Carter Bruce pernah kehilangan segalanya dalam satu malam—istri yang ia cintai pergi demi pria kaya, meninggalkannya sendirian bersama tiga anak kecil dan hati yang hancur. Kini ia bangkit sebagai pengacara paling ditakuti di dunia hitam, tangan kanan seorang bos mafia, seorang pria berdarah dingin yang dijuluki "Sang Algojo". Kekayaan, kuasa, dan ketakutan tunduk di kakinya. Hanya satu hal yang tak bisa ia beli: sebuah keluarga yang utuh.
Meghan Pirs hanyalah seorang guru TK muda, yatim, dan berhati lembut—sampai takdir mempertemukannya dengan si sulung Carter yang manis, lalu dengan sang ayah yang dingin dan berbahaya. Ketika hidup Meghan runtuh dan ia terdesak tanpa pilihan, Carter menawarkan sebuah kesepakatan yang mustahil ditolak: menikah dengannya, berpura-pura menjadi pasangan penuh cinta selama satu tahun. Tak lebih.
Tapi tak ada yang memberi tahu mereka betapa berbahayanya berpura-pura mencintai seseorang—karena kadang, kepura-puraan itu berubah menjadi sungguhan.
Di antara pelukan hangat anak-anak yang memanggilnya "Mami", ancaman dari musuh-musuh yang mengintai dari kegelapan, dan rahasia masa lalu yang tak sanggup mereka lupakan, Meghan dan Carter mulai menemukan sesuatu yang tak pernah mereka duga. Namun dunia mafia tak pernah tidur, dan setiap orang yang berani menyentuh keluarga Sang Algojo akan belajar satu hal dengan cara yang paling mengerikan: tak ada yang boleh menyentuh apa yang menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Reveca Díaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alejo Jatuh Sakit
"Sayang, kapan aku bisa resmi jadi pacarmu?" tanya Alessia.
"Sudah kujelaskan, kita cuma bersenang-senang, tak ada yang lebih dari itu," jawab Carter.
"Baiklah, terserah kamu," sahut Alessia.
"Alessia, aku ada pekerjaan," kata Carter.
"Sampai jumpa. Kamu datang ke peragaan busana nanti?" tanya Alessia.
"Mungkin, ya," jawab Carter.
Alessia pun pergi, tetapi ia sudah mengatur seorang fotografer untuk memotretnya saat keluar dari kantor Carter.
Sementara itu, di sekolah Alejo, bocah itu duduk sendirian di sudut halaman dengan tatapan kosong. Belakangan ini Meghan memperhatikannya.
"Alejo, ada apa denganmu?" tanya Meghan.
"Sakit sekali," rintih Alejo.
Meghan menyentuh keningnya dan menyadari anak itu demam. "Ayo, kita ke ruang kesehatan." Namun bocah itu tak sanggup berjalan, maka Meghan menggendongnya dan bergegas membawanya. Sesampainya di sana, perawat mengatakan anak itu harus dibawa ke rumah sakit, karena kemungkinan ia menderita usus buntu.
Setibanya di rumah sakit, Meghan menelepon Carter, tetapi tak ada yang mengangkat. Maka ia menghubungi Nyonya Carmen.
Sementara itu di rumah sakit, anak itu harus segera dioperasi.
"Nyonya, kita harus segera mengoperasinya," kata dokter.
"Dokter, saya bukan ibunya, dan saya belum bisa menghubungi ayahnya," jawab Meghan.
"Tindakan operasi ini mutlak diperlukan," tegas dokter.
Tepat saat itu Nenek Carmen tiba.
"Saya neneknya. Di mana saya harus tanda tangan?" tanyanya.
"Nyonya, tanda tangan di sini," kata dokter.
Setelah Carmen menandatanganinya, dokter langsung memindahkan Alejo ke ruang operasi. Sang nenek mengamati gadis yang tampak gelisah itu.
Operasi berlangsung selama dua jam. Setelah Alejo dipindahkan ke kamar rawat, Meghan mendekat untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Ia mengecup kening bocah itu, dan si kecil yang masih tertidur pun mengigau karena pengaruh bius.
"Mami," gumam Alejo.
Meghan mengusapnya dengan lembut, lalu berpamitan pada si kecil dan Nenek Carmen. Meghan kesal pada Carter yang sampai saat itu belum juga datang ke rumah sakit. Ketika ia hendak keluar dari kamar rawat, Carter masuk, dan tanpa berpikir panjang gadis itu menampar wajahnya.
Tamparan itu mengejutkan Carter maupun Nyonya Carmen.
Tatapan Carter menggelap. "Apa-apaan ini?"
Meghan menatapnya penuh amarah. "Saya menelepon Anda 35 kali, Tuan Bruce, tak satu pun Anda angkat. Saya tahu saya hanya guru anak Anda, tapi sesibuk apa sih Anda ini?"
Meghan keluar dari kamar dengan geram, meninggalkan Carter yang termenung dan Nyonya Carmen yang murka pada putranya.
