Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiki Kritis
Pria itu langsung berjongkok, segera memeriksa denyut nadi Kiki. Gadis kecil itu bukan siapa siapanya, tapi tidak tahu kenapa melihat kondisi Kiki hatinya ikut hancur. Ada perasaan takut dalam hatinya, seperti takut kehilangan.
Mendapati kondisi Kiki masih bisa diselamatkan, Anggara langsung mengangkat tubuh mungil itu, ingin membawanya segera ke rumah sakit. Dengan harapan masih bisa diselamatkan.
"Saya akan segera membawanya ke rumah sakit," tutur Anggara, pada orang-orang yang berkerumunan.
"Iya, silakan cepat mas, sebelum terjadi apa-apa padanya,"
Anggara mengangguk, ingin berjalan membawa Kiki ke mobilnya.
Naura yang masih berusaha keras mencari keberadaan putrinya, tiba tiba mengerem sepeda motornya saat melihat keramaian sekitar jauh 20 meter dari tempatnya.
Bahkan kemacetan terjadi di sana, kebetulan ada bapak-bapak di sampingnya yang juga menunggang motor.
"Pak, itu di depan ada apa ya?" tanya Naura, dimana hatinya mulai tidak tenang.
"Oh, itu tidak tahu juga Mbak, tapi kayaknya ada anak-anak tertabrak deh di depan. Tadi ada yang lewat katanya ada anak kecil berlumuran darah," jelas bapak-bapak itu yang juga hanya mendengar desas-desus dari orang-orang didepan.
"Apa? Anak kecil ?" kaget Naura, langsung menyelinap masuk segera untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.
Dalam hati, dia berdoa semoga saja itu bukan Kiki putrinya. Naura mematikan sepeda motornya dan turun mendorong orang yang berdesakan, saat melihat anak yang tertabrak di hadapannya, jantungnya terasa berhenti.
Dia bisa melihat jelas putrinya yang berada di dalam gendongan Anggara.
"Kiki!!!" wanita itu berteriak histeris, lari menghampiri putrinya dan langsung memegangi tubuh lemah itu.
"Dia masih hidup Naura," Anggara berusaha memenangkan Naura. Siapa pun yang berada di posisinya saat ini, pasti sangat terpukul.
"Kiki! Bangun, Nak!" menepuk-nepuk pipi putrinya, tak lupa Naura juga memeriksa denyut nadi putrinya.
"Dia masih bisa diselamatkan! Ayo segera bawa dia ke rumah sakit!" Kakinya yang hendak pergi, rasanya sangat berat untuk diangkat. Akan tetapi, dia harus kuat.
"Ayo!" Anggara segera membawa kiki ke mobilnya diikuti oleh Naura. Tak peduli dengan sepeda motornya, Naura ikut bersama Anggara.
Sepanjangan perjalanan, Naura terus menangis dan memberi penanganan pada putrinya agar bisa bertahan sampai ke rumah sakit.
"Tolong, Pak Anggara! Lebih cepat!"
"Baik!" Pria itu langsung melaju lebih kencang.
Ya Allah, berikan putriku kekuatan... doanya dalam hati dengan tangannya bergetar memangku putrinya.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak memiliki alat-alat medis. Naura terus menyalahkan dirinya karena keterlambatannya sehingga putrinya mengalami kecelakaan yang tidak disangka-sangka.
Naura kembali memeriksa denyut nadi putrinya, ternyata mulai melemah, Naura semakin ketakutan, "Sayang, bertahanlah, t Mama mohon, jangan tinggalkan Mama... bertahanlah.." Naura terus merintih membisik doa-doa di telinga putrinya.
Anggara yang melihat pemandangan itu dari kaca spion sangat kasihan. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa apa.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Anggara segera keluar dari mobil, mengambil alih kembali menggendong tubuh Kiki.
Naura juga ikut turun, "Dokter, suster, tolong anak saya, tolong!" Naura histeris, memanggil tim medis.
Melihat kepanikan seorang ibu, para tenaga medis di rumah sakit pun bergegas untuk menolong mereka. Kiki langsung dibawa ke ruangan UGD. Tanpa sadar, Naura ingin menerobos masuk, akan tetapi langsung dihentikan oleh dokter yang akan menangani putrinya.
