Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning kiss
Adipati menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala ke sandaran. Rumah itu masih sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka chat Selina. Jarinya sempat ragu, lalu mengetik.
Adipati:
Udah istirahat?
Tak sampai semenit, balasan masuk.
Selina:
Udah, Mas. Baru minum air hangat. Perutnya mendingan dikit.
Adipati tersenyum kecil.
Adipati:
Syukur. Jangan banyak gerak dulu. Kalau perlu apa-apa, bilang.
Selina:
Iya, Mas. Makasih ya… beneran.
Adipati memejamkan mata sesaat, lalu mengetik lagi.
Adipati:
Mas senang kamu di rumah Bapak dulu. Mas jadi tenang.
Beberapa detik kemudian, Selina membalas.
Selina:
Mas juga jangan kecapekan. Rumahnya udah beres?
Adipati menoleh ke arah ruang makan, ke sofa, ke lorong kamar.
Adipati:
Udah. Sekarang nggak kosong lagi.
Selina:
Hehe… nanti aku pengin lihat.
Adipati tersenyum lebih lebar.
Adipati:
Nanti. Kalau kamu udah enakan.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu berdiri.
Langkahnya menuju kamar utama. Ia membuka pintu, melihat tempat tidur baru yang masih rapi, sprei belum terlipat sempurna.
Adipati menghela napas.
“Pelan-pelan,” gumamnya pada diri sendiri. “Nggak usah buru-buru.”
Ia keluar kamar, menuju dapur. Membuka kulkas—masih kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral.
“Besok harus belanja,” katanya lirih.
Ia kembali ke ruang tamu, duduk lagi. Pikirannya melayang ke Selina, ke caranya menunduk malu, ke caranya bicara pelan tapi jujur.
Tak lama, ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan masuk dari Pak Bejo.
Adipati langsung mengangkat.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikumsalam,” suara Pak Bejo terdengar hangat. “Adipati,Selina biar nginep disini aja udah malam.Kayaknya capekan, sekarang udah tidur.”
“Alhamdulillah,” jawab Adipati lega. “Terima kasih sudah jaga Selina, Pak.”
“Namanya juga anak sendiri,” kata Pak Bejo. “Kamu tenang aja. Selina aman di sini.”
“Iya, Pak. Saya titip Selina.”
Pak Bejo terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Adipati… terima kasih sudah sabar sama Selina.”
Adipati tersenyum, meski tak terlihat.
“Selina istri saya, Pak. Sudah kewajiban saya.”
Pak Bejo menghela napas lega.
“Kalau begitu, saya nggak khawatir lagi.”
“InsyaAllah, Pak,” jawab Adipati mantap.
Setelah panggilan berakhir, Adipati menatap layar ponsel yang gelap. Ada rasa hangat di dadanya—tenang, tapi juga penuh tanggung jawab.
Ia bangkit, mematikan lampu ruang tamu, lalu masuk kamar. Berbaring di sisi ranjang yang kosong.
“Sebentar lagi,” gumamnya pelan. “Kamu bakal di sini.”
Lampu kamar dimatikan. Malam menyelimuti rumah baru itu—sunyi, tapi tak lagi terasa hampa.
Pagi hari, Adipati terbangun lebih awal. Ia langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri, lalu berdandan rapi.
Kemeja disetrika pas di badan, jam tangan terpasang, dan sedikit parfum disemprotkan di leher.
Ia meraih kunci motor antik kesayangannya, lalu melangkah keluar rumah.
Mesin motor menyala halus. Adipati melaju menuju rumah Pak Bejo. Di tengah jalan, ia berhenti di tukang sayur langganan. Matanya langsung tertuju pada gerobak bubur.
“Mas, buburnya satu ya,” kata Adipati sambil turun dari motor.
“Pakai ayam, jangan pedas.”
Penjual bubur tersenyum lebar sambil melirik penampilan Adipati.
“Wah, Mas Adipati gagah banget pagi-pagi begini,” godanya.
“Kayak aktor Korea.”
Adipati tersenyum tipis.
“Ah, biasa aja, Bu.”
Ibu penjual menyiapkan bubur sambil terus mengamati.
“Andai dulu Mas ngaku punya banyak uang,” katanya setengah bercanda, “pasti saya bolehin sama anak saya.”
Adipati tertawa kecil, sopan.
“Rezeki orang beda-beda, Bu.”
Bubur diserahkan dalam kantong plastik.
“Nih, Mas. Buat siapa?”
“Buat istri saya,” jawab Adipati singkat.
“Oh… pantesan,” ibu itu mengangguk-angguk. “Istrinya males sih,orang kota emang gitu.”
“Istri saya lagi sakit Bu, kalau gitu saya permisi.” kata Adipati sambil menerima bubur.
Ia kembali menaiki motor.
Motor melaju pelan hingga berhenti di depan rumah Pak Bejo. Adipati mematikan mesin, turun, lalu mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya sopan.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Pak Bejo dari dalam.
Pintu dibuka. “Masuk, Adipati.”
Adipati melangkah masuk.
“Pagi, Pak.”
“Pagi,” jawab Pak Bejo ramah. “Silakan duduk.”
Adipati menoleh ke arah lorong kamar.
“Selina sudah bangun, Pak?”
Pak Bejo tersenyum kecil sambil menggeleng.
“Belum. Masih tidur. Dari subuh tadi keliatan capek.”
“Biar saya tunggu,” kata Adipati. “Saya bawain bubur buat dia.”
Pak Bejo mengangguk.
“Bagus. Selina memang lagi butuh dijagain.”
Adipati duduk di kursi ruang tamu, meletakkan bubur di meja kecil. Tatapannya lembut, penuh perhatian, menunggu istrinya bangun.
“Kamu, ke atas sana,” kata Pak Bejo sambil menunjuk ke arah kamar. “Bangunin Selina. Nanti keburu kesiangan.”
“Iya, Pak,” jawab Adipati sopan.
Adipati naik ke lantai atas. Ia membuka pintu kamar perlahan, lalu menutupnya kembali tanpa suara. Selina masih terlelap di ranjang, selimut menutupi setengah tubuhnya.
Adipati duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya dengan senyum tipis.
“Sayang,” ucapnya lembut. “Bangun.”
Selina menggeliat kecil, lalu membuka mata setengah. Begitu melihat Adipati, wajahnya langsung berbinar.
“Morning, Mas,” gumamnya sambil meraih pinggang Adipati dan memeluknya manja.
Adipati tertawa pelan, lalu mengecup bibir Selina singkat.
“Morning kiss,” katanya ringan.
Selina langsung mendorong bahunya pelan, cemberut malu.
“Ih, Mas… aku belum sikat gigi, tau.”
Adipati tersenyum jahil.
“Mas nggak masalah.”
Selina menggeleng cepat sambil tersenyum.
“Kamu aja yang nggak normal.”
“Bangun dulu,” kata Adipati sambil mengusap rambut Selina. “Mas beliin bubur. Masih hangat.”
Selina langsung duduk, matanya berbinar.
“Serius? Kamu ke sini pagi-pagi cuma buat aku?”
Adipati mengangguk.
“Iya. Sekarang mandi dulu, nanti buburnya keburu dingin.”
Selina tersenyum lebar.
“Iya, Mas.”