ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 2: Mawar di Antara Beling.
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah tirai kamar yang tebal. Alaska mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pening—efek samping dari alkohol mahal yang ia tenggak semalam. Ia bangun dengan mengerang pelan, otot-ototnya terasa kaku.
Pemandangan pertama yang ia lihat bukanlah pelayan yang membawakan sarapan, melainkan punggung seseorang yang terbalut mukena putih bersih di sudut kamar.
Sania sedang bersujud.
Alaska terdiam, memperhatikan gerakan wanita itu. Di dalam kamar yang penuh dengan aura dosa dan kekuasaan gelap ini, kehadiran Sania yang sedang sholat tampak begitu kontras. Seperti setitik cahaya lilin di tengah badai. Ada ketenangan yang aneh saat melihat punggung itu bergetar pelan, diiringi isak tangis yang tertahan.
"Ck, berisik," gumam Alaska seraya bangkit dari ranjang, melempar bantal ke arah Sania.
Bantal itu meleset, jatuh tepat di samping sajadah. Sania tidak bergeming. Ia menyelesaikan tahiyat akhirnya, lalu menoleh ke kanan dan kiri.
"Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah..."
Sania mengusap wajahnya, lalu berbalik. Ia terlonjak sedikit melihat Alaska yang sudah duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada, menatapnya dengan sorot mata meremehkan.
"Pagi-pagi sudah menangis. Kau sedang mengadukanku pada Tuhanmu?" tanya Alaska sinis.
Sania melipat mukenanya dengan rapi. Wajahnya kembali tertutup cadar hitam yang ia kenakan segera setelah sholat.
"Aku tidak mengadukanmu, Tuan. Aku hanya memohon agar Allah melembutkan hatimu yang sekeras batu karang itu," jawab Sania tenang, meski hatinya berdebar.
"Rasulullah SAW bersabda: 'Ketahuilah, bahwa dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.' (HR. Bukhari dan Muslim)."
Alaska mendengus kasar, berjalan menuju kamar mandi.
"Simpan ceramahmu untuk pengajian ibu-ibu. Bersiaplah. Satu jam lagi kita berangkat."
"Ke mana?" tanya Sania.
Alaska berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan.
"Kau istriku sekarang. Dunia harus tahu bahwa Alaska Ravendra memiliki mainan baru yang eksklusif."
Satu jam kemudian, Sania turun ke ruang tengah. Ia mengenakan gamis maroon gelap yang longgar, dipadukan dengan khimar panjang dan cadar senada. Penampilannya sederhana namun memancarkan aura anggun dan misterius.
Alaska, yang sudah rapi dengan setelan jas Armani hitam, menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Ada sedikit rasa kecewa di matanya. Ia berharap Sania akan memakai gaun mewah yang sudah disiapkannya—gaun yang mengekspos lekuk tubuh. Tapi gaun itu masih tergeletak tak tersentuh di kasur.
"Aku menyuruhmu berdandan, bukan mau pergi melayat," komentar Alaska pedas saat mereka berjalan menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu di lobi.
"Bagi seorang muslimah, pakaian terbaik adalah yang menutupi auratnya, bukan yang membungkusnya," balas Sania sambil masuk ke dalam mobil.
"Kecantikan istri hanya untuk suaminya di dalam kamar, bukan untuk konsumsi publik."
Alaska tidak menjawab, hanya membanting pintu mobil. Sopir pribadi mereka, Pak Ujang, tampak tegang melihat aura permusuhan di antara majikan barunya.
Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta, menuju sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Itu adalah markas besar Viper Corp, perusahaan legal yang menjadi kedok bisnis gelap Alaska.
Setibanya di sana, suasana langsung berubah mencekam. Para pegawai menunduk takut saat Alaska lewat. Sania berjalan di belakang Alaska, berusaha menundukkan pandangannya (ghadhul bashar). Namun, ia bisa merasakan tatapan mata para pria di sana. Tatapan liar, penasaran, dan merendahkan.
