Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema di Butik
"Lho, kamu gak nemani kakakmu ke kantor, Sayang?" tanya Marlina heran saat mereka bertiga baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan utama butik.
"Gak, Mom. Itu kan seharusnya tugas Kak Valerie yang nemani suaminya, masa harus aku?" sahut Syafiya cepat, memalingkan wajahnya agar Mommy tak melihat gurat panik yang belum sepenuhnya hilang dari parasnya.
"Kan gak apa-apa, Sayang. Cuma temanin doang, kamu tahu kan Elvano lagi rewel, Sayang," ucap Marlina lembut sambil mengelus bahu Syafiya, bermaksud meredakan kekakuan di antara anak-anaknya.
"Tapi Mom..." Syafiya menggantung kalimatnya, menggepalkan jemari di balik roknya. "Tetap aja gak enak dilihat orang kantor Kak Zeffan. Nanti disangka apa..."
Valerie yang berdiri di dekat manekin gaun mengukir senyum canggung. "Maaf ya, Syafiya. Tadi Kakak yang minta tolong ke Mas Zeffan buat ajak kamu. Elvano dari subuh demamnya belum turun total, jadi Kakak gak bisa ikut Mas Zeffan ke kantor."
"I-iya, Kak Valerie, gak apa-apa kok," jawab Syafiya cepat dengan suara agak gemetar. Ia merasa makin ditusuk rasa bersalah ketika melihat ketulusan di mata Valerie.
"Sudah-sudah, jangan dibahas lagi," sela Marlina ramah. "Syafiya, tolong kamu cek berkas laporan kain di meja kerja Mommy ya. Tadi Zeffan bilang mau ambil dokumen itu sekalian mampir makan siang di sini."
Jantung Syafiya rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Nanti siang... ancaman itu.
"Harus aku yang serahkan, Mom?" tanya Syafiya lirih, matanya menatap Mommy Marlina dengan tatapan memohon. "Maksudku... kan Mommy atau Kak Valerie bisa yang kasih ke Kak Zeffan."
Marlina tertawa pelan, menganggap kepolosan anak angkatnya itu hanya wujud rasa canggung. "Lah, memangnya kenapa, Syafiya? Kamu biasanya juga yang pegang laporan stok. Lagipula Mommy nanti jam dua ada janji meeting sama klien di luar, dan Valerie mau bawa Elvano ke dokter anak."
Syafiya membeku. Itu artinya... di jam makan siang nanti, ia hanya akan berdua saja dengan Zeffan di butik ini.
"Kenapa, Syafiya? Wajah kamu dari tadi pagi kok kelihatan tegang banget?" tanya Valerie yang mulai menangkap keanehan pada adik iparnya. "Kamu lagi ada masalah sama Mas Zeffan?"
"N-nggak ada, Kak!" pangkas Syafiya panik, mengibaskan kedua tangannya. "Nggak ada masalah apa-apa kok! Aku cuma... cuma agak pusing aja karena kurang tidur semalam."
"Beneran gak apa-apa?" kejar Valerie pelan, menatap Syafiya lekat-lekat.
"Beneran, Kak Valerie," bisik Syafiya menunduk dalam-dalam. "Aku... aku ke ruang belakang dulu ya, Mom, mau siapin berkasnya."
Syafiya berbalik cepat, melangkah setengah berlari menuju ruang kerja belakang sebelum ada yang menyadari air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
**
Hari berganti siang. Tepat pukul dua belas saat ini Syafiya masih menulis laporan tersebut. Dan itu juga Syafiya sudah ditinggal karena Marlina pergi dari sekarang, sementara Valerie sudah membawa Elvano ke dokter sejak setengah jam yang lalu. Suasana butik yang luas itu mendadak menjadi begitu lengang dan sunyi.
"Astaga, aku gak tau kalau laporan ini banyak sekali," gumam Syafiya sambil memegangi tengkuknya yang terasa pegal.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Jemarinya yang lelah mengusap pelipis yang mulai berdenyut nyeri.
Cklik.
Suara pintu utama butik yang terkunci dari dalam membuat Syafiya tersentak kaget. Tubuhnya mendadak kaku.
"Laporan belum selesai, hmmm?" suara berat yang amat dihafalnya terdengar berkumandang di ruangan yang sepi itu.
Syafiya mendongak dengan napas tertahan. Zeffan berdiri di sana, mengunci pintu glass butik dari dalam dan menarik tirai penutupnya. Pria itu melepaskan jas hitamnya dengan gerakan santai, lalu melangkah perlahan menuju meja kerja Syafiya.
"K-Kak Zeffan... Kenapa pintunya dikunci?" tanya Syafiya panik, langsung berdiri dari kursinya dan mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur rak dokumen.
"Biar gak ada yang mengganggu," jawab Zeffan tenang. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Syafiya, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Syafiya intens dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kak, tolong buka pintunya! Nanti kalau ada pegawai atau pelanggan yang datang bagaimana?!" cecar Syafiya dengan suara gemetar hebat.
