"Briar" seorang wanita muda berusia 20an yang menata kembali kehidupannya setelah mengalami serangkaian kejadian buruk semasa kecilnya, melawan dunia sendirian setelah kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya.
Sifatnya yang polos dan parasnya yang cantik serta kesederhanaannya, mempertemukanya dengan Adrian si tetangga barunya yang tampan sekaligus pemilik sebuah perusahaan.
Adrian yang mendekati Briar tanpa ragu, dan
dalam waktu singkat hubungan itu berubah menjadi sebuah kehidupan pernikahan. Memberikan kebahagiaan yang tak pernah Briar dapatkan sebelumnya.
Akan tetapi..
Apakah yang membuat pria sesempurna Adrian menikahi Briar dengan sangat terburu-buru..?
Akankah kebahagiaan itu berlangsung selamanya..?
Rahasia apa yang sebenarnya Adrian simpan..?
Akankah cinta mereka menang melawan permainan takdir..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
Hari pernikahan pun tiba..
Semua tamu sudah datang dan pernikahan pun mulai di langsungkan.. Semuanya berjalan dengan sangat baik dan sangat penuh suka cita. Bagian sedihnya adalah aku sebagai pengantin wanita tidak didampingi oleh kedua orang tuaku. Hanya orang tua dari mas Adrian yang datang, tapi mereka membawa keluarga mereka masing-masing. Seolah-olah mereka berkompetisi menunjukan bahwa mereka sudah bahagia dengan keluarga baru mereka tanpa memikirkan perasaan mas Adrian. Mereka bahkan tidak mau bergabung satu sama lain saat sesi makan bersama. Mereka juga memilih hotel bintang 5 yang berbeda untuk menginap.
Namun, syukurnya.. orang tua mas Adrian tidak mempersalahkan pilihan mas Adrian yang jatuh pada wanita biasa sepertiku, pokoknya sekarang kami sudah sah menjadi sepasang suami istri.. Aku bahkan tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi dalam waktu yang cukup singkat.
Rasa bahagia terpancar jelas di wajah kami berdua.. bahkan mas Adrian tidak pernah melepaskan tanganku sekalipun. Kami berdansa di iringi musik dan semua orang turut bahagia..
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mas Adrian apapun situasinya..".
-
Tibalah saat dimana kami benar-benar sendirian.. Akhirnya setelah seharian penuh di kelilingi banyak orang akhirnya kini kami hanya berdua..
Mas Adrian membuka pintu rumahnya dan kami masuk menuju ke kamar kami yang sudah kami hiasi untuk malam pertama kami.. Kami memilih rumah dari pada menginap di hotel.
Mas Adrian memelukku dan menatapku sangat lama.. dan mas Adrian mengatakan sesuatu padaku..
"Sayang.. terimakasih karena kamu mau menikah denganku meskipun awalnya kamu ragu.. terimakasih karena kamu tidak memilih pergi.. Mas sangat mencintai kamu.. dan mas sangat bahagia bisa menikahimu.. Mulai sekarang mas akan menjaga kamu.. dan memenuhi semua kebutuhan kamu..". Ucap mas Adrian dengan tulus dan matanya yang berkaca-kaca.
"Aku juga mencintai kamu mas.. trimaksih karena kamu mau menikahi aku yang punya banyak kekurangan ini, dan sejak kamu hadir di hidupku, aku merasa bahwa dunia sedang membalas kesulitanku di masa lalu dengan mengirim kamu sebagai penyelamatku..". Ucapku sambil menitihkan air mata pada suamiku, mas Adrian..
-
Saat-saat mendebarkan pun tiba..
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Mas Adrian pergi mandi sementara aku memilah pakaian tidur untuk di gunakan di malam pertama kami.
Lalu waktu berlalu, dan Mas Adrian sudah selesai mandi, dan untuk pertama kalinya aku melihat mas Adrian hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Jantungku serasa mau copot.. Ternyata tubuh mas Adrian seatletis itu. Aku bisa melihat urat-urat di sekujur lengannya yang berotot. Rasanya sangat gugup untuk mengingat bahwa malam ini aku akan sepenuhnya milik mas Adrian.
"Kamu mau mandi dulu sayang..?". Tanya suamiku.
"Iya mas..". Jawabku
"Yaudah mas mau kunci pagar dulu, terus mas tunggu di ranjang..". Jawab mas Adrian menggodaku.
Aku mengangguk setengah gemetaran. Rasanya seperti mas Adrian mengatakan padaku untuk bersiap-siap menjadi santapannya.
Auuuhh.. membayangkannya saja sudah membuat jantungku hampir terlepas.
-
Aku sudah selesai mandi dan sudah menggunkan lingerie sexy di bagian dalam cardigan satinku yang berenda..
Lalu keluar berlahan dari kamar mandi tanpa membuat banyak suara. Aku lihat mas Adrian sedang tiduran bersandar di tempat tidur sambil menonton tv. Lalu aku menuju meja rias dan sedikit berdandan dan menggunakan wewangian di tubuhku dan sedikit lipstik pink nude senada dengan lingerieku.
Lalu aku mendekat kearah tempat tidur, sementara mas Adrian sudah sejak tadi memandangiku dan menungguku.
Mas Adrian memutar musik di tv. Lalu menepuk bantal di sebelahnya, pertanda mas Adrian menyuruhku mendekatinya. Sekarang aku dan mas Adrian sudah duduk di atas kasur dan bersebelahan.
"Kamu.. cantik sekali sayang..". Mas Adrian mengatakannya dengan gugup.
"Makasih mas..". Jawabku
"Nggak sia-sia mas kasih kamu black card.. ternyata kamu tau cara untuk membuat kamu terlihat lebih cantik untuk malam pertama..". Puji mas Adrian sambil menggenggam tanganku.
Mas Adrian kian mendekat, menatapku sangat dalam. Aku bisa merasakan nafas kami yang sama-sama tak beraturan. Mungkin karena jantung kami yang sama-sama terasa berdebar.
Mas Adrian mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur yang hanya remang temaram, membuat kami masih bisa saling melihat dalam gelap. Musik yang mas Adrian putar sangat cocok dengan suasana romantis kami berdua. Dan mas Adrian mulai menyentuh rambutku membelainya lalu berlahan-lahan menyentuh pipiku.. lalu menyentuh bibirku dengan jari jempolnya dan dia mengatakan:.. "Mulai saat ini kamu milikku seutuhnya..".
Mas Adrian membaringkan tubuhku dan entah sejak kapan mas Adrian sudah berada di atas tubuhku dan mulai mengecup keningku dan terus turun kebawah hingga bibir kamipun bertemu dan saling bergulat. Mas Adrian melakukan semuanya seperti sihir. Mas Adrian melakukannya dengan berlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa. Membuatku sangat menikmatinya.
Berlahan mas Adrian mulai menyusuri area dadaku dan leherku, di kecupi nya aku pelan-pelan dan sesekali berhenti lalu menyengat bagian-bagian sensitifku, membuat leherku memiliki tanda merah.. Saat itulah aku tidak bisa menahan suara dari mulutku.. Aku mulai mendesah.. dan sepertinya aku mulai basah di bagian bawah..
"Mm.. mass..mmh..". Aku mendesah sambil merangkul tanganku di leher mas Adrian yang sedang sibuk mencumbuiku.
Tangan mas Adrian yang besar, keras dan berurat turun menuju kebawah pusatku.. dan terus menyiksaku dengan aksinya.. Mas Adrian sepertinya sangat menyukai desahanku.. Karena setiap kali aku berdesah, mas Adrian jadi semakin bersemangat dalam menyentuhku.
Saat pertama kali benda keras itu merasukiku, aku hanya bisa meringis dan terus-terusan mendesah.. Aku mulai merasakan perih tapi terasa nikmat di waktu yang sama. Mas Adrian berusaha membuatku merasa nyaman dan mendorongnya berlahan-lahan.. Dan aku pasrah sambil hanya bisa mendesah menikmati setiap jengkal tubuhku yang mas Adrian sentuh.
Setelah beberapa lama mas Adrian mendorongku.. Aku dan mas Adrian membuat suara yang lebih kuat dari sebelumnya.. aku merasa ada yang berbeda di bawah sana, seolah aku berada di puncak lalu menurun.. Tiba-tiba aku merasakan cairan yang hangat di dalamku, mungkinkah ini pertanda bahwa mas Adrian sudah selesai..
Aku merasa lelah dan hanya terbaring lemas.. Begitu juga dengan mas Adrian yang terlihat sangat puas juga merasa lelah. Kami berkeringat meski pun malam sedang dingin dengan balkon yang masih terbuka. Lalu kami diam sejenak dan saling bertatapan.. lalu mas Adrian mendekatiku dan mencium keningku sambil mengatakan..
"Kamu milikku sayang, dan selamanya kamu hanya milikku..". Ucap mas Adrian.
Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman..
Jujur saja tubuhku rasanya lemas dan perih di bagian sana.
Akupun memakai lingerie ku tanpa menggunakan pakaian dalam dan berjalan kearah kamar mandi dengan berlahan-lahan karena masih merasa sedikit perih.. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berkaca.. Ternyata begini rasanya.. Rasanya sangat aneh tapi aku suka. Aku membersihkan diri. Lalu kembali ke tempat tidur menemui mas Adrian.
Ku lihat mas Adrian sedang mengganti seprai kami.
"Kenapa mas? Apa itu kotor?". Aku bertanya sambil menghidupkan lampu.
"Mmm.. Kamu nggak apa-apa kan sayang, apa sakit..?". Tanya mas Adrian mengkhawatirkanku.
"Memangnya kenapa mas..?". Tanyaku penasaran.
Mas Adrian menunjukan padaku bekas darah di seprai kami dan membawanya ketempat pakaian kotor.
Aku merasa kaget sekaligus senang karena itu tandanya aku masih perawan..
-
Lalu setelah kami melakukannya, mas Adrian menyuruhku untuk segera beristirahat.
Sebenarnya aku tau mas Adrian masih mau melakukannya, karena saat kami mencoba untuk tidur, tubuhku merasakan ada sesuatu yang kembali mengeras. Hanya saja mas adrian menahan diri karena khawatir tentangku yang tadi sempat mengeluarkan darah.
Suamiku memang selalu memikirkanku..
Untuk pertama kalinya akupun tertidur di pelukanya..
Aku sangat bahagia..