NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Dibuka di Bawah Gerimis

Suasana hangat di area VIP The Glasshouse perlahan-lahan mencairkan kebekuan dan rasa rendah diri yang semula mencekik Arini. Genggaman tangan Rian yang lembut namun mantap baru saja terlepas, tetapi bekas kehangatannya seolah masih tertinggal, membakar permukaan kulit tangannya dan mengalirkan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Siska dan teman-temannya, yang tadi memandang Arini dengan sorot mata meremehkan, kini mendadak terdiam kaku. Ada kekecewaan dan keheranan yang terpancar jelas di wajah Siska saat melihat bagaimana Rian—pria paling sukses dan paling diincar di ruangan itu—sama sekali mengabaikan keberadaan mereka dan mendedikasikan seluruh perhatiannya hanya untuk Arini.

"Arini, rasanya tidak adil kalau kita bicara sambil berdiri seperti ini," tutur Rian dengan nada suara yang halus dan penuh keramahan. Pria itu menarik salah satu kursi berbusa empuk di meja utama, lalu memberi isyarat anggun dengan tangannya. "Silakan duduk. Biar aku yang memesankan minuman yang lebih pantas untuk wanita secantik kamu."

Arini tersenyum tipis, mencoba menguasai dirinya yang gemetar. Ia melangkah anggun dan duduk di kursi yang ditarikkan Rian. Siska dan dua kawan lainnya terpaksa menyusul duduk di seberang meja, dengan wajah kusam menahan kekesalan.

Rian memanggil waiter dengan jentikan jari yang santai. Tanpa perlu melihat buku menu, ia menyebutkan pesanan. "Tolong bawakan satu cangkir Chamomile tea dengan madu murni untuk wanita ini, dan satu cangkir Espresso Single Origin untuk saya. Pastikan tehnya disajikan dalam suhu yang pas."

"Baik, Pak Rian," jawab waiter itu dengan sikap sangat hormat sebelum membungkuk pelan dan berlalu pergi.

Mata Arini sedikit membelalak. Pria ini tidak hanya memesan minuman mahal tanpa melihat harga, tetapi juga memperhatikan detail kecil dengan kepercayaan diri yang begitu alami. Kontras yang luar biasa jika dibandingkan dengan Dimas, yang selalu tampak ragu-ragu dan penuh perhitungan bahkan hanya untuk memesan segelas es teh di warung makan biasa.

"Jadi, Arini..." Rian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Arini dengan binar mata yang hangat dan tajam. "Bagaimana kabarmu selama ini? Sejak lulus kuliah, rasanya kamu seperti menghilang ditelan bumi. Padahal dulu, banyak sekali kawan-kawan yang menanyakan ke mana perginya sang primadona."

Pertanyaan itu terasa seperti jarum halus yang menusuk harga diri Arini. Wajahnya agak menegang sejenak sebelum ia memaksakan senyum melengkung di bibirnya.

"Aku... aku baik-baik saja, Rian," jawab Arini pelan. "Hanya sibuk mengurus rumah tangga."

"Rumah tangga?" Rian menaikkan satu alisnya, berpura-pura terkejut walau sebenarnya ia sudah tahu persis status Arini. "Ah, ya. Aku mendengar kabar kalau kamu sudah menikah dengan Dimas. Benar, kan?"

Arini mengangguk kaku. "Iya, benar."

Rian menghela napas pendek, menampilkan raut wajah prihatin yang terukur dengan sangat sempurna. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer, tepat di dekat jemari Arini.

"Jujur saja, Arini... waktu pertama kali mendengar kamu menikah dengan Dimas, aku cukup terkejut," bisik Rian dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Arini, sementara Siska dan teman-temannya sibuk mengambil foto makanan di ujung meja lain. "Dimas itu pria yang baik, rajin, dan polos. Tapi... maaf kalau aku lancang, Arini. Seorang wanita dengan keanggunan, kecerdasan, dan kecantikan sepertimu... rasanya terlalu berharga untuk sekadar hidup biasa-biasa saja."

Kata-kata itu mendarat tepat di pusat luka batin Arini. Dinding pertahanan diri yang sejak pagi ia bangun runtuh seketika. Air mata hampir saja menetes di sudut matanya, tetapi dengan cepat ia menahannya.

"Setiap orang punya takdirnya masing-masing, Rian," bisik Arini lirih, mencoba membela sisa-sisa keputusannya di masa lalu.

"Takdir itu kita yang menentukan, Arini. Bukan pasrah menerima keadaan," potong Rian cepat. Tatapannya semakin mengunci manik mata Arini. "Wanita sepertimu ditakdirkan untuk bersinar di tempat yang tepat, dipeluk oleh kenyamanan, disayang dan dimanjakan dengan segala kemewahan yang ada di dunia ini. Bukan menghabiskan masa muda dengan mengurut dada menahan sesak."

Waiter datang membawa pesanan mereka. Cangkir keramik porselen putih berisi teh aroma herbal diletakkan di hadapan Arini. Uap aromatiknya yang menenangkan bertolak belakang dengan gejolak hebat yang sedang melanda dada Arini.

"Minumlah dulu," ujar Rian lembut, menyodorkan cangkir itu lebih dekat ke jemari Arini. "Jangan biarkan pikiran berat mengganggu malam indahmu."

Arini menyesap teh hangat itu perlahan. Rasa manis madu dan aroma bunga chamomile membelai tenggorokannya, tetapi pikirannya terbang jauh. Kalimat Rian terus bergema di kepalanya: “Seorang wanita dengan kecantikan sepertimu terlalu berharga untuk sekadar hidup biasa-biasa saja.” Kalimat itu seperti racun berbalut gula yang meresap sempurna ke dalam jiwanya yang dahaga akan pujian.

Hingga acara reuni itu berakhir dua jam kemudian, Rian tidak pernah berhenti memperhatikan Arini. Ia menceritakan proyek-proyek bisnisnya—bisnis properti, investasi saham, dan rencana ekspansi usahanya ke luar negeri—dengan gaya bahasa yang santai namun penuh percaya diri. Arini mendengarkannya bagaikan seorang anak kecil yang mendengarkan dongeng tentang istana megah.

Saat para tamu mulai membubarkan diri dan melangkah menuju area parkir basement, Rian berjalan bersisian dengan Arini, meninggalkan Siska dan teman-temannya yang memandang dari jauh dengan rasa dengki.

"Kamu pulang naik apa, Arini?" tanya Rian saat mereka tiba di depan pintu keluar kafe.

Wajah Arini seketika memucat. Ia mengingat bahwa tadi sore ia datang menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki menyusuri gang demi menghemat uang transportasi. Jika Rian tahu ia pulang naik angkot, seluruh topeng anggun yang ia kenakan malam ini akan hancur berantakan.

"Aku... aku mau pesan taksi online," jawab Arini gugup, memegang ponselnya rapat-rapat.

Rian terkekeh pelan. "Taksi? Di cuaca yang mulai gerimis begini? Jangan bercanda, Arini. Biar aku yang antar kamu pulang."

"Tidak perlu, Rian. Aku tidak ingin merepotkanmu," tolak Arini, walau hatinya sangat menginginkan tawaran itu.

"Sama sekali tidak merepotkan. Justru suatu kehormatan buatku," balur Rian tegas tanpa memberikan ruang untuk penolakan.

Pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci mobil bermerek Mercedes-Benz. Saat ia menekan tombolnya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap yang terparkir di area khusus VIP merespons dengan kedipan lampu yang elegan.

Arini menatap mobil itu dengan napas tertahan. Sebuah kendaraan yang harganya tak pernah sanggup ia bayangkan dalam mimpinya sekalipun.

Dengan dada yang berdegup kencang dan perasaan bersalah yang mulai terkikis oleh godaan kemewahan, Arini melangkah mendekati mobil tersebut. Rian membukakan pintu penumpang depan untuknya dengan sangat sopan, lalu tersenyum hangat.

"Silakan masuk, Arini."

Arini melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang berbau kulit mahal dan sejuk. Pintu ditutup dengan suara mantap yang kedap udara, memisahkan dirinya dari dunia luar yang bising—dan secara perlahan, memisahkan hatinya dari kesetiaan seorang suami yang malam itu sedang berjuang memeras keringat di tengah dinginnya air hujan.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!