Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Jalinan Benang Hitam
Pagi di awal musim hujan datang menyelimuti kota dengan kabut tipis dan aroma tanah basah. Di sudut kantin RSUD Bina Husada, suara denting sendok beradu dengan cangkir keramik memecah keheningan pagi.
Iptu Farhan duduk berseberangan dengan Arya. Di meja mereka tersaji dua piring nasi uduk hangat dan dua cangkir kopi hitam. Bagi siapa pun yang melihat dari kejauhan, mereka tak lebih dari seorang perwira polisi dan seorang staf rumah sakit yang sedang menikmati sarapan bersama.
Namun di antara mereka berdua, ada batas pemisah yang kini telah runtuh, sebuah pemahaman rahasia yang tak terucapkan.
Farhan menyesap kopinya perlahan, dan menatap asap yang membumbung tipis sebelum pandangannya tertuju pada Arya.
"Aku sudah meninjau ulang laporan resmi kasus Victor Tanujaya," ujar Farhan pelan, menyesuaikan volume suaranya agar tidak terdengar oleh perawat yang melintas di dekat meja mereka. "Keluarganya tidak mengajukan tuntutan. Rekayasa itu terungkap utuh, dan klaim asuransi memang tidak bisa dicairkan. Tapi setidaknya, skenario kejahatan yang sebenarnya tidak salah arah. Kita tidak menangkap orang yang salah."
Arya mengangguk pelan seraya memegang cangkirnya. "Terima kasih, Pak Farhan. Setidaknya keluarga yang ditinggalkan tahu kebenaran yang sesungguhnya, walau itu pahit."
"Aku sudah bicara dengan Kapolres," lanjut Farhan seraya menyandarkan punggungnya. "Setiap kali ada kasus kematian mendadak atau mencurigakan yang masuk ke IKKJ RSUD Bina Husada, aku yang akan memimpin tim reserse nya. Ini bukan cuma soal prosedur, Arya. Ini soal memastikan kamu punya ruang yang aman setiap kali harus... 'memeriksa' jasad-jasad itu."
Arya menatap Farhan dengan tatapan dalam. Ada rasa lega yang luar biasa yang menyusup ke dadanya.
Selama beberapa waktu, kemampuan magis yang dimilikinya merasa seperti beban berat yang dipikul sendirian di dalam kegelapan. Namun kini, sosok penyidik senior berintegritas seperti Farhan berdiri di sampingnya sebagai perisai di dunia nyata.
"Tapi ingat aturan mainnya, Arya," tegur Farhan dengan raut wajah yang mendadak serius. "Kemampuanmu itu petunjuk awal, bukan bukti hukum di pengadilan. Hakim tidak akan menerima 'pencerahan supranatural' sebagai alat bukti sah. Apa pun yang kamu lihat, kita harus tetap cari bukti fisik dan pembuktian ilmiahnya di dunia nyata."
"Saya paham betul, Pak Farhan," jawab Arya mantap. "Tugas saya hanya memperlihatkan di mana benang merahnya tersembunyi. Bapak yang akan menarik benang itu sampai ke pengadilan."
Saat Farhan hendak mengangguk setuju, radio panggil (handie-talkie) di pinggangnya berbunyi nyaring, dan memecah ketenangan kantin.
"Panggilan untuk Iptu Farhan! Panggilan untuk Iptu Farhan!" suara petugas panggil dari Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) terdengar panik. "Ada penemuan jasad di area proyek pembangunan bendungan bagian utara. Korban seorang wanita muda tanpa identitas, ditemukan terbungkus kain terpal di dasar selokan."
Farhan langsung meraih radio panggilnya. "Iptu Farhan masuk. Bagaimana kondisi awal korban?"
"Ada indikasi kekerasan fisik yang sangat parah, Komandan. Dan tim di lokasi menyebutkan... ada tanda luka ukiran aneh di pergelangan tangan kiri korban."
Farhan melirik Arya seketika. Arya yang mendengarkan percakapan itu merasa bulu kuduknya berdiri. Sebuah firasat buruk mendadak menancap kuat di relung hatinya.
**
Satu jam kemudian, sirine ambulans merayap masuk ke halaman belakang IKKJ RSUD Bina Husada. Kantong jenazah berwarna biru tua diturunkan dari mobil oleh petugas piket dan didorong masuk ke dalam ruang pemulasaraan.
