NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan yang Diuji

Pagi itu terasa berbeda. Udara terasa lebih berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari langit. Aku berjalan menuju kampus dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, tas kuru digenggam erat di tangan kiri. Di saku kananku, kelopak bunga hitam itu terasa hangat — tanda bahwa Orion baik-baik saja, meski ada sesuatu yang mengintai di antara bayang-bayang.

Dinda sudah menungguku di bangku taman depan gerbang kampus. Dia tampak gelisah, terus melihat jam tangannya, lalu menatap ke jalan masuk. Saat melihatku, dia langsung berdiri dan melangkah cepat menyambutku.

"Kau lama sekali pagi ini. Aku sudah khawatir dari tadi. Kau terlihat pucat, Aruna. Kau kurang tidur?" tanyanya sambil menyentuh lenganku.

Aku menghela napas panjang, lalu duduk di bangku batu itu, menariknya ikut duduk di sebelahku. "Aku memang tidak banyak tidur semalam. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena ada hal-hal yang membuatku sulit memejamkan mata. Hal-hal yang... harus kukatakan padamu hari ini."

Dinda mengerutkan kening, menaruh tasnya di pangkuan, lalu menatapku lekat-lekat. "Kedengarannya serius. Ini tentang dia, kan? Orion?"

Aku mengangguk pelan. "Ya. Dan aku butuh kau mendengarkan semuanya sampai selesai sebelum kau memutuskan apa pun. Tolong, jangan pergi sebelum aku selesai bercerita."

Dia menyilangkan tangan di dada, tapi aku melihat jemarinya saling meremas di lengan jaketnya. "Aku mendengarkan. Ceritalah."

Aku mulai bercerita. Dari pertemuan pertama yang tak sengaja, suara bisikan yang memanggil namaku, hingga saat dia akhirnya menampakkan dirinya. Aku ceritakan tentang dunianya yang sunyi, kutukan yang ternyata bukan kutukan, kotak kayu peninggalan leluhur, dan penanda hitam yang kini melilit pergelangan tangannya karena mereka dilacak. Aku ceritakan semuanya — tanpa menyembunyikan satu hal pun.

Saat aku selesai berbicara, keheningan menyelimuti kami cukup lama. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di atas kepala kami. Dinda menatap lurus ke depan, ekspresinya sulit dibaca.

"Jadi..." suaranya akhirnya terdengar, rendah dan bergetar, "selama ini kau berteman dengan seseorang yang berasal dari dunia lain. Dan sekarang ada sekelompok makhluk... penjaga atau apa pun itu... yang mengancam nyawa kalian berdua. Dan mereka bisa saja menyamar menjadi siapa pun, termasuk orang yang kita kenal."

"Benar," jawabku pelan. "Dan aku tahu ini terdengar gila, Dinda. Kalau kau tidak percaya, aku mengerti. Aku hanya tidak ingin kau buta akan bahaya yang mengelilingi kita sekarang."

Dia berbalik menatapku, matanya berkaca-kaca. "Aruna, aku tidak mengatakan aku tidak percaya. Aku hanya... aku takut. Bukan untuk diriku, tapi untukmu. Kau gadis yang paling baik yang kukenal, dan sekarang kau terjebak di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya dari apa pun yang bisa kubayangkan."

"Aku tidak terjebak," koreksinya lembut namun tegas. "Aku memilih ini. Karena dia bukan bahaya bagiku. Dia rumahku, Dinda. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusirku dari rumahku sendiri."

Dinda tersenyum sedih, lalu mengusap pipiku dengan lembut. "Kau benar-benar mencintainya, ya? Sampai rela mempertaruhkan segalanya."

"Lebih dari itu. Dia rela melemah hanya untuk berada di dekatku. Mana mungkin aku meninggalkannya saat dia justru paling membutuhkanku?"

Dia menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Baiklah. Aku bersamamu. Aku mungkin tidak punya kekuatan sepertinya, atau kemampuan melihat mereka dari kejauhan. Tapi aku bisa membantu mencari informasi, menjagamu saat dia tidak bisa datang, dan menjadi saksi kalau ada yang aneh terjadi di sekitar kita. Kita hadapi ini bertiga, ya?"

Mataku terasa hangat. Aku langsung memeluknya erat. "Terima kasih, Dinda. Kau tidak tahu betapa leganya hatiku mendengarnya."

"Hei, jangan menangis dulu," katanya sambil menepuk punggungku pelan. "Kita belum selesai. Sekarang aku ingin melihatnya. Aku ingin memastikan dia memang layak mendapatkan kepercayaan sebesar itu darimu."

"Sore ini," janjiku. "Di tempat biasa. Dia akan menungguku di sana."

