel, aku pakai mobil Papa ku yang ngangur." Sahut Yuki dengan santai.
Kemudian Yuki memberitahu Dinda bahwa dirinya membawa beberapa barang yang di butuhkan untuk memasak, seperti teplon untuk menggoreng, menumis dan buat sayur, komplit dengan peralatannya. Beruntungnya Dinda memiliki sahabat dan kekasih yang sangat perduli dan pengertian seperti mereka.
Lalu mereka berdua mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Dan tak lama kemudian Inah datang dengan menggunakan jasa taksi online, karena banyak sekali yang ia beli, sampai-sampai ia menggunakan uangnya sendiri untuk membeli semua itu.
"Mbak Inah, kamu belanja banyak banget. Pasti duitnya kurang ya?" Tanya Dinda yang juga membantu Inah mengeluarkan belanjaan Inah.
"Iya gak apa-apa Non, kan aku juga membutuhkan itu." Jawab Inah sambil senyum-senyum.
Akhirnya kulkas terisi penuh dengan sayuran dan juga buah-buahan. Peralatan masak pun sudah komplit dan semua apa yang di butuhkan Dinda sudah ada. Betapa beruntungnya Dinda yang di kelilingi oleh orang-orang yang peduli terhadapnya.
Mereka bertiga pun membuat rujak di teras rumah sambil bercanda. Ketika mereka sedang asyik memakan rujak mangga muda, tiba-tiba seorang pengantar makanan datang. Dinda yang merasa tidak memesan makanan pun merasa bingung.
Kring Kring Kring
Ponselnya berdering, panggilan dari Rizal.
"Din, kamu sudah menerima makanannya?" Tanya Rizal.
"Oh! Baru saja aku terima. Terimakasih Zal!" Jawab Dinda yang merasa tidak enak.
Setelah mengobrol sebentar, Rizal pun mengakhiri panggilannya, karena ia harus makan siang dan juga bekerja lagi. Rizal memesankan beberapa makanan kesukaan Dinda dengan porsi jumbo, sehingga bisa di makan untuk mereka bertiga, Dinda, Yuki dan Inah.
Mendapat perhatian lebih membuat Yuki iri dengan Dinda. Ia yang masih sendirian pun ingin juga memiliki pacar. Dan Dinda pun merekomendasikannya untuk berpacaran dengan Dimas. Hal itu membuat Inah merasa sedih, ia merasa tidak rela jika Dimas memiliki pacar.
"Sama kak Dimas saja! Dia orangnya juga perhatian banget, mandiri dan juga tampan lagi!" Rekomendasi dari Dinda.
"Tapi umurnya dia kan sama kaya kak Anton!" Ujar Yuki.
"Lah! Bukannya memang kamu suka yang sudah dewasa, tampan dan juga memiliki tubuh atletis. Semua itu ada di diri kak Dimas." Sahut Dinda memberitahu.
Mendengar Dinda dan Yuki membicarakan Dimas, Inah pun berpamitan untuk beristirahat. Dia tidak mau mendengar hal itu, padahal Dimas bukan siapa-siapanya, tapi ia merasa cemburu. Inah pun mengambil ponselnya dan membuka kontak Dimas.
Walaupun Dimas pernah minta nomernya, tapi sekalipun dia belum pernah menelpon atau sekedar mengirimkan pesan kepada Inah. Padahal Inah selalu berharap, suatu saat nanti Dimas mengiriminya pesan untuk menanyakan kabarnya.
Saat ini Dimas sedang tidak di Indonesia, sudah sebulan lebih dia pergi keluar negeri untuk belajar bisnis. Yuki merindukannya, iseng-iseng dia mengirimkan sebuah pesan pendek. Tapi ternyata pesan itu tercengang dua dan di baca oleh Dimas. Inah pun bersemangat, ia menunggu balasan dari Dimas. Karena ini kali pertama ia berani mengirimkan pesan singkat kepada Dimas.
"Den Dimas, apa kabar?" Sapa Inah melalui pesan singkat.
"Kamu Inah ya?" Tanya Dimas.
Pertanyaan Dimas menandakan bahwa ia tidak memiliki nomer Inah, hal itu membuat Inah sedikit kecewa, sehingga ia tidak melanjutkan percakapannya melalui pesan singkat tersebut. Inah memilih untuk tidak berharap kepada Dimas, mencari pacar yang setara dengannya.
