"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin Hilang Arah 13.
Firdaus menutup pintu kamarnya pelan, hampir tanpa suara.
Namun, debar di dadanya terdengar begitu bising, memukul-mukul dinding jantungnya dengan ritme yang menyiksa.
Langkah Elsa yang menjauh di dalam angkot penuh sesak itu seperti bayangan hitam yang melekat erat di kornea matanya.
Setiap kali dia memejamkan mata, wajah muak Elsa kembali hadir, menampar egonya yang kini sudah tidak bersisa.
Dia melirik jam dinding di atas meja belajar.
Pukul tiga dini hari. Kamar ini masih terasa asing, seolah-olah seluruh kehangatan di dalamnya telah menguap bersama kalimat penolakan Elsa sore tadi.
Firdaus menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit yang remang.
Matanya terasa panas, namun tak ada air mata yang keluar.
Rasa sakitnya terlalu dalam, membeku di dalam dada hingga membentuk sebongkah sesak yang menyumbat tenggorokan.
Perutnya kembali melilit. Kali ini bukan sekadar keroncongan biasa.
Asam lambungnya naik lagi, menciptakan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke dada.
Rasa perih itu seolah berlomba dengan denyut nyeri di hatinya.
Firdaus memijat pelipisnya yang mulai berdenyut pening.
Tubuhnya butuh sesuatu yang dingin untuk meredakan gejolak di lambungnya, atau setidaknya untuk mengalihkan fokusnya dari bayang-bayang Elsa.
Dengan helaan napas berat, Firdaus kembali bangkit.
Dia membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, memastikan engselnya tidak berdecit.
Rumah mewah itu sudah sepenuhnya gelap. Ketukan keyboard dari ruang kerja ayahnya sudah menghilang, menandakan pria paruh baya itu mungkin sudah beristirahat atau tertidur di meja kerjanya.
Firdaus melangkah tanpa alas kaki, membiarkan dinginnya lantai marmer menjalar ke telapak kakinya.
Sesampainya di dapur, dia langsung menuju kulkas dua pintu yang berdiri megah di sudut ruangan. Begitu pintu kulkas dibuka, cahaya lampu di dalamnya langsung menerangi wajah Firdaus yang kuyu dengan kantung mata yang menghitam.
Pandangannya menyapu isi rak, melewati sisa kentang yang tadi sempat dia gigit, dan berhenti pada belahan buah semangka berukuran besar yang dibungkus plastic wrap.
Warnanya yang merah merona terlihat begitu menyegarkan di mata Firdaus yang sedang merana.
Tanpa berpikir panjang, Firdaus meraih mangkuk semangka itu.
Dia tidak berniat memotongnya menjadi rapi atau memindahkannya ke piring kecil.
Menggunakan sendok yang dia ambil secara acak dari dekat kompor, Firdaus mulai menciduk daging buah semangka itu langsung dari wadahnya. Dingin dan manisnya buah itu langsung membasahi tenggorokannya yang kering, memberikan sedikit rasa nyaman yang instan pada perutnya yang melilit.
Dia makan dengan terburu-buru, seperti orang yang sedang melarikan diri dari kejaran rasa bersalah.
KLAK!
Suara saklar lampu dapur yang ditekan tiba-tiba membuat suasana yang remang langsung berubah terang benderang.
Firdaus terlonjak kaget, sendok di tangannya hampir saja terlepas dan berdenting di atas lantai marmer.
Di dekat saklar lampu, Subroto berdiri dengan wajah yang jauh lebih menyeramkan dari malam kemarin.
Rambut ayahnya sedikit berantakan, kacamata bacanya sudah diturunkan hingga ke ujung hidung, dan tatapan matanya berkilat penuh amarah yang siap meledak.
Rupanya, pria itu terbangun atau memang belum sempat tidur nyenyak akibat stres pekerjaan yang belum selesai.
"Firdaus! Mau kamu apa sebenarnya, hah?!" bentak Subroto, suaranya yang berat memecah kesunyian malam dengan begitu intimidatif. Meskipun tidak berteriak sekencang di siang hari, nada bicaranya yang penuh penekanan jauh lebih menciutkan nyali.
Firdaus langsung menurunkan mangkuk semangka ke atas meja konter dapur dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia berdiri kaku, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata sang ayah yang seperti elang mencengkeram mangsa. "Maaf, Pa. Perut Daus perih banget, jadi..."
"Papa sudah bilang kemarin kalau tidur jangan malam-malam! Sudah kembali ke kamar dan tidur! Sekarang jam berapa? Jam tiga lewat! Kamu malah di sini bikin berisik, dentangan sendok kamu itu kedengaran sampai depan ruangan Papa!" potong Subroto tanpa mau mendengar penjelasan putra nya.
Pria itu melangkah mendekat, auranya begitu menekan hingga Firdaus merasa oksigen di sekitar dapur mendadak menipis.
Subroto menatap mangkuk semangka dan penampilan Firdaus yang acak-acakan dengan tatapan merendahkan. "Kamu lihat diri kamu sekarang. Mana sosok ketua OSIS yang Papa banggakan? Mana anak laki-laki Papa yang selalu disiplin dan bisa diandalkan? Cuma karena masalah sepele yang Papa nggak tahu apa, kamu jadi seperti gelandangan kelaparan di rumah sendiri tengah malam!"
