"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4. Wanita tak tau diri
"Kalau Adam memang sangat mencintaimu, kenapa dia belum berani membawamu ke rumah dan mengenalkan mu pada Ibunya?" tembak Fitri tepat di titik terlemah Rosa. "Ingat, Rosa. Selama satu tahun ini, namaku yang ada di dokumen resmi sebagai istrinya. Terus kamu? Cuma rahasia yang disembunyikan di luar."
Rosa mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menyipit penuh dendam. "Nikmati saja masa manismu yang menyedihkan itu, Fitri. Hitung hari sampai satu tahun selesai. Saat hari itu tiba, aku yang akan tertawa paling keras melihatmu dibuang seperti sampah!"
Tanpa menunggu balasan dari Fitri, Rosa berbalik dengan kasar dan melangkah pergi meninggalkan aroma parfum yang begitu menyengat.
"Terserah kamu saja." Ucap Fitri yang lelah kalau harus marah atau sedih.
Fitri bersandar pelan pada dinding koridor. Ia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat yang tertahan di dadanya. Hinaan Rosa memang menyakitkan, tapi teguran itu justru makin menguatkan tekadnya. Ia tidak boleh hancur hanya karena permainan picik Rosa dan ketidakpedulian Adam.
"Fitri.." Panggil Hani dan Willy.
"Apaa?"
"Pasien kamar cendana 5A kamu yang pegang?" Ucap Willy.
"Iya, memang kenapa?" Jawab ku dengan suara lelah.
"Ya tidak apa, tadi wali pasien nya hanya minta nomer mu. Tapi tunggu, kenapa kamu lesu banget sih? Biasanya jam segini kamu fine aja" Ujar Willy.
"Kelelahan wil.. kan punya suami sekarang" Sahut Hani terkekeh.
"Oiyaa.. aku lupa.. Ya sudah Fit kamu kuat-kuat ya, ini aku ada vitamin. Buat kamu saja"
Fitri menerima vitamin itu, "Terimakasih, Ya sudah aku pulang dulu ya, selamat berjaga" ujar ku.
Dengan mengendarai sepeda motor ku, akhirnya aku sampai di rumah. Baru saja memarkirkan motor, Perawat Yeni sudah memanggil nya.
"Dokter.. em mba Fitri..Ibu Rahma menggigil dari tadi" Ucap nya.
Mendengar itu, FItri berlari dengan sekuat tenaga menuju ruang perawatan ibu. Dan benar saja, Fitri lihat Ibu mertua sedang kejang kecil. FItri dengan sigap menolong mertua nya itu. Hingga setengah jam kemudian, Ibu mertua nya pun berhenti kejang. Namun kini suhu badan mertua nya mendadak tinggi membuat Fitri langsung otomatis menyeka handuk basah di leher dan kepala mertua nya itu.
**
(Keesokan harinya)
Matahari baru saja terbit, menembus celah gorden ruang perawatan di rumah. Fitri menyeka keringat dingin di dahi Bu Rahma dengan handuk basah secara perlahan. Semalaman suhu tubuh ibu mertuanya itu naik turun, membuat Fitri sama sekali tidak memejamkan mata. Ia rela membagi fokus antara mengecek tanda-tanda vital Bu Rahma dan menghafal berkas rekam medis pasien untuk ujian stase kedokteran nanti siang.
"Fitri... kamu belum tidur dari semalam ya, Nak?" suara Bu Rahma terdengar sangat lirih dan serak.
Fitri tersenyum lembut, merapikan selimut tebal yang menutupi dada mertuanya. "Nggak apa-apa, Bu. Fitri sudah biasa begadang pas jaga malam di rumah sakit. Yang penting demam Ibu sudah mulai turun."
"Maafkan Ibu ya, selalu bikin kamu repot. Harusnya Adam yang bantu kamu jaga malam-malam begini," guman Bu Rahma penuh rasa bersalah.
"Mas Adam kan capek kerja seharian, Bu. Biar Fitri saja," sahut Fitri tenang, menyembunyikan rasa pahit yang merayap di dadanya.
Kenyataannya, Adam baru pulang pukul dua pagi tadi dengan aroma alkohol tipis dan wangi parfum wanita yang sangat menyengat. Pria itu bahkan tak sudi menengok kondisi ibunya dan langsung tertidur lelap di sofa ruang tamu.
