NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Pembuktian Harga Diri.

Rian bisa merasakan besi dingin di punggungnya bergetar.

Rasa sakit menjalar dari tulang belikat hingga ke pangkal leher, tapi entah kenapa, rasa panas di dadanya jauh lebih membakar.

Di depan matanya, Zegan berdiri seperti monster yang siap meremukkan tulang rusuknya kapan saja. Bau bensin dan keringat yang menguar dari tubuh ketua geng itu terasa begitu mengintimidasi.

"Gue nanya, pecundang," desis Zegan lagi. Suaranya rendah, tipis, tapi menusuk. "Lo punya lidah atau cuma punya air mata?"

Ziva melangkah maju, tangannya sudah siap menarik lengan kakaknya. "Bang, lepasin gue bilang—"

"Diem, Ziva!" potong Zegan tanpa menoleh. Tatapannya tidak lepas dari manik mata Rian. "Kalau dia bahkan gak bisa bela diri sendiri dari gue, dia mati di tangan Marvel besok pagi. Dan gue gak sudi bengkel gue disangkutpautkan sama mayat anak sekolahan."

Rian memejamkan mata sesaat. Rasa pusing menghantam kepalanya. Di sekolah, dia adalah Rian si juara kelas, anak emas para guru yang selalu menyelesaikan masalah dengan otak.

Tapi di sini, di depan ring tinju berkarat ini, semua piala dan nilai sempurnanya tidak lebih dari sampah tak berguna. Dia telanjang di hadapan realitas yang kejam.

Pecundang.

Kata itu bergaung di kepala Rian, memicu memori saat mereka tanding basket di jam olahraga. Rasa sakitnya nyata. Rasa hinanya lebih nyata.

Sesuatu di dalam diri Rian patah, digantikan oleh nekat yang murni.

Rian membuka matanya. Rasa takut itu masih ada, tapi tertutup oleh kilat keras kepala yang tiba-tiba muncul. Dengan sisa tenaga yang dia punya, Rian tidak mencoba melepaskan cengkeraman Zegan. Alih-alih, dia justru mencengkeram pergelangan tangan kekar Zegan yang bertato ular.

"Gue... bukan pecundang," ucap Rian. Suaranya serak, tapi artikulasinya jelas. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Zegan. "Gue gak minta dibawa ke sini. Tapi kalau lo pikir gue bakal nangis dan mohon-mohon... lo salah besar, Bang."

Zegan menaikkan sebelah alisnya. Ada jeda satu detik yang terasa seperti satu jam. Cowok kekar itu tampaknya tidak menduga bahwa anak rumahan dengan seragam kedodoran ini berani membalas tatapannya, apalagi mencengkeram tangannya balik.

Brak!

Zegan mendadak melepaskan cengkeramannya, membuat Rian jatuh merosot ke lantai, terbatuk sambil memegangi lehernya yang memerah.

"Bagus. Berarti lo masih punya nyali, bukan cuma nyawa," kata Zegan datar. Dia berbalik, berjalan menuju meja sudut dan melemparkan sepasang sarung tinju usang yang kulitnya sudah mengelupas ke arah Rian.

Plak!

Sarung tinju itu mendarat tepat di depan lutut Rian.

"Pake," perintah Zegan dingin. "Ziva, ambil mi instan atau apa pun di kulkas. Kompres kakinya pakai es. Dua puluh menit dari sekarang, kalau dia belum berdiri di atas ring, gue sendiri yang bakal seret dia keluar ke tempat sampah."

Ziva mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Dia menatap Rian yang masih berusaha mengatur napas di lantai. Ada kilas rasa bersalah di mata cewek itu, tapi juga ada binar kepuasan yang tertahan. Tanpa banyak bicara, Ziva berjalan ke arah dapur kecil di pojok gudang.

Beberapa montir bertato yang tadi menonton dari kejauhan mulai berbisik-bisik, lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka dengan tawa renyah.

Atmosfer tegang yang mencekik itu mendadak mencair begitu saja. Di dunia seperti ini, rasa hormat tidak diberikan cuma-cuma; itu harus dibeli dengan harga diri.

Ziva kembali membawa sebungkus es batu yang dibalut kain lap bersih. Dia berjongkok di depan Rian, langsung menempelkan kompresan itu ke pergelangan kaki Rian yang bengkak tanpa aba-aba.

"Aw—shh..." Rian meringis, refleks menarik kakinya.

"Diem," ketus Ziva, tapi tangannya memegang pergelangan kaki Rian dengan ritme yang justru sangat hati-hati. "Gue tahu abang gue sinting. Tapi dia gak pernah salah nilai orang. Kalau lo tadi nangis, gue sendiri yang bakal malu karena udah bawa lo ke sini."

Rian menatap Ziva dari jarak dekat. Rambut pendek cewek itu sedikit berantakan karena angin jalanan, dan ada noda oli tipis di pipi kirinya. Di bawah lampu gudang yang temaram, Ziva terlihat... berbeda.

