Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
"Ini Papa, Nak..." panggil Mahardika dengan suara serak menahan haru.
"Pa...pa?" Amel bergumam lirih.
Matanya yang sayu menatap Mahardika, tubuhnya terkulai lemas di dekapan buk panti.
Tanpa menunggu lama, Mahardika langsung berlari. Ia mengambil Amel dari gendongan ibu panti dan memeluknya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Air matanya menetes di pipinya, antara bahagia dan rasa penyesalan yang mendalam.
Ia merasakan detak jantung Amel yang makin melemah di dalam pelukannya.
"Tenang, Sayang... Papa di sini. Tidak ada satu pun racun yang boleh menyakiti anak Papa," bisik Mahardika lembut di telinga Amel.
Mahardika siap mengeluarkan seluruh kemampuannya demi menyelamatkan sang putri kecilnya.
Dengan hati-hati, Mahardika meletakkan Amel di pangkuannya. Tangannya bergerak cepat merogoh jarum emas murni terbaiknya.
Kali ini, ia menyalurkan chi keemasan tingkat tertinggi yang ia miliki.
"Tahan sebentar ya, Sayang... papa akan menyembuhkan mu," bisik Mahardika lembut.
Jleb! Jleb! Jleb!
Tiga jarum emas akupuntur menancap di titik vital utama Amel.
Cahaya emas masuk ke dalam tubuh mungil Amel, memaksa racun hitam pekat yang menjalar di pembuluh darahnya keluar secara paksa.
"Huekk!" Amel memuntahkan gumpalan cairan hitam ke tanah.
Seketika itu pula, napasnya yang semula sesak kembali teratur. Perlahan-lahan Amel telah sembuh dari racun seribu hari itu.
"Amel... Papa di sini. Maafkan Papa baru menemukanmu," balas Mahardika, mengecup kening putrinya dengan penuh rasa syukur.
Mahardika perlahan berdiri sambil terus menggendong Amel rapat di dekapannya.
Penglihatan tembus pandang melihat ke dalam tubuh Amel untuk memastikan jika sisa racun itu sudah keluar.
"Syukurlah, semua racunnya sudah keluar," kata Mahardika merasa lega.
"Duduk di sini dulu ya Sayang. Papa mau menyembuhkan teman-teman dulu," kata Mahardika mendudukkan amel disampingnya.
Amel terus menatap Mahardika, mencoba untuk mengenalinya karena sudah terlalu lama di tinggalkan.
Mahardika pun kembali merawat anak demi anak. Satu per satu dari racun hitam dipaksa keluar hingga akhirnya seluruh tujuh belas anak panti dan dua relawan yang terbaring lemas dapat disembuhkan.
Dokter Ferdi dan tim medisnya hanya bisa mematung di tempat. Ia tidak menduga pengobatan dari Mahardika bahkan bisa menyembuhkan banyak orang dalam waktu singkat.
Setelah memastikan semua korban aman, Mahardika kembali berlutut dan memeluk Amel dengan sangat erat. Ia mendekap tubuh mungil itu seakan takut sang putri akan lenyap jika ia melepaskannya.
"Amel, Amel ingat Papa, kan? Maafkan Papa ya, Nak. Papa pergi tanpa pamit waktu itu karena Papa nggak mau melihat Amel menangis. Papa benar-benar tidak menyangka kalau Mama sudah menitipkan kamu di sini... Ini salah Papa yang terpaksa meninggalkan kamu karena penyakit Papa..." ucap Mahardika dengan suara serak menahan haru.
Mahardika melimpahkan seluruh rasa rindu dan penyesalan yang membakar dadanya selama bertahun-tahun. "Setelah ini Papa janji, Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Papa minta maaf, Nak..."
Jari kecilnya yang hangat perlahan menyentuh pipi ayahnya, mengusap air mata yang jatuh di sana.
"Pa... Pa..." kata Amel terbata-bata, menatap wajah ayahnya.
Meski memori kecilnya sempat kabur oleh waktu, rasa hangat dan ikatan batin itu tidak pernah bohong.
Senyum tipis mengembang di bibir kecilnya. "Amel... ingat Papa..."
Pelukan Mahardika semakin erat. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang di sana, ia menagis sambil mencium kepala Amel dengan lembut.
Ia telah mendapatkan kembali hartanya yang paling berharga, dan ia bersumpah akan melindunginya, sekaligus memburu siapa pun yang berani meracuni anak-anak di panti ini.
Siapa pun pelakunya, meracuni anak-anak tidak berdosa? termasuk putri kecilnya, yang menggunakan racun fermentasi seribu hari adalah yang tak terampuni.
Mahardika mengepalkan tangannya. "Aku berjanji akan membongkar dalang di balik kekejaman ini sampai ke akar-akarnya!"