NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Begitu mereka sampai di samping mobil, Kara langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Erlangga dengan kasar.

Tanpa mengucap sepatah katapun, Kara langsung meraih gagang pintu mobil, bersiap untuk masuk kedalam. Namun, gerakan itu terhenti saat Erlangga dengan cepat mencekal pergelangan tangannya

Kara langsung menoleh tajam. "Kenapa? Nggak boleh naik mobil lo?"

Erlangga tak langsung menjawab. Ia melirik sekilas kearah jam yang ada di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap kearah Kara.

"Gue masih ada sisa waktu satu jam," ucapnya dingin. "Mending lo masuk lagi, dan ganti baju lo yang mirip gembel itu.

Kara langsung mendengus keras. Ia menarik paksa tangannya dari cekalan Erlangga, lalu melipat tangannya di depan dada. "Mau gue pakai baju atau nggak, itu urusan gue! Jadi, lo nggak usah sok ngatur penampilan gue!"

Bukannya mundur, Erlangga tiba-tiba maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka, lalu menarik sudut bibirnya keatas. Sementara matanya memindai penampilan Kara dari atas ke bawah dengan tatapan yang meremehkan.

Merasa terintimidasi dengan tatapan itu, Kara langsung mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Kenapa? Lo nggak suka dengan penampilan gue? Bagus deh kalau nggak suka. Jadi, kita nggak usah fitting aja sekalian," ucapnya enteng.

Erlangga langsung menghela nafasnya pelan. Alih-alih mendebat, pria itu justru memutuskan untuk mundur dan melangkah acuh ke arah pintu pengemudi.

"Masuk," perintahnya dingin tanpa menoleh lagi.

Begitu Erlangga sudah masuk kedalam mobil, Kara langsung memasang senyum sinis.

"Gue emang sengaja kok dandan kayak gini, biar lo kesel," batinnya yang merasa puas.

Tanpa pikir panjang, Kara langsung membuka pintu penumpang, menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu membanting pintu dengan kekuatan penuh.

Braakkk!

Belum sempat Erlangga menyalakan mesin mobil, tangan Kara sudah bergerak menyalakan pemutar musik. Ia sengaja menyetel lagu bertempo cepat milik BTS dan memutar volumenya tinggi-tinggi.

Suara bas langsung menggelegar memenuhi seluruh mobil. Dengan raut wajah penuh kemenangan, Kara mulai berjoget heboh, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

Ia sama sekali tidak peduli dengan Erlangga yang kini sudah mencengkeram erat setir mobilnya.

Klik.

Tiba-tiba, Erlangga menekan tombol power, dan musik langsung berhenti.

"Berisik," desis Erlangga tajam tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke depan. Lalu, ia mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Kalau lo merasa terganggu, tinggal tutup aja lubang telinga lo pakai kain! Gampang, kan?!" ketus Kara sambil melotot ke arah Erlangga.

Ckiittt!!!

Belum juga mobil Erlangga menjauh dari pekarangan rumah Kara, pemuda itu langsung menginjak rem secara mendadak.

Tubuh Kara sempat terjungkal ke depan sebelum akhirnya tertahan oleh sabuk pengaman.

"Lo mau bunuh gue, hah?!" gerutu Kara yang merasa kesal.

Erlangga tak menjawab. Tangannya bergerak cepat melepaskan dasinya. Tanpa aba-aba, ia langsung menyambar kedua pergelangan tangan Kara, lalu menyatukannya, dan melilitnya kuat-kuat dengan dasi tersebut.

Mata Kara terbelalak, badannya meronta-ronta panik di atas kursi penumpang. Namun, kekuatan Erlangga jauh lebih besar darinya.

"Erlangga! Lo gila?! Kenapa lo ikat tangan gue sih?!" teriak Kara histeris.

"Hukuman, agar lo nggak berisik!" sahut Erlangga.

Belum sempat Kara membuka mulut untuk membalas, Erlangga sudah lebih dulu menyambar gulungan lakban hitam di dasbor. Dengan satu gerakan cepat, ia langsung menempelkan potongan lakban itu di bibir Kara.

Melihat wanita itu tak berdaya, Erlangga langsung tersenyum puas.

"Bersabarlah, perjalanan kita hanya setengah jam," ucapnya sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!