Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 : penonton misterius di balik dinding
Pejabat Wang tidak butuh waktu dua kali untuk berpikir. Dengan tangan yang gemetar hebat hingga nyaris menumpahkan bak tinta di mejanya, dia buru-buru membuka laci rahasia. Pria tambun itu mengeluarkan bukan hanya satu, melainkan tiga kantong kain sutra tebal yang bergemerincing padat.
"I-ini, Permaisuri! Ini jatah bulanan Anda yang utuh... dan ini tambahannya, emas batangan kecil sebagai permohonan maaf dari hamba yang bodoh ini!" cicit Pejabat Wang sambil menyodorkan kantong-kantong itu dengan kedua tangan di atas kepala, posisinya persis seperti buronan yang menyerahkan diri ke aparat keamanan.
Ara menyambar kantong-kantong itu dengan sekali sentak, lalu melemparkannya ke arah Yuan-er yang langsung menangkapnya dengan sigap. Yuan-er memeluk kantong uang itu erat-erat, matanya berbinar-binar seperti baru saja melihat tumpukan harta karun jatuh dari langit.
"Nah, gini dong. Kooperatif. Dari tadi napa, kagak usah pake acara gebuk-gebukan segala," kata Ara santai sambil menepuk-nepuk pundak Pejabat Wang dengan kasar hingga pria itu nyaris terjungkal ke depan. "Mulai hari ini, kalau jatah paviliun gua telat atau kurang sekeping aja... lu tahu sendiri kan markas lu ini bakal gua bikin jadi lapangan bola? Paham, Mas Bro?"
"Pa-paham, Permaisuri! Hamba berjanji tidak akan pernah berani lagi!" Pejabat Wang mengangguk secepat kilat, meratapi nasibnya yang sial bertaruh melawan monster berwujud wanita jelita.
Ara mendengus puas, lalu berbalik arah dengan gaya angkuh. "Yuk, vitamin! Kita cabut. Waktunya belanja makanan enak lagi!"
Di balik dinding partisi kayu berukir yang memisahkan ruang utama Biro Keuangan dengan ruang tunggu pribadi, sesosok pria tinggi tegap sejak tadi berdiri diam menyaksikan seluruh kejadian. Jubah sutra hitam bersulam naga emas yang dikenakannya tampak berkilau samar di dalam kegelapan sudut ruangan.
Kaisar Yan.
Pria itu awalnya datang ke Biro Keuangan untuk memeriksa laporan pajak tahunan secara mendadak. Namun, siapa sangka dia justru disuguhi tontonan gratis yang luar biasa menghibur. Sepasang mata elangnya sejak tadi tidak lepas dari setiap pergerakan Ara.
Dia melihat sendiri bagaimana wanita yang dulu hanya bisa bersujud pasrah dan meratapi nasibnya, kini bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal.
Cara Ara menghindari pukulan tongkat, presisi hantaman tangan kosongnya pada dagu pengawal, hingga kekuatan tendangannya yang sanggup merobohkan lemari kayu padat, itu semua bukan sekadar amukan orang gila. Itu adalah teknik bertarung yang sangat efisien, tanpa gerakan sia-sia, layaknya seorang prajurit elite yang terbiasa hidup di ujung ajal.
"Kaisar..." Kasim Gao yang berdiri di belakang sang penguasa berbisik dengan suara super pelan, wajahnya dipenuhi keringat dingin. "Apakah... apakah hamba harus memanggil pasukan pengawal kekaisaran untuk mengamankan Permaisuri?"
Kaisar Yan perlahan mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Kasim Gao menutup mulutnya. Sudut bibir tegas sang Kaisar perlahan tertarik ke atas, membentuk seulas senyuman miring yang sangat langka. Ada kilatan kekaguman yang samar di dalam manik mata dinginnya yang biasanya tanpa emosi.
"Tidak perlu," ucap Kaisar Yan, suaranya berat dan rendah. "Biarkan dia. Wanita itu... ternyata memiliki taring yang cukup tajam."
Kaisar Yan melangkah keluar dari balik partisi kayu setelah Ara dan Yuan-er benar-benar pergi meninggalkan area Biro Keuangan. Dia menatap ke arah pintu gerbang yang hancur berantakan akibat tendangan Ara, lalu melirik Pejabat Wang yang saat ini sedang sibuk menangis sambil mengelap sisa air kencing di lantainya.
"Wang," panggil Kaisar Yan dingin.
Pejabat Wang yang mendengar suara familiar itu langsung menoleh. Begitu melihat sang Kaisar berdiri di sana, dia langsung merangkak histeris dan bersujud di kaki Kaisar Yan. "Kaisar! Tolong hamba! Permaisuri... Permaisuri sudah gila! Beliau merampok Biro Keuangan dan menghajar para pengawal! Anda harus menghukumnya, Kaisar!"
Kaisar Yan menatap Pejabat Wang dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang amat pekat. "Menghukumnya? Untuk apa? Bukankah kau yang lebih dulu bermain api dengan memotong jatah resminya?"
Pejabat Wang langsung membeku, lidahnya mendadak kelu tak bisa berkata-kata lagi.
"Dendam pintu dapur istana kemarin sudah impas dengan hancurnya Biro Keuangan ini," lanjut Kaisar Yan dingin, nadanya tidak menerima bantahan sama sekali. "Jika aku mendengar kau atau keponakanmu, Selir Li, mencoba bermain trik murahan lagi di belakangku... bukan hanya jabatanmu yang hilang, tapi kepalamu juga akan menyusul pintu-pintu yang hancur itu. Mengerti?"
"Ba-baik, Kaisar! Ampuni hamba!" Pejabat Wang membenturkan dahinya ke lantai berulang kali.
Kaisar Yan berbalik arah, melangkah pergi meninggalkan kekacauan tersebut. Pikirannya kini sepenuhnya teralihkan. Rasa bosannya terhadap intrik istana belakang yang biasanya monoton dan memuakkan, mendadak sirna total. Kegigihan dan keberanian barbar yang ditunjukkan Xia Ruo yang baru ini benar-benar telah menyalut rasa penasaran di lubuk hatinya yang paling dalam.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