Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Ruang Dekan
Sebelum tangan Kirana meraih gagang pintu mobil untuk turun, Doni dengan sigap merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut desain elegan, lalu menyerahkannya dengan sopan kepada nyonya mudanya.
"Nyonya, mohon sebentar," ujar Doni ramah. "Sebelum Anda turun, Tuan Rian memerintahkan saya untuk memberikan ponsel pintar ini kepada Anda. Di dalamnya sudah tersimpan nomor pribadi Tuan Rian. Anda bisa menghubunginya kapan saja jika membutuhkan sesuatu."
Kirana menerima ponsel pintar keluaran terbaru berbalut warna rose gold itu dengan sedikit rasa kagum sekaligus canggung. Ia mengangguk pelan sembari menatap layar perangkat yang menyala terang. "Oh, baiklah... Terima kasih, Pak Doni," ucapnya.
Setelah memastikan semuanya siap dan instruksi tentang pengawalan rahasia telah dipahami oleh para bodyguard, Kirana bersiap melangkah keluar dari mobil.
"Kalau begitu, saya turun duluan, Pak Doni," pamit Kirana ramah.
"Baik, Nyonya. Semoga hari pertama kuliah Anda berjalan lancar," jawab Doni disertai bungkukan hormat.
Kirana membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Udara pagi kampus yang segar langsung menyambut indranya. Di hadapannya, hamparan gedung-gedung kuliah bergaya arsitektur klasik modern berdiri megah, dipadati oleh ratusan mahasiswa baru yang hilir mudik dengan semangat menggebu.
Berkat kebijaksanaan Doni dan para pengawal yang berjaga dari jarak aman, kehadiran Kirana sama sekali tidak mencolok. Tidak ada tatapan aneh atau kerumunan yang mengitari dirinya. Ia berdiri bebas, menghirup udara pagi dengan dada yang bergemuruh penuh kelegaan dan rasa syukur.
Kirana menggenggam ponsel baru di dalam tasnya, teringat pada sosok pria berjas yang kini telah resmi menjadi suaminya di balik segala rahasia besar mereka. Dengan senyum tipis terukir di bibirnya, Kirana memantapkan langkah kakinya menapaki pelataran universitas, siap menyongsong masa depan gemilang yang selama ini ia impikan.
Langkah kaki Kirana membawanya menyusuri selasar gedung utama universitas yang megah. Suasana riuh para mahasiswa baru yang sedang mengurus berbagai keperluan orientasi tampak menghiasi setiap sudut koridor. Namun, pikiran Kirana terpusat pada satu tujuan: memastikan seluruh administrasi beasiswa dan pendaftarannya benar-benar telah beres berkat tangan dingin Rian dan asistennya, Doni.
Sesuai dengan petunjuk yang tertera di brosur pendaftaran, Kirana melangkah menuju lantai dua sayap administrasi, tempat ruang Dekan dan bagian akademik berada. Tak berselang lama, ia berdiri di depan sebuah pintu kayu berukir dengan plakat emas bertuliskan Ruang Dekan.
Kirana menarik napas dalam-dalam, merapikan sedikit kerah blouse pastelnya, lalu mengetuk pintu tiga kali dengan sopan.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.
Kirana mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk. Di balik meja kerja kayu jati yang luas, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal—Profesor Hendra, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang membawahi jurusan Kirana. Di samping meja tersebut, tampak Doni berdiri dengan tenang, rupanya telah tiba lebih dulu untuk mengurus semua keperluan Kirana.
"Ah, Nyonya Kirana. Silakan duduk," sapa Profesor Hendra ramah sambil menunjuk kursi di depan meja kerjanya. Doni pun membungkuk hormat kepada Kirana.
Kirana duduk dengan anggun, meletakkan tas jinjingnya di pangkuan. "Selamat pagi, Prof. Hendra. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu Bapak."
"Sama sekali tidak, Nyonya. Justru Pak Doni baru saja menyelesaikan seluruh berkas administrasi Anda," ujar Profesor Hendra tersenyum takzim. Sebagai salah satu universitas swasta dan negeri terkemuka yang kerap menerima dana hibah serta sokongan besar dari yayasan filantropi Wijaya Group, pihak petinggi kampus tentu sangat mengenal siapa pemilik kekuasaan di balik nama besar tersebut, meskipun mereka tahu betul bagaimana cara menjaga privasi sang pemilik.
Profesor Hendra melirik sekilas ke arah Doni, lalu kembali menatap Kirana dengan penuh kehati-hatian. "Semua urusan beasiswa penuh, registrasi mata kuliah, hingga jaminan pembiayaan studi Anda sampai tingkat magister telah ditandatangani dan disetujui langsung oleh Tuan Rian Wijaya."
Kirana mengangguk, merasa beban berat di pundaknya seolah terangkat seketika. "Terima kasih, Prof. Saya juga ingin mengonfirmasi dan menegaskan satu hal penting..."
Kirana menelan ludah sejenak, merangkai kata dengan hati-hati. "Mengenai status pernikahan saya dengan Tuan Rian... saya memohon agar pihak universitas tetap menjaga kerahasiaan ini. Di lingkungan kampus, saya ingin diperlakukan murni sebagai mahasiswi biasa, tanpa ada keistimewaan mencolok atau status yang dipublikasikan."
Profesor Hendra dan Doni saling bertukar pandang sejenak. Sang Dekan lalu mengangguk paham.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Kirana," jawab Profesor Hendra dengan nada meyakinkan. "Privasi keluarga Wijaya adalah prioritas mutlak di kampus ini. Rekam akademik Anda akan tercatat secara profesional, dan tidak akan ada satu pun dosen atau mahasiswa yang mengetahui hubungan Anda dengan Tuan Rian kecuali Anda sendiri yang mengumumkannya."
Mendengar jaminan tersebut, senyum lega terukir di wajah cantik Kirana.
"Terima kasih banyak, Profesor, dan juga Pak Doni," ucap Kirana tulus.
Setelah beberapa instruksi tambahan mengenai jadwal perkuliahan dan orientasi perdana diberikan, Kirana akhirnya meminta diri untuk keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dan mantap. Hari ini, di balik bayang-bayang rahasia besar dan perlindungan sang suami, Kirana resmi memulai lembaran baru hidupnya sebagai mahasiswi mandiri yang siap menaklukkan dunia.