"Lihat itu, Bos bawa wanita ninja," bisik salah satu penjaga di lobi, yang langsung terdiam saat Alaska meliriknya tajam.
Alaska membawa Sania masuk ke ruang rapat VIP. Di sana, sudah duduk tiga orang pria paruh baya dengan wajah-wajah kriminal kelas kakap. Asap cerutu mengepul memenuhi ruangan. Botol-botol minuman keras tersaji di atas meja kaca.
"Ah, Tuan Alaska! Akhirnya datang juga," seru pria bertubuh gemuk dengan cincin batu akik besar di jarinya.
Namanya Tuan Marco, rekan bisnis sekaligus rival terselubung Alaska dalam perdagangan senjata ilegal.
Mata Marco langsung tertuju pada Sania.
"Dan siapa ini? Hadiah baru? Kenapa ditutup rapat sekali? Buka sedikitlah, biar kita bisa menikmati pemandangannya."
Gelak tawa pecah di ruangan itu. Darah Sania mendidih. Ia meremas ujung gamisnya, menahan amarah. Ia merasa seperti sepotong daging yang sedang ditawar di pasar hewan.
Alaska duduk dengan santai, lalu menarik kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Sania untuk duduk.
"Dia istriku," ucap Alaska datar, namun nadanya mematikan. Seketika tawa di ruangan itu berhenti.
Marco terbatuk, lalu tersenyum canggung.
"Oh, istri... Maaf, aku tidak tahu kau menyukai wanita... agamis. Silakan duduk, Nyonya Alaska. Minumlah sedikit untuk merayakan pertemuan ini."
Marco menuangkan wine merah ke dalam gelas dan menyodorkannya ke hadapan Sania.
Sania menatap gelas itu, lalu menatap Marco dengan tajam di balik cadarnya.
"Maaf, saya tidak minum."
"Ayolah, sedikit saja. Jangan sombong. Di sini kita semua pendosa," desak Marco, tangannya hendak menyentuh punggung tangan Sania.
Sret!
Sania menarik tangannya dengan cepat sebelum kulit mereka bersentuhan.
"Haram hukumnya bagi saya meminum khamr (alkohol), dan lebih haram lagi kulit saya bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahram."
Suara Sania terdengar tegas dan lantang di ruangan sunyi itu.
Wajah Marco memerah karena tersinggung.
"Kau menolakku? Kau pikir kau suci?!" bentaknya sambil menggebrak meja.
Suasana memanas. Sania memejamkan mata, bersiap menerima tamparan atau siraman air. Namun, detik berikutnya, terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.
DOR!
Botol wine di tangan Marco pecah berkeping-keping. Isinya muncrat membasahi wajah dan kemeja putih Marco. Pecahan kaca berserakan.
Semua orang terlonjak kaget, kecuali Alaska. Pria itu masih duduk tenang, namun pistol Beretta peraknya kini berasap di tangannya, diarahkan tepat ke kepala Marco.
"Kau tuli, Marco?" suara Alaska rendah, tapi membuat bulu kuduk merinding.
"Istriku bilang dia tidak minum. Dan satu lagi... jika tangan kotormu itu berani menyentuhnya seujung kuku pun, peluru berikutnya tidak akan meleset ke botol."
Ruangan itu hening total. Ketegangan menggantung di udara. Marco gemetar, wajahnya pucat pasi. Ia tahu Alaska tidak pernah main-main dengan ancamannya. Alaska Ravendra adalah psikopat berdarah dingin jika miliknya diganggu.
"Ma... maafkan aku, Alaska. Aku hanya bercanda," gagap Marco.
Alaska berdiri, menyimpan kembali pistolnya ke balik jas. Ia menatap Sania, lalu mencengkeram lengan wanita itu—dilapisi kain gamis—untuk berdiri.
