Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Riak di Antara Dua Kepercayaan
Raina mengetuk pintu kamar kos baru yang kini ditempati Julian. Kamar itu masih sederhana dan kosong, hanya kasur tipis, rak kecil, dan aroma samar parfum penghuni sebelumnya yang belum hilang sepenuhnya. Raina membawa tas plastik berisi perlengkapan dasar—sabun, handuk, dan beberapa hal lain yang menurutnya penting untuk seseorang yang baru pindah.
Di ujung koridor, Dania—tetangga kos yang terkenal paling ribut, paling cepat jatuh cinta, dan paling ahli membaca gosip hanya dari suara sandal jepit—sudah memperhatikan sejak tadi. Ia tahu kamar itu sebelumnya kosong, dan rasa penasarannya meledak ketika melihat Raina mengetuk pintu dengan wajah penuh perhatian.
“Aduh… siapa yang masuk ya?” gumam Dania sambil mendekat.
Saat pintu sedikit terbuka, Dania otomatis langsung mendekat, dan yang terlihat membuat matanya membelalak.
Ada seorang bule tampan di dalam. Tinggi, rahang tegas, dan karisma dingin yang membuat Dania refleks merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi.
“Oh my God…” desisnya.
Semua insting jandanya langsung hidup.
"Raina" Panggil Dania sambil buru buru menghampiri
"Iya mbak?"
Senyum Dania penuh antusias
"bukannya kamar ini kosong ya?kok udah ada yang tempati aja sih?teman atau pcar kamu nih?"Tanya sok akrab.
"Ah ini temanku mbak, kebetulan baru tadi siang datang"
"O... Namanya siapa mas??saya Dania" Ucap Dania terlihat centil
Sedangkan Julian hanya mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Raina.
"Dia nggak bisa bahasa Indonesia ya Rai" Tanya Dania canggung
"It... itu" Raina bingung harus jawab apa
"Raina kepalaku pusing" Tiba tiba Julian berucap dengan menggunakan bahasa inggris.
"oh...em.. kamu istirahat saja" jawab Raina dengan bahasa inggris juga.Julian langsung kembali masuk tanpa menutup pintu.
" Loh nggak bisa bahasa Indonesia ya?!eh tapi kok wajahnya pucat gitu sih Rai?" Tanya Dania kepo.
" dia lagi sakit mbak,dan sedang dalam masa penyembuhan,mbak Dania apa perlu apa?"
"Eh...hehehe aku cuma pengen lihat penghuni kost baru yang ternyata bule, sayang aku nggak bisa bahasa inggris,jadi nggak bisa deketin deh"Jelas Dania kecewa lalu pergi kembali ke kamarnya sendiri.
Raina tak menjawab apa pun,dia dia seribu bahasa.
Raina berbalik ke dalam dan menatap Julian dengan senyum canggung. “Maaf ya… itu tadi Mbak Dania. Orangnya memang… suka heboh.”
Julian hanya memerhatikan tanpa komentar, tatapannya dingin tapi tidak menusuk. Raina lalu meletakkan secangkir teh dan beberapa roti di dekat kasur Julian duduk sekarang.
" Aku bawain teh hangat,"
Beberapa menit berlalu sebelum Raina akhirnya berkata, “Aku balik ke kamarku ya. Kamu istirahat.”
Julian tidak menjawab, hanya memberi anggukan kecil. Namun sebelum Raina pergi, ia bertanya, “Tadi… ada apa?”
“Hmm? Maksudmu?”
“Kau menatapku seperti ada yang ingin kau tanyakan.”
Baru Raina ingat. “Oh! Iya.” Ia cepat-cepat berbalik. “Kamu kan kalau sama aku ngomong bahasa Indonesia lancar banget. Tapi pas Mbak Dania tadi ngomong… kamu kayak nggak ngerti.”
Julian hanya memandangnya sebentar. Wajahnya tetap datar, nadanya rendah dan dingin ketika menjawab,
“Logatnya berat. Aku butuh waktu untuk mengerti.”
Padat, jelas, tanpa penjelasan tambahan.
Raina mengangguk walau agak bingung. “Oh… ya sudah. Istirahat ya.”
Ia akhirnya keluar, melewati Dania yang masih berdiri di depan kamarnya sendiri sambil pura-pura menyapu lantai yang sudah bersih sejak pagi. Raina hanya bisa tersenyum kaku dan buru-buru menghilang ke kamarnya.
Begitu suasana benar-benar sepi, Julian perlahan duduk di tepi kasur. Ia meraih ponsel kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal—ponsel yang Raina tidak tahu ia punya.
Ia menekan satu nama. “Daniel.”
Sambungan langsung terangkat. Suara Daniel terdengar tegas, dingin, dan sedikit terengah seolah ia baru saja berjalan cepat.
“Saya sudah di Singapura. Vivienne sadar penuh. Kondisinya stabil.”
Julian menegakkan punggungnya sedikit. “Bagaimana dia?”
“Tenang,” jawab Daniel.
Jeda.
“Tidak wajar tenang. Untuk seseorang yang ditemukan dengan pakaian robek di pinggir hutan… reaksinya terlalu terkendali.”
Julian terdiam beberapa detik. Ia sangat mengenal Vivienne. Tenang bukan hal baru baginya. Namun cara Daniel mengatakan “terlalu tenang” menimbulkan garis tipis di dahinya.
“Aku tidak melihat ada hal yang aneh dari Vivienne,” ucap Julian, suaranya datar dan yakin. “Dia bukan seseorang yang akan menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Saya tahu kamu percaya padanya.”
Nada Daniel menurun, lebih hati-hati.
“Tapi insting saya… tidak enak. Ada sesuatu yang tidak pas. Cara dia bicara… cara dia menatap… seperti dia mempelajari saya, bukan sekadar menjawab pertanyaan.”
Julian mengatur napas.
Vivienne adalah orang yang ia percayai bertahun-tahun.
Vivienne tidak mungkin mencurigakan.
Vivienne selalu jujur.
Namun Daniel bukan orang yang bicara tanpa dasar.
“Jangan berasumsi terlalu cepat,” ucap Julian akhirnya. “Pantau dia. Itu saja.”
“Saya sudah,” jawab Daniel. “Dan Julian… dia bertanya tentangmu. Tapi bukan seperti orang yang khawatir. Lebih seperti orang yang ingin memastikan sesuatu.”
Julian menegang samar. “Maksudmu?”
“Saya juga belum mengerti. Itu yang membuat saya tidak tenang.”
Panggilan berakhir.
Kamar kos itu kembali sunyi.
Julian memandang dinding kosong, rahangnya mengeras perlahan.
Kepercayaan lamanya pada Vivienne—dan firasat tajam Daniel yang tak pernah ia abaikan—bertabrakan seperti dua arus berbeda. Ia tidak menunjukkan apa-apa di wajahnya, tetapi ada sesuatu yang berat mengendap di dadanya.
Dan untuk pertama kalinya, Julian tidak yakin:
Apakah ia harus mempercayai apa yang ia tahu…
atau apa yang Daniel rasakan?