Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Pertama
"Guru Besar menyuruhku menyeretnya pulang," kata Raka.
Matanya masih tertuju ke jasad Bargowo yang setengah terbenam di rawa. Angin dari keris terbangnya sudah reda, dan kabut pelan-pelan merayap kembali ke perkemahan itu.
"Dia melanggar perintah. Tidak ada yang boleh menyentuh Geni Wening sampai Pertemuan Sepuluh Padepokan." Raka memiringkan kepalanya, "Dia malah menyandera murid Geni Wening, lalu mati di rawa yang dia pilih sendiri."
Ia melirik ketiga penjaga yang berlutut di lumpur.
"Kalian ikut dia melanggar larangan Guru Besar."
"Kami cuma disuruh, Kang," jawab penjaga yang tadi menjatuhkan goloknya. Suaranya gemetar.
"Nanti kalian sendiri yang menjelaskannya di aula."
Ketiga penjaga itu menunduk sampai dahi mereka hampir menyentuh tanah. Raka kembali menatap jasad Bargowo, dan sudut bibirnya terangkat pelan-pelan.
"Kau menghemat pekerjaanku," katanya kepada Satrio.
Satrio masih terduduk di lumpur dengan telapak tangan kiri menekan rusuknya, "Kalau begitu, upahnya bagi dua."
Raka berjalan mendekat. Tanah rawa yang becek itu tetap rata di bawah sandalnya. Ia berhenti tiga langkah dari Satrio, dan matanya yang setengah terpejam turun ke kepalan tangan kanan Satrio. Cahaya merah yang tinggal sedikit itu masih merembes dari sela-sela jari yang melepuh. Mata Raka terbuka penuh.
"Jadi itu pecahannya," gumamnya.
Ia mencabut sehelai benang perak dari ujung lengan bajunya dan menjentikkannya ke arah Satrio.
"Guru Besar mau pecahan itu diserahkan sendiri oleh pemiliknya di Sela Panangkep, di depan sepuluh panji," katanya, "Supaya padepokan lain takut. Rencana yang bagus. Lama, tapi bagus." Ia menoleh sekilas ke jasad di rawa, "Bargowo tidak sabar menunggu. Dia ingin dipuji Guru Besar sebelum aku."
"Bocah," desis Eyang, "Masuk ke kabut. Sekarang."
Satrio melirik ke tiang. Gandung masih terikat di sana, dengan hidung berdarah dan mata yang membelalak ke arah mereka.
"Lepaskan dia dulu," kata Satrio serak.
"Si gendut itu?" Mata Raka tetap tertuju ke kepalan tangan Satrio, "Ambil saja sendiri, kalau kau masih bisa berdiri."
Satrio bangkit dengan bertumpu pada satu lutut. Rusuknya berderak. Ia terbatuk, dan darah naik lagi ke mulutnya. Ia mengusapnya dengan telapak tangan kanan, pelan dan sengaja, sampai darah itu merembes menembus sisa kain balutan yang hangus, ke kristal di tengah telapaknya.
"Bocah! Jangan!" seru Eyang, "Tubuhmu tidak akan kuat!"
Kristal itu menyala. Panas menyembur dari telapak tangannya, liar dan menyakitkan, menerjang jalur-jalur cakra yang sudah kering sampai Satrio merasa tulang-tulangnya ikut dibakar.
Alis Raka naik sedikit, "Batu yang minum darah. Menarik."
Satrio menyatukan kedua tangannya yang berlumuran darah. Raka menonton sambil menguap. Jari-jari Satrio saling mengunci, dan kedua ibu jarinya menekan dada. Bara-bara merah menyembur dari kulit lengannya dan berputar makin cepat.
"Ajian Geni Sewu!"
Semua bara itu menyatu jadi satu arus dan menghunjam lurus ke dada Raka.
