NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anomali Tubuh dan Peringatan dari Prasasti Kuno

​Kamar Asrama Murid Luar — Malam Hari

​DONG!

​Lonceng kuno di wilayah terlarang Sekte Pedang Awan berdentang sekali lagi. Namun, getaran gaibnya merambat di frekuensi yang tak mampu ditangkap oleh pendengaran manusia fana.

​Di dalam kamar asrama yang sederhana, Lu Mingseng masih duduk bersila. Napasnya teratur, kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sedang lempengan tablet hitam tergeletak kusam di hadapannya.

​Tulisan yang sebelumnya muncul di permukaan tablet telah memudar.

​Ujian kedua telah dimulai.

​Mingseng belum menyadari sepenuhnya apa arti kalimat tersebut bagi jalan kultivasinya. Namun, ia bisa merasakan perubahan ganjil yang makin menjadi-jadi pada indra spiritualnya.

​Partikel energi spiritual di sekeliling kamarnya kini terlihat teramat jelas. Dahulu, ia harus memusatkan batin hingga titik jenuh untuk merasakan sebutir energi. Kini, bahkan tanpa disengaja, butiran-butiran energi spiritual mengambang mendekati kulitnya.

​Seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi sebuah pusaran magnetik kecil yang menyedot energi alam secara alami!

​Mingseng perlahan membuka mata. "Senior... apakah ini normal?"

​Keheningan melingkupi kesadarannya selama beberapa detik sebelum suara tua Kaisar Keabadian bergema penuh ketegangan: 'Jangan bergerak. Pertahankan posisi dudukmu.'

​Nada bicaranya yang teramat serius membuat Mingseng langsung mematung.

​Kesadaran Kaisar Abadi segera menyelami tubuh Mingseng untuk memindai lonjakan kekuatan pasca-terobosan tadi.

​Beberapa saat kemudian, suara sang Kaisar terdengar goyah. 'Aneh... Sangat tidak masuk akal.'

​Sang penjaga Balai Penempaan Darah menyela melalui tablet hitam: 'Apa yang aneh?'

​'Kecepatan penyerapan energinya,' jawab Kaisar Abadi. 'Seorang kultivator yang baru menembus Pengumpulan Qi Tahap Awal butuh waktu berminggu-minggu hanya untuk menstabilkan fondasinya. Namun energi di dalam tubuh anak ini bukan sekadar stabil... jumlah energi yang ditampungnya terus melonjak, padahal ia belum memulainya dengan teknik meditasi penuh!'

​Penjaga kuno mendengus. 'Mungkin itu dampak Penempaan Darah. Otot dan tulangnya kini sanggup menahan beban energi yang jauh lebih masif.'

​'Itu hanya menjelaskan ketahanan fisiknya, tapi tidak dengan kecepatan penyerapannya!' Kaisar Abadi kembali memindai.

​Namun, setiap kali pindaian batin sang Kaisar merangsek lebih dalam ke struktur meridian Mingseng, hasilnya selalu sama: Ia hanya bisa membaca satu meridian yang terbuka. Selebihnya, persepsi batinnya tersesat di dalam kabut abadi yang kabur.

​Energi Mingseng terus melonjak secara tak rasional, seolah-olah fondasi pertumbuhannya berada di luar hukum logika yang dipahami para ahli kuno.

​Kaisar Keabadian menarik pindaiannya dengan helaan napas berat. 'Aku... kehilangan jawaban. Aku tidak bisa menjelaskan penyebabnya.'

​Penjaga kuno terdiam lama sebelum membalas: 'Jadi, seorang Kaisar Abadi pun tak punya jawaban?'

Aku tidak akan mengarang kebohongan hanya demi memuaskan harga diriku,' tanggap sang Kaisar tegas.

​Mingseng menyimak perdebatan di jiwanya dengan jantung berdebar keras. "Apakah... ada yang berbahaya dengan tubuhku, Guru?"

​'Selama sirkulasinya tetap stabil dan tidak merusak organ dalammu, kita tidak perlu menganggapnya sebagai bencana,' ujar Kaisar Abadi menenangkan. 'Namun jika kau merasakan nyeri menusuk pada saluran nadimu, segera hentikan penyerapan.'