"Pertemuan selesai. Deal dibatalkan. Cari pemasok lain," ucap Alaska dingin, lalu menyeret Sania keluar dari ruangan neraka itu.
Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Napas Sania masih memburu karena syok. Ia baru saja melihat suaminya hampir membunuh orang di depan matanya hanya karena masalah sepele.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Sania lirih, memecah keheningan.
Alaska menatap lurus ke jalanan. Rahangnya mengeras.
"Lakukan apa?"
"Membelaku... Kau bilang pernikahan ini hanya bisnis. Kau bilang aku hanya bayaran hutang ayahku. Kenapa kau peduli jika dia menyentuhku?"
Alaska menoleh cepat, tatapannya tajam menusuk mata Sania.
"Jangan salah paham, Humairah. Aku tidak membelamu karena aku peduli padamu. Aku membelamu karena kau adalah milikku. Di dunia ini, tidak ada orang lain yang boleh menyentuh barang milik Alaska Ravendra tanpa izin. Kau membawa nama belakangku sekarang. Penghinaan terhadapmu adalah penghinaan terhadapku."
Hati Sania mencelos. Jawaban yang angkuh. Tentu saja, ia hanya dianggap "barang". Namun, jauh di lubuk hatinya, Sania bersyukur Allah melindunginya lewat tangan kasar suaminya itu.
"Terima kasih," ucap Sania pelan.
Alaska mengernyit. "Untuk apa?"
"Karena sudah menjaga kehormatanku, apapun alasanmu," Sania menunduk.
"Rasulullah SAW bersabda: 'Ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang di antara kalian, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.' (HR. Thabrani). Secara tidak sadar, kau baru saja menyelamatkan dirimu dan dia dari dosa besar."
Alaska terdiam. Ia ingin marah, ingin memaki gadis sok suci ini. Tapi entah kenapa, lidahnya kelu. Kata-kata Sania selalu memiliki kekuatan aneh yang membuatnya berpikir dua kali.
Tiba-tiba, Alaska meringis pelan sambil memegang pelipisnya. Efek hangover dan emosi tadi membuat kepalanya serasa mau pecah.
Sania yang menyadari itu memberanikan diri. Ia mengambil botol air mineral yang ada di dashboard, membukanya, lalu menyodorkannya pada Alaska.
"Minumlah. Itu akan meredakan sakit kepalamu," ujar Sania lembut.
Alaska menatap botol itu, lalu menatap mata Sania. Mata indah yang menyiratkan ketulusan, bukan ketakutan seperti wanita-wanita lain. Tanpa sadar, ia menerima botol itu dan meminumnya hingga tandas.
"Jangan berpikir aku akan luluh," kata Alaska ketus setelah menghabiskan airnya.
"Aku tidak berharap kau luluh padaku, Tuan. Aku hanya berharap kau luluh pada Kebenaran," balas Sania, lalu kembali memandang ke luar jendela.
Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi kaca mobil.
Di sampingnya, Alaska Ravendra, sang mafia kejam, diam-diam melirik istrinya lewat pantulan kaca spion. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh di hati gersangnya. Wanita ini... dia seperti mawar yang tumbuh di antara pecahan beling. Semakin digenggam dengan kasar, semakin ia menusuk dengan duri kelembutannya.
Dan Alaska sadar, permainan ini baru saja dimulai. Bukan dia yang sedang menjebak Sania, tapi mungkin... dialah yang sedang terperangkap dalam pesona keteguhan iman gadis bercadar itu.
__Kehormatan bukanlah tentang seberapa mahal pakaianmu, tapi seberapa mahal kau menjaga apa yang seharusnya tidak dilihat oleh dunia__
__Terkadang Allah mengirimkan seseorang yang keras kepala untuk menguji kesabaran kita, atau mengirimkan seseorang yang lembut untuk melunakkan kerasnya hati kita__
Bersambung....