Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
_____🌺
"Nggak, Ma. Kita nggak tinggal di kampung. Tadi Nisa udah browsing tempat kontrakan murah. Kita berdua mau ngontrak di petakan kecil di gang senggol belakang pasar burung kompleks sebelah ...."
"Yang sebulannya cuma enam ratus ribu, Ma. Kamar mandinya di luar gabung sama jemuran tetangga." bohong Dimas dengan sangat lancar dan dramatis.
"PETAKAN?! GANG SENGGOL?!" jerit ibu mertuanya histeris, nyaris melompat dari atas sofanya. Tangannya memegangi dadanya sendiri seakan baru saja terkena serangan jantung ringan.
"Kamu gila, Dimas?! Anak keturunan Bratadikara tinggal di kontrakan petakan kumuh?! Apa kata geng arisannya Bu Tejo sama Bu RW nanti kalau mereka sampai tahu?! Bisa habis harga diri Mama diketawain tujuh turunan! Nanti dikira Mama bangkrut nggak bisa ngasih makan anak kandung sendiri!"
"Ya makanya, Ma. Dimas juga nggak mau hidup miskin di kontrakan petakan. Tapi Dimas lebih nggak mau lagi kehilangan istri Dimas. Tadi pagi omongan Mama beneran jahat banget. Nisa nangis dari siang sampai matanya bengkak. Dia ngerasa nggak dihargain sama sekali di rumah ini."
Bu Ratna menggigit bibir bawahnya gelisah. Ia mulai mondar-mandir di depan TV dengan napas terengah-engah. Gengsinya sedang berperang hebat dengan rasa ketakutannya membayangkan omongan julid tetangga soal kontrakan petakan.
"Terus... terus Mama harus gimana sekarang biar kamu nggak jadi pindah ke gang senggol itu? Mama beliin perhiasan emas baru buat Nisa? Atau Mama pesenin paket skincare impor dari Korea yang mahal itu besok pagi? Biar hatinya luluh lagi?" tawar sang wanita paruh baya mencoba menyuap dengan harta.
"Nisa nggak butuh emas atau skincare, Ma. Nisa cuma butuh satu hal dari Mama sekarang juga."
"Apa?!"
"Mama minta maaf langsung ke Nisa. Malam ini juga. Tarik semua ucapan Mama tadi pagi soal manekin sama barang rongsokan itu," tuntut Dimas tegas.
Wanita sosialita itu langsung menghentikan langkahnya.
"Minta maaf?! Mama harus nunduk minta maaf duluan sama menantu Mama sendiri?! Jatuh dong harga diri Mama sebagai penguasa rumah ini! Masa mertua minta maaf ke menantu? Nggak ada di kamus sejarah keluarga kita!"
"Ya udah kalau Mama gengsi. Dimas mau masuk kamar dulu, bantuin Nisa masukin selimut ke koper. Sekalian Dimas mau chat Kang Maman, nanyain besok pagi ada tetangga yang bisa minjemin mobil losbak nggak buat angkut-angkut barang kita ke pasar burung." Dimas langsung memutar badannya pura-pura melangkah pergi.
"Eh! Tunggu! Tunggu dulu, Dimas! Astaga naga, iya, iya! Jangan chat Kang Maman! Mulut tukang sayur itu ember bocor banget, bisa nyebar langsung gosipnya subuh-subuh!" cegah ibu mertuanya dengan panik luar biasa, menarik kerah belakang kaus anaknya.
"Terus? Mama mau minta maaf ke Nisa sekarang?"
Bu Ratna membuang napas kasar melalui hidungnya, matanya terpejam kesal. "Iya! Bawain Mama teh anget dulu sana satu gelas ke kamar! Biar tenggorokan Mama nggak serak pas nurunin gengsi!"
_____🌺
Depan Kamar Utama, Pukul 21.00 Malam.
Dimas mengetuk pintu kamarnya sendiri dari luar, sementara di belakangnya, sang ibu berdiri dengan wajah ditekuk masam dan tangan bersedekap di dada.
Klek ...
Pintu terbuka perlahan, menampilkan wajah Nisa yang masih sembab. Nisa sedikit terkejut melihat formasi lengkap ibu dan anak di depan kamarnya malam-malam begini.
"Ada apa, Mas?" tanya Nisa datar, tanpa menatap mata ibu mertuanya sama sekali.
"Ehem ... ini ... Mama ada yang mau disampein sedikit ke kamu, Nis." Dimas menyenggol siku ibunya pelan.
Bu Ratna berdehem keras, membersihkan tenggorokannya dengan gaya berlebihan. Ia melirik Nisa dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Nis. Ehem. Tadi pagi itu ... ya ... Mama kan lagi PMS. Maklum lah, hormon orang tua kan suka nggak stabil. Terus si Mirna itu juga mancing-mancing duluan. Jadi ... omongan Mama yang tadi pagi itu ... ya ... anggap aja Mama lagi ngelindur belum sadar seratus persen pas sarapan."
Nisa menaikkan sebelah alisnya. "Ngelindur gimana, Ma? Jelas-jelas Mama bilang Nisa barang rongsokan yang masa garansinya habis."
"Aduh, kamu ini daya ingatnya kuat banget sih buat hal-hal nyakitin hati! Iya, iya! Mama ralat! Kamu bukan barang rongsokan! Kamu itu ... kulkas dua pintu edisi terbatas yang sparepart-nya susah dicari! Puas kamu sekarang?!" sembur sang ibu mertua dengan cara meminta maaf yang masih saja terdengar ajaib dan menjengkelkan.
Dimas langsung menepuk jidatnya. "Ma! Kok malah dikatain kulkas dua pintu sih istrinya Dimas?!"
"Ya kan kulkas dua pintu mahal, Dim! Harganya puluhan juta! Intinya Mama minta maaf! Udah ah! Mama mau tidur, ngantuk! Awas aja kalau besok pagi kalian beneran pindah ke petakan pasar burung, Mama coret nama kamu dari kartu keluarga, Dim!" ancam wanita tua itu sebelum akhirnya berbalik setengah berlari menuju kamarnya sendiri dengan langkah menghentak-hentak karena malu luar biasa.
Nisa menatap kepergian ibu suaminya itu dengan mulut sedikit terbuka. Ia lalu menoleh ke arah Dimas yang sedang tersenyum cengengesan merasa bersalah.
"Kulkas dua pintu edisi terbatas, Mas? Serius?" tanya Nisa tak percaya.
"Lumayan lah, Nis. Daripada rongsokan, kan? Upgrade kasta dikit. Setidaknya Mama udah nurunin gengsinya malam ini," kekeh Dimas sambil memeluk pundak istrinya dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.
Nisa hanya bisa mendengus pelan, namun ujung bibirnya diam-diam sedikit tertarik ke atas.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh