'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. Aneka Riuh
...~•Happy Reading•~...
"Ayo, pesan menu sesukamu. Kardus bekas ini yang akan bayar." Evie berkata sambil menyenggol bahu Angga yang lagi senang bisa menghabiskan waktu bersama Nelson dan Evie. Dia ikut cara pertemanan Angga dan Nelson yang memanggil dengan sebutan-sebutan asal dan kocak.
"Kau yang mengajak Son, tapi aku yang bayar?" Angga pura-pura protes kepada Evie.
"Kalian gak usah drama seperti artis Turkiye. Lirikan kalian kebaca, mau membajakku." Nelson berkata sambil melihat daftar menu.
"Pilih saja, gak usah kesal. Aku cuma mau berlama-lama denganmu, sebelum kau hibernasi di hutan untuk belah kayu." Angga mengerti maksud Nelson yang akan belah kayu di hutan, mau mempersiapkan diri dan akan jarang ke kampus.
"Terima kasih. Kau kardus bekas yang bermanfaat dan akan makin bermanfaat, kalau sudah selesai susun skripsi..." Nelson berhenti bicara saat merasakan ada yang mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kakak-kakak, pesan apa saja. Saya yang traktir, ya. Makasih, tadi sudah menghibur kami." Ucap Alena sambil tersenyum kepada Angga dan Evie, setelah duduk di samping Nelson.
Evie terkejut melihat Alena duduk tenang dan percaya diri di samping Nelson. "Terima kasih." Ucapnya datar, tanpa melihat Angga dan Nelson.
"Sama-sama, Kak. Permisi." Alena berdiri meninggalkan mereka yang terdiam dan saling pandang.
"Kalian hibur mereka dengan apa?" Evie bertanya sambil tunduk membaca daftar menu, tapi nadanya seperti seorang investigator.
"Bukan aku, Ayank. Son yang menghibur mereka." Angga berkata sambil melihat daftar menu, agar percakapan dan ketegangan mereka tidak terlihat rombongan Alena di sudut ruangan.
Dia tidak menyangka Alena berani datang menemui dan traktir mereka, di saat ada Evie. Padahal mereka belum kenal baik. 'Tadi kami hanya bercanda. Kenapa dia tanggapi serius?' Angga jadi was-was melihat keberanian Alena.
"Mencuci tangan itu adalah pekerjaan gampang dan menyenangkan dalam keadaan terdesak." Nelson mengelak dan membalikan yang dikatakan Angga sambil melihat daftar menu di tangan.
"Apa maksudmu, Son? Apa terjadi sesuatu di antara mereka?" Evie bertanya sambil melihat Nelson. Dia curiga dan tidak percaya, kalau Nelson mau menghibur yunior. Apa lagi Alena menatap Angga saat berterima kasih.
"Aku cuma wayang, dia dalangnya..." Nelson menjelaskan yang dilakukan Angga, menggoda sambil memegang dagunya.
"Kau gak tahu, ciwi-ciwi jaman sekarang kalau sudah mau, sangat agresif mengejar? Segala senior yunior, etika dilangkahi."
"Kau bukan ciwi-ciwi jaman sekarang?" Angga mengalihkan dengan membadingkan sifat Evie yang tidak agresif.
"Aku ciwi klasik. Toh, buktinya kau kejar aku. Itu lebih seru dan berkelas." Evie berkata dengan wajah bangga.
"Good..." Nelson mengangkat tangan, lalu tos dengan Evie. "Mamaku bilang, kuda yang cari rumput. Bukan rumput cari kuda." Ucap Nelson lagi.
Angga jadi kesal melihat mereka berdua meledek dia. "Gak usah melebar ke rumput dan kuda. Ternyata benar kataku, kan? Dia naksirmu, jadi tadi cari alasan buat ke sini."
"Sudah, pesan. Kau bisa makan gratis sekar..." Ucapan Nelson terhenti saat menyadari seorang gadis mendekati meja mereka.
"Kak Angga, saya titip ini buat Kak Nelson." Seorang gadis cantik muda meletakan segelas juice melon di depan Angga.
"Mengapa titip ke saya? Langsung saja ke orangnya, tuh." Angga menunjuk Nelson dengan wajahnya. Dia coba memindai wajah gadis di depannya, tapi dia tidak ingat dari salah satu yunior di kampusnya.
Gadis itu memindahkan gelas juice ke depan Nelson. "Silahkan, Kak." Ucapnya kepada Nelson.
