Richard Alexander, anak pertama pasangan Rayyan Alexander dan Nabila Ihnaz.
Dengan segala kerumitan kisah cintanya.
Tidak seperti apa yang dulu pernah dilakukan oleh Rayyan. Meski profesi mereka berdua sama, ialah seorang photographer. Tapi sifat dan perilaku mereka berdua jauh berbeda.
Jika dulu Rayyan dikenal sebagai mantan playboy, tapi tidak dengan Rich. Lelaki itu justru terkesan dingin dan anti perempuan.
Akan tetapi, disaat Rich merasakan jatuh cinta, tidak pada perempuan yang tepat. Karena perempuan yang Rich sukai sudah memiliki calon suami.
Demi kebaikan bersama, terpaksa Nabila memaksa putranya agar mau dia jodohkan dengan putri salah satu sahabatnya.
Bagaimana perjalanan selanjutnya kisah percintaan seorang Richard Alexander , juga kisah asmara kedua adiknya yang tak lain adalah Zayn dan Zoey Alexander ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Rich!"
Suara Nabila yang menggelegar, menyentak kebersamaan Rich bersama Resca.
Pemuda itu menolehkan kepala ke belakang dan terkejut mendapati sang mama sedang bersama papanya. Melihat ekspresi sang mama yang tak bersahabat, Rich gugup dan kikuk. Apakah mamanya marah karena memergoki dia sedang bersama seorang wanita yang tak lain adalah Resca. Namun, bukankah ini yang mamanya mau. Dia punya pasangan lalu menikah. Dan kapan hari ... mamanya juga mengatakan ingin berkenalan dengan Resca. Inilah mungkin saat yang tepat baginya memperkenalkan wanita yang dia suka pada sang mama.
"Mama ... Papa. Kalian berdua dari mana?"
"Makan," jawab Nabila ketus dengan ekor mata melirik pada wanita cantik yang berdiri di samping putranya. Genggaman tangan keduanya telah terlepas. Meski demikian Nabila belum berpuas hati sebelum mengetahui apa sebenarnya motif hubungan keduanya.
"Oh, makan di mana, Ma?"
"Kenapa kamu tanya-tanya? Kamu sendiri ngapain ada di sini?"
Rich jelas gugup jika harus berhadapan dengan mamanya yang bersifat kaku begini. "Eum ... aku sedang mengantar dia mencari tas. Ah, ya, Ma. Pa. Kenalkan, dia Resca."
Resca mengulas senyuman karena merasa diperkenalkan dengan kedua orang tua Rich. Wanita itu mengulurkan tangan. Baik Nabila juga Rayyan masih menerima perkenalan itu sampai tanya yang Nabila lontarkan, membuat Rich kesusahan menjawab.
"Rich, coba katakan pada mama. Resca ini siapamu? Kekasih atau hanya klien?"
Rich membuka mulut ingin menjawab. Tapi dia kesusahan mencari kata yang tepat. Sementara Resca, wanita itu jadi tidak nyaman dengan situasi yang ada. Merasa jika tatapan Nabila yang terarah padanya seolah ingin mengulitinya saja. Dia memang salah karena telah melibatkan Rich dalam hal ini. Dan pertanyaan Nabila, Resca tahu jika itu ditujukan padanya. Apakah mamanya Rich ini tahu jika dia adalah klien dari Rich?
"Dia ...."
Nabila segera memotong perkataan Rich yang tampak ragu ingin menjelaskan sesuatu. "Tak perlu kamu jawab Rich karena mama tahu jika Resca ini klienmu. Mama harap kamu bisa memberi batasan juga jarak ketika berhubungan dengan seseorang terutama lawan jenis. Jangan sampai seorang klien kamu perlakuan layaknya kekasih. Kamu paham maksud mama kan Rich?"
Rich menelan ludah. Rayyan mulai menyadari jika situasi dan kondisi mulai tidak kondusif. Dia menyentuh bahu Nabila. "Sayang, jangan membahas hal ini di sini, please! Malu dilihat orang. Sebaiknya kita pulang. Bicara di rumah. Okay?"
Nabila mendengus. Sungguh emosinya sedang tersulut dan dia mencoba untuk menenangkan diri. Kepala Nabila mengangguk. Dia menurut saja pada Rayyan.
Setelahnya, Rayyan memandang pada putranya seraya berkata, "Rich, papa tunggu di rumah. Cepat pulang."
"Baik, Pa."
Rayyan dan Nabila membalikkan badan meninggalkan sang putra tanpa kata.
Resca yang memang merasa tak enak hati menyentuh lengan Rich. "Maafkan aku, Rich. Ini semua karenaku."
Kepala pemuda itu menggeleng. "Tidak. Tidak ada yang salah di sini. Kamu tenang saja semua pasti akan baik-baik saja."
"Tidak ada yang menjadi baik Rich selama aku belum membatalkan rencana pernikahanku."
"Tapi kamu tidak mungkin melakukannya?"
"Lalu, kita mana bisa akan seperti ini?"
Rich meraih tangan Resca menggenggamnya erat. "Pasti akan ada jalan untuk kita berdua. Maaf karena kita harus pulang sekarang. Papa dan mama menungguku di rumah."
"Tidak apa. Semoga papa dan mamamu tidak marah denganmu."
Rich mengangguk. Membawa Resca keluar dari toko dan meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Sebelum pulang ke rumah, Rich lebih dulu mengantarkan Resca pulang. Namun, sebuah insiden lagi-lagi terjadi. Di depan rumah Resca, ada mobil yang terparkir di sana. Dan itu adalah milik calon suaminya Resca.
"Rich, dia ada di sini."
"Apa aku perlu menemanimu ke dalam?"
Resca menggelengkan kepala. Karena dia tidak ingin terjadi keributan. Dia menikah ini juga karena paksaan orang tua. Perjodohan lebih tepatnya. Resca sendiri sempat menolak tapi tak mampu melakukan apa-apa ketika tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Dan ketika pre wedding itulah, Resca seolah mendapatkan semangat untuk mampu lari dari jeratan pernikahan yang tak diinginkannya ketika berkenalan dengan Rich. Hanya saja Resca tak pernah berpikir jauh jika apa yang akan dilaluinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Resca tahu jika Rich pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi untuk berjuang merebut dirinya dari sang calon suami, tak mampu Rich lakukan. Itu sangat beresiko. Resca sendiri tahu jika calon suaminya juga mendatangi Rich dan meminta pada pria itu untuk menjauhinya. Ah, entahlah. Hubungan yang rumit ketika restu pun tak didapat Resca dari kedua orang tua Rich.
Resca menelan ludah. Calon suaminya telah menggedor pintu mobil Rich. Dia panik juga gugup bagaimana menghadapi keluarganya. Papa dan mamanya berdiri di teras.
"Rich!"
"Tenanglah, Ca. Aku akan menghadapinya. Sekarang kita turun."
"Tapi, Rich!"
"Jangan khawatir."
Resca dan Rich turun dari dalam mobil. Detik itu juga Rich langsung dihadiahi bogem dari lelaki yang merupakan calon suami Resca. "Berapa kali aku katakan padamu untuk tidak mengganggu calon istriku. Apa belum puas juga kamu merusak semua rencana pernikahan yamg sudah di depan mata, hah!" Teriak lelaki itu.
Rich yang memang tidak siap dengan apa gang diberikan oleh lelaki tadi, sedikit pening kepalanya. Ujung bibirnya berdarah dan terasa perih.
Teriakan Resca yang memintanya pergi mengurungkan niat Rich yang ingin berbicara dari hati ke hati. Apalagi pria itu sudah menyeret Resca masuk ke dalam rumah yang disambut oleh kedua orang tua Resca.
"Pergilah, Rich. Maafkan aku karena telah menyulitkan hidupmu."
Tak ingin membuat masalah semakin runyam. Rich mengalah dan kembali masuk ke dalam mobil. Memacu mobil menuju pulang ke rumahnya. Inginnya Rich menenangkan diri tapi mana bisa ketika masuk ke dalam rumah sudah disambut oleh tatapan sengit mamanya. Nabila tidak sendiri tapi didampingi oleh Rayyan.
"Kenapa lama sekali kamu, Rich! Dari mana saja?"
Belum Rich menjawab, ekor mata Nabila sudah tertuju pada wajah putranya yang lebam. Nabila mendekat lalu menyentuh bekas luka yang bahkan masih baru
"Ini kenapa?"
Rich meringis. "Tidak kenapa-kenapa, Ma."
"Bohong! Siapa yang memukulmu? Calon suami wanita itu?"
Kenapa mamanya selalu tahu apa yamg terjadi padanya. Rich tak habis pikir. Meski tebakan mamanya benar, Rich tak mengiyakan atau menyangkal. Pemuda itu hanya diam menunduk menghindari tatapan tajam dari mamanya.
"Apa sih hebatnya merebut calon istri orang?"
"Ma!"
"Jangan membela diri Rich karena apapun yang kamu lakukan tetap salah di mata mama. Dan lihatlah akibat dari kelakuanmu itu. Ini baru permulaan Rich. Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kamu tetap dengan kegilaanmu mempertahankan Resca."
Semua ucapan mamanya membuat Rich tercengang. Dari mana mamanya tahu semua yang dia lakukan bersama Resca. Padahal Rich tak pernah bercerita.
tau g rasanya ??????
yg jomblo minggir dulu
koq gk up.. up..😔