Kehidupan Weni semakin memburuk semenjak dia menikah dengan Aldi Wijaya. Weni mengira dia akan bahagia dengan pernikahan nya dengan Aldi, tetapi semua nya salah.
Hingga Weni memutuskan untuk pergi karena sudah lelah dengan semua nya.
"Maaf aku menyerah, dan aku akan pergi sesuai keinginan kamu"
Weni Widjadja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta
Setelah selesai di Rumah sakit, semua nya berlalu pergi ke Rumah Ayah Cokro.
Keluarga dan kerabat banyak yang datang untuk melayat kesana.
"Paman" panggil Weni pada Herman.
"Kemarilah, Nak" ucap Daddy Paris yang memang sedang membicarakan sesuatu dengan Herman dan Anggara.
Anggara langsung bangkit dan membawa duduk sang Istri di sebelah nya.
"Paman, kenapa mereka tidak di laporkan saja?" tanya Weni
"Tenanglah Nona, semua nya sudah beres dan setelah nanti kalian berangkat dari sini, pihak polisi akan menangkap nya karena Paman sudah berhasil mengumpulkan bukti" jawab Herman lembut.
"Dulu, memang Paman tidak mempunyai Bukti saat Surya melukai kalian sampai membuat Nyonya Qiqi meninggal. Tetapi sekarang Paman punya bukti dan mereka akan mendekam di penjara" ucap nya lagi.
"Meskipun begitu, tetapi kita tetap saja harus waspada akan segala hal. Karena bisa saja dia bebas dengan mudah" timpal Daddy Paris.
"Nanti kita bahas lagi, ayo sekarang kita antarkan Ayah dan Bunda ke tempat terakhir nya" ajak Anggara tersenyum lembut pada Weni.
Weni menghela nafas dan beranjak dari duduk nya.
Dada nya masih terasa sesak akan semua kenyataan ini.
"Ikhlas kan lah, agar mereka bahagia" bisik Anggara dengan lembut.
Weni menatap manik mata Anggara begitu dalam, hingga ia akhir nya memeluk tubuh itu kembali dan menganggukan kepala.
Iring-irangan mobil pun melaju ke pemakaman keluarga Widjadja.
Semua orang , media dan dunia bisnis kaget karena ternyata seorang Cokro Widjadja masih hidup dan sekarang mereka lebih kaget karena mendengar kematian nya.
Segelintir orang merasa sangat kasihan, iba dan kehilangan. Dan banyak juga yang merasa bahagia karena tidak akan ada lagi yang merajai bisnis kecuali Tuan Muda dari keluarga Tamara.
Sesampai nya di pemakaman, sudah banyak orang yang hadir disana.
Weni berpisah dengan keluarga Tamara sejak dari Rumah.
Saat ini, Weni di dampingi Herman dan Hana.
"Mbak, kita akan berjuang untuk mereka, membuat mereka bangga dan juga tersenyum di atas sana" ucap Hana lirih.
"Terimakasih karena sudah selalu ada, Han" lirih Weni.
Hana memeluk Weni dengan erat saat tubuh nya bergetar kembali melihat mak tersebut sudah di isi oleh tanah kembali.
"Ayah, Bunda. Aku akan membalas mereka dengan caraku.
Semoga kalian bahagia di atas sana, dan kalian pasti sudah bertemu dengan Aunty Qiqi" batin Weni dengan sendu.
Setelah selesai semua nya, Keluarga Tamara menunggu di dalam mobil.
Sedangkan Weni, masih berada disana bersama Herman, Hana dan yang lainnya.
"Bunda, Ayah. Aku berjanji akan selalu bahagia dan membuat kalian tersenyum.
Aku akan membalas mereka dengan caraku" ucap Weni dengan lirih.
"Hai keponakan ku" ucap Surya Widjadja yang datang dengan keluarga nya.
Weni mendongkak dan ia merasa sangat terkejut dengan fakta yang ada di hadapan nya.
"Apa kau terkejut melihat kami" kekeh Surya dengan tersenyum miring.
"Dia adalah sumberku yang memberitahu semua nya dan dia adalah kaki tangan ku selama ini" ucap Surya dengan menunjuk Bram, Mia dan Aldi.
"Kau tidak menyangka bukan, jika Ayah dan Bunda yang kau anggap sebagai Orangtua ke dua adalah pengkhianat?" tanya Surya kembali.
Weni hanya menatap tajam, dan wajah yang datar dan dingin.