Sontak Nelson mendongak melihatnya. "Begini ya, saya tidak minum dingin. Gigiku suka gemetar." Angga langsung menendang kaki Nelson, karena menolak pemberian.
Nelson menemukan ide melihat wajah gadis itu tiba-tiba memerah. "Duduk di sini saja." Nelson menepuk kursi di sampingnya. "Tapi kau minum juicenya." Gadis itu mengangguk lalu duduk di samping Nelson.
Sontak Angga melihat ke arah Alena yang terkejut dan terbelalak melihat ada gadis cantik duduk tenang di samping Nelson.
"Lihat yang berotak encer menyelesaikan persoalan. Sekali tepuk banyak lalat yang mati atau terbang." Bisik Evie kepada Angga. Dia setuju cara penyelesaian Nelson yang tidak frontal menolak.
Gadis itu duduk di samping Nelson dan minum juice perlahan tanpa berhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat dan tidak teratur, sambil berusaha menghabiskan juice. Dia menyadari, kesalahannya menuruti kehendak hati dan idenya untuk mendekati Nelson.
"T'rima kasih, Kak. Permisi." Gadis itu berdiri sambil membawa gelas juice kosong dan sedotan, membuat mereka bertiga saling pandang.
"Kau kenal dia? Mengapa kau kerjain dia? Mengapa gak diambil saja juicenya?" Angga protes dengan tanya beruntun. Dia tidak menyadari, Nelson sedang speechless dengan kehadiran dan sikap gadis yang tidak dikenalnya.
"Aku gak kenal dia. Kau mau aku minum juice yang dia berikan? Kau mau aku out dari dunia ini?" Protes Nelson, dengan suasana hati yang tidak menentu. Dia ingin menengok untuk melihat gadis itu, tetapi dia menahan diri. Agar tidak diledek oleh Angga.
Evie memberikan jempol. Dia mengakui keputusan Nelson untuk tidak minum juice yang diberikan adalah tindakan tepat. "Yank, aku setuju dengan tindakan Son. Walau berada di tempat aman dan nyaman, harus tetap hati-hati."
"Iya, Yank. Aku gak pikirkan itu, karna speechless." Angga menyadari kebenaran yang dikatakan Evie.
Sedangkan Nelson jadi diam memikirkan gadis yang baru pergi. Walau dia merasa sikapnya kurang baik kepada gadis itu, dia yakin keputusannya tepat. Sebab dunia kampus tidak baik-baik saja, tidak ada persaingan. Apa lagi prestasinya sering menjadi buah bibir di kampus. Pasti ada yang suka atau tidak suka padanya.
Oleh sebab itu, dia selalu ingat pesan Mama Papanya untuk waspada. Selalu menyebut nama Tuhan dalam setiap aktivitas. Walau dia berada di lingkungan yang terasa nyaman sekali pun.
"Sorry, Son, aku gak mikir sampe situ. Aku cuma lihat, dia gadis baik. Mungkin dia ingin kenalan, atau...." Angga tidak meneruskan. Dia terima sikap kehati-hatian Nelson.
"Lupakan saja. Dia tidak mempermasalahkan tindakanku tadi. Fokus pada pilihan menumu. Jangan sampai salah pilih menu gratis." Nelson coba mencairkan suasana dengan menunjuk daftar menu.
"Aku menu ini dan minum ini." Nelson menunjuk daftar menu kepada Evie yang hanya diam mendengar percakapan mereka.
~••
Di sisi lain ; Alena yang duduk di sudut ruangan, terkejut melihat seorang gadis cantik datang mendekati meja Nelson dan duduk tenang di sampingnya.
Walau dia dan Nelson tidak banyak bercakap-cakap, kehadiran gadis itu membuat hati Alena bergelombang. Dia sudah menahan diri, bersikap sabar dan sopan. Tetapi ada gadis lain yang menyerobot.
"Ada yang kenal ciwi itu?" Alena bertanya kepada ke 3 teman sambil menggerakan mata ke arah meja Nelson.
"Aku gak kenal."
"Aku juga, gak.
"Aku baru lihat dia."
Jawaban ketiga temannya sangat mengecewakan. Sehingga mata Alena tidak lepas dari meja Nelson. Rasa ingin tahu makin menggoda untuk mengetahui siapa yang akan jadi saingannya untuk mendapatkan Nelson.
...~•••~...
...~•○♡○•~...