Kata-kata Subroto menghantam dada Firdaus seperti gada besi.
Sosok yang dibanggakan? Firdaus ingin tertawa getir mendengar frasa itu.
Ayahnya hanya bangga pada piala, pada jabatan ketua OSIS, dan pada nilai-nilai sempurnanya. Ayahnya tidak pernah tahu bahwa di balik seragam sekolah yang rapi dan wibawa yang dia tunjukkan di depan ratusan siswa, Firdaus hanyalah seorang remaja yang rapuh, yang malam ini hancur berkeping-keping karena seorang gadis bernama Elsa.
"Kamu pikir masa depan bisa dibeli dengan mondar-mandir di dapur malam-malam?" lanjut Subroto, nadanya semakin dingin. "Besok kamu ada simulasi ujian. Kalau Papa lihat nilai kamu turun atau kamu ketahuan tidur di kelas, Papa tidak akan segan-segan mencabut semua fasilitas kamu. Termasuk motor yang kamu pakai buat keluyuran gak jelas itu. Paham?!"
Firdaus mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, meremas ujung kaus oblongnya hingga kusut.
Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan amarah yang tertahan dan rasa tidak berdaya yang absolut.
Di sekolah dia harus berpura-pura kuat demi statusnya, di depan Elsa dia harus menelan harga dirinya bulat-bulat, dan di rumah, dia harus menjadi robot pemuas ego sang ayah.
"Paham, Pa," jawab Firdaus, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
"Sekarang, balik ke kamar! Bersihkan mulut kamu, taruh semangka itu kembali, dan jangan keluar lagi sampai pagi!" perintah Subroto final. Pria paruh baya itu berbalik dengan langkah tegas, meninggalkan dapur tanpa berniat meredakan ketegangan yang ditinggalkannya.
Firdaus menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berantakan. Dengan gerakan mekanis yang lambat, dia memasukkan kembali mangkuk semangka ke dalam kulkas, mematikan lampu dapur, dan berjalan kembali ke kamarnya dalam kegelapan. Setiap langkahnya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya.
Begitu pintu kamar kembali terkunci, Firdaus tidak langsung menuju kasur.
Perhatiannya langsung tersedot pada sebuah benda persegi panjang yang tergeletak diam di atas meja belajar.
Ponsel pintarnya. Benda yang sejak sore tadi dia perlakukan seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja jika disentuh.
Ketakutan yang sempat menahannya perlahan-lahan terkikis oleh rasa penasaran yang membakar dan rasa rindu yang menyiksa.
Firdaus melangkah mendekati meja, mengulurkan tangannya yang sedikit dingin, lalu menekan tombol daya.
Layar ponsel itu menyala, memancarkan cahaya terang yang membuat matanya yang bengkak menyipit sesaat.
Notifikasi langsung membanjiri layarnya. Puluhan pesan dari grup OSIS yang membahas persiapan pensi, beberapa panggilan tak terjawab dari teman-teman tongkrongannya yang mengajaknya bermain game online, serta beberapa pesan dari anggota divisi lain.
Namun, mata Firdaus sama sekali tidak berkedip pada deretan nama-nama itu. Jarinya dengan cepat menggulir layar, mencari satu nama yang menjadi pusat dari seluruh kekacauan hidupnya akhir-akhir ini.
Elsa.
Firdaus menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk ruang obrolan itu.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
Dia mempersiapkan diri untuk skenario terburuk—melihat pesan-pesan dingin Elsa atau bahkan makian dari gadis itu.
Namun, begitu ruang obrolan terbuka, jemari Firdaus mendadak membeku.
Kosong.
Tidak ada pesan baru.
Tidak ada ketikan meledak-ledak yang biasanya dikirimkan Elsa untuk membalas pesan modusnya. Bahkan, riwayat obrolan panjang mereka yang biasanya dipenuhi oleh pesan spam dari Elsa—mulai dari alasan menanyakan tugas sekolah, koordinasi rapat OSIS, hingga pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang sengaja dia buat-buat agar bisa mengobrol dengan Daus—kini terlihat sangat asing.
Firdaus mengernyitkan dahi. Dia memperhatikan bagian atas ruang obrolan itu dengan saksama. Foto profil Elsa yang biasanya menampilkan siluet gadis itu sedang berpose centil di gerbang sekolah, kini berubah menjadi gambar siluet abu-abu polos tanpa identitas.
Firdaus mencoba mengetikkan sesuatu di kolom pesan.
Sa, lo udah sampai rumah dengan aman kan? Gak kehujanan kan?
Dia menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim, namun tanda di samping teks tersebut hanya memunculkan satu centang abu-abu.
Firdaus menunggu beberapa detik, berharap tanda itu berubah menjadi dua centang atau bahkan berubah warna menjadi biru.
Namun, menit berlalu, dan status pesan itu tetap bergeming dengan satu centang abu-abu yang dingin.
......................
...***************...
Tbc,