Raka mengangkat tangan kirinya. Selapis bayangan tipis membungkus tangan itu sampai ke pergelangan, seperti sarung tangan hitam. Ia menangkap ujung arus bara itu dengan telapaknya, lalu mengatupkan jari-jarinya.
Bara-bara itu padam di dalam genggamannya. Asap tipis keluar dari sela jari Raka, lalu hilang ditiup angin rawa.
Raka membuka telapak tangannya. Kulit di bawah lapisan bayangan itu cuma kemerahan, seperti tangan orang yang baru memegang mangkuk wedang yang terlalu panas.
Satrio terbelalak. Di tiang, Gandung ikut melongo.
'Dengan tangan kosong...' batin Satrio.
"Itu tadi semua sisa tenagamu?" Raka mengibas-ngibaskan tangannya, "Sarpa bilang kau bergerak seperti kakek-kakek waktu membakar Bargowo. Yang barusan lebih mirip bocah yang melempar kerikil."
Ia menghilang dari tempatnya.
Sekejap kemudian, kepalannya sudah terbenam di rusuk kiri Satrio, tepat di tempat yang retak.
Dukk!
"Hoek!"
Darah menyembur dari mulut Satrio. Tubuhnya terlipat ke depan, dan sebelum ia jatuh, punggung tangan Raka menghantam pipinya dari samping.
Plak!
Satrio terputar dan terbanting ke lumpur. Ia mencoba bangkit dengan bertumpu pada siku. Lutut Raka turun ke punggungnya dan membenamkannya lagi.
Bugh!
"ARGHH!"
Satrio terbatuk-batuk dengan pipi terbenam di genangan. Darah dan air rawa bercampur di sudut bibirnya. Ia mencakar lumpur dan menyeret tubuhnya ke arah kabut, sejengkal demi sejengkal. Raka berjalan di sampingnya dengan langkah santai, sambil mencabuti benang perak di ujung lengan bajunya. Di pinggir perkemahan, Pradipta masih berlutut di samping embernya yang terguling, dengan mata terpejam rapat.
"BERHENTI!" jerit Gandung dari tiang. Ia menyentak-nyentak tubuhnya sampai tiang itu berguncang, "Ambil aku saja! Aku lebih berat! Lebih mahal!"
Raka membalik tubuh Satrio dengan ujung kakinya sampai telentang, lalu merapatkan telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Bayangan di bawah kakinya memanjang dan menyusup ke bayangan Satrio.
"Ajian Belenggu Wewayangan."
Bayangan Satrio sendiri mencengkeram pergelangan tangan dan pergelangan kakinya, lalu menariknya rata ke tanah. Satrio menyentak lengannya, dan bayangan itu malah menariknya lebih kuat sampai sendi bahunya berbunyi.
'Eyang!' batin Satrio, 'Eyang, seperti Malam Obor! Ambil tubuhku!'
"Bocah..."
Kristal di telapak tangan Satrio berkedip. Sesuatu yang hangat merayap dari telapak tangannya ke siku. Jari-jari kanannya berkedut sekali. Lalu kehangatan itu tergelincir mundur, seperti tangan seseorang yang tidak cukup kuat menggenggam.
"Tidak bisa," suara Eyang terdengar parau dan putus-putus, "Tenagaku... belum kembali... Bocah, maaf..."
'Eyang!'
Satrio meludahkan darah dari mulutnya. Ludah merah itu mendarat di ujung sandal Raka.
Raka menunduk menatap sandalnya. Lalu ia mengusapkan ujung sandal itu pelan-pelan ke baju lurik di dada Satrio sampai bersih.
Raka menoleh ke pinggir perkemahan, ke arah Pradipta.
"Kau. Murid buangan," katanya, "Kau kenal bocah ini?"
Pradipta mengangkat wajah. Rahangnya bergerak dua kali sebelum suaranya keluar.
"Saudara seperguruanku dulu, Kang."
"Bagus." Raka kembali menunduk ke arah Satrio, "Nanti kau yang menguburnya."
