cerita sudah tidak lengkap, banyak editan dan diacak🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isuthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Pagi
Arselli kembali ke apartemennya. Dengan wajah bertekuk dan rambut sedikit acak-acakan. Malam sudah semakin larut , malah sudah hampir pagi , dia baru pulang dengan kondisi sedikit mabuk.Disertai dengan bau rokok yang menempel pada kemeja lusuhnya.
Berjalan gontai menuju tempat tidur berukuran besar miliknya , menghempas kencang tubuhnya ke atas kasur empuk itu. Masih dengan sepatu yang menempel di kakinya.
Masih terbayang jelas mata Alessya yang sempat dia lihat tadi sedikit memerah dan sendu karena habis menangis. Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa- apa ,padahal dia adalah pengusaha sukses level nasional dan internasional.Jemarinya seperti memiliki sentuhan ajaib , ide - idenya begitu cemerlang, apapun yang dia pegang dan dia tangani pasti akan sukses menghasilkan pundi - pundi uang yang melimpah bernilai milyaran bahkan triliyunan.
Tapi entah mengapa , dalam hal wanita, menangani dua wanita yang berharga dalam hidupnya , Alessya dan ibunya dia seperti menjadi orang lemah yang tidak berguna.
Menatap nanar lampu yang berada di atas langit - langit tempat tidurnya yang bersinar dengan sedikit temaram. Dia membayang kan apa yang akan terjadi dengan mata indah gadis itu, saat membahas pesta ulang tahun Clara saja sudah seperti itu , apalagi setelah mengetahui rencana pertunangannya dengan Clara nanti.
Apalagi tadi , dia hampir saja melakukan kesalahan besar dalam hidupnya , karena hampir merenggut mahkota Alessya, menodai kesucian gadis yang dicintainya itu. Walaupun tidak ada paksaan dan semua dilakukan dengan dasar cinta dan sukarela , tapi tetaplah awalnya adalah kesalahan Arselli , karena sudah sedari awal tadi gadis itu merengek ingin pulang.
Dia merenung sendiri dengan mata yang memerah , hampir meneteskan air matanya tapi terhenti tatkala matanya perlahan terpejam menuju tidurnya .
Aku mencintaimu Alessya , jangan pernah menyerah , aku mohon...
***
Alessya merenung sendiri di kamar kontrakannya , mematutkan diri di depan cermin besar di ruangan kecil itu. Sembari menyentuh bibirnya yang masih terasa kebas , karena ******* bibir kekasihnya yang bertubi - tubi tadi. Belum lagi bekas tanda kemerahan di leher jenjang dan putihnya itu.
Dia ingat betul bagaimana buasnya Arselli tadi di apartement , seperti dikuasai oleh nafsu yang membara. Bagaimana bibir dan tangannya menjelajah dengan begitu **** , sehingga membuat dirinya tidak berdaya. Namun , akhirnya bisa bernafas lega ketika pria itu berhasil mengendalikan dirinya sendiri.
Dia merutuki dirinya sendiri.
" Bodoh , bodoh " yang diam dan pasrah saja dengan perlakuan kekasihnya tadi. Yang tanpa dia sadari , hampir saja dengan sukarela menyerahkan kehormatan dan kesucian nya kepada pria yang sangat dicintainya itu, tanpa perlawanan sama sekali.
Apakah ini, karena aku terlalu mencintaimu ,Russel ?
Ya Alessya memang sangat mencintai pria itu, Arselli adalah pria pertama dalam hidupnya dan dilubuk hatinya yang paling dalam , Alessya juga berharap bahwa Arselli juga akan menjadi pria terakhir dalam hidupnya.
Dia menatap kalung bintang pemberian Arselli yang melingkar cantik di lehernya. Dia sangat menyukai itu. Dan dia juga ingin memberikan sebuah hadiah kepada pria itu.
Dia ingat , ibunya pernah memberikan sebuah jam tangan pria antik bermerek , yang sempat ingin ibunya berikan kepada ayahnya dulu tapi tidak sempat diberikan karena ada masalah dalam rumah tangga mereka.
Alessya mencarinya di dalam laci meja di kamarnya, dan dia menemukannya .Sebuah jam tangan pria bermerk buatan luar negeri tersebut. Terlihat sangat bagus jika dipakai Arselli , walaupun Alessya ragu pria itu akan menyukainya , mengingat pasti pria itu memiliki wardrobe dari berbagai brand terkenal di dunia yang lebih bagus dan mahal.
***
Keesokan harinya , Alessya bersiap pergi ke universitas tempat dia kuliah. Mengingat jelas janzi dengan Diana semalam untuk bertemu.
Baru beberapa langkah keluar dari kamar kontrakannya , Alessya dikejutkan dengan penampakan seseorang yang tengah berdiri sembari bersandar di samping body mobil sport mewah berwarna merah menyala . Pria tampan dengan balutan setelan celana dan kemeja berwarna hitam melekat sempurna di tubuh atletis itu , semakin menunjukkan kharisma seorang presiden direktur pagi itu.
Tampak sebuah kaca mata hitam bertengger di batang hidungnya yang mancung menambah level ketampanannya kala itu , tapi sedikit banyak menjadi tanda tanya besar di benak Alessya , di pagi yang sedikit mendung memakai kaca hitam , bukankah akan sedikit absurd? Beda lagi situasinya apabila pagi itu matahari bersinar dengan cerah dan menyilaukan.