"Maaf Bu, tapi tolong ibu tunggu di luar. Kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan putri ibu," tutur dokter itu, meminta pengertian Naura.
Naura tersadar dan langsung mengangguk, "Tolong Dokter, tolong selamatkan putri saya apapun caranya tolong selamatkan dia,"
"Iya Bu," dokter langsung masuk ke dalam untuk menangani Kiki.
Naura berdiri menangis di depan pintu UGD "Semua salahku, aku yang terlambat menjemput putriku.." lirihnya, dengan tubuh bergetar hebat.
Anggara menghampirinya, "Semua pasti akan baik-baik saja, tenangkan dirimu," tutur pria itu berusaha untuk menenangkannya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Putriku sedang bertaruh nyawa di dalam sana karena kelalaianku!!" Naura terus menangis.
Anggara mengangkat tangannya ingin menyentuh wanita itu, sadar tindakannya salah, dia kembali menarik tangannya.
"Naura, Kiki mana?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang datang, ternyata dia adalah Bayu.
Naura mengangkat pandangannya, begitupun dengan Anggara yang menoleh ke arah Bayu.
"Kiki ada di dalam..."
"Naura, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Aku juga nggak tau, semua terjadi begitu cepat...aku...." tak bisa melanjutkan ucapannya, hanya bisa terus menangis.
"Baiklah, tenangkan dirimu dulu,"
Anggara dan bayu sama-sama saling pandang, namun tidak ada yang mengeluarkan suara.
Anggara yang sudah mencari tahu tentang latar belakang Naura, tentu saja dia tahu kalau Bayu itu adalah sosok laki-laki yang sudah membesarkan Kiki selama ini.
Setelah beberapa menit berlalu, dokter di dalam tiba-tiba keluar dengan raut wajah panik.
Melihat itu, Naura berjalan mendekat, begitu pun Anggara dan Bayu.
"Bagaimana dengan putri saya Dokter?" Serentak Naura dan Bayu bertanya pada dokter.
"Kalian Ayah dan Ibu pasien?" tanya Dokter.
Naura kembali mengangguk "Iya, saya ibunya,"
"Saya juga ayahnya," jawab Bayu, sehingga dokter mengira kalau mereka berdua sepasang suami istri.
Sementara Anggara hanya diam, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh dokter.
"Rumah sakit kehabisan golongan darah AB negatif. Kalau kalian berdua orang tuanya, pasti di antara kalian ada yang bisa mendonorkan darah," tutur Dokter.
Naura dan Bayu saling melempar pandang.
"Soalnya saya, golongan darah O," ucap Bayu.
"Golongan darah O?" Dokter mengerutkan dahinya.
"Tadi Anda bilang, Anda ayahnya. Kalau Anda golongan darah O, berarti Anda bukan ayah kandungnya karena anak ini golongan darah AB negatif. Kalau pun ibunya yang bergolongan darah AB jika digabungkan dengan darah O anak hanya bisa mendapatkan golongan darah A atau B tapi anak ini golongan darah AB negatif, dan jelas itu mustahil!" Jelas Dokter, tak mengerti dengan mereka berdua.
"Saya golongan darah A, apa saya bisa?" tanya Naura.
Dokter dibuat semakin bingung dengan silsilah golongan darah mereka yang membuatnya tidak mengerti, Bagaimana bisa anak mereka memiliki golongan darah AB? Sementara kedua orang tuanya O dan A.
"Sebenarnya Anda bisa, tapi mesti mau diuji coba dulu. Dan juga kondisi Anda sepertinya tidak memungkinkan," Dokter tentu saja khawatir melihat kondisi Naura jika ingin mendonorkan darah. Dia tampak sangat lemah.
"Kalau begitu, saya saja. Saya golongan darah AB negatif," tiba-tiba Anggara yang sejak tadi diam, langsung menawarkan diri, saat mendengar pembahasan mereka tentang darah yang dibutuhkan oleh tubuh lemah kritis Kiki.
Dokter, Naura, dan Bayu segera menoleh ke arah Anggara.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls