Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Mulai Panik
Meng Lin tetap berada dalam kamar saat mendengar keributan di luar. Meng Wan sedang mencari perhatian kepada teman-temannya.
Dia mencuci piring bekas serapan tadi pagi, dan sekalian mebereskan rumah. Teman-teman nya tidak tinggal diam, mereka membantu, karena merasa berutang budi, karena baru saja Meng Wan mentraktir mereka.
Teman-temannya makin kesal dengan Meng Lin yang terus berada dalam kamar. Padahal suara mereka cukup keras.
" Wan wan.. Jadi setiap hari kamu yang mengerjakan pekerjaan rumah?" tanya Cun Yun.
Meng Wan menatap kamar Meng Lin dan berpura-pura menghindari pertanyaan itu. Tapi Cun Yun tetap memaksanya untuk menjawab.
"Ehh.. Tidak kok, Kakak selalu membantuku. Mungkin hari ini dia lelah, jadi biarkan dia beristirahat.!"
"Wan wan. Kenapa kamu baik sekali sih? Dia kan cuma numpang, jadi wajar saja kalau dia mengerjakan semua ini!" ujar Cun Yun dengan kesal.
"Benar! Lelah apanya? Dia pasti cuma bersantai dalam kamar! " sela yang lainnya.,
"Sudahlah.. Ini juga sudah mau selesai kok! Terima kasih yaa sudah membantuku. Siang nanti kita makan di Restoran Negara. Aku yang traktir kalian!" ujar Meng Wan dengan cepat mengalihkan pembicaraan.,
Cun Yun dan lainnya langsung semangat dan tersenyum bahagia. Tidak sia-sia mereka membantu pekerjaan sepele itu.
"Wan wan. Tidak perlu, tadi pagi kamu sudah beliin kami jepit rambut!" nadanya terdengar menolak, tapi senyum diwajahnya tidak bisa bohong.
"Tidak apa-apa.. Kalian sudah banyak membantuku!" balas Meng Wan dengan santai.
Teman-temannya akhirnya setuju, tidak semua orang bisa masuk ke Restoran Negara. Dan selama ini, Meng Wan memang sudah sering mengajak mereka ke sana.
Meng Lin berada dalam tetap cuek saat mendengar semua kebohongan Meng Wan. Tapi bukan berarti dia tidak peduli, dia akan membalasnya dan akan membongkar semuanya.
Saat waktu makan siang, Meng Wan benar-benar mengajak teman-temannya untuk pergi makan.
Sedangkan Meng Lin, memakan bakpao isi daging yang dia beli di Restoran Negara. Dia tidak masak untuk makan siang, dia tidak peduli jika Bibinya pulang dan marah.
...----------------...
Pulang kerja telah tiba ketika paman dan bibi akhirnya pulang. Begitu memasuki rumah, suasana langsung terasa berbeda.
Meng Lin sedang duduk di kamarnya ketika suara bibi terdengar dari ruang tengah.
“Di mana Meng Lin?”
Meng Wan yang sedang makan kuaci segera menjawab. “Di kamar.”
Bibi mengerutkan kening. “Panggil dia.”
Tak lama kemudian, Meng Lin keluar dari kamar dengan langkah santai. Dia sudah menebak ke mana arah pembicaraan mereka.
Bibi langsung menatapnya dengan wajah tidak senang. “Kenapa pagi tadi kamu tidak mencuci piring?”
Meng Lin duduk dengan diam.
“Rumah juga tidak kamu bersihkan. Bahkan makan siang pun kamu tidak masak.” Nada suara bibi sedikit tinggi.
“Kalau bukan karena Meng Wan dan teman-temannya, siapa yang akan membereskan semuanya?”
Dia tahu semuanya, saat pulang makan siang dia bertemu dengan Meng Wan dan teman-temannya di tengah jalan.
Dan Meng Wan mengatakan, jika Meng Lin tidak masak untuk makan siang, jadi mau pergi makan ke Restoran Negara. Sehingga dia terpaksa balik dan makan di kantin pabrik.
Meng Wan yang berdiri di sampingnya segera berkata dengan lembut, “Ibu jangan marah. Aku cuma merasa kasihan melihat rumah berantakan, jadi aku membereskannya bersama teman-temanku.”
Kalimat itu terdengar seperti membela Meng Lin. Namun justru membuat suasana semakin berat.
Bibi menatap Meng Lin. “Kamu dengar sendiri? Meng Wan sampai harus membersihkan rumah bersama teman-temannya.” ucapnya dengan kesal.
Meng Lin tetap tenang. Tidak ada rasa takut di wajahnya. “Memangnya kenapa kalau Meng Wan yang membersihkan rumah?” tanya dengan bingung.
Semua orang terdiam. Meng Wan bahkan tampak sedikit terkejut.
Meng Lin melanjutkan dengan nada datar, “Bukankah ini rumahnya?”
Ruangan mendadak sunyi. Bibi menatapnya tidak percaya. Selama bertahun-tahun, Meng Lin selalu menuruti semua perintahnya. Gadis itu hampir tidak pernah membantah.
Tapi hari ini berbeda. Paman yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
Meng Lin mengalihkan pandangan kepadanya.
“Maksudku sederhana.” Ia duduk tegak. “Aku tinggal di rumah ini, tapi aku juga membayar.”
Bibi langsung menyela. “Bayar? Kamu bicara seolah-olah kami meminta uang darimu!”
Meng Lin tertawa kecil, tetapi tidak ada kehangatan di wajahnya. “Bukankah memang begitu?” Meng Lin melanjutkan, “Setiap bulan aku memberikan 45 yuan kepada kalian.”