Bukan lagi cewek pembuat masalah yang ditakuti satu sekolah, melainkan seseorang yang punya dunianya sendiri. Dunia yang keras, tapi jujur.

"Kenapa lo bawa gue ke sini, Ziv?" tanya Rian pelan, mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulangnya. "Gue cuma cowok biasa. Hidup gue lurus. Kenapa lo harus repot-intervensi?"

Ziva menghentikan gerakan tangannya sebentar. Dia tidak mendongak, tetap menatap pergelangan kaki Rian yang mulai membiru.

"Karena orang kayak Marvel gak bakal berhenti sampai lo hancur, Rian," jawab Ziva, suaranya melembut tanpa dia sadari. "Gue benci lihat orang yang punya masa depan dihancurin sama bajingan yang ngerasa punya dunia cuma karena duit bapaknya. Di sini, duit gak ada gunanya. Lo cuma punya tangan lo sendiri."

Ziva berdiri, melemparkan kain kompresan ke meja. "Dua puluh menit lo hampir habis. Pake glove-nya."

Rian memandangi sarung tinju usang di depannya. Bau keringat tua dan kulit kering langsung menyengat saat dia memasukkan tangannya ke dalam.

Rasanya berat, kaku, dan asing. Tapi saat dia mengikat talinya dengan bantuan giginya, ada rasa percaya diri aneh yang mulai menjalar.

Tepat menit kedua puluh, Rian berdiri. Kakinya masih cenat-cenut, tapi dia memaksakan diri berjalan tegak menuju ring tinju. Dia memanjat melewati tali pembatas, masuk ke dalam area kotak berdebu itu.

Zegan sudah menunggu di tengah ring. Dia tidak memakai sarung tinju, hanya membalut tangannya dengan handwrap putih yang sudah agak dekil.

"Gue gak bakal ngajarin lo bela diri yang ada di TV," kata Zegan, memasang kuda-kuda rendah. "Gue cuma bakal ngajarin lo cara bertahan hidup. Aturannya satu: jangan tutup mata lo saat pukulan datang."

"Oke," Rian memasang posisi, meniru insting dasarnya.

"Satu hal lagi," Zegan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajah dinginnya. "Sakit itu cuma sugesti. Tapi pingsan itu nyata. Bersiaplah."

Tanpa peringatan, Zegan maju.

Sebuah pukulan jab ringan tapi cepat mengarah tepat ke wajah Rian.

Rian refleks menghindar ke kanan, tapi Zegan sudah mengantisipasinya dengan tendangan rendah yang menyapu kaki sehat Rian.

Bruk!

Rian jatuh berdebam ke matras. Debu mengepul di sekitarnya.

"Bangun!" teriak Zegan. "Marvel gak bakal nunggu lo berdiri!"

Rian menggertakkan gigi. Kemeja sekolahnya kini sudah kotor penuh noda abu-abu. Dia bertumpu pada kedua tangannya, mendorong tubuhnya ke atas dengan napas memburu.

Pergelangan kakinya menjerit protes, tapi ego Rian sudah terlanjur tersulut. Dia tegak kembali, menaikkan kedua tangannya di depan wajah.

"Lagi," tantang Rian.

Zegan tersenyum sinis. Selama tiga puluh menit berikutnya, ring tinju itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang anak teladan dihajar habis-habis secara fisik.

Rian jatuh berkali-kali. Pipinya memar, sudut bibirnya sedikit pecah, dan napasnya sudah seperti memompa udara kosong.

Tapi setiap kali Zegan menyuruhnya menyerah, Rian selalu bangkit.

Di jatuhnya yang kesepuluh, dia bahkan berhasil melayangkan satu pukulan mentah yang menyerempet dagu Zegan—membuat ketua Black Python itu terkejut hingga terundur satu langkah.

"Cukup," kata Zegan akhirnya, menahan dada Rian dengan telapak tangannya saat Rian hendak maju lagi dengan sisa tenaga terakhirnya.

Rian ambruk berlutut, kedua tangannya bertumpu pada lututnya sendiri, terengah-engah hebat sampai keringatnya menetes berceceran di matras.

Zegan menepuk bahu Rian agak keras, hampir membuat cowok itu tersungkur lagi. "Lo lolos ujian pertama. Besok jam lima sore, balik ke sini. Telat semenit, lo gue jadiin samsak idup."

Zegan berbalik dan melompat turun dari ring, meninggalkan Rian yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Di bawah ring, para anggota geng motor yang tadinya meremehkan kini mengangguk hormat saat Rian melirik mereka. Di dunia mereka, ketahanan fisik dan mental adalah mata uang tertinggi. Rian baru saja membayar lunas tiket masuknya.

