Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Me Time Bersama.
Karena masih pengantin baru jadi Refisha dan Ezra masih melakukan penyesuaian diri dengan pendekatan istilah katanya pacaran setelah menikah.
Sore hari yang cerah ini Ezra mengajak Refisha jalan-jalan, keduanya hanya keliling-keliling kota dengan berada di dalam mobil Ezra yang menyetir dengan kecepatan santai.
"Ternyata begini jika sudah menikah, jadi bisa satu mobil berdua," ucap Ezra dengan tengil.
"Refisha kamu suka musik tidak?" tanya Ezra.
"Suka," jawabnya.
"Benarkah! saya pikir orang seperti kamu itu tidak menyukai hal-hal seperti itu," ucap Ezra cukup kaget mendengar jawaban istrinya.
"Orang seperti saya? memang orang seperti saya seperti apa?" tanya Refisha.
"Iya-iya," sahut
"Biasanya kalau penampilannya seperti ini akan mengatakan bahwa musik haram dan lain sebagainya," ucap Ezra.
"Saya memang menutup aurat saya, tetapi untuk menjudge segala sesuatu itu bukan menjadi bagian dari saya, saya menyukai segala sesuatu tetapi tidak berlebihan," ucap Refisha.
"Kalau begitu musik apa yang kamu sukai?" tanya Ezra.
"Musik romantis, lagu-lagunya sangat menarik dan terkadang kalau bosan pasti mendengarkan sembari mengerjakan desain," jawab Refisha.
"Mau kita pasang sekarang?" tanya Ezra.
Refisha menggelengkan kepala, membuat Ezra kembali mengerutkan dahi.
"Bagaimana mungkin ada alunan musik di dalam mobil dan sementara kamu mengajak saya berbicara," ucap Refisha.
"Benar juga," sahut Ezra dengan mengangguk-anggukkan kepala.
"Hmmmmm, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan kepada kamu," ucap Ezra.
"Apa itu?" tanya Refisha.
"Kenapa kamu akhirnya menerima pernikahan ini setelah saya melihat jelas dari wajah kamu bahwa kamu sangat ragu pada saya waktu itu?" tanya Ezra.
"Saya hanya menghabiskan waktu dengan berdoa di atas sajadah setiap malam dan inilah jawaban dari Allah, mungkin Allah telah meyakinkan saya bahwa ini adalah pilihan untuk saya," ucap Refisha.
"Refisha pasti banyak sekali ujian yang datang kepada kamu," ucap Ezra.
"Kamu kenapa berpikiran seperti itu? Apa kamu melihat saya sangat menyedihkan?" tanya Refisha.
"Kamu tahu tidak apa alasan saya memilih kamu?" tanya Ezra membuat Refisha menggelengkan kepala.
"Karena saya melihat bagaimana kamu memiliki pendirian, jika saya berada di posisi kamu, mungkin pilihan saya akan tetap menikah dengan laki-laki yang menghina kamu, tetapi kamu memilih untuk tidak mengambil langkah itu, dan pasti ada alasan yang besar untuk kamu, di saat itu saya menyadari satu hal, ketika suatu saat nanti ada permasalahan yang besar, meski pilihan itu menjadi jalan terakhir, tetapi saya yakin di saat semua itu dihadapkan kepada kamu dan keyakinan kamu yang lebih kamu utamakan daripada pilihan," ucap Ezra berbicara begitu lembut dengan penuh kekaguman kepada istrinya itu Refisha tersenyum.
"Dan sama seperti saya, saya juga akhirnya yakin dengan usaha kamu untuk saya," ucap Refisha.
Ezra tersenyum mendengarnya dengan keduanya saling melihat, Refisha mungkin sekarang sudah tidak malu-malu lagi dan sudah memberanikan diri untuk Ezra.
"Tetap fokus melihat ke depan," ucap Refisha membuat Ezra tersenyum dan kemudian melihat lurus ke depan daripada dia nanti akan nabrak.
*******
Ezra juga mengajak istrinya untuk makan bersama di restauran. Kepala Refisha berkeliling melihat di sekitarnya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Ezra memperlihatkan menu makanan Refisha ketika pelayan sudah berada di sana.
"Mbak saya mau pesan steak aja," jawab Refisha.
"Mbak pesan dua ya dengan tingkat kematangan...."
"Medium," sahut Refisha ketika Ezra meminta pendapatnya.
"Baik, silakan ditunggu pesanannya," ucap pelayan tersebut menganggukkan kepala dan kemudian langsung pergi.
"Kamu suka makan di Restoran ini?" tanya Refisha.
"Ya, kadang-kadang dan menurut saya makan di tempat ini rasanya ini lumayan enak, bagaimana dengan kamu apa pertama kali makan di tempat ini?" tanya Ezra.
"Iya," jawab Refisha.
"Semoga kamu menyukai makanannya," ucap Ezra membuat Refisha menganggukkan kepala.
Tidak lama akhirnya makanan pasangan suami istri itu tiba juga dan sekalian juga dengan minuman orange yang dipesan belakangan oleh Ezra.
"Terima kasih. Mbak," sahut Refisha.
Baru saja Refisha ingin memulai makan dan tiba-tiba Ezra sudah mengambil piringnya Refisha tanpa kebingungan dan ternyata yang dilakukan laki-laki itu adalah mengambil jagung yang terdapat pada salad makanan tersebut dan Ezra juga terlihat memotongkan daging steak itu, jadi istrinya bisa makan dengan tenang.
"Padahal saya juga bisa melakukannya," ucap Refisha.
"Selagi saya juga masih bisa melakukannya dan maka saya melakukannya," ucap Ezra.
"Terima kasih," sahut Refisha tersenyum saat suaminya itu sepertinya berusaha membangun chemistry diantara mereka berdua.
Refisha dan Ezra sudah mulai menikmati makanan tersebut.
"Refisha kamu tidak risih bukan dengan sikap saya seperti ini kepada kamu?" tanya Ezra.
"Kita sudah menikah dan saya menghargai semua yang kamu lakukan kepada saya adalah bentuk kamu ingin menyesuaikan diri dengan saya, jika kamu melakukannya sebelum menikah dengan saya dan mungkin saja saya akan risih," sahut Refisha.
"Tetapi kamu jangan menganggap bahwa saya melakukan ini hanya karena ingin cari-cari perhatian dengan kamu, saya hanya berusaha untuk membangun kenyamanan di antara kita berdua," ucap Ezra.
"Saya tahu itu," sahut Refisha.
Dratt-dratt-dratt
Di tengah perbincangan itu tiba-tiba saja ponsel Ezra berdering membuat Ezra melihat panggilan telepon tersebut ternyata dari Yogi sahabatnya.
Ezra kemudian langsung mengangkat telepon itu.
"Iya, kenapa?" tanyanya.
"Ya, pasti, diusahakan tidak akan terlambat," ucap Ezra kemudian mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Refisha nanti setelah kita selesai makan saya akan mengantar kamu pulang, tadi teman saya Yogi menghubungi saya kalau kami ada pertandingan futsal hari ini, jadi saya langsung ke lapangan," ucap Ezra.
"Futsal?" tanyanya memastikan Ezra menganggukkan kepala.
"Benar, jamu memang tidak melihat CV yang saya kirim kepada kamu kalau salah satu hobi sangat suka sekali olahraga termasuk futsal dan juga saya juga suka balapan," ucap Ezra menjelaskan pada sang istri.
"Iya, saya sempat melihatnya," jawab Refisha.
"Jad, kamu tidak keberatan bukan kalau saya nanti malam bermain futsal?" tanya Ezra.
"Tidak! itu bagian dari olahraga kamu, jadi kenapa harus keberatan," sahut Refisha.
"Atau kamu mau ikut tidak?" tanya Ezra.
"Ikut?" tanya Refisha .
"Ya, di sana juga banyak kok teman-temanku yang di support oleh pasangan mereka, jadi kamu juga bisa saling berkenalan dengan pasangan mereka," ucap Ezra ingin mengajak istrinya masuk ke dalam dunianya.
"Memang kamu akan nyaman jika saya berada di sana?" tanya Refisha.
"Kita sudah menikah, saya pasti sangat senang jika hobi saya di support oleh istri sendiri," ucap Ezra.
"Baiklah kalau begitu," sahut Refisha.
"Jadi kamu akan ikut?" tanya Ezra memastikan sekali lagi membuat Refisha menganggukkan kepala jika suaminya memberi peluang kepadanya untuk berbaur kenapa tidak.
"Kalau begitu sebaiknya kita lanjutkan makannya," ucap Ezra.
Refisha menganggukkan kepala dan terlihat pasangan suami istri itu mulai menikmati makanan mereka sembari banyak obrolan yang mereka bicarakan satu sama lain dan mereka berdua juga ingin lebih saling mengenal dekat.
Ezra memang sengaja membawa Refisha jalan-jalan agar pernikahan mereka tidak terlalu canggung dan apalagi pembawaan Refisha yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan dirinya terkesan hidup lebih santai dan sementara Refisha merupakan gadis yang serius.
Refisha juga merupakan tipe wanita yang membuka hati.
Bersambung......