Dokter Aris dan Teguh sudah bersiap di dalam ruangan. Udara dingin bertekanan negatif menyapa saat Farhan dan Arya melangkah masuk.
"Identitasnya belum ditemukan, Pak Farhan," ujar seorang bintara reserse yang menyerahkan lembar laporan awal. "Tidak ada dompet, ponsel, atau kartu identitas di sekitar TKP. Pakaian korban sederhana, kaus hitam dan celana jeans yang sudah berlumpur. Diperkirakan meninggal antara enam hingga delapan jam yang lalu."
Dokter Aris menarik resleting kantong jenazah tersebut.
Di dalam kantong terbaring jasad seorang wanita berusia sekitar awal dua puluhan. Wajahnya pucat pasi, rambut panjangnya yang basah menempel di pipi.
Terlihat lebam kebiruan di leher serta luka lecet di bagian wajah. Namun yang paling menyita perhatian adalah pergelangan tangan kirinya: ada garis-garis luka sayat tipis yang membentuk pola seperti simpul rantai atau huruf 'S' yang diukir secara sengaja menggunakan benda tajam presisi.
"Luka sayat ini dilakukan saat korban masih bernyawa," gumam dr. Aris seraya mengamati pergelangan tangan korban dengan kaca pembesar. "Ada reaksi jaringan inflamasi di tepi lukanya. Ini bukan sekadar penganiayaan biasa... ini seperti sebuah penandaan."
Farhan berdiri di samping meja, dan menatap ukiran di kulit wanita itu dengan dahi berkerut tebal. "Penandaan? Seperti lambang komplotan atau ritual?"
"Atau pesan," sahut Arya dari balik maskernya.
Farhan menoleh ke arah Arya, dan memberikan isyarat halus dengan kepalanya. Dokter Aris dan petugas reserse sedang bergeser ke sudut ruangan untuk menyiapkan instrumen bedah pembedahan luar. Teguh sibuk menyiapkan ember dan spons mandi di meja sebelah.
Ini adalah celah waktu yang dibutuhkan.
Arya melangkah mendekati sisi kiri meja pemeriksaan. Jarinya yang tak terbungkus sarung tangan bergerak perlahan di bawah lindungan tirai apron.
Dengan penuh ketenangan yang tertata, ujung jari telanjang Arya menyentuh luka ukiran berbentuk simpul di pergelangan tangan korban.
SZZZZT!
Sensasi dingin bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi menjalar seketika dari pergelangan tangan wanita itu menuju lengan dan merasuk langsung ke dalam pusat kesadaran Arya!
Dunia di sekitar Arya berganti seketika.
Bukan lagi ruang pemulasaraan yang terang oleh pendar lampu neon, melainkan sebuah ruangan bawah tanah berbau lengas dan cat besi yang menyengat. Dinding-dindingnya terbuat dari beton kasar yang belum diplester.
Wanita muda itu terikat di atas kursi kayu tua dengan rantai besi melilit dadanya. Wajahnya basah oleh air mata dan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi tegap yang mengenakan jas hujan hitam transparan dan topeng kain yang menutupi separuh wajahnya. Pria itu memegang sebilah pisau bedah kecil (scalpel) yang berkilau di bawah lampu remang-remang.
"Tolong... lepaskan saya... saya tidak tahu apa-apa..." tangis wanita itu berseru pilu, suaranya parau menahan rasa sakit.
Pria bertopeng itu tidak menjawab. Tangannya yang tenang dan dingin menggoreskan pisau bedah tersebut ke pergelangan tangan kiri wanita itu secara perlahan, dan membentuk ukiran simpul rantai dengan ketelitian yang mengerikan, seolah ia sedang mengukir karya seni di atas kulit manusia.
"Ini bukan soal apa yang kamu tahu, Maya," ujar pria bertopeng itu dengan suara yang berat dan terdengar aneh, sebuah suara yang sengaja diubah menggunakan alat pengubah suara (voice changer). "Ini adalah pesan untuk penyidik yang sok pintar itu. Biar dia tahu kalau permainan baru saja dimulai."
Pria itu menarik kepala wanita bernama Maya itu ke belakang, lalu menatap lurus ke depan, seolah-olah matanya yang tajam dan tak berjiwa menembus dimensi penglihatan dan menatap langsung ke arah mata Arya!
"Aku tahu kamu melihatku, Pemulasara..." bisik pria bertopeng itu dengan nada dingin yang membekukan darah.
GASSSHP!
Bersambung...