Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomornya Tidak Aktif
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menyinari sudut-sudut kampung. Ayara bisa bernapas lega dan beristirahat lebih lama di tempat tidur karena hari ini adalah hari libur kerja di pabrik. Setelah hari-hari melelahkan yang dipenuhi drama, kejutan dan tawaran pernikahan dari Althaf yang terus berputar di kepalanya, hari libur ini terasa sangat berarti.
Sekitar pukul delapan pagi, Ayara keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaus santai dan celana kain longgar, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Begitu melangkah ke area dapur, Ayara mendapati Arlan sedang duduk santai di ruang tamu sembari menikmati seangkring teh hangat dan beberapa potong singkong goreng.
"Loh, Arlan? Kamu nggak berangkat kerja hari ini?" tanya Ayara heran, menyadari adiknya juga berada di rumah.
Arlan menoleh lalu tersenyum lebar, "Enggak, Mbak. Hari ini libur soalnya bahan bangunannya baru datang besok, jadi Arlan bisa santai dulu." jawabnya.
Ayara mengangguk paham, lalu menuangkan air dingin ke dalam gelas dan duduk di hadapan adiknya. "Ibu ke mana, Lan? Kok sepi?"
"Ibu lagi ke rumah Bu Irma dari tadi jam tujuh, Mbak. Mau nyuci sama gosok baju di sana," jawab Arlan.
Suasana dapur hening sejenak, hanya terdengar deru lembut angin yang menerobos celah jendela kayu. Arlan meletakkan cangkirnya, lalu menatap Kakaknya dengan raut wajah yang berubah menjadi serius dan penasaran.
"Mbak... ngomong-ngomong soal masalah Arlan, gimana kelanjutannya? Terus... Bang Althaf beneran bisa selesaikan semuanya kan? Arlan nggak bakal dilaporin atau dipanggil polisi lagi, kan?" tanya Arlan.
"Kamu tenang aja, Lan. Semuanya udah selesai. Kemarin Mbak udah ketemu sama Mas Althaf, dia sama timnya udah datang ke bengkel tempat kamu kerja dulu dan minta rekaman cctv. Dan, terbukti kalau bukan kamu yang ngambil uang dan barang di bengkel," jawab Ayara.
Mendengar penjelasan itu, Arlan bernapas lega luar biasa. Bagaikan batu besar yang menindih dadanya terangkat seketika. "Alhamdulillah ya Allah... Arlan lega banget, Mbak! Makasih ya, Mbak udah ngurusin masalahnya Arlan."
"Harusnya kamu terima kasih sama Mas Althaf, dia yang berjuang dan ngurusin semuanya dari awal," balas Ayara tulus.
Arlan mengangguk-angguk setuju. Namun tiba-tiba, raut wajah pemuda itu berubah kaku. Sebuah pemikiran mendadak melintas di kepalanya, membuat Arlan mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik pelan pada Ayara.
"Mbak... ngomong-ngomong, Mbak bayar Bang Althaf berapa buat ngurus masalah ini?" tanya Arlan penasaran sekaligus cemas.
Ayara mengernyitkan dahi, "Maksud kamu?" tanyanya.
"Mbak, Arlan pernah denger cerita dari orang-orang. Jasa pengacara itu mahal! Apalagi Bang Althaf kan punya kantor sendiri, tampilannya aja udah kayak orang berkelas banget. Buat kasus begini, bayarannya bisa jutaan atau puluhan juta, Mbak! Mbak bayar pakai uang dari mana?" tanya Arlan dengan mata membelalak heran.
Seketika, Ayara mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bagaikan dihantam kenyataan yang menghantam kesadarannya.
'Astaga... aku lupa soal itu,' batin Ayara menjerit panik.
Selama ini, karena disibukkan oleh rasa panik, serta lamaran mendadak Althaf yang menyita pikirannya semalam, Ayara sama sekali tidak pernah terpikir untuk menanyakan berapa biaya untuk menyelesaikan kasus Arlan.
"Mbak... kok malah melamun? Mbak belum bayar Bang Althaf ya?" desak Arlan melihat perubahan raut wajah kakaknya yang mendadak pucat.
Ayara menelan ludahnya susah payah, "I-iya, Lan... Mbak baru sadar. Mbak belum ada nanya atau bayar sepeser pun ke Mas Althaf...,"
"Waduh! Gimana dong, Mbak? Nanti dikira kita manfaatin Bang Althaf lagi?" ujar Arlan ikut cemas.
"Nggak bisa dibiarin, Mbak harus nemuin Mas Althaf hari ini juga buat nanyain dan bayar jasanya, berapapun itu Mbak bakal usahakan cicil," tegas Ayara dengan raut wajah penuh kepanikan.
"Arlan ada uang dua juta, Mbak. Nanti Mbak bawa buat jaga-jaga," ucap Arlan.
"Nanti kalau ada uang, Mbak ganti ya," ucap Ayara.
"Nggak usah ganti, Mbak. Kan, ini juga masalahnya Arlan," balas Arlan.
"Oh ya, motornya Mbak udah kamu ambil?" tanya Ayara, kemarin malam ia sudah mengirim pesan pada Arlan agar mengambil sepeda motornya.
"Udah, Mbak. Aku ambil sama Rama tadi jam setengah 7," jawab Arlan.
"Pintarnya adikku... makasih ya! Nanti pas pulang, Mbak bawain roti goreng," ucap Ayara, lalu sarapan dan setelah itu masuk kedalam kamar.
Saat di dalam kamar, Ayara mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan cepat kepada Althaf.
^^^Ayara : Selamat pagi, Mas Althaf. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Hari ini Mas ada waktu luang, aku ingin ketemu soalnya ada yang mau aku bicarakan^^^
Setelah pesan itu terkirim, Ayara menunggu beberapa menit dengan cemas. Namun, centang pada layar ponselnya hanya satu dan berwarna abu-abu. Ayara mencoba melakukan panggilan suara, namun sambungan itu langsung terarah pada pesan suara operator yang menyatakan nomor tersebut tidak dapat dijangkau.
"Nomornya tidak aktif... Jangan-jangan Mas Althaf sedang sibuk hari ini," gumam Ayara cemas.
Ayara tiba-tiba teringat sesuatu, Arlan pernah mengatakan jika Althaf memberikan kartu namanya saat di kantor polisi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ayara langsung bergegas keluar dari kamar menuju ruang tengah.
"Arlan!" panggil Ayara setengah berteriak.
Arlan yang sedang asyik menikmati sisa singkong goreng di dekat meja langsung menoleh kaget, "Iya, Mbak? Ada apa? Kok mukanya panik gitu?" tanya Arlan heran.
"Kamu masih simpan kartu nama Mas Althaf nggak?" tanya Ayara, berdiri di hadapan adiknya dengan napas sedikit memburu.
Arlan mengerjap sejenak, "Masih ada, Mbak. Kalau nggak salah aku taruh di dalam dompet," jawabnya.
Tanpa menunggu lama, Arlan merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya, lalu menyelipkan jari ke dalam selipan kartu dan menyerahkan sebuah kartu nama bertekstur tebal berwarna hitam elegan dengan cetakan huruf emas timbul kepada Ayara.
Ayara menerima kartu nama itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Pada kartu tersebut tertera nama lengkap Althaf beserta alamat kantor firma hukumnya yang terletak di kawasan jalan protokol utama kota Bandung, Hardian & Partners Law Firm.
Ayara menatap kartu nama itu. Tekadnya kini sudah bulat, ia harus mendatangi kantor Althaf hari ini juga untuk menyelesaikan urusan Arlan secara transparan, sekaligus mengembalikan ketenangan di hatinya.
"Yaudah, Mbak mau siap-siap sekarang," ujar Ayara mantap.
"Mau ke kantornya, Mbak? Jauh loh, naik angkutan umum lumayan oper dua kali, biar Arlan temenin ya," tanya Arlan memperingatkan.
"Nggak apa-apa, yang penting urusan ini beres. Arlan! Kamu jaga rumah ya, jangan kemana-mana," pesan Ayara sebelum bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita