Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Tak luput dari cibiran
A HA HA HA HA HA HA...
Tawa cemoohan meledak dari kerumunan warga desa. Mereka menatap Wanru bukan dengan rasa kasihan, melainkan dengan tatapan geli, seolah sedang menonton pertunjukan sirkus seekor badut malang yang berjalan menuju tiang gantungan.
Di tengah badai caci maki dan sumpah serapah yang menghujani dirinya, Lin Wanru sama sekali tidak bergeming. Detak jantungnya tetap stabil, dan ekspresi wajahnya tetap tenang tanpa secercah pun kepanikan.
Bagi seorang mantan CEO korporasi multinasional yang terbiasa menghadapi serangan opini publik, demonstrasi massa yang memusuhi, dan intrik kotor para pesaing bisnis di ruang rapat dewan direksi, cemoohan dari sekelompok warga desa feodal yang berpikiran sempit ini tidak lebih berharga daripada suara dengungan lalat di musim panas.
Wanru menunggu hingga gelombang tawa mereka sedikit mereda. Ia melangkah maju perlahan, dan mendekati Nyonya Liu yang masih berdiri berkacak pinggang dengan wajah merah padam.
Ketika Wanru berdiri tepat di depannya, sorot mata dingin Wanru membuat Nyonya Liu tanpa sadar sedikit menarik mundur langkahnya, karena merasakan hawa intimidasi yang aneh dari tubuh kurus gadis ingusan tersebut.
"Bibi Liu," ucap Wanru dengan suara yang tenang, jelas, dan bergemerincing tajam di telinga setiap orang yang berdiri di sekitar mereka. "Waktu tiga hari yang diberikan Paman memang milik kami. Tapi bagaimana cara kami melunasinya, itu adalah urusan keluarga kami, bukan urusan perut buncitmu."
Wanru menyunggingkan senyuman tipis yang sinis. "Daripada mengurusiku dan berspekulasi apakah aku akan mati di hutan atau tidak, lebih baik kau urusi suami di rumah yang akhir-akhir ini sering terlihat melirik warung janda di ujung desa. Kasihan dagangan berasmu, nanti habis dibagi-bagi ke tempat lain," lanjutnya.
Skakmat!
Wajah Nyonya Liu yang tadinya merah padam kini berubah menjadi pucat pasi seketika. Gosip tentang suaminya dan janda di ujung desa adalah rahasia dapur yang sangat ia tutupi rapat-rapat.
Mendengar rahasia itu dibeberkan begitu saja oleh Lin Wanru di hadapan banyak orang membuat Nyonya Liu histeris.
"Kau... Kau memfitnah! Kurang ajar! Anak sialan, akan kujejalkan lumpur ke mulutmu!" seru Nyonya Liu histeris, seraya melompat maju hendak mencakar wajah Wanru.
Namun, dengan refleks yang sudah terlatih dan perhitungan jarak yang presisi, Wanru melangkah ke samping dengan ringan.
Nyonya Liu yang menerjang membabi buta pun kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung batu di pinggir jalan, dan Bruk! wanita tambun itu jatuh tersungkur mencium tanah berdebu, disambut oleh pekikan kaget dari warga sekitar.
"Ups, lantai jalan desa ini licin rupanya. Hati-hati, Bibi. Jangan terlalu bersemangat marah-marah, nanti tekanan darahmu naik dan kolesterolmu kambuh," ucap Wanru dengan nada suara yang terdengar sangat sopan namun menusuk tulang.
Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk meladeni amukan lanjutan dari wanita tersebut, Wanru membalikkan badannya. Dengan tongkat kayu di tangan dan langkah kaki yang semakin mantap, ia berjalan meninggalkan kerumunan warga desa yang kini tertegun bisu, seolah tidak berani lagi meneriakkan kata-kata ejekan setelah melihat bagaimana Nyonya Liu dipermalukan dalam satu gerakan telak.
Sepeninggal riuhnya suara warga desa, suasana berubah drastis menjadi sunyi senyap begitu Wanru melangkah melewati batas patok batu tua yang menandai awal wilayah Hutan Hantu.
