Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
“Mas... Ponselku bunyi.”
—
Suara lembut Aura memecah keheningan kamar utama yang temaram. Ia terbangun dari tidurnya yang lelap saat mendengar getaran halus ponsel di atas meja nakas. Mata jernihnya yang masih agak sembab bergerak menatap layar ponsel yang menyala terang.
—
Hendra yang baru saja mengakhiri panggilan telepon di balkon seketika berbalik. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu melangkah cepat mendekati ranjang, mengikis jarak dengan wajah cemas yang tak bisa disembunyikan.
—
“Jangan disentuh dulu, Sayang,” bisik Hendra lembut sambil menahan jemari Aura. Pria itu meraih ponsel istrinya, membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal yang tertera di layar.
—
Seketika, raut wajah tegas sang taipan berubah menjadi sangat dingin. Rahangnya mengeras, dan mata cokelat gelapnya berkilat memancarkan amarah pembunuh yang begitu pekat.
—
‘Aku ada di halaman belakang rumah kamu sekarang, Aura. Turun sendiri tanpa Papa, atau aku bakar seluruh dokumen rahasia perusahaan yang bisa bikin saham Hendra anjlok besok pagi!’
—
Aura yang ikut membaca isi pesan tersebut tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Wanita yang sedang mengandung empat bulan itu justru mengulas senyuman tipis yang sarat akan ketenangan dan keberanian mutlak.
—
“Aris benar-benar sudah gila, Mas,” tutur Aura pelan, menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. “Dia pikir gertakan murahan seperti ini bisa bikin aku panik dan nemuin dia sendirian?”
—
Hendra mengusap lembut pipi mulus istrinya, lalu mengecup kening Aura dengan sangat protektif. “Saya nggak akan biarin anak kurang ajar itu mendekati kamu sepuluh meter pun, Aura.”
—
Pria matang itu langsung menekan tombol interkom di samping ranjang, menghubungkan panggilannya ke pos keamanan utama.
—
“Pak Biantoro, kepung area taman belakang sekarang juga. Aris ada di sekitar sana,” perintah Hendra dengan suara rendah yang amat berbahaya. “Pastikan dia ditangkap hidup-hidup tanpa menimbulkan keributan yang bisa mengganggu istri saya.”
—
“Siap, Pak Hendra! Tim langsung bergerak!” jawab suara Pak Biantoro dari balik speaker interkom.
—
Hendra meletakkan kembali ponsel tersebut, lalu memeluk tubuh Aura dengan erat dari samping, mengusap perut membuncit istrinya dengan rasa sayang yang meluap.
—
“Kamu tetap di dalam kamar ya, Sayang. Saya turun sebentar buat bereskan ini,” bisik Hendra lembut di dekat telinga Aura.
—
Aura memegang tangan kokoh suaminya, menatap mata tajam Hendra dengan kehangatan murni. “Hati-hati ya, Mas. Jangan sampai emosi kamu bikin kamu terluka.”
—
Hendra tersenyum menawan, mengecup bibir merah Aura secara mesra sebelum melangkah keluar kamar dengan aura penguasa yang siap menghancurkan musuhnya.
—
—
Di area taman belakang kediaman Fahreza yang gelap dan basah oleh sisa air hujan.
—
Aris bersembunyi di balik semak-semak tinggi di dekat rumah kaca. Tubuhnya yang kotor dan kurus gemetar hebat, memegang sebendel berkas kusam yang ia curi saat melarikan diri dari brankas lama di kantor cabang. Nafasnya memburu, matanya terus-menerus mengawasi lantai dua kamar utama yang lampunya masih menyala.
—
“Kenapa kamu nggak turun-turun, Aura?!” bisik Aris histeris dengan suara parau yang ketakutan. “Kamu pikir aku main-main, hah?!”
—
Tiba-tiba, pendar sorot lampu senter taktis yang amat terang seketika menyapu area semak-semak tempat Aris bersembunyi!
—
CEKLEK!
—
“Jangan bergerak! Angkat tanganmu sekarang!”
—
Suara bentakan tegas dari enam pengawal pribadi bersetelan hitam seketika mengepung tempat Aris berdiri. Senjata api dan tongkat listrik diarahkan tepat ke tubuh pria buronan itu.
—
Aris membelalakkan matanya yang merah, menjatuhkan berkas di tangannya saat melihat sosok Hendra Fahreza melangkah keluar dari kegelapan taman. Sang ayah berdiri tegap dalam balutan piyama hitam dan jubah mandi mewahnya, memandangi putra tunggalnya dengan tatapan paling dingin dan jijik yang pernah ada.
—
“Pa... Papa...” jerit Aris histeris, berlutut di atas tanah yang berlumpur. “Aris mohon, Pa! Kasihanin Aris, Pa! Jangan serahin Aris ke polisi lagi!”
—
Hendra menghentikan langkahnya tiga meter di depan Aris. Pria matang itu tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun.
—
“Kamu sudah mati di mata saya sejak kamu berani meneror istri dan calon anak saya, Aris,” tegas Hendra dengan suara berat yang menggelegar di tengah kegelapan malam.
—
Aris merangkak di tanah berlumpur, menangis parau meratapi kebodohannya sendiri. “Aris salah, Pa... Aris nyesel udah sia-siain Aura... Aris nyesel udah khianatin Papa...”
—
Hendra memberi isyarat tangan dingin kepada para pengawal. “Serahkan dia ke tim kepolisian yang sudah menunggu di gerbang depan.”
—
Dua pengawal tegap langsung memegang kedua lengan Aris secara paksa, memborgol tangan pria itu dan menyeretnya pergi dari area taman. Raungan dan tangisan histeris Aris perlahan memudar tenggelam di dalam kegelapan malam, menyegel akhir dari pelariannya yang menyedihkan.
—
Hendra membuang napas panjang, merapikan jubah mandinya, lalu berbalik melangkah kembali menuju kamar utama untuk menemui Ratu dalam hidupnya.
—