DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)
Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tercapai
****
Sayang ... aku pulang ...."
Ardi melangkah memasuki rumah dengan perlahan. Ia mencoba mengendurkan ikatan dasi di lehernya serta meletakkan tas kerja di atas sofa.
"Tumben sepi ... ke mana dia?" gumam Ardi seraya menengok kanan kiri dalam rumahnya.
"Sayang ... kamu di mana!" serunya lagi.
Ardi mencari keberadaan sang istri ke dalam kamar namun tetap saja tak menemukannya. Ia masih celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang sudah seharian tidak ia temui.
"Ada apa Mas?" tanya Rianti yang datang dari arah belakang.
Ardi berbalik menghadap arah suara.
"Kamu kemana aja sayang? Mas cemas mencarimu?" Ardi menghembuskan napas lirih.
"Aku baru habis mandi Mas. Maaf tidak menyambut."
Rianti menatap suaminya yang terlihat leleh. Ia pun melepaskan ikatan dasi yang setengah terlepas dari leher Ardi. Ardi menatap istri kecilnya yang masih menggunakan bathrobes dan memeluknya erat kedalam pelukan. Rianti hanya terdiam mendapat pelukan hangat dari Ardi, awal-awal menikah ia sempat merasa risih, tapi lama-lama ia terbiasa juga.
"Kamu wangi sayang?" Ardi mencium rambut Rianti yang masih basah.
"Iya, Mas, aku baru habis keramas," jawab Rianti setelah melepaskan dasi yang melingkar di leher Ardi. Ia tatap lekat wajah lelah suaminya.
"Sayang berat sama tinggi kamu berapa?" tanyanya penasaran tanpa melepaskan pelukan.
"145 senti kalo berat 45 kilo Mas. Kenapa?" Rianti bertanya balik.
Terlihat senyuman genit di bibir Ardi sembari melirik ke arah dua gundukan yang tertutup bathrobs.
"Gak kenapa-napa. Cuma sepertinya Mas harus bekerja lebih keras mulai sekarang agar ukurannya lebih besar," ucapnya yang terdengar gantung di telinga Rianti.
Rianti mengernyitkan dahi tidak paham maksud omongan Ardi.
"Ngomong yang jelas dong Mas. Mentang-mentang sekolah tinggi jugak. Mau main tebak-tebakan sama aku ya gak bakal nyambung. Otak aku ini pas-pasan jadi gak jalan kalo disuruh nebak-nebak begitu," sungut Rianti dan mencoba melepaskan pelukan Ardi.
"Jangan marah-marah gitu. Kamu pasang wajah cemberut malah terlihat manis di mata Mas. Kan Mas jadi kepingin," ucap Ardi yang lagi-lagi tak jelas maksud dan tujuannya.
Rianti yang merasa dibodohi pun menghembuskan napasnya dengan kasar. Kesal dengan teka-teki yang Ardi lontarkan kepadanya.
"Mas mandi dulu gih ... aku mau ke kamar, mau ganti baju," sungut Rianti dengan wajah tak sukanya.
Rianti pun melonggarkan pelukan Ardi dan berniat pergi. Namun baru beberapa langkah, Rianti tertegun karena tanpa diduga, Ardi malah memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di leher Rianti serta meniupnya. Sontak saja Rianti kaget karena geli. Ia pun menggeliat dan terkekeh di dalam pelukan Ardi.
"Maaaas ... Geli ...."
"Jangan marah gitu. Mas kan cuma bercanda," ucapnya sambil mengusap pelan pucuk kepala Rianti.
Ardi membalikkan tubuh Rianti hingga menghadap kepadanya dan menggendong tubuh kecil itu duduk di atas maja.
Rianti yang sudah semingguan ini mendapatkan sentuhan fisik seperti itu hanya pasrah, dan kadang menggeliat kalau Ardi menyentuh leher, titik geli Rianti. Ia maklum saja, malah merasa kasihan karena belum bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk suaminya rasakan.
Ardi memandang Rianti.
"Kamu udah selesai?"
Rianti yang tau arah tujuan pertanyaan itu hanya tersenyum malu dan mengangguk pelan.
Ardi tersenyum senang dan menjawel hidung Rianti.
"Tunggu Mas ya ... Mas gak akan lama."
Ia mengambil handuk yang ada di kamar dan langsung bergegas ke arah kamar mandi.
Rianti melangkahkan kaki menuju kamar dengan menahan degup jantung yang terasa akan keluar, dan pipi mulai menjadi merah merona. Tak di pungkiri, setelah mendapat sentuhan Ardi tempo hari, sebenarnya ia juga ingin menikmatinya lagi. Ia duduk di depan cermin untuk mempersiapkan segalanya. Dari mulai make up hingga wewangian. Rianti ingin menebus kegagalan yang terjadi seminggu yang lalu.
Ardi yang sudah selesai mandi, menghampiri sang istri yang sedang duduk di depan meja rias. Dan Rianti yang melihat kedatangan Ardi sontak berdiri. Ia melihat suaminya hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang dan rambut yang masih basah.
Kamu sangat seksi ... Mas. Perempuan mana yang tidak akan tergoda olehmu. Aku yang baru saja mengenalmu sudah tak berdaya akan pesonamu. Sekarang aku rela, aku rela Mas. Aku siap malam ini, aku ikhlaskan jiwa dan raga ini hanya untukmu sorang.
Rianti menggigit pelan bibir bawahnya.
Ardi menghampiri Rianti dan lagi-lagi mengangkat tubuh Rianti hingga duduk di meja rias.
"Kamu sangat cantik sayang," bisik Ardi.
Mendapat bisikan ajaib itu wajah Rianti kembali merona. Dan Ardi semakin gemas melihatnya.
Stella ... kamu makin cantik.
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..