Suhu udara mendadak turun beberapa derajat. Kanopi pepohonan tua berukuran raksasa yang menjulang tinggi menutup rapat sinar matahari langsung, menciptakan koridor remang-remang yang dipenuhi lumut hijau tua, akar gantung, dan aroma humus basah yang pekat.
Wanru berhenti sejenak di dekat sebuah pohon besar berdiameter tiga pelukan orang dewasa. Ia menarik napas dalam-dalam, dan merasakan kesegaran oksigen murni yang jauh dari polusi kota modern, sekaligus mengevaluasi kondisi fisiknya.
"Luar biasa," batinnya menganalisis. "Kemarahan tadi memicu adrenalin yang melancarkan sirkulasi darahku. Tapi aku tidak boleh ceroboh. Energi fisikku masih terbatas."
Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, namun tetap berpegang pada prinsip yang ia pegang teguh sejak semalam, jika ia harus menjauhi zona tengah yang berkabut misterius, dan fokus mengeksploitasi zona transisi pinggiran hutan.
Bagi orang awam, hutan ini menyeramkan. Tapi bagi seorang ahli bioteknologi dan agrikultur modern, tempat ini adalah sebuah apotek raksasa sekaligus pasar swalayan alam bebas.
_____
_________
Hanya berjalan sekitar dua ratus meter dari batas hutan, mata tajam Wanru langsung menangkap objek pertama yang ia cari. Di atas batang pohon lapuk yang lembab di sebelah kiri jalurnya, tumbuh berkoloni sekelompok jamur tiram liar berwarna putih bersih dengan tudung melebar.
Wanru berlutut perlahan di depan batang pohon tersebut. Ia mengambil pisau kecilnya, lalu memotong pangkal jamur-jamur itu dengan hati-hati agar sporanya tidak rusak.
"Jamur tiram liar hutan. Teksturnya kenyal, kaya akan asam amino dan protein nabati," gumam Wanru sambil memasukkan jamur-jamur segar tersebut ke dalam kantong kainnya. "Ini bisa dijual ke tabib atau pedagang bahan makanan di kota kecamatan, atau dijadikan hidangan mewah kedua untuk ibu dan adikku."
Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan penelusurannya menyusuri aliran anak sungai kecil yang jernih di dalam hutan. Di tepian sungai yang berlumpur subur, matanya kembali berbinar saat melihat hamparan tanaman liar berdaun hijau lebar dengan bunga kecil berwarna ungu keputihan.
"Dewa Pertanian... apakah aku sedang bermimpi?" batin Wanru bersorak gembira.
Itu adalah Pegagan (Centella asiatica), atau di era modern dikenal sebagai tanaman herbal multiguna untuk penyembuhan luka, perbaikan sirkulasi darah, dan penurun peradangan.
Di sampingnya, tumbuh subur akar Licorice liar (Akar Manis) yang memiliki rasa manis alami dan sangat dicari oleh para pembuat ramuan obat tradisional untuk menetralkan rasa pahit obat.
"Inilah syurga dunia," gumam Lin Wanru.
Saat Wanru sedang berlutut serius mencabut akar licorice dengan teknik yang benar agar akarnya tidak patah, tiba-tiba terdengar suara gemercik air yang cukup keras dari tengah sungai kecil.
Kecipak!
Wanru menoleh dengan cepat. Di atas batu kali yang besar di tengah aliran sungai, seekor kepiting air tawar berukuran cukup besar dengan capit berwarna kemerahan dan cangkang keras kehijauan, tampak sedang berjemur menikmati secercah sinar matahari yang menembus celah dahan pohon.
Mata Wanru menyipit. Sebagai seorang pencinta kuliner sekaligus ahli gizi, kepiting air tawar liar adalah harta karun kuliner kelas atas. Dagingnya manis, gurih, dan memiliki kandungan protein serta asam lemak omega 3 yang sangat tinggi untuk memulihkan massa otot tubuhnya yang kurus kering.
"Wah, wah... selamat pagi, Tuan Kepiting. Sepertinya kehadiranmu di sini adalah takdir yang mempertemukan kita dengan utang tiga tael perak."
Bersambung...
😄😄😄😄😄🤣😄😄