Tidak ada yang menyela. Mereka semua bingung, kenapa Meng Lin malah membahas uang?
“Selama ini kalian bilang itu untuk biaya tinggal dan makan. Aku tidak pernah mempermasalahkannya.”
Ia berhenti sebentar. “Tapi sekarang aku ingin bertanya. Di mana ada orang yang membayar empat puluh lima yuan setiap bulan hanya untuk tinggal bersama keluarganya sendiri, lalu masih harus mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah?”
Wajah bibi berubah. “Jangan kurang ajar!” bentaknya dengan wajah marah.
“Aku belum selesai.” Suara Meng Lin tetap tenang. “Kalau 45 yuan memang dianggap sebagai uang sewa, menurutku harganya terlalu mahal.”
Ia menatap paman dan bibinya satu per satu.
“Kalau harus membayar semahal itu, lebih baik aku tinggal di hotel.” ucap dengan santai.,
Paman mengepalkan tangan. Dia merasa sang tersinggung, karena selama ini keluarganya memang mengambil uang sebanyak itu.
Meng Lin melanjutkan tanpa gentar, “Atau aku tinggal di rumah peninggalan orang tuaku sendiri.”
Kalimat terakhir membuat wajah paman dan bibi berubah seketika.
Bibi langsung berdiri. “Kamu berani mengungkit soal uang?” tanyanya dengan emosi.
“Kenapa tidak?” Meng Lin menatapnya dingin.
“Itu uangku.” balas Meng Lin tak gentar.
“Selama ini kami sudah membesarkanmu!” ucap sang Bibi dengan mata melotot.,
“Aku juga tidak pernah mengatakan kalian tidak berjasa.” Nada suara Meng Lin tetap datar.
“Tapi membesarkan seorang keponakan bukan berarti kalian berhak mengambil semua uang yang dikirim kakakku.”
"Bukankah itu wajar?"
"Jika 5 yuan masih bisa di wajarkan. Tapi kalian malah meminta 45 yuan! Apa kalian tidak takut, pengawas di luar sangat ketat, Meng Wan setiap Minggu makan di Restoran Negara dan mentraktir teman-temannya!" tatapannya jatuh ke Meng Wan.
"Wan wan apakah itu benar?" tanya Ayahnya dengan tatapan terkejut. Dia tidak tahu sama sekali. Yang dia tahu, Meng Wan dan teman-temannya Patungan.
"Ayah.. Jangan dengarkan Kakak. Aku memang makan ke sana. Tapi cuma sekali sebulan. Bukan seperti yang Kakak katakan!" bantah Meng Wang dengan gugup dan gelisah.
Paman Meng Lin terdiam, dia harus mencari tahu. Dia dan istrinya hanya pekerja di pabrik tekstil yang gaji perbulannya 35 yuan sebulan.
Tidak ada anak-anak yang berani makan setiap Minggu ke Restoran Negara dengan gaji orang tuanya seperti itu.
Terlalu mencolok bisa mengundang kecurigaan, jika Meng Wan terlalu pamer harta dan diselidiki maka uang itu akan ketahuan dari mana asalnya. Mengambil uang anak seorang yatim piatu adalah pelanggaran besar.
"Hmm.. Baiklah,,, kedepannya, jangan terlalu sering mentraktir teman-temanmu!" Paman Lin memberi perintah dengan wajah dingin. Ini menyangkut reputasi keluarga.
"Baik Ayah!" balas Meng Wan sedikit tidak setuju.
Meng Lin kembali buka suara. “Mulai bulan ini, aku tidak akan memberikan uang sepeser pun.” ucapnya dengan nada serius.
“Apa..?” Bibi langsung panik. “Kamu tidak bisa begitu! “Kalau kamu tidak mau memberikan uang lagi, maka keluar dari rumah ini!”
Paman menoleh kepada istrinya. “Mengapa kamu—”
Namun bibi sudah dikuasai emosi. “Kalau dia merasa dirinya sudah besar dan bisa hidup sendiri, biarkan dia pergi!”
Meng Lin justru tersenyum tipis. “Baik.!"
Jawaban itu membuat semua orang kembali terdiam. Bibi tidak menyangka Meng Lin akan menyetujuinya secepat itu.
Meng Lin berbalik hendak kembali ke kamar, tetapi sebelum pergi ia berhenti. “Oh, satu lagi.”
Ia menatap bibinya. “Kalau aku pergi, tolong suruh Meng Ji keluar juga.”
“Meng Ji?” Bibi langsung membelalak. “Kenapa anakku harus pergi?” suaranya makin keras.
“Karena rumah itu milik orang tuaku. Setelah aku pergi dari sini, aku akan kembali tinggal di sana!" ujar Meng Wan sambil menatap Bibinya dengan tatapan tegas, seoalah memperlihatkan, jika dia tidak sedang bercanda.
Ruangan kembali sunyi. Rumah peninggalan orang tua Meng Lin selama ini ditempati Meng Ji bersama istrinya setelah mereka menikah.
Keluarga itu menganggap tidak ada masalah.
Bagaimanapun, Meng Lin tinggal bersama mereka.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Meng Lin mengingatkan mereka bahwa ada sesuatu yang selama ini sengaja mereka abaikan.
Rumah itu bukan milik Meng Ji. Itu peninggalan orang tuanya. Dan sekarang, dia berniat mengambil kembali apa yang memang menjadi haknya.
.
.
.
yang banyak update nya Thor 👍😀
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