​Sang penjaga menimpali kasar: 'Dan ingat, jangan jadi kepala batu hanya karena kultivasimu melonjak cepat! Kau masih bau kencur dalam hal pengalaman bertarung!'

​Mingseng mengangguk patuh. "Aku mengerti."

​Namun di dalam dadanya, sebuah percik harapan berkobar hebat. Dahulu ia dicap sampah tak berguna. Kini, jalannya menuju puncak telah terbuka dengan kecepatan yang bahkan membuat para entitas legendaris kebingungan!

​Lapangan Latihan — Pagi Hari

​Pagi berikutnya, Mingseng tiba di halaman latihan lebih awal.

​Penampilannya masih tetap sama—pakaian sederhana, rambut agak berantakan, dan bekas luka di pipinya. Namun saat ia melangkah di tengah arena, Gao Shun yang sedang melakukan pemanasan langsung menghentikan gerakannya.

​"Mingseng? Kau... terlihat berbeda," ujar Gao Shun mengamati sahabatnya dari atas ke bawah.

​"Berbeda bagaimana?"

​"Entahlah. Tatapan matamu lebih tajam, dan langkah kakimu terasa begitu ringan," gumam Gao Shun heran.

​Mingseng hanya tersenyum tipis tanpa membocorkan terobosannya.

​Tak lama kemudian, Instruktur Ma Zhen masuk ke lapangan. Matanya menyapu barisan murid, namun saat melewati Mingseng, langkahnya mendadak terhenti.

​"Mingseng, angkat lenganmu," perintah Ma Zhen.

​Mingseng menurut. Ma Zhen menggenggam pergelangan tangan Mingseng untuk memeriksa denyut nadinya. Dahi instruktur garang itu seketika berkerut dalam.

​"Metode penempaan apa yang kau jalani?" tanya Ma Zhen menatapnya tajam.

​"Hanya metode penempaan fisik dasar yang saya dapatkan dari ujian kemarin, Instruktur."

​Ma Zhen tidak mendesak lebih jauh, namun ia bisa merasakan struktur otot Mingseng kini berkali-kali lipat lebih padat. "Selesai latihan nanti, ikut aku ke batu penguji kekuatan."

​Dari sudut barisan, suara ejekan yang familiar kembali terdengar.

​"Hah! Pemuda muka buruk memang selalu punya cara untuk cari perhatian," cemooh Fang Rui yang melangkah mendekat bersama dua pengikutnya.

​Fang Rui baru saja mendapat hukuman skorsing misi luar akibat laporan He Yong, membuat reputasi keluarganya sedikit tercoreng. Melihat Mingseng yang tampak segar bugar, kemarahannya kian menjadi-jadi.

​"Kau cuma beruntung bisa keluar hidup-hidup dari reruntuhan," bisik Fang Rui penuh kebencian. "Jangan berhalusinasi keberuntungan itu membuatmu sejajar denganku!"

​Mingseng menoleh tenang. "Apakah kau sudah selesai mengoceh?"

​Fang Rui menyipitkan mata. "Apa katamu?!"

​"Aku ingin latihan," balas Mingseng datar. "Kalau kau cuma datang untuk mengomentari wajahku, aku sudah bosan mendengarnya."

​Beberapa murid di sekitar mereka spontan menahan tawa. Wajah Fang Rui seketika merah padam.

​"KAU—!"

​TAK!

​Ma Zhen menghantamkan tongkat kayunya ke lantai batu. "Fang Rui! Jika tenagamu meluap-luap, selesaikan dua puluh putaran tambahan sekarang juga!"

​Fang Rui menggertakkan gigi, tak berani membantah instruktur. Sebelum berbalik pergi, ia melayangkan tatapan membunuh pada Mingseng. Mingseng membalasnya tanpa berkedip sedikit pun.

​Ujian Kekuatan Fisik Lanjutan

​Usai latihan rutin, Ma Zhen membawa Mingseng ke hadapan batu penguji kekuatan setinggi dada.

​"Gunakan kekuatan fisik murnimu, tanpa menyalurkan energi spiritual," instruksi Ma Zhen.