Pintu kamar terbuka pelan. Adam melangkah masuk dengan raut wajah masam dan mata sembap. Ia merapikan kemeja kerjanya yang agak kusut tanpa menyapa istrinya.
"Bu, Adam berangkat kantor dulu ya. Ada rapat penting," ujar Adam singkat sembari mencium tangan ibunya sekilas.
Bu Rahma menatap putranya tajam. "Adam, kamu itu suaminya Fitri. Coba lihat muka istri kamu, pucat begitu karena ngurusin Ibu semalaman. Kamu nggak kasihan sama sekali?"
Adam menghela napas kasar, melirik Fitri dengan tatapan jengkol. "Bu, Fitri kan calon dokter. Lagian dia memang pintar urus orang sakit. Adam kan harus cari uang di luar buat biaya berobat Ibu juga."
"Tapi gak gitu caranya, Mas," potong Fitri halus namun tegas, menatap lurus mata Adam. "Ibu butuh perhatian anak kandungnya juga, bukan cuma biaya. Semalam Ibu sempat sesak napas dan panggil nama kamu berulang kali."
Wajah Adam memerah, merasa tersudut di depan ibunya. "Kamu nggak usah penceramah di depan Ibu, Fitri! Aku sibuk kerja demi keluarga ini juga!"
"Adam.. Jangan bentak Fitri. Kamu kok begitu?" Ujar ibu Rahma.
Adam tak peduli akan omongan ibunya. Di saat yang sama, ponsel di saku celana Adam mendadak bergetar nyaring. Nama 'Rosa' kembali menghiasi layar. Tanpa rasa canggung, Adam mematikan panggilan tersebut dengan terburu-buru, lalu berbalik arah menuju pintu.
"Sudah ya, Ibu. Adam telat," ucapnya cepat sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar.
Bu Rahma menggelengkan kepala pelan, mengusap punggung tangan Fitri yang terasa dingin. "Sabar ya, Fitri... Ibu tahu Adam belum bisa buka hatinya. Tapi Ibu selalu berdoa supaya mata hatinya dibuka sama Allah."
Fitri hanya tersenyum tipis, menahan getaran di dadanya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran mertuanya. Baginya, melihat Bu Rahma tersenyum dan membaik sudah cukup menjadi bahan bakar untuk bertahan.
"Ya udah bu.. Fitri buatkan bubur dan mau bebersih dulu ya. Hari ini Fitri ada shift pagi" Ucap Fitri.
"Iya nak, Terimakasih yaa"
"Sus yeni datang sebentar lagi kok bu. Ibu tenang ya"
2 jam kemudian, Fitri sudah bersiap dengan seragam koasnya. Saat berjalan melewati meja makan di area depan, ia melihat sebuah struk belanjaan yang tak sengaja terjatuh dari dompet Adam. Di sana tertera angka puluhan juta rupiah untuk pembelian tas kulit impor atas nama Rosa.
Fitri mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Di rumah, Adam selalu mengeluhkan pengeluaran obat ibunya yang mahal. Namun di luar sana, pria itu tanpa ragu membuang puluhan juta demi memanjakan selingkuhannya.
Fitri membuang struk itu ke tempat sampah dengan hembusan napas berat. Ia memasang kembali masker medisnya, melangkah keluar rumah untuk menghadapi dunia nyata yang tak kalah kejam.
"Aduh pegel sekali.." Ucap Fitri menggerakan sendi-sendi nya.
Langkah Fitri menyusuri lorong Rumah Sakit terasa makin berat. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang, dan ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan berkala untuk lima pasien anak di bangsal. Rambutnya terikat rapi di balik jilbab instan sederhana, sementara jas putih dokter yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan. Rasa lelah yang menumpuk dari tugas jaga malam dan mengurus mertuanya di rumah mulai menggerogoti ketahanan fisiknya.
Namun, ketenangan Fitri seketika sirna saat matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenali sedang berdiri santai di dekat lorong poliklinik. Rosa berdiri di sana dengan gaya anggun yang dibuat-buat, memegang secangkir kopi mahal dan mengenakan kacamata hitam yang disangkutkan di kepala.
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.