Satrio memiringkan kepalanya ke arah Pradipta. Pradipta menunduk, dan jari-jarinya mencengkeram lumpur di depan lututnya.
Raka menginjak dada Satrio, tepat di atas rusuk yang retak. Satrio menjerit, dan jeritan itu pecah jadi batuk berdarah. Raka berjongkok dengan satu lutut menekan dada itu dan mencengkeram pergelangan tangan kanan Satrio yang dibelenggu bayangan. Satrio mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Bayangan di pergelangannya merayap naik ke jari-jarinya dan membukanya satu per satu, mulai dari kelingking. Raka merobek kain hangus yang masih menempel di telapak tangan itu.
Kristal itu menyala di tengah telapak tangan Satrio, tertanam di antara kulit yang melepuh dan berdarah.
"Kata Guru Besar, kalau pecahannya tidak mau lepas, tangannya ikut diserahkan." Raka menarik keris berlekuk tujuh dari pinggangnya, "Kita coba cara yang lebih sopan dulu."
Lapisan bayangan menebal di jari-jari kirinya. Ia menempelkan ujung kerisnya ke pinggiran kristal itu, tepat di tempat batu dan daging bertemu, lalu menekan.
"ARGHHH!"
Punggung Satrio melengkung, dan bayangannya sendiri langsung menariknya rata kembali. Ujung keris itu memerah. Asap mengepul dari jari-jari Raka yang membungkus pangkal kristal, dan bau kulit terbakar menyengat di antara mereka. Raka mendesis, tapi tangannya tetap menekan. Keringat mulai mengalir dari pelipisnya, dan matanya yang setengah terpejam kini menyipit karena perih.
"JANGAN!" jerit Gandung, "JANGAN SENTUH TANGANNYA!"
Ketiga penjaga itu memalingkan wajah. Pradipta menggigit bibirnya sampai luka di sudutnya terbuka lagi, lalu matanya bergeser ke batu berlumut di tepi perkemahan.
"Ssh... Pantas Bargowo kehilangan lengan," gumam Raka.
Di balik batu berlumut itu, pisau kecil yang setiap hari digosok sampai mengilap sudah tercabut dari sarungnya.
Raka mencongkel sekali lagi, lebih keras.
"Bocah, jangan biarkan dia..." suara Eyang menggema di kepala Satrio, makin jauh, "Jangan biar..."
Kristal itu terlepas dari telapak tangan Satrio dengan bunyi seperti akar yang dicabut dari tanah basah. Suara Eyang di kepala Satrio terputus di tengah kata.
Panas yang tadi menerjang jalur-jalur cakranya surut sekaligus, seperti tungku yang disiram seember air. Dingin merambat naik dari telapak tangannya sampai gigi-giginya bergemeletuk. Ia menarik napas dan mencari panas di perutnya, di tempat panas itu biasa berkumpul setiap kali ia berlatih. Perutnya dingin.
'Eyang?' batin Satrio, 'Eyang!'
Panggilan itu memantul di dalam kepalanya sendiri.
"KEMBALIKAN!" jerit Gandung dari tiang. Suaranya pecah, "Itu punya Satrio! Kembalikan!"
Raka berdiri dan mengangkat kristal itu ke arah cahaya sore, di dalam genggaman jari-jari yang dibungkus bayangan. Batu merah itu masih menyala, dan darah Satrio menetes dari sudut-sudutnya. Di tempat batu itu menempel, lapisan bayangan di jari-jarinya menipis dan berasap. Raka menebalkannya lagi. Beberapa tarikan napas kemudian, lapisan itu kembali menipis, dan keringat menetes dari dagunya ke lumpur.
"Sepuluh panji di Sela Panangkep," gumam Raka sambil mengepalkan tangannya lebih rapat, "Ternyata tidak perlu ditunggu."
Di tengah telapak tangan Satrio, darah menggenang di dalam lubang sebesar ibu jari.