​Mingseng mengambil posisi. Ia mengingat setiap instruksi penjaga Balai Penempaan Darah—menyelaraskan tumpuan kaki, putaran pinggang, dan momentum bahu.

​DUUM!

​Hantaman fisiknya menggetarkan batu penguji. Skala garis di permukaannya melesat cepat!

​"Seratus delapan puluh enam jin!" seru Ma Zhen terkejut.

​Padahal pada evaluasi sebelumnya, Mingseng hanya mencetak 148 jin. Dalam waktu beberapa hari saja, tenaga murninya melonjak drastis!

​"Ulangi sekali lagi!" perintah Ma Zhen.

​Mingseng mengatur napas, lalu melepaskan pukulan kedua.

​DUUM!

​"Seratus sembilan puluh dua jin!"

​Ma Zhen terdiam menatap angka tersebut, lalu beralih menatap Mingseng dengan pandangan rumit. "Peningkatan fisikmu tergolong abnormal untuk ukuran calon murid luar. Namun ingat, dalam duel kultivator sejati, tenaga fisik murni saja tidak cukup tanpa teknik pengendalian Qi yang matang."

​"Saya mengerti, Instruktur."

​Kebingungan Tiga Guru Kuno

​Malam harinya, di dalam kamar yang tertutup rapat, Mingseng kembali bermeditasi.

​Kaisar Abadi membimbing aliran energinya agar tidak meluap, sementara sang penjaga balai mengarahkan ritme ketahanan otatnya. Di saat yang sama, siluet wanita misterius kembali berpendar samar di dekat meja.

​Wanita itu menatap dada Mingseng dengan pandangan redup. "Kalian berdua terlalu fokus pada jumlah energi yang ia serap... Perhatikan bagaimana strukturnya berubah setiap kali ia mencapai batasnya."

​Kaisar Abadi dan sang penjaga terdiam.

​Ketiga entitas kuno itu—seorang Kaisar Abadi, seorang Penjaga Balai Penempaan, dan sesosok Jiwa Misterius—kini sama-sama kehilangan jawaban atas misteri tubuh Mingseng. Mereka bisa melihat hasilnya, namun tidak sanggup meretas rahasia dasar di balik kebangkitan sembilan meridian terkunci tersebut.

​Mingseng yang menyimak interaksi mereka akhirnya berbisik, "Jadi... bahkan ketiga guruku tidak tahu mengapa kultivasiku melonjak secepat ini?"

​Wanita misterius itu tersenyum tipis. "Kami mengerti apa yang terlihat. Tapi kami tidak akan bersikap arogan mengklaim hal yang belum siap terungkap... Fokuslah melangkah, Mingseng."

​Ancaman dari Kegelapan

​Jauh di wilayah terlarang Sekte Pedang Awan, Tetua Agung Mo Canglan berdiri terpaku di hadapan sebuah prasasti batu kuno yang telah membisu ratusan tahun.

​Malam itu, sebaris ukiran cahaya tiba-tiba muncul di permukaan batu tersebut:

​Ketika jalan pertama bertambah panjang, pengamat akan kehilangan arah.

​Wajah Mo Canglan berubah sangat tegang. "Jalan pertama... Apakah ini ada hubungannya dengan anak berwajah buruk bernama Lu Mingseng itu?"

​Pada saat yang bersamaan, di dalam kamar asrama, Mingseng menuntaskan siklus meditasinya. Energi spiritualnya kembali melonjak drastis, mendekatkannya pada ambang puncak Pengumpulan Qi Tahap Awal.

​Namun di permukaan lempengan tablet hitam di samping ranjangnya, sebuah garis cahaya merah samar kembali terukir tanpa disadari siapa pun:

​Ujian kedua: Temukan sesuatu yang tak sanggup ditemukan oleh ketiga pembimbingmu.

​Lalu, sebuah suara tanpa wujud berbisik dingin dari balik dimensi yang tak terjangkau:

​"Jika ia terus bertumbuh dengan kecepatan mengerikan ini... maka mereka yang mengawasi langit Sekte Pedang Awan akan segera turun tangan."

​Cahaya tablet pun padam, meninggalkan Lu Mingseng yang mengepalkan tangannya dalam kegelapan malam—siap menantang takdir yang kian membara.

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!