"Semua pegawai butik sudah kamu suruh jam istirahat dan makan siang ke luar, kan? Mommy juga tadi pesan ke aku kalau butik tutup sebentar sampai jam dua," balas Zeffan datar, bibirnya mengukir senyuman tipis. "Jadi, kita punya banyak waktu."
"Kak Zeffan, tolong bersikap sopan! Ini tempat kerja Mommy!" seru Syafiya, dadanya naik turun akibat rasa takut yang membakar seluruh keberaniannya.
"Aku ke sini cuma mau mengambil berkas Daddy... sekaligus menagih janjiku," potong Zeffan, tatapan matanya berubah begitu dingin dan mengunci. "Jam dua belas tepat. Apa jawabanmu, Syafiya?"
Syafiya meremas jemarinya kuat-kuat di belakang punggung. "Jawabanku tetap sama, Kak! Aku enggak mau! Aku enggak sudi jadi wanita simpanan Kakak!"
"Kamu yakin?" tanya Zeffan lambat-lambat, melangkah mendekati Syafiya hingga mengikis jarak di antara mereka.
"Yakin! Sampai kapan pun aku enggak akan pernah mau!" tegas Syafiya meyakinkan, meski air mata ketakutan sudah siap menetes di pelupuk matanya. "Lebih baik aku pergi dari rumah Mommy daripada harus nurutin kemauan gila Kakak!"
Zeffan terkekeh sinis, tangannya terulur mencengkeram lembut dagu Syafiya, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya.
"Pergi?" bisik Zeffan tepat di depan wajah Syafiya. "Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah bikin aku terobsesi kayak gini? Kalau kamu menolak, detik ini juga aku telepon Mommy dan bilang kalau kamu yang goda aku di kamar semalam. Mau coba?"
"Apa Kakak gila, ha?! Aku tidak pernah menggoda Kakak!" teriak Syafiya dengan napas terengah-engah, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang memucat.
Ia berusaha menepis tangan Zeffan dari dagunya, namun cengkeraman jemari pria itu di wajahnya justru terasa makin memagut erat, menahan kepalanya agar tak bisa berpaling.
"Suaramu terlalu keras untuk ukuran ruangan yang sepi ini, Syafiya," tegur Zeffan dengan suara amat tenang, tanpa terpengaruh sedikit pun oleh emosi gadis di depannya.
"Lepasin aku, Kak! Kenapa Kakak jahat banget sama aku?!" isak Syafiya frustrasi, kedua tangannya memukul-mukul dada bidang Zeffan sekuat tenaga. "Aku cuma salah masuk kamar! Cuma salah masuk kamar, Kak! Kenapa Kakak malah balik memfitnah aku kayak gini?!"
"Karena aku nggak peduli itu sengaja atau salah masuk," bisik Zeffan, mengabaikan pukulan lemah Syafiya pada dadanya. Ia makin memajukan tubuhnya, mengunci Syafiya di antara tubuh tinggi besarnya dan rak dokumen di belakang gadis itu. "Yang aku tahu, kamu ada di ranjangku malam itu. Dan aku suka keberadaanmu di sana."
"Tapi aku adik angkat Kakak!" pekik Syafiya dengan suara serak menahan perih. "Mommy sama Daddy yang udah merawat aku dari kecil! Apa Kakak nggak punya nurani sedikit pun ke orang tua Kakak sendiri?!"
"Sudah aku bilang, jangan pernah bawa-bawa Mommy atau Daddy," potong Zeffan dingin, tatapannya berkilat berbahaya. "Dengar baik-baik, Syafiya. Sekali saja aku buka suara ke Mommy kalau kamu masuk ke kamarku dalam keadaan pakaian berantakan, menurutmu siapa yang bakal diusir dari rumah Arkananta? Kamu... atau aku?"
Syafiya membeku seketika. Pukulan tangannya di dada Zeffan terhenti. Kata-kata Zeffan seperti menghantam kesadarannya tanpa ampun. Ia tahu betul posisi dirinya di rumah itu—hanya seorang anak angkat yang berutang budi. Jika nama baik keluarga Arkananta terancam, Mommy dan Daddy pasti akan sangat hancur dan kecewa padanya.
"Kenapa diam?" Zeffan tersenyum tipis, ibu jarinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Syafiya dengan gerakan terkesan lembut namun penuh dominasi. "Sudah paham posisimu sekarang?"
"K-Kak Zeffan... aku mohon..." bisik Syafiya terbata-bata, suaranya habis berganti isakan lirih yang memilukan. "Tolong jangan hancurkan hidup aku... Jangan bikin aku jadi penjahat di keluarga ini..."
"Kamu nggak akan hancur, Syafiya," bisik Zeffan tepat di depan bibir Syafiya yang gemetar. "Kamu cuma perlu nurut. Jadi wanita simpananku, turuti semua kemauanku, dan aku pastikan hidupmu di keluarga ini akan tetap aman tanpa ada yang tahu."
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