Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Sahabat
"Jadi kamu udah tahu dari awal, Tapi kenapa kamu gak pernah cerita ke aku Nin?" Jujur ada rasa kecewa dihati Marwa pada sahabatnya itu. Kalau memang Nina tahu sejak awal tentang hubungan Tania dan Raski, Kenapa gadis itu hanya diam saja. Kenapa Nina tidak bicara padanya..
"Wa..." Nina genggam tangan Marwa semakin erat seolah memberikan kehangatan pada gadis itu.
"Aku minta maaf soal ini, Aku tahu kamu mungkin sekarang kecewa sama aku.. Kalau kamu emang mau marah, Marah aja gapapa.. Aku siap kok.." Nina menghela nafas panjang.
"Tapi asal kamu tahu aja, Aku ngelakuin semua itu. Gak bilang dan gak jujur ke kamu itu karena aku punya alasan tersendiri Wa.. Hari itu aku juga terkejut dan kaget banget kalau kakak sepupu kamu dan Tunangan kamu ternyata punya hubungan yang spesial dibelakang kamu.. Aku udah siap mau kasih bukti.. Tapi saat itu ponsel aku mati.. Aku takut mau ngomong takut kamu gak percaya. Ya, Karena memang aku gak punya bukti sama sekali.. Mungkin kalau kamu percaya dengan apa yang aku omongin. Andai kalau enggak gimana? Mereka berdua itu adalah dua orang yang kamu percaya, Dua orang yang kamu sayang.. Gak mungkin aku tiba-tiba jujur dan bilang kalau mereka punya hubungan.. Yang ada kamu pasti nyangka kalau semua itu hanya perasaan aku aja.. Kami sendiri yang bilang kan? Kalau mereka udah lama temenan. Mana berani aku jujur yang sebenarnya? Apalagi saat itu kamu sedang jatuh cinta banget sama Raski.. Kata Mama, Jangan menasihati orang yang sedang jatuh cinta.. Karena mau seperti apa kebenaran yang kita ungkapkan tanpa adanya bukti yang valid mereka gak akan percaya.." Marwa terdiam dengan kepala menunduk.
Semua yang dikatakan oleh Nina adalah benar. Dia sangat percaya pada Raski dan Tania. Kalau Nina berkata keduanya punya hubungan, belum tentu Marwa percaya begitu saja bukan?
Seseorang jika sudah menaruh kepercayaan terhadap orang lain, Akan sulit percaya andai ada orang yang berkata tanpa adanya bukti nyata. Apalagi ucapan itu sebuah ucapan yang tak berdasar sama sekali.
"Maafin aku Nin.. Yang kamu bilang emang bener.. Andai saat itu kamu mengatakan semua yang kamu katakan tanpa adanya bukti, Belum tentu aku percaya.. Karena aku memang sepercaya itu ke mereka.." Marwa sadar dan sangat sadar. Kedekatan Marwa dan Tania sudah sejak kecil. Sementara dengan Nina, Keduanya baru kenal sejak SMP.
"Dan sekarang apa keputusan mu?" Tanya Nina dengan hati-hati. Nina tidak mau menjadi penghalang atas apa keputusan Marwa. Apapun rencananya Nina akan dukung.
"Aku belum tahu Nin.. Aku berniat akan pergi dari kota ini, mau pergi tapi gak tahu harus kemana.." Niatnya untuk pergi sudah bersarang diotaknya. Hanya saja, Marwa masih bingung kemana ia akan pergi.
Dikota ini dia hanya seorang yatim piatu. Marwa hanya seorang diri tanpa ada dukungan keluarga meskipun dia punya. Hanya Nina lah orang terakhir yang dia percaya sekarang.
"Kamu ada uang?" Marwa mengangguk.
"A.. Ada kok.. Tapi gak banyak.. Kamu tahu sendiri kan kalau selama ini aku nabung buat biaya penyembuhan kakiku.. " Nina menghela nafas panjang. Dia sudah tahu sejak awal niat Marwa memang ingin kakinya sembuh dan kembali normal seperti dulu. Dan sekarang gadis itu harus berjuang seorang diri.
Apa dia minta bantuan kakaknya saja ya, Mumpung pria itu ada disini. Dia sungguh merasa kasihan terhadap sahabatnya ini. Di usianya yang masih muda ini dia harus dewasa sebelum waktunya.
"Kalau kamu bingung, Gimana kalau kamu ikut aku aja?" Dua gadis itu menoleh, Haidar muncul lalu mendekat sambil memegang cangkir yang berisikan kopi susu hangat.
"Ikut kak Haidar?
"Iya.. Kita pergi ke ibu kota, Kamu bisa cari kerja disana gimana? Atau ikut kerja diperusahaan aku kerja gimana?" Marwa menatap Nina yang mengangguk mantap.
"Wa.. Kayaknya itu ide bagus deh.. Apalagi tempat kerja kakak gajinya gede..
"Tapi.. Nin..
"Masalah biaya, Kamu tenang saja.. Biar aku yang atur.. " Marwa menatap Nina sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk. Tawaran ini tidak akan membuat Marwa mundur.
Marwa sudah niat kalau ia akan pergi lalu bekerja. Marwa akan kembali dan merebut semuanya kembali nanti.
Bukan dendam, Namun Marwa hanya ingin mereka tahu kalau Marwa bisa menjadi orang yang lebih dari mereka tanpa adanya mereka.
...****************...
Marwa pergi tidak membawa banyak pakaian. Ponselnya pun ia tinggalkan diatas meja kamarnya karena ponsel baru itu adalah pemberian dari Raski.
Semua yang bersangkutan dengan dua orang itu Marwa tinggalkan. Termasuk pakaian yang dibelikan oleh Tania semua Marwa singgahkan.
Marwa hanya membawa beberapa pakaian yang ia beli dengan uangnya sendiri. Adapula pakaian hadiah dari Nina.
Setelah diajak untuk makan malam, Marwa masuk kedalam kamar Nina lebih dulu. Rupanya gadis itu telah tidur lebih dulu mungkin karena merasa lelah.
Sedangkan untuk Nina sendiri, Gadis tersebut berbincang dengan kakaknya di taman belakang.
"Jadi tunangan dan Kakak sepupunya ada hubungan?" Nina mengangguk. Haidar diam, Pria itu sebenarnya sudah tahu tapi didepan adiknya pura-pura gak tahu ajalah. Dia kan mata-mata Tuan Rayyan.
"Iya.. Aku udah curiga dari lama kak.. Tapi aku gak punya bukti yang kuat buat nunjukin ke Wawa.. Dan akhirnya, Sekarang rahasia itu kebongkar juga kan? Wawa tahu sendiri tanpa tahu dari orang lain..
"Bagus deh kalau gitu..
"Nah makanya.. Pengen deh, Aku hajat tuh si Tania.. Sok cantik banget.."
Ting...
" Bentar.." Haidar meraih ponselnya, Pria itu melihat sebuah pesan yang masuk.
"Besok bawa dia ke apartemen...
Haidar tersenyum tipis, Lalu membalas pesan itu.
"Okey Bos...
"Kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan kan tadi?
"Sudah Bos.. Satu Cokelat untuk dia yang sedang galau.. Sudan aku berikan.." Tulis Haidar membalas pesan dari Bos nya itu.
"Bagus..
"Tapi harga cokelat nya cukup mahal, Boleh saya minta ganti rugi?" Tulis Haidar lagi. Tak ada balasan dari Rayyan. Hingga..
Ting..
Sebuah notifikasi masuk. Haidar tersenyum senang karena uang coklatnya untuk Marwa Pria itu ganti tiga kali lipat.
"Orang kalo lagi jatuh cinta royal ya.." Gumamnya..
"Siapa Kak? Gebetannya ya?" Haidar menarik hidung adiknya itu.
"Kepo..
"Iiih.. Nyebelin tahu gak?.
Haidar tertawa lalu pergi masuk..
" Dasar kakak nyebelin...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Malam ini Raski benar-benar ikut pulang kerumah bersama orangtuanya. Muna melihat sang putra yang sejak tadi dia saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Raski..
"Ya, Ma..
"Kamu kenapa pulang? Kenapa gak nginep aja dirumah sakit?" Raski melihat Mamanya di kaca spion depan.
"Ngapain sih Ma.. Orang Tania juga udah gapapa.. Mungkin besok dia juga udah pulang kok. Dia cuma luka biasa aja gak parah.. Orang tuanya juga ada disana.." Jawab Raskj dengan nada sedikit kesal pada Mamanya karena sejak tadi Mamanya itu terus membahas Tania dan Marwa.
"Ya kan Tania itu udah jadi calon menantu Mama. Untuk aja kamu cepet batalin pertunangan kamu sama.. Sama anak itu..
"Ma! Udah.. Dibilang yang putusin itu Marwa kok bukan Raski.." Kata Papa Raski. Pria itu juga malas lama-lama berada didalam mobil ini. Ingin rasanya cepat sampai di rumah.
"Mama kan cuma ngomong apa isi hati Mama kan? Gitu aja pada sensi semua.." Ucap Muna ikut kesal karena tidak ada yang memihaknya..
"Menyebalkan...
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,