mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
Sila menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan kuat untuk menusuk steik di piringnya dengan garpu seolah itu adalah wajah bosnya.
Malam ini, ia harus duduk di sebuah restoran mewah berbintang lima, menemani sagara—CEO PT DERIOS PRANANTA sekaligus mantan kekasihnya yang super rese—untuk mengadakan meeting penting dengan klien besar. Menjadi asisten pribadi mantan kekasih adalah sebuah kesalahan besar, tetapi menjadi asisten pribadi yang punya masalah mengontrol emosi di depan sagara adalah siksaan batin yang sesungguhnya.
"Sila, tolong ambilkan dokumen proposal kuartal keempat di tasmu," perintah sagara dengan suara tenang yang selalu berhasil membuat rahang Sila mengeras. Sagara menatapnya dengan senyum tipis yang memprovokasi, tipe senyum yang dulu Sila sukai, tapi sekarang ingin ia hapus dengan penghapus papan tulis saat ini juga.
Sila membuka tas kerjanya dengan sentakan kasar, lalu meletakkan map tebal itu di meja dengan dentuman yang sedikit terlalu keras.
Brak!
Pak Bramantyo, sang klien, sedikit terkejut. Sila langsung memaksakan senyum paling manis—namun tampak sangat tertekan—yang ia bisa.
"Ini proposalnya, Pak Sagara yang terhormat," ucap Sila, menekankan kata terakhir dengan gigi yang rapat.
"Terima kasih, Sila. Oh ya, tolong tuangkan air ke gelas Pak Bramantyo. Dan untukku, pastikan airnya hangat, jangan dingin. Kamu tahu kan lambungku sensitif kalau malam?" potong Sagara dengan nada manja yang disengaja. Ia jelas sedang memanfaatkan situasi profesional ini untuk membalas dendam masa lalu.
Sila mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Sensitif lambungmu atau otakmu yang sensitif?!" jerit Sila dalam hati.
Dulu saat masih pacaran, Sagara bisa minum es kopi seember di tengah malam tanpa mengeluh. Sekarang? Sengaja sekali ingin mengerjainya.
Dengan gerakan kaku, Sila menuangkan air hangat ke gelas Sagara. Ia sengaja mengisinya hingga hampir menyentuh batas paling atas, menyisakan jarak kurang dari satu milimeter dari bibir gelas.
"Silakan diminum, Pak. Hati-hati tumpah," bisik Sila dengan senyum penuh kemenangan terselubung.
Sagara melirik gelasnya, lalu menatap Sila dengan alis terangkat. Ia tahu asistennya ini sedang menahan bom waktu di dalam dadanya.
Namun, alih-alih marah, Sagara justru terkekeh pelan dan kembali fokus mempresentasikan proyek pada Pak Bramantyo.
Sepanjang meeting berlangsung selama dua jam, Sila sibuk mencatat notulen sambil mencoret-coret kertasnya dengan gambar wajah sagara yang ditusuk-tusuk panah. Setiap kali Sagara memberikan instruksi yang tidak masuk akal atau sengaja menyindir hal-hal personal berkedok "contoh kasus profesional", Sila hanya bisa mengembuskan napas berat lewat hidung, mencoba mengingat cicilan paylater nya yang belum lunas agar tidak refleks melempar vas bunga di tengah meja ke kepala sang CEO.
Begitu pintu kaca restoran bintang lima itu tertutup dan klien mereka menghilang di balik jemputan mobilnya, Silla langsung menyampirkan tas kerja di bahu. Matanya melirik jam tangan. Pukul delapan malam lewat sedikit. Jam kerjanya sudah resmi selesai satu jam yang lalu.
Baru saja Silla berbalik hendak menuju pintu keluar, sebuah telapak tangan kekar menahan lengan atasnya. Saga berdiri di sana dengan senyum tipis yang super menyebalkan menurut silla.
"Bisa lepasin tangan lo gak? Gue mau pulang," kata Silla, ia menepis tangan Sagara dengan kasar.
Sagara sama sekali tidak terpengaruh. Dia malah menarik kursi di meja bundar yang baru saja mereka gunakan untuk meeting, lalu duduk dengan santai sambil melonggarkan dasinya.
"Siapa yang ngizinin lo pulang? Duduk dulu. Kita makan malam," perintah Saga mutlak.
Silla mengembuskan napas berat, menatap mantan kekasih yang sekarang merangkap jadi CEO-nya itu dengan tatapan membunuh.
"Lo lihat jam gak, sih? Jam kerja gue udah abis dari tadi. Dan urusan kerjaan kita sama klien tadi juga udah beres. Tugas gue sebagai sekretaris lo buat hari ini udah selesai."
"Sayang nya Gue gak peduli," jawab Saga enteng.
Dia melambaikan tangan memanggil pelayan restoran.
"Sekarang status lo bukan sekretaris yang lagi lembur, tapi mantan pacar yang harus nemenin gue makan. Duduk, Silla. Jangan bikin gue harus nyeret lo buat duduk ya cantik."
Silla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya yang sedari tadi ditahan di depan klien sekarang langsung naik ke ubun-ubun. Saga selalu tahu cara memancing amarahnya. Dengan entakan kaki yang sengaja dikeras-keraskan, Silla menarik kursi di seberang Saga dan mengempaskan tubuhnya di sana.
" Lo itu bener-bener rese ya, ga. Gak tahu diri! Lo pikir lo siapa bisa ngatur-ngatur waktu luang gue? Kita udah putus kalau lo lupa!" ketus Silla, matanya menyalang tajam.
Sagara justru terkekeh melihat wajah Silla yang memerah menahan amarah.
"Nah, gitu dong. Muka lo kalau lagi emosi gini malah kelihatan lebih natural daripada muka sok profesional lo pas meeting tadi. Kaku banget, kayak kanebo kering."
"Terserah lo mau ngomong apa. Gue pesen makanan yang paling mahal di sini, dan lo yang bayar!"silla berdecak sinis
"Silakan. Jangankan makanan mahal di restoran ini, restoran ini gue beli sekarang juga bisa,gue kaya raya tujuh turunan kalo lo lupa.."sahut Saga dengan nada sombong yang khas, sengaja memancing Silla lebih jauh.
"Lagian, lo kurusan ya sekarang? Makanya jangan terlalu sering mikirin gue, jadi gak nafsu makan kan lo?"
"Mikirin lo?" Silla tertawa renyah yang dibuat-buat.
" Idih, pede banget lo! Gue kurusan karena kerjaan dari lo tuh numpuk, bukan karena mikirin mantan gak berguna kayak lo! Rasa pengen pites lo dari dulu sampai sekarang ternyata gak berubah ya, rese banget jadi orang!"
Saga malah menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Silla dengan tatapan jail yang sangat memprovokasi.
"Tapi kangen kan lo sama keresean gue?"
Silla hanya menatap datar sagara tanpa niat membalas pria rese itu.