*****
Anton terlihat murung karena ia tidak bisa bertemu dengan Dinda. Ketika ia sedang duduk di kursi kebesarannya, Loren tiba-tiba datang. Tetapi karena Anton melamun, ia tidak menyadari kedatangannya Loren. Hal itu membuat Loren mendengus kesal.
Walaupun berkali-kali Anton mengatakan putus dengan Loren, tetapi tetap saja Loren membawakan makan siang untuknya. Anton tidak bisa menolaknya, jika ia berkata kasar, ia takut kalau Loren sakit hati. Terpaksa Anton memakan makanan yang di bawa Loren. Sesekali Loren menyuapinya.
"Zal, kapan-kapan kita pergi yuk! Sudah lama kita tidak pergi berdua." Ajak Loren sambil menyuapi Anton.
"Kapan-kapan kalau ada waktu." Sahut Anton singkat.
Sampai saat ini Loren belum tahu jika Dinda pergi dari rumah. Anton sengaja tidak memberitahunya, karena dia tidak mau jika Loren datang kerumahnya terus menerus. Apalagi sekarang tidak ada nenek, dengan bebasnya Loren bisa datang.
Melihat raut wajah Anton yang terlihat tidak senang, membuat Loren kesal. Karena ia merasa tidak di anggap, jadi setelah mereka makan Loren langsung pergi keluar ruangan. Ketika ia baru saja meraih pegangan pintu, seseorang sudah terlebih dahulu mendorong pintunya. Loren pun terkejut, hampir saja kepalanya terkena pintu.
"Loren! Apa kabar?" Sapa Dimas.
"Eh Dimas, kabarku gak baik! Di khianati, rasanya sakit! Kapan balik ke Indonesia?" Sahut Loren bertanya.
Anton yang melihat mereka pun langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Dimas.
"Wah... cantik-cantik kok di khianati!" Ujar Dimas yang sebenarnya tahu maksud Loren.
Lalu Loren pergi keluar, karena memang sudah waktunya bekerja. Sedangkan Anton dan Dimas duduk di sofa sambil mengobrol. Dimas meminta maaf karena ketika neneknya Anton meninggal, dia tidak bisa datang untuk melayat.
"Kenapa kamu balik ke Indonesia lebih awal?" Tanya Anton.
"Bukan bidang ku untuk berbisnis! Terima sajalah, jika mau di depak dari kartu keluarga juga tidak masalah. Aku mau hidup sesuai keinginanku, bukan di kendalikan." Jawab Dimas yang tidak ingin meneruskan bisnis keluarganya.
Terlahir di keluarga kaya raya tidak semua merasa beruntung. Bergelimang harta tetapi tidak memiliki kenyamanan hidup. Itulah yang di rasakan Dimas saat itu, di paksa melakukan hal ini itu yang tidak ia sukai. Di depak dari rumah berkali-kali, hal itu membuatnya semakin frustasi.
Kali ini Dimas benar-benar pasrah jika harus di depak dari rumah, ia sudah bertekad untuk hidup mandiri tanpa harus menunggu di kasih uang sama orangtuanya. Kedatangannya ke kantor Anton untuk meminta pekerjaan. Pekerjaan apa saja asal bisa untuk menghidupi dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau kamu jadi asisten pribadiku?" Anton menawari.
"Bukannya kamu sudah punya asisten!" Sahut Dimas.
"Kan dia asisten untuk di kantor, kalau kamu asisten untuk mengantarku kemana-mana heheh..." Kata Anton tersenyum meledek.
"Ah! Itu mah bukan asisten, tepatnya sopir!" Celetuk Dimas.
Tapi bagi Dimas tak masalah, asal gajinya di tambah dan juga di beri tempat tinggal untuk sementara. Dari pada ia harus mengemis uang kepada Ayahnya, lebih baik bekerja jadi sopir yang jelas halalnya dan hasil keringat sendiri.
Mereka pun mengobrol ke sana kemari, Anton menceritakan hubungannya dengan Loren yang tidak bisa di teruskan lagi. Ia juga menceritakan masalahnya dengan Dinda, alih-alih mendapat masukan, malah dapat omelan dari Dimas. Yang menurutnya, Anton tidak tegas dan masih seperti anak kecil.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh