Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: GEMA KEKACAUAN (2)
Di ibukota Kultus Iblis Surgawi, di markas pusat Tao Langit Hitam, di koridor gelap bangunan tua markas itu.
Seorang pria berjubah putih berlutut di depan pintu geser kayu besar yang diukir dengan simbol Tao—yin dan yang berpilin membentuk lingkaran sempurna.
Di lehernya tergantung kalung tasbih giok hijau berukuran besar—setiap manik-maniknya seukuran ibu jari, bercahaya redup di kegelapan. Topi Tao putih menutupi sebagian wajahnya, hanya dagu dan bibir yang terlihat.
"Tuanku," lapornya dengan suara formal yang bergema di koridor sunyi, "telah terjadi insiden di Kota Long Ya. Haikun... terbunuh oleh seorang bocah dari Klan Naga Bayangan."
Dari balik pintu, suara pria menjawab—tenang, tanpa emosi, seperti air yang mengalir.
"Bukankah kita telah mengumumkan Haikun keluar dari Tao Langit Hitam lima tahun lalu?"
"Memang benar, Tuanku." Pria berjubah putih mengangguk. "Secara resmi, Haikun bukan lagi anggota kita. Tapi..."
Dia ragu sejenak.
"Lord Kultus Iblis tetap curiga. Beliau... menyuruh Tuan untuk segera menghadap."
Keheningan panjang.
Lalu terdengar helaan napas—panjang, seperti lelah menghadapi masalah yang sama berulang kali.
"Iblis palsu itu..." Suara dari balik pintu berubah sedikit—ada nada jengkel. "Benar-benar merepotkan."
Pintu geser terbuka—perlahan, tanpa suara.
Muncul pria tinggi dengan topeng putih berbentuk wajah iblis bertanduk—mata topeng itu kosong, tapi entah kenapa terasa hidup, menatap. Rambut putih panjangnya dikepang rapi hingga ke pinggang. Jubah hitam dengan bordiran rumit simbol Tao—yin yang melilit, yang yang mengalir—menutupi tubuhnya.
Shin Mao—Ketua Tao Langit Hitam sekaligus Tetua ke-sembilan Kultus Iblis Surgawi.
Dia menyibak rambut putihnya ke belakang dengan gerakan lambat, lalu menutup tudung jubahnya—menutupi kepala hingga hanya topeng yang terlihat.
"Ayo," katanya datar. "Jangan buat Gui Yong menunggu terlalu lama. Pria itu... tidak suka menunggu."
Pria berjubah putih berdiri—lalu berjalan di belakang Shin Mao dengan jarak yang sopan.
Di pusat Kultus Iblis Surgawi, di kawasan kediaman Lord Kultus Iblis—Paviliun paling mewah di ibukota Kultus Iblis, Paviliun Lord Kultus Iblis,
Atapnya berlapis emas yang menyilaukan mata, pilar-pilar besar berukir naga melilit naik ke langit, ukiran phoenix di setiap sudut yang seolah akan terbang.
Dua patung iblis raksasa berdiri di kanan dan kiri pintu masuk—mata mereka berupa batu merah yang bercahaya seperti darah.
Pria berkalung tasbih menunggu di luar—tidak masuk, tidak berani.
Shin Mao melangkah masuk sendirian.
Di dalam ruangan pribadi yang luas—
Gui Yong duduk di atas singgasana kayu hitam berukir naga dan phoenix emas yang saling melilit. Di belakangnya, layar sutra hitam berlukis iblis surgawi dengan sayap yang membentang.
Pria berjanggot hitam sedada—rapi, terawat, setiap helai tertata sempurna. Rambut panjangnya disanggul tinggi. Jubah hitam bermotif naga dan phoenix emas melilit tubuhnya.
Matanya tajam—menatap tanpa berkedip.
Auranya... begitu menekan. Seperti gunung menindih. Seperti langit runtuh.
Shin Mao berlutut—formal, hormat, tidak terlalu rendah tapi tidak terlalu tinggi.
"Hamba Shin Mao... menghadap Lord Kultus Iblis."
Gui Yong tidak langsung menjawab.
Dia mengangkat cangkir tehnya—porselen putih berukir naga—lalu menyeruput.
Lambat. Santai. Seperti punya segenap waktu di dunia.
"Angkat kepalamu."
Shin Mao mengangkat kepala—tapi tetap berlutut. Topeng iblisnya menatap Gui Yong tanpa ekspresi.
"Haikun." Suaranya tenang—terlalu tenang. "Anggotamu yang... keluar lima tahun lalu. Melakukan ritual terlarang di Gunung Mayat."
"Hamba telah mendengar kabar itu, Yang Mulia." Shin Mao menjawab dengan nada yang sama tenangnya—seperti dua pedang yang saling beradu dalam diam. "Tapi seperti yang Yang Mulia katakan—dia telah keluar dari Tao Langit Hitam. Tindakannya... bukan tanggung jawab kami."
"Benarkah?"
Gui Yong bersandar di singgasananya—jari mengetuk-ngetuk sandaran tangan.
Tok. Tok. Tok.
"Menggunakan racun untuk mengendalikan pikiran pendekar-pendekar." Setiap kata diucapkan pelan—tapi menusuk seperti pisau. "Bahkan Teknik Mata Kutukan Indra, mengorbankan ratusan anak kecil."
Dia menoleh—menatap Shin Mao dengan mata yang tajam seperti pedang.
"Semuanya adalah ajaran rahasia Tao Langit Hitam. Teknik yang hanya diajarkan pada anggota inti. Dan kau bilang..." Senyum tipis—dingin—terukir di wajahnya. "Bukan tanggung jawabmu?"
Shin Mao tidak bergeming.
Di balik topeng, matanya tetap tenang.
"Haikun mencurinya sebelum keluar," jawabnya datar—tanpa terburu, tanpa ragu. "Kami tidak pernah mengizinkannya mempelajari teknik-teknik itu. Dia... melanggar sumpah dan mencuri kitab rahasia."
"Mencuri?" Gui Yong tertawa—tawa pendek yang dingin, seperti es bergesekan. "Dari markas Tao Langit Hitam yang dijaga oleh formasi tingkat tinggi? Yang dijaga puluhan Tao level menengah?"
Dia mengangkat alis.
"Atau... ada yang membiarkannya mencuri?"
Tekanan spiritual meningkat—udara menjadi berat, seperti dibenamkan ke dasar laut.
Shin Mao merasakan tekanan itu—tapi dia tidak bergerak. Tidak gemetar.
"Yang Mulia," katanya pelan—suara tetap tenang. "Tao Langit Hitam telah mengabdi pada Kultus Iblis selama berabad-abad. Selama tiga generasi Lord Kultus Iblis, kami tidak pernah mengkhianati kepercayaan."
Dia mengangkat kepala sedikit—menatap Gui Yong langsung.
"Kejadian seperti ini... hanya kesalahan dari satu individu yang serakah. Satu pengkhianat yang mencoreng nama kami."
Keheningan.
Dua aura bertemu di tengah ruangan—bertabrakan tanpa suara, seperti dua pedang yang saling menahan.
Gui Yong menatap Shin Mao lama—mencari retakan, mencari kebohongan.
Tapi Shin Mao duduk tegak—tidak bergerak, tidak goyah.
"Tao Langit Hitam, aku tahu kelicikanmu, jika kejadian ini tak terungkap, jika bocah itu tak mengalahkan Haikun. Dia akan kembali menjadi anggota Tao Langit Hitam seperti tak terjadi apa-apa," ujar Lord Kultus Iblis, aura Qi-nya semakin menekan.
"Itu tidak benar, tuan. Kami dengan senang hati membawa semua anggota kami yang merugikan Kultus Iblis ke Balai Hukum."
Akhirnya, Gui Yong menghela napas—panjang.
"Pergilah."
Sementara itu di koridor luar paviliun Lord Kultus Iblis Surgawi.
Pria berkalung tasbih berdiri memandangi kolam depan pavilun, berusaha menebak apa isi pembicaraan Lord dan salah satu tetua Kultus Iblis.
"Jika Lord hanya memerintahkan pertempuan empat mata tanpa tetua-tetua yang lain, maka Lord pasti tidak ingin masalah ini membesar," gumamnya lirih.
Pria itu langsung mendekat begitu melihat Shin Mao keluar—wajah cemas, mata khawatir.
"Bagaimana, Tuanku?" tanyanya setengah berbisik. "Apakah Lord Kultus Iblis—"
"Semua baik-baik saja."
Shin Mao melambaikan tangan—santai, seolah baru saja berjalan-jalan.
Dia melangkah turun tangga—jubah hitamnya berkibar, topeng iblis berkilau di bawah cahaya senja.
"Kelompok kita memiliki kedudukan kuat di Kultus Iblis," katanya sambil berjalan. "Masalah receh seperti ini tidak berarti apa-apa. Apalagi..."
Dia berhenti sejenak—menoleh pada pria berkalung tasbih.
"Kultus Iblis sedang dalam ketegangan dengan Fraksi Ortodoks. Gui Yong tidak punya waktu untuk mengurusi masalah ini, sedikit salah langkah Kultus Iblis akan kehilangan banyak kekuatan."
Pria berkalung tasbih menghela napas lega—bahu yang tegang melemas.
"Syukurlah, Tuanku. Hamba pikir—"
"Tapi itu bukan berarti kita aman."
Shin Mao melangkah lagi—lebih cepat kali ini.
"Gui Yong bukan orang bodoh. Dia curiga. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres." Suaranya berubah serius. "Kita harus lebih berhati-hati ke depannya."
Mereka berjalan dalam diam—melewati koridor panjang, melewati taman dengan kolam teratai.
Lalu Shin Mao berbicara lagi—kali ini dengan nada yang lebih rendah, lebih berbahaya.
"Yang terpenting..." Dia berhenti melangkah—berdiri di bawah pohon sakura yang kelopaknya mulai berguguran. "Sang Iblis Surgawi yang baru terlahir... baik-baik saja, jangan sampai rencana kita diketahui, jangan sampai dia menjadi target kultus."
Pria berkalung tasbih mengangguk cepat.
"Ya, Tuanku. Sesuai laporan terbaru... dia tidak hanya mengalahkan Haikun. Dia juga mendapatkan mata kelima Haikun dan parasit Induk."
Shin Mao terdiam.
Lalu dia tertawa—pelan, tapi ada sesuatu yang mengerikan di tawa itu.
"Bagus. Sangat bagus." Dia menoleh—menatap langit yang mulai gelap. "Sebentar lagi... iblis itu akan menuju ibu kota. Memasuki Akademi Kultus Iblis."
Kelopak sakura jatuh—berguguran seperti salju merah muda.
"Saat itu tiba..." Shin Mao mengangkat tangan—menangkap satu kelopak. Lalu meremasnya—hancur menjadi serpihan. "Mari kita uji... seberapa layak iblis muda itu."
Pria berkalung tasbih mengangguk—wajah serius.
"Hamba akan mempersiapkan semuanya, Tuanku."
Keduanya menghilang dalam bayangan—meninggalkan kelopak sakura yang berguguran dalam angin.
Angin berhembus, hingga daun-daun pepohonan di hutan perbatasan Longya jatuh berguguran.
Api unggun menyala di tengah kegelapan hutan—percikan api terbang ke udara, lalu padam seperti bintang jatuh.
Mo Long duduk menghadap api—wajah tanpa ekspresi, mata menatap nyala api yang bergoyang-goyang. Cahaya api memantul di wajahnya—membuat bayangan menari di pipinya.
Di sampingnya, Hu Wei duduk dengan waspada—mata mengawasi sekeliling hutan yang gelap. Satu tangan bertumpu di pedang yang tergeletak di samping, siap dihunus kapan saja.
Di belakang, Yuto bermeditasi—kaki bersilang, tangan membentuk mudra. Napasnya teratur—perlahan memulihkan luka dalam yang belum sepenuhnya sembuh. Urat-urat hitam masih terlihat di leher—sisa dari kontrol parasit budak.
Dan melayang malas di udara sekitar Mo Long—Roh Yaohua. Rambut putih peraknya berkibar tanpa angin, hanfu putih kusam mengalir seperti kabut. Pupil merah menyala redup—menatap langit dengan ekspresi bosan. Kuku merah panjangnya berkilau seperti darah kering.
"Menggelikan..." kata Yaohua tiba-tiba—suara eteral, seperti bergema dari jauh. "Orang-orang di Kota Long Ya menjulukimu sebagai pahlawan."
Mo Long tidak menjawab, hanya melirik Yaohua sekilas.
Yaohua mendecak. "Padahal kau itu monster... iblis, iblis yang sangat mengerikan."
Dia kembali melayang—berputar-putar di udara seperti anak kecil yang bosan.
Mo Long tidak peduli.
Dalam benaknya, dia sedang memikirkan langkah selanjutnya—menyusun rencana seperti papan catur.
'Sebulan lagi,' pikirnya sambil menatap api, 'aku harus memasuki Akademi Kultus Iblis. Tapi sebelum itu...'
Wajah-wajah muncul di pikirannya—seperti kartu yang disusun.
Mo Feng—kakak tiri yang menjadi ancaman. Pewaris yang ditunjuk Ayah. Dia harus disingkirkan.
Mo Zhi—Ketua Balai Leluhur. Orang tua yang berpengaruh. Dia harus dinetralkan atau... dijinakkan.
Mei Du—ibu tiri yang licik. Dari keluarga kaya dan paling berpengaruh setelah Klan Mo. Dia harus diwaspadai.
Dan... Mo Hua.
Wajah ibu Mo Feng yang dingin muncul jelas di ingatan—mata yang menatapnya seperti sampah, suara yang mengusirnya dari aula utama, tangan yang menamparnya saat masih kecil.
Amarah tertahan menyala di dada Mo Long.
'Dantian Mo Long dirusak oleh orang itu', pikir Mo Long—tangan terkepal di atas lutut. 'Melalui Min Mao. Racun yang merusak meridian. Membuat tubuh ini menjadi sampah selama bertahun-tahun.'
'Aku harus membalaskan dendam tubuh ini. Aku harus...'
Lalu tiba-tiba—
Sebuah puzzle yang hilang muncul di benaknya.
Ibu Mo Long.
Mo Long mencoba mengingat—menggali ingatan tubuh ini yang seharusnya sudah menyatu sempurna dengan jiwanya.
Tapi... wajah wanita itu begitu samar.
Seperti tertutup kabut tebal. Seperti lukisan yang sebagian dihapus. Seperti... tidak ingin diingat.
'Aneh.'
Mo Long mengerutkan kening.
'Aku telah memperoleh seluruh ingatan Mo Long sejak hari pertama menghuni tubuh ini. Setiap detail. Setiap momen. Bahkan momen-momen memalukan saat di-bully oleh saudara tiri.'
'Tapi kenapa... bagian tentang ibunya seolah hilang?'
Bahkan ingatan tentang dantiannya yang dirusak juga kabur—hanya samar-samar, tidak jelas. Seperti ada yang sengaja menghapusnya.
'Atau... ada yang tidak ingin aku ingat?'
Seketika Mo Long terpikirkan satu orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Ia menoleh pada Hu Wei
"Hu Wei."
Hu Wei tersentak—tanpa sadar hendak menghunus pedang.
"Ya, Tuan Muda?"
"Ceritakan padaku..." Suaranya pelan—tapi ada sesuatu di nada itu yang membuat udara terasa berat. "Tentang ibuku."
Hu Wei membeku—mata tua itu melebar, terkejut.
"I-Ibu Anda?" Dia ragu—suara bergetar sedikit. "Kenapa tiba-tiba—"
"Aku tidak bisa mengingat wajahnya."
Kata-kata Mo Long membuat Hu Wei terdiam total.
Api unggun berderak—kayu yang terbakar retak, mengeluarkan percikan.
Yaohua yang tadinya melayang bosan mulai menoleh—tertarik pada percakapan ini. Dia melayang lebih dekat, mendengarkan.
Yuto yang bermeditasi membuka sedikit mata—ikut mendengarkan tanpa bergerak.
Mo Long menatap Hu Wei—mata tidak berkedip.
"Bangkitnya dantianku..." Dia berbohong—tapi sangat meyakinkan. "Menyebabkan aku kehilangan sebagian ingatan. Aku tidak bisa mengingat... wajah ibuku dengan jelas."
Hu Wei terdiam lama—sangat lama.
Wajah tuanya berubah—seperti sedang mengingat sesuatu yang menyakitkan. Sesuatu yang lama terkubur.
Tangannya gemetar sedikit—lalu dia mengepalkannya.
"Ibu Anda..." Suaranya pelan—hampir berbisik, penuh kenangan yang berat. "Adalah wanita yang sangat cantik... namun misterius."
Mo Long tidak bergerak—tapi matanya menyipit sedikit. Mendengarkan.
Hu Wei menatap api unggun—mata tuanya meredup, seolah sedang menatap masa lalu yang jauh.
"Dia bukan berasal dari klan ini." Setiap kata diucapkan perlahan—hati-hati. "Bahkan bukan dari Kota Kageyu."
Api unggun berderak lebih keras.
Angin bertiup—membawa aroma hutan yang lembap.
Yaohua melayang lebih dekat—mata merah menyala dengan ketertarikan.
Mo Long menatap Hu Wei—menunggu.
Dan Hu Wei menghela napas—panjang, seperti membuka luka lama yang tidak pernah sembuh.
"Semua ini berawal..." Suaranya hampir tidak terdengar—tersapu angin. "Dari wanita misterius yang datang ke Kota Kageyu... dua puluh lima tahun yang lalu..."