Sedangkan Hana dan yang lainnya merasa sangat kaget dan tidak percaya dengan semua ini.
"Kalian, ternyata aku salah menilai kamu Ayah. Aku kira kau sama baik nya seperti Ayahku karena kau dan keluarga mu saja selalu bergantung pada keluarga ku" ucap Weni dingin.
"Kalian merasa menang? Bahagia?" tanya Weni penuh dengan aura yang berbeda.
"Ya kami sangat senang apalagi melihat mu terluka dan menangis" jawab Bu Mia dengan lantang.
Ingin rasa nya Anggara mencabik mereka , tetapi ia tidak ingin semua nya terbongkar dulu.
"Maka rasakan lah sekarang, nikmatilah sekarang, sebelum aku merampas semua itu dari kalian" ucap Weni dengan lantang.
"Aku bersumpah di hadapan makam kedua Orangtua ku, aku akan membalas kalian semua dengan lebih keji lagi" ucap Weni dengan sura lantang dan dingin nya.
"Kau hanya wanita bodoh yang tak bisa apa-apa, bahkan perusahaan dan kekayaan mu sudah ada di tangan Ayah ku" ucap Lauren dengan bangga.
"Silahkan nikmati saja, karena aku akan datang dengan yang lebih dari kalian bayangkan" balas Weni dingin.
"Ayo, Paman" ajak Weni pada Herman.
Lalu mereka pergi dari sana, menyisakan keluarga Surya dan Aldi.
Weni dan yang lainnya langsung pergi dari sana, bukan ke Rumah melainkan ke Bandara.
Mereka akan pergi untuk selamanya dari Negara tersebut.
"Ayah, Bunda, aku akan pergi dan suatu saat aku akan kembali dengan membalaskan mereka semua" batin Weni datar.
Sedangkan di pemakaman, segerombolan polisi datang dan akan menangkap Surya, Aldi dan Bram.
"Ada apa ini?" tanya Surya kaget saat tangan nya di borgol oleh Polisi.
"Anda kami tahan atas pembunuhan Tuan Cokro dan Istri nya" jawab seorang Polisi dengan tegas.
"Hei, kami ini keluarga nya bukan yang membunuh nya" bentak Aldi dengan keras.
"Kalian ikut saja ke kantor, nanti kalian jelaskan disana" ucap polisi dengan menyeret Aldi, Bram dan Surya.
"Pak, jangan di bawa suami saya" teriak Lauren dan Bu Mia.
"Ayo kita ikuti mobil Polisi tersebut" ajak Bunda Lauren.
Lalu mereka melajukan mobil nya dengan mengikuti mobil Polisi.
Sedangkan Surya, dia sudah mengumpat akan kelakuan Weni dan Herman yang sudah berani nya melaporkan dia dan keluarga nya.
"Awas saja kalian" batin Surya dengan geram.
***
Weni terus saja memeluk tubuh Anggara selama di dalam pesawat.
Ia terus saja terisak dengan diam dalam pelukan tersebut.
"Hei sayang, dengarkan aku" ucap Angga dengan menangkup ke dua pipi Weni.
"Jangan menangis terus, nanti Ayah dan Bunda akan merasa sedih.
Kau tidak sendirian, ada Daddy, Mommy, Paman Herman, Sahabat-sahabat mu dan ada aku" ucap Angga kembali.
"Sedih boleh saja tapi jangan berlarut ya sayang, kita akan berjalan bersama, berdampingan dan selalu saling menyemangati" ucap Angga kembali.
"Terimakasih, aku akan berusaha, memulai semua nya dari awal. Bahkan aku akan memulai nya bersama dengan mu" balas Weni dengan tersenyum.
"Nah kan cantik kalau tersenyum begini" goda Angga dengan memeluk Weni kembali.
"Issshhh kau ini" gerutu Weni dengan malu.
"Tetaplah jadi Weni yang ceria dan tangguh" ucap Angga mengecup kening Weni dengan lembut.
Weni hanya menganggukan kepala nya dan menyenderkan kembali kepala nya di dada bidang Angga.
Hingga tidak terasa dia terlelap disana.
Angga tersenyum saat melihat wajah tenang Weni saat tidur, meski ada guratan kesedihan disana.
Angga pun memilih ikut terlelap dengan tangan yang masih memeluk tubuh sang Istri.
.
.
.
yg gak baik itu bram sama Weni dan keluarga nya
kalo orang jahat pasti saling mendukung sesama penjahat