"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Tangisan Pertama Keysha
Suasana mendadak hening, jenis keheningan yang mencekik sampai suara detak jam dinding di ruang tamu Rian yang usang terdengar seperti bom waktu.
Rian berdiri mematung di ambang pintu. Kantong plastik hitam berisi beberapa bungkus mi instan dan minuman kaleng di genggamannya berkersek pelan.
Matanya bergerak cepat, merekam vas yang hancur, napas Keysha yang memburu dengan air mata yang menggantung di pelupuk, dan tangan Ziva yang masih mencengkeram kerah jaket Keysha.
"Ziv... Key... Ini maksudnya apa?" Suara Rian parau. Efek demamnya belum sepenuhnya hilang, membuat cowok itu tampak makin rapuh di bawah pendar lampu neon yang berkedip suram.
Ziva yang pertama kali menguasai diri. Dia melepaskan cengkeramannya dari jaket Keysha dengan sentakan kasar, lalu mundur satu langkah. Dia mengibaskan tangannya, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Tatapannya kembali flat, menyembunyikan rasa perih di luka bakarnya yang berdenyut hebat.
"Tanya aja sama tamu agung lo," ucap Ziva ketus. Dia berjalan melintasi ruang tamu, sengaja mengabaikan eksistensi Keysha, lalu duduk di sofa usang dengan gaya santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Keysha merapikan jaket rajutnya yang kusut dengan tangan gemetar.
Begitu matanya beradu dengan mata Rian, pertahanannya runtuh. "Rian... gue ke sini cuma mau lihat keadaan lo. Gue bawa makanan, bawa obat..." Suara Keysha bergetar, nada manjanya yang biasa terdengar di sekolah kini bercampur rasa panik yang nyata. "Tapi cewek ini... dia langsung nyerang gue, Yan! Dia pakai baju lu, dia lancang banget, terus—"
"Gue yang minjemin bajunya."
Kalimat pendek Rian memotong kalimat Keysha seperti pisau tajam.
Keysha tertegun. "Apa?"
Rian melangkah masuk. Dia meletakkan kantong plastiknya di atas meja, tepat di sebelah dua kotak makanan premium bawaan Keysha yang terlihat sangat kontras dan salah tempat di ruangan itu. Rian menatap pecahan vas di lantai, lalu menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan kelelahan mental.
"Seragam Ziva kotor karena bantuin gue bikin maket tugas. Baju dia basah. Gue yang maksa dia ganti baju pake kaos gue," jelas Rian pelan, runut, dan sangat logis. Matanya beralih menatap Keysha. "Jadi, stop nuduh yang enggak-enggak, Key."
"Tapi tetep aja gak pantes, Rian! Kalian berdua di rumah sepi kayak gini—"
"Yang bikin tempat ini gak sepi kan lo yang dateng-dateng langsung ngajak ribut?" sela Ziva dari sofa, menopang dagunya dengan tangan, memprovokasi tanpa perlu menaikkan nada bicara.
"Ziva, lo bisa diam gak?!" bentak Keysha, emosinya kembali tersulut.
"Keysha, cukup." Suara Rian kali ini lebih rendah, namun ada penekanan yang membuat Keysha otomatis bungkam.
Rian berjalan mendekati Keysha.
Jarak mereka dekat, namun Keysha bisa merasakan ada benteng tak kasatmata yang sangat tebal di antara mereka sekarang.
Tidak ada lagi binar penuh pujaan di mata Rian seperti biasanya. Yang tersisa hanya sepasang mata lelah yang kosong.
"Makasih buat makanannya, Key. Tapi kayaknya mendingan sekarang lo pulang," kata Rian.
Keysha terbelalak. Dia merasa seperti ditampar dua kali dalam sehari. "Lu... lu ngusir gue? Demi dia?" Jari Keysha menunjuk ke arah Ziva dengan gemetar. "Gue ke sini karena ngerasa bersalah, Yan! Gue peduli sama lu! Marvel udah keterlaluan di tempat tanding kemarin, dan gue mau minta maaf atas nama dia!"
Rian tersenyum tipis. Sebuah senyuman hambar yang membuat dada Keysha mendadak sesak.