Rian mencoba turun dari ring dengan tubuh gemetar. Langkahnya sangat tidak stabil, pandangannya agak kabur karena kelelahan yang ekstrem. Saat dia hampir kehilangan keseimbangan di anak tangga terakhir, sebuah tangan dengan jaket jins menangkap lengannya dengan sigap.

Ziva.

Cewek itu menahan bobot tubuh Rian, membiarkan cowok itu bersandar padanya tanpa protes. Ziva menatap wajah Rian yang kini dipenuhi memar biru dan merah di sudut bibir.

"Lo gila ya? Harusnya lo bilang stop waktu abang gue mulai serius," omel Ziva, meskipun nadanya tidak benar-benar marah. Dia menuntun Rian menuju motor sportnya yang terparkir di luar. malam sudah sepenuhnya turun, mengganti langit sore dengan kegelapan kota yang diterangi lampu merkuri.

Rian terkekeh pelan, rasa sakit di bibirnya membuat ringisannya terlihat aneh. "Kalau gue stop... lo gak bakal anter gue pulang, kan?"

Ziva tertegun. Dia menghentikan langkahnya tepat di samping motor, menatap Rian yang kini tersenyum tipis di antara memar-memar di wajahnya. Ada sesuatu yang bergetar di dada Ziva. Cowok di depannya ini rapuh, sangat rapuh jika dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Tapi ada kekuatan asing yang tidak bisa dihancurkan di dalam diri Rian.

Ziva memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah lain, menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di pipinya. Dia melemparkan helm ke dada Rian.

"Buruan naik. Sebelum gue berubah pikiran dan ninggalin lo di sini bareng nyamuk gudang," ketus Ziva sambil melompat ke atas sadel motornya dan menyalakan mesin yang menderu keras.

Rian tersenyum, naik ke belakang dengan perlahan karena sekujur tubuhnya terasa remuk. Saat motor mulai bergerak membelah malam, Ziva melirik kaca spionnya. Melihat pantulan wajah Rian yang memejamkan mata menahan nyeri di belakangnya, sudut bibir Ziva perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat jarang dia perlihatkan pada siapa pun.

Satu hal yang pasti: Rian bukan lagi sekadar proyek kasihan bagi Ziva. Cowok itu baru saja membuktikan bahwa dia punya tempat di dunianya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
untuk yg suka simpel dan no drama Indosiar,,,novel ini aku kasih bintang 5
Luna
akhirnya tamat juga,happy ending ceritanya,
Luna
timy ,,, akhirnya wujudmu muncul juga setelah sekian purnama🤣🤣🤣🤣,pantes aku feeling kok ada nama Jihan berarti ada timy 🤭🤭🤭🤭
Luna
jadi ingat dulu setelah SMA pingin kuliah tapi GK bisa GK ada biaya ,,, setelah bertahun tahun mempunyai 2 anak baru bisa kuliah lagi,,,😌
falea sezi
plin plan amat Riyan ini🤣 lu doyan kesya balik aja sana biar Ziva dpet cowok lain yg ganteng kaya lebih dr eluuu😒
Luna
penerus ziva dah nongol🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
good job sya👍
Luna
semangat sya💪,berubah jadi baik itu emang sulit . keberanian kamu ngomong ke guru tua keren loh,
Luna
akhirnya si Keysa waras juga,,, siapa tau nanti muncul jodoh mu sya🤭,
Rofiwan: akan kukabulkan jodoh untuk keysha yang... setara🤭
total 1 replies
falea sezi
bagus
falea sezi
uda ziva jauhin pindah sekolah😕 laki. oon. g ba nrima takdir ya😓
falea sezi
jangan ampe nyesel lu rian kehilangan ziva😓 buat ziva pergi aja thor rian bego malah nyalahin ziva
Luna
udah ziva menjauh aja dari cowok yang GK bisa terima takdir , siapa juga yg mau nabrak orang ,,,egois sekali ,,jadi GK respect sama Rian ,
falea sezi
malah nyalahin Ziva🤣 oon bgt ini Riyan plin plan
falea sezi
🤣🤣 si plin plan mending pergi aja ziv laki! gk tau diri cocok sama sampah kayak. keysa
Luna
GK respect sama Rian ,,, ujung ujungnya nanti marahan lagi sama ziva,,,,apa GK ada cowok lain yg bantu Keysa ,atau emang sengaja citra pengen ngerusak hubungan orang,
Luna
makin bodoh yg seharusnya minta tolong om nya dong buat klarifikasi,,,😑
falea sezi
😒 gila ini keysa
Luna
kan itu sudah jadi pilihan kamu sya dari awal ,,, jangan menyesal,cowok idaman mu ternyata tak sempurna seperti halusinasi mu🤣🤣🤣🤣🤣 terima takdir,Marvel memang kaya tapi sifatnya kek psikopat dan kamu sendiri yg membangkitkan nya keysa🤣🤣🤣🤣🤣
Queen Aisyah
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!