 

Saat matahari mulai turun ke arah barat, kami berjalan menyusuri jalan setapak tua itu bersama-sama. Dinda berjalan sedikit di belakangku, matanya waspada ke segala arah, seolah setiap bayangan yang bergerak bisa saja berubah menjadi musuh. Aku meraih tangannya, menyadarkan dia bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di sini — setidaknya untuk saat ini.

Saat kami tiba di bawah pohon beringin tua itu, Orion sudah ada di sana. Dia berdiri di tempat teduh, tidak terlalu jauh dari cahaya senja yang tersisa. Saat melihat kami berdua, dia sedikit menundukkan kepalanya — bukan takut, tapi sebagai tanda hormat.

Dinda berhenti melangkah, menatapnya lekat-lekat dari jarak beberapa langkah. Aku bisa melihat napasnya tertahan. Orion tampak berbeda dari biasanya — dia mengenakan jubah bintang yang dia temukan di dalam kotak itu, yang membuatnya terlihat lebih utuh, lebih nyata, namun tetap memancarkan aura dunia lain yang lembut namun tak bisa disangkal.

"Kau Dinda," ucap Orion duluan, suaranya rendah dan sopan. "Aruna sering bercerita tentangmu. Tentang bagaimana kau selalu menunggunya di gerbang kampus, bagaimana kau khawatir saat dia pulang terlambat, dan bagaimana kau berani menegurnya kalau kau pikir dia salah. Terima kasih sudah menjaganya selama aku belum berani menampakkan diriku."

Dinda terdiam sejenak, lalu menelan ludah. "Kau terdengar... manusia. Bukan monster yang aku takutkan selama ini."

Orion tersenyum tipis, senyum yang penuh pemahaman. "Banyak hal terdengar berbeda saat kau mendengarnya langsung daripada saat hanya mendengar cerita dari orang lain. Aku bukan manusia, itu benar. Tapi aku juga bukan musuhmu, Dinda. Aku hanya seseorang yang menemukan cahayanya terlalu jauh dari rumahnya."

"Cahayanya?" tanya Dinda, melangkah selangkah lebih maju, tapi tetap menjaga jarak.

"Aruna," jawabnya tulus, menatapku dengan lembut yang tak bisa disembunyikan. "Dia adalah cahaya yang menuntunku pulang, meski aku tidak tahu di mana rumah itu berada. Dan sekarang, ada yang ingin memadamkannya hanya karena mereka takut cahayanya terlalu terang."

Dinda menatapku, lalu kembali padanya. "Kalau mereka datang... apa yang bisa kita lakukan? Kita cuma bertiga, dan mereka bisa di mana saja, kapan saja."

Orion mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya — tiga tali kecil yang terbuat dari benang berkilau samar, di ujungnya ada butiran batu hitam yang memancarkan cahaya lembut saat disentuh.

"Ini bukan senjata. Ini penanda perlindungan. Selama kalian memakainya, mereka tidak bisa membaca pikiran kalian, dan tidak bisa melukai kalian dari jarak jauh. Tapi ingat... ini hanya perlindungan awal. Kalau mereka datang secara langsung, kita harus siap menghadapinya."

Dinda menerima talinya dengan hati-hati, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya. "Aneh rasanya. Dingin tapi menenangkan. Seperti angin malam yang lembut."

"Itu terbuat dari benang bintang yang jatuh ke bumi ribuan tahun lalu," jelasnya. "Sangat langka. Dan hanya berfungsi jika kalian percaya padanya. Benda mati tidak melindungi siapa pun — kepercayaan dan kebersamaan kitalah yang sebenarnya membuat kita kuat."

Aku memakai taliku, merasakan kehangatan halus menjalar dari batu itu ke seluruh tubuhku. Saat aku menatap Orion, aku melihat dia sedikit meringis. Dia menyembunyikan tangannya di belakang punggung, tapi aku sudah melihatnya — ujung jubahnya sedikit terangkat, dan jejak hitam di pergelangan tangannya tampak sedikit lebih lebar dari pagi tadi.

"Orion..." panggilku pelan.

Dia langsung tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit peringatan bahwa waktu kita semakin sedikit. Mereka tahu kita berkumpul di sini. Mereka tidak akan menyerang sekarang — terlalu terang, terlalu terbuka. Tapi malam pertama tanpa bulan... itulah saat yang mereka cari."

"Malam tanpa bulan?" tanya Dinda cemas. "Kapan itu?"

Orion menatap ke arah langit yang perlahan mulai gelap. "Tiga malam lagi. Langit akan gelap sepenuhnya. Itulah saat di mana kekuatan mereka berada di puncaknya, dan kekuatanku berada di titik terlemah. Kalau mereka ingin datang... kemungkinan besar malam itulah waktunya."