Masih berdiri tenang dengan jarak kurang lebih tiga meteran , pria itu masih belum menyadari kehadiran gadis yang ditunggunya semenjak beberapa menit yang lalu , tengah memperhatikan Lamat dari ujung kaki sampai ujung kepala . Decak kagum menghiasai bibirnya kala itu , sedikit banyak dia mengakui pria pujaannya itu memang terlampau tampan mendekati sempurna . Belum lagi kondisi finansial pria itu yang tidak diragukan lagi kekayaannya. Dalam beberapa hari terakhir saja dia melihat pria itu menggunakan beberapa mobil yang berbeda.
" Alessya..." panggil pria itu , setelah tidak sengaja menoleh menemukan gadis itu tengah berdiri kaku.
" Kau menjemputku ? " Demi apapun, sejak kejadian semalam Alessya masih saja merasa canggung dan malu. Dan Arsellipun menyadari itu. Dia benar - benar sangat menyesalinya , dan oleh karenanya hari ini Arselli sengaja menjemput gadis itu hendak mengantarnya ke kampus tempatnya mengenyam bangku pendidikan tinggi ,yang tidak seperti biasanya saat di pagi hari pria itu akan beringsut pergi berangkat ke kantornya untuk bekerja.
" Masuklah.." membukakan pintu penumpang untuk Alessya.
Alessya terus menatap pria itu,sesekali menunduk saat bertemu pandang .
" Kau baik - baik saja Alessya ? " menatap Alessya yang masih menundukkan kepalanya. Pria itu tersenyum secara tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat perasaannya campur aduk saat itu. Senang karena Alessya masih memakai kalung pemberiannya , yang berarti bahwa gadis itu sudah memaafkan kejadian tadi malam dan hubungan mereka masih berlanjut. Dan yang kedua adalah perasaan tegang,menyesal, bercampur bangga tatkala sebuah mahakarya terpampang jelas di depan mata .Sesuatu yang ditutupi gadis itu dengan menggunakan pakaian berkerah tinggi , dan rambut yang dibiarkan terurai ke depan. Apalagi kalau bukan buah hasil kejahatannya semalam, dengan senyum terkulum menatap ke depan sembari menyalakan mesin mobilnya bersiap pergi dari tempat itu.
" Kau sudah sarapan ? " Berniat mampir ke rumah makan , jika gadis itu belum memasukkan apapun ke dalam perutnya itu.
Alessya menggelengkan kepalanya , tersenyum kecil menatap Arselli.
" Pantas kau semakin kurus saja akhir - akhir ini. " Berkata lirih memalingkan wajahnya dengan air muka kesal yang terlihat.
" Apakah itu menjadi masalah bagimu ?" mendengar kata kurus sedikit mengerti pria itu lebih suka dengan wanita yang memiliki tubuh sintal dan semok alias bahenol,seksi, dan demplon seperti lelaki normal lainnya , mengingat dirinya yang kurus kering dan tidak terawat. Akhir - akhir ini dia menjadi lebih sedikit sensitif dan minder apabila berada di samping Arselli yang seorang PresDir.
" Kau harus menjaga kesehatanmu, Alessya ." Menyangkal pertanyaan Alessya , setelah menebak langsung maksud dari pertanyaannya tadi.
Alessya menghela nafas lega ,merasa lelah dengan beban di pundaknya.Ternyata punya pacar kaya dan tampan itu tidak seindah bayangannya .Sejak mengetahui Arselli adalah seorang PresDir hatinya selalu dirundung ketakutan.
" Jangan berfikiran yang tidak - tidak ? " seolah mengetahui isi fikiran gadis itu.Membuat Alessya mendelik sebal.
Awas saja , aku akan membunuhmu jika kau ketahuan selingkuh dengan wanita - wanita seksi itu . menatap tajam Arselli.
" Kau akan membunuhku ? " tertawa menggoda Alessya.
" Kau bisa membaca pikiranku ? " merasa aneh kenapa tepat sekali.
" Jadi itu benar yang kau fikirkan ? " berdecak meledek Alessya .
Alessya menutup wajahnya menarik rambutnya kedepan menahan jengkel karena slalu kalah berdebat dengan pria itu.Arselli terkekeh puas berhasil menggoda gadis itu.
" Kita akan mampir di restoran depan , kau setuju ? "
" Tidak.Aku ada janzi dengan Diana sepertinya aku akan sarapan dengannya." Masih kesal dan marah.
" Kau marah , Alessya ? " Alessya hanya terdiam menatap lekat pria itu.
Kenapa aku merasa aneh dengan kaca matamu.
" Kau marah padaku ,Alessya ? " Bertanya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
Alessya masih menatap lekat pria itu.
" Russell...."
" Hmm...." menoleh manatap manik wajah gadis itu.
" Apa yang terjadi dengan matamu ? "
***
Di pagi hari, masih di langit yang sama , di tempat tinggal Diana. Diana dikejutkan dengan datangnya sebuah paket tanpa identitas pengirim .
Gadis cantik itu menatap lekat paket berupa amplop besar berwarna coklat yang sudah ada di genggamannya. Perasaannya campur aduk kala itu , apalagi setelah jemarinya dengan cekatan membuka pengait benang yang berada pada amplop tersebut.
Tangannya masuk ke dalam amplop yang sudah terbuka itu.Merogoh untuk mengambil objek benda yang terdapat di dalamnya.
Dan apa ini? Apa yang dia lihat pagi ini benar - benar mengejutkan , sungguh mengejutkan. Beberapa lembar fotho terlampir di sana. Diana membelalakkan matanya , telapak tangannya refleks menutup mulutnya yang hampir menganga.
" Alessya.... "
mampir ya thor
menikmati dulu karyamu ...