"Nona Pirs benar. Dia menelepon kamu berkali-kali, Nak. Tapi Mama mengerti, kamu sangat sibuk. Operasinya berjalan lancar, ternyata usus buntu, untungnya tanpa komplikasi berarti," kata Carmen.
"Terima kasih, Mama. Jadi itu guru Alejo?" tanya Carter.
"Iya, dia memuja Nona Meghan," jawab Carmen.
Carter termenung memikirkan tamparan dan reaksi Meghan tadi. Berani-beraninya wanita itu menamparnya.
Yang tak diketahui Carter, kabar tentang dirinya dan model Alessia Rubio sudah mulai beredar, berita yang kebetulan dilihat Meghan.
Bagi Meghan, Carter hanyalah satu lagi pria hidung belang berkantong tebal yang tak peduli pada anaknya. Sesampainya di rumah, Tante Esther menatapnya.
"Meghan, ada apa?" tanya Esther.
"Hari ini rumit sekali. Ada anak menderita usus buntu yang harus kutemani ke rumah sakit. Bisa Tante bayangkan, aku menelepon ayahnya 35 kali dan tak satu pun diangkat? Akhirnya aku menghubungi neneknya, dan dia langsung datang," jawab Meghan.
"Meghan, mereka bukan anakmu, hanya muridmu," kata Esther.
"Aku tahu, Tante. Tapi Alejo istimewa. Matanya, kelembutannya, membangkitkan keinginanku untuk melindunginya," ujar Meghan.
"Aduh, sayang. Kapan kamu akan belajar bahwa tak semua bisa kamu tanggung, dan jangan terlalu terikat pada anak orang lain," kata Esther.
"Tante, aku memang begini, mau bagaimana lagi," jawab Meghan.
"Pergilah tidur, besok kamu harus bekerja," ujar Esther.
Meghan pun berbaring untuk tidur sambil memikirkan Alejo dan keinginannya menjaga anak itu, yang terlihat begitu rapuh dan sendirian.
Keesokan harinya ia tiba di TK. Semuanya berjalan tenang, tetapi ketiadaan Alejo begitu terasa, hilang percikan kehangatan dan kelembutannya.
Selesai bertugas, Meghan membeli beberapa buku mewarnai dan sekotak pensil, lalu pergi ke rumah sakit. Di kamar rawat, si kecil Alejo terbaring sendirian.
"Halo, Alejo, bagaimana keadaanmu?" sapa Meghan.
"Bu Guru," sahut Alejo.
Ia hendak bergerak, tetapi sisi perutnya terasa nyeri.
"Jangan bergerak, sayang," kata Meghan.
Meghan mendekat dan mengecup pipi si kecil.
"Kamu sendirian di sini?" tanyanya.
"Iya, Nenek pergi menemani adik-adikku," jawab Alejo.
"Begitu, ya. Ibu bawakan buku-buku ini. Ibu geser dulu mejanya," ujar Meghan.
Alejo tersenyum. "Terima kasih, Bu Guru."
"Kita tidak sedang di TK, panggil aku Meghan saja," kata Meghan.
"Baik," sahut Alejo.
Saat itu masuklah sang dokter, Fernando Dominguez, dokter anak sekaligus dokter bedah anak.
"Bagaimana kabar jagoan kita?" sapa Fernando.
Alejo memandangnya. "Baik."
"Kita periksa dulu. Nona Pirs, apa kabar?" sapa Fernando.
"Baik, Dokter, terima kasih," jawab Meghan.
Fernando memeriksa Alejo, dan semuanya baik-baik saja.
"Jagoan, ayah atau nenekmu di mana?" tanya Fernando.
"Papa tidak tahu di mana, Nenek pergi menemani adik-adikku," jawab Alejo.
"Begitu, ya," sahut Fernando.
Saat itu Carter masuk membawa beberapa mainan.
Carter mengabaikan Meghan. "Dokter?"
Fernando menatapnya, lalu beralih memandang Meghan.
"Alejo, aku harus pergi. Cepat sembuh, ya," pamit Meghan.
"Permisi, Dokter," kata Carter.
Carter menyusul Meghan keluar.
"Nona Pirs, Anda terlalu ikut campur, tidakkah Anda merasa begitu?" tegur Carter.
"Apa?" sahut Meghan.
"Soal anakku. Anda tentu tahu aku kaya dan seorang ayah tunggal, dan Anda pikir bisa menjeratku lewat anakku," kata Carter.
Meghan tersinggung bukan main. Ia kembali menampar Carter, tepat di depan mata Fernando.
"Saya hanya datang menjenguk perkembangan Alejo. Tapi karena kehadiran saya mengganggu Anda, saya tak akan datang lagi," ujar Meghan.
Carter murka, itu tamparan kedua yang ia terima dari wanita itu. Namun Fernando mengalihkan perhatiannya.
"Tuan Bruce, bisakah kita bicara soal putra Anda?" tanya Fernando.