"Jadi kita punya waktu tiga hari untuk bersiap," kataku mantap. "Kita tidak perlu menunggu mereka datang menyerang. Kita cari tahu siapa pemimpin mereka, apa kelemahan mereka, dan kita buktikan kebenaran kepada siapa pun yang mau mendengar."

Orion menggeleng pelan. "Kebenaran tidak selalu diterima dengan tangan terbuka, Aruna. Kadang orang lebih nyaman dengan kebohongan yang mereka kenal daripada kebenaran yang menuntut mereka berubah."

"Maka kita akan tunjukkan dengan tindakan," kataku tegas. "Kita lindungi siapa pun yang mereka ancam. Kita bantu siapa pun yang mereka sakiti. Perlahan, orang akan tahu siapa yang sebenarnya membawa kedamaian dan siapa yang membawa ketakutan."

Dinda menatapku kagum. "Kau benar-benar hebat, kau tahu itu? Berpikir sejauh ini saat kebanyakan orang hanya akan berpikir untuk lari."

"Aku tidak hebat," jawabku sambil menatap Orion yang menatapku dengan mata penuh kebanggaan. "Aku hanya punya alasan yang sangat kuat untuk tidak menyerah."

Namun saat itu, angin berubah arah. Dingin, tajam, membawa bau tanah basah yang menyengat. Daun-daun di sekitar kami berputar liar seolah ditiup oleh tangan tak terlihat. Dari kejauhan, terdengar suara tawa — bukan tawa manusia, melainkan suara berbisik yang bertumpuk-tumpuk, bergema di antara pepohonan.

"Tiga malam lagi... selamat menikmati cahayamu yang terakhir..."

Suara itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan keheningan yang berat. Dinda menggenggam batu perlindungannya erat di telapak tangan, napasnya sedikit terengah. Orion melangkah ke depan, berdiri di antara kami dan kegelapan yang semakin pekat. Tubuhnya terlihat sedikit lebih tegang, bahunya yang biasanya rileks kini mengeras.

"Mereka mendengar rencana kita," katanya pelan namun tegas. "Mereka menantang kita untuk datang. Atau menunggu mereka mengambil apa yang mereka mau."

"Kita tidak akan menunggu," kataku, menyentuh bahunya dengan lembut hingga dia berbalik menatapku. "Tapi kita juga tidak akan terburu-buru. Tiga hari ini kita gunakan sebaik-baiknya. Kita belajar, kita bersiap, dan kita tidak membiarkan rasa takut menguasai kita. Karena rasa takut adalah sekutu terbesar mereka."

Orion tersenyum, kali ini lebih tenang. Dia mengulurkan tangannya kepada Dinda. Dinda ragu sejenak, lalu menerima uluran tangan itu.

"Bersama kita lebih kuat," katanya kepada Dinda. "Terima kasih sudah percaya padaku, meski kau takut."

Dinda tersenyum malu-malu. "Jangan membuatku menyesal, ya? Kalau kau menyakiti Aruna, aku yang akan mencarimu sampai ke ujung duniamu sekalipun."

Orion tertawa — tawa yang jernih dan hidup, terdengar begitu menenangkan di tengah udara yang mencekam itu. "Kau tidak perlu mencariku, Dinda. Karena aku tidak akan pernah memberinya alasan untuk pergi dariku."

Saat kami berjalan pulang, langit sudah gelap sepenuhnya. Bulan belum terlihat, hanya sedikit bintang yang mengintip dari balik awan. Aku menoleh sekali ke belakang — Orion masih berdiri di sana, di batas cahaya dan bayangan, menjaga jalanku pulang. Dia melambaikan tangan pelan. Aku membalasnya, lalu berjalan menyusuri jalan setapak itu bersama Dinda, hati penuh tekad meski ada kegelisahan yang samar-samar menggerayangi pikiran.

Tiga hari. Hanya tiga hari. Dan sesuatu yang besar sedang menunggu di ujung malam yang gelap itu. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa sendirian. Aku punya sahabat yang setia, dan seseorang yang mencintaiku lebih dari nyawanya sendiri.

Dan di tempat yang jauh di belakangku, di antara kegelapan yang dia tempati, Orion menatap pergelangan tangannya. Jejak hitam itu kini merambat sedikit lebih jauh, menyusup ke arah siku. Dia menekan bibirnya, menahan rasa sakit yang perlahan mulai merayap ke dadanya, lalu mendongak menatap langit dengan senyum yang menyembunyikan beban berat. Dia tidak akan memberitahuku — belum saatnya. Dia akan menanggungnya sendiri selama masih mampu. Karena kalau aku tahu betapa mahalnya harga dari kebersamaan kami ini... aku mungkin akan memintanya pergi. Dan itu adalah hal terakhir yang bisa dia terima.

 

😊🖤

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!