"Ngerasa bersalah?" Rian mengulang kalimat itu. "Lo ke sini buat nebus rasa bersalah lo, atau buat muasin ego lo yang gak tenang karena ngerasa bersalah, Key? Ziva bener. Lo cuma kasihan sama gue."
Keysha menggeleng cepat, air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Enggak, Yan. Gak kayak gitu..."
"Gue hargai niat baik lo. Tapi kehadiran lo di sini cuma bikin suasana gak nyaman. Terutama buat Ziva yang lagi bantuin gue," lanjut Rian, tegas tanpa keraguan. "Gue gak mau Ziva makin keganggu karena drama yang lo bawa dari circle lo. Jadi, tolong pulang, Key. Tolong hargai Ziva."
Kalimat terakhir Rian benar-benar menjadi hantaman telak. Hargai Ziva.
Cowok yang selama ini selalu memprioritaskan perasaan Keysha di atas segalanya, cowok yang rela mengalah dan menjadi tempat sampah keluh kesahnya setiap kali dia bertengkar dengan Marvel, kini terang-terangan memasang badan untuk melindungi perasaan cewek lain. Dan cewek itu adalah Ziva, rival sosialnya di sekolah.
Ziva sendiri hanya menyaksikan adegan itu dengan tatapan menilai. Ada sedikit rasa puas, namun lebih banyak rasa respek yang muncul di hatinya melihat Rian akhirnya bisa bersikap tegas dan tidak menjadi budak cinta yang bodoh.
Keysha melangkah mundur. Dadanya naik turun akibat gejolak emosi yang terlalu besar. Rasa malu, cemburu, dan penolakan yang mentah-mentah dari Rian menciptakan rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.
Selama ini, dia adalah pusat semesta Rian. Sekarang, dia terlempar keluar begitu saja ke tempat terasing.
"lu berubah, Yan," bisik Keysha dengan suara serak.
Rian tidak menjawab. Dia hanya membukakan pintu rumahnya lebih lebar, memberi jalan keluar yang mutlak tanpa ada niat untuk menahan.
Keysha menyeka air matanya dengan kasar. Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berantakan, dia menyambar tasnya.
Dia sempat melirik Ziva yang masih menatapnya dingin, lalu beralih menatap Rian untuk terakhir kalinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Keysha membalikkan badan dan berlari keluar dari rumah Rian.
Begitu kakinya menginjak halaman rumah Rian yang berkerikil, pertahanan Keysha runtuh sepenuhnya.
Di bawah remang lampu jalan dan rintik gerimis yang mulai turun, Keysha menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Keysha—si ratu sekolah yang selalu dikejar—menangis histeris karena ditolak dan diusir oleh cowok kelas pekerja yang selama ini selalu ia anggap sebagai pilihan cadangan.
Sementara itu, di dalam rumah, Rian perlahan menutup pintu kayu yang berderit. Dia bersandar di balik pintu, memejamkan mata erat-erat seraya memegang dadanya yang mendadak terasa kosong sekaligus lega.
Ziva berdiri dari sofa, berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping cowok itu.
"Gak nyesel?" tanya Ziva datar, memecah keheningan.
Rian membuka matanya, menoleh ke arah Ziva yang masih mengenakan kaos hitam kebesaran miliknya. Semburat senyum tulus akhirnya muncul di wajah pucat cowok itu.
"Enggak," jawab Rian mantap. "Gue cuma baru sadar, mana orang yang beneran ada buat gue, dan mana yang cuma datang pas butuh."
Ziva tidak membalas dengan kata-kata puitis. Dia hanya mendengus pelan, lalu menarik tangan Rian. "Ya udah. Gak usah melankolis. Siniin tangan lo, obatin dulu luka lem gue yang perih gara-gara tamu lo tadi."
Rian terkekeh pelan, rasa hangat perlahan menggantikan kekosongan di hatinya.
Malam itu, di tengah kekacauan dan pecahan vas, sebuah batasan lama telah runtuh, dan sesuatu yang baru—sesuatu yang jauh lebih nyata—mulai tumbuh di antara mereka.
